
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Kau menamparku?" Mata Yara terlihat merah menahan emosi. Seumur hidup baru kali ini ia ditampar.
"Ya, aku menamparmu agar kau sadar dari mimpimu. Dasar wanita murahan! Berani sekali kami mengaku menjadi istri Frey." Maki Victoria dengan emosi yang meledak-ledak. Hatinya panas membara mendengar ada seorang wanita mengaku sebagai istri Frey.
Mendengar teriakan Victoria. Dua orang security langsung masuk ke dalam rumah. Yara terdiam karena begitu shock. Tamparan itu masih terasa dan meninggalkan ruam merah di pipinya.
"Jangan pernah bermimpi menjadi istri Frey. Seujung helai rambutmu pun, kau bukan tipe Frey. Lebih tepatnya, kau bukan wanita yang pantas untuk Frey. Kau mengerti?" Desis Victoria dengan sinis.
"Apa jangan-jangan wanita ini adalah istrinya? Bukankah istrinya sudah meninggal? Lagian siapa juga yang bermimpi menjadi istri tuan Miles? Kalau bukan perusahaan Wyanet bangkrut, aku gak bakal berada di sini." batin Yara menggeram.
"Apa yang terjadi nyonya?"
"Kamu masih bertanya apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa memasukkan wanita ini ke rumah!" Bentak Victoria.
"Maafkan kami nyonya. Beliau datang bersama tuan James."
"Selalu saja James... James dan James. Sekarang yang jadi pemilik rumah ini siapa? Apa James??" Victoria menggeram dengan mata menyalang tajam. Emosinya semakin menguasai.
Dua orang pria itu hanya menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.
"Sekarang, saya tidak mau tahu, masukkan dia ke dalam gudang bawah tanah! Dia harus bertanggung jawab atas ucapannya." perintah Victoria kepada dua orang security yang berdiri di sana.
Deg!
"Apa?" Yara panik. "Tapi saya benar-benar istrinya Frey." Yara mencoba membela diri. Bagaimana wanita sialan ini ingin mengurungnya di dalam gudang bawah tanah. Ini benar-benar membuatnya gila.
"Tutup mulutmu! Sekarang bawa dia!"
"Baik nyonya." Jawab dua orang security dengan cepat. Mereka mendekat dan memegang tangan Yara dan membawanya ke dalam gudang bawah tanah.
"Apa yang kalian lakukan, lepaskan aku!" Teriak Yara, ia menolak saat tangannya ditarik. Namun, kedua pria itu tetap menarik paksa. Mereka terus membawa Yara.
"Lepaskan aku!" Yara mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman dua orang pria itu.
Victoria tersenyum sinis, "Jangan sampai dia keluar, sebelum Frey pulang!" Teriak Victoria. "Berani-beraninya dia mengakui istrinya Frey, apa dia sudah gila? Cih...Dia bawa koper lagi." Ia menendang koper itu. "Buang koper ini!" Perintah Victoria kepada wanita yang sejak tadi berdiri di sana.
"Baik, nyonya." ucapnya sedikit takut.
"Oh iya, aku ingin melakukan perawatan. Seperti biasa suruh dua orang datang ke kamarku. Sekarang!"
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Huuuffff!" Victoria melepaskan napas panjang. Lalu ia melangkah meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya dari perjalanan yang cukup melelahkan. Satu bulan benar-benar membuatnya tak bisa memanjakan tubuhnya. Victoria ingin luluran. aroma terapinya bisa menenangkan pikirannya dan merilekskan tubuhnya yang kelelahan. Victoria sedang asyik merebahkan tubuhnya. Ia menikmati pijitan dari dua orang pembantu yang biasa melakukan pijatan saat Victoria membutuhkannya. Tubuhnya dipijat dengan minyak esensial beraroma zaitun yang memberikan efek relaksasi. Usai itu, Victoria mengenakan masker di wajahnya dengan mentimun segar untuk merilekskan mata.
__ADS_1
"Pijatannya sudah selesai nyonya."
"Hmm. Kalian bisa keluar!" Kata Victoria tanpa membuka matanya.
"Baik, nyonya."
Pintu kamar tertutup kembali, dua orang wanita sudah meninggalkan kamar Victoria.
Victoria selalu rutin melakukan perawatan di rumah. Ia tidak perlu ke salon untuk perawatan karena ada dua orang pembantu yang bisa melakukan perawatan untuknya. Victoria ingin tetap cantik walau usianya sudah menginjak lima puluh tahun. Dia ingin tetap fresh pertemuannya nanti dengan pria yang baru ditaksirnya beberapa hari yang lalu. Setidaknya dengan luluran dan perawatan wajah ini bisa menghilangkan nervous dan tetap cantik di mata pria itu. Victoria tersenyum saat mengingat wajah pria tampan yang dua tahun lebih tua darinya.
"Astaga, apa yang kupikirkan?" Victoria tersenyum nakal ketika ia memikirkan hal yang aneh lagi.
"Ini gila, kenapa aku selalu memikirkan tubuh pria itu?" Wajah Victoria bersemu merah. "Hentikan pikiran nakalmu, Vic." Ia menggeleng sambil mengambil potongan mentimun yang ikut tiduran di atas matanya.
Setelah lima belas menit, ia beranjak membersihkan tubuhnya. Victoria sudah selesai melakukan perawatan, Ia sudah terlihat segar dan tersenyum saat melihat pembantu membawakan makan siang untuknya. Seperti biasa menunya setiap hari adalah menu sehat dari buah dan sayuran.
⭐⭐⭐⭐⭐
Sementara di sisi lain.
TOK....TOK...TOK...!
James mengetuk pintu. lalu masuk ke dalam ruangan Frey. Begitu melihat gagang pintunya berbunyi dan bergerak. Frey segera mendongak dari kesibukannya. Ia melihat James melangkah masuk. Seperti biasa hanya ada ulasan senyum tipis yang terukir di wajahnya.
James berdiri tepat di depannya dan segera membungkukkan badan. "Selamat siang tuan,"
"Ehmmm,"
"Mobilnya sudah siap, tuan."
"Baik, tuan." James menjawab dengan anggukan singkat. Ia diam dan hanya bisa menunggu. Jarak mereka tidak terlalu jauh.
Frey kembali menyandarkan punggungnya menatap ke atas langit-langit kantornya sambil memijit hidungnya. "James.." Panggil Frey dengan suara terendahnya.
James maju dua langkah lagi, "Iya, tuan?"
Frey menarik napasnya dalam-dalam lalu menatap ke arah James yang siap menunggu instruksi darinya. "Aku ingin kau mencari Alea untukku."
James mengerutkan keningnya, ia bingung apa maksud tuannya itu. "Nona Alea?" James kembali bertanya. Takut bahwa informasi yang baru di dengarnya salah. "Bukankah Alea adalah wanita yang pernah menyakiti tuannya. Karena menghilangnya Alea, tuannya sampai saat ini tidak ingin membuka hati pada wanita lain karena merasa trauma. Tapi kenapa beliau ingin mencari nona Alea lagi?"
Frey mengangguk "Aku ingin kau menemukan Alea untukku."
Lagi-lagi James tidak mengerti. Ia masih terdiam di sana. Sepertinya James sedang berpikir keras memikirkan sikap tuannya.
Frey menaikkan alisnya, menatap James yang tak ada jawaban. "Apa kau mendengarkanku James?" tanya Frey dengan mata memicing tajam.
"Maaf tuan," James mengembalikan pikirannya. Nona Alea yang tiba-tiba menghilang dan kontaknya juga sudah tidak ada? Dari mana dia harus memulainya? James masih bingung.
Frey berdecak malas. "Kenapa diam saja? Apa kau mengerti? Apa harus aku ulangi lagi?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, James merasa tidak enak karena dinilai lambat untuk berpikir. "Maaf tuan, saya tidak tahu kabar terbaru dari nona Alea. Satu tahun yang lalu, saya mencoba mendatangi rumah keluarganya. Tapi mereka sudah pindah, tuan."
Frey menegakkan punggungnya, ia melipat tangannya di atas meja. "Robby, baru bertemu dengan Alea di London. Jadi, kau bisa mencarinya di sana."
__ADS_1
"Nona Alea, ada di London?"
"Hmmm. Jadi carilah Alea di sana."
"Bagaimana dengan....." Kalimat James menggantung. Ia tak berani melanjutkannya.
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Mengenai Yara Wyanet, tuan. Saya sudah mengantarnya sampai kekediaman Miles."
"Jangan menyebut nama wanita itu di sini. Apa aku sedang membicarakan dia?"
Deg!
James terdiam. Ucapan itu seakan tertancap dihatinya.
"Ingat, Kau hanya fokus mencari Alea dan mengurus pekerjaan kantor, selain itu jangan coba-coba membahas hal lain? Kau mengerti?"
"Baik tuan, saya mengerti." ucap James dengan cepat. Ia merasa ceroboh dengan ucapannya.
Frey bangun dari duduknya dan kembali mengenakan jasnya. Ia berjalan pelan dan keluar dari ruangannya yang di ikuti oleh James dari belakang. Mereka tiba di depan pintu depan perkantoran Miles. Sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti di depan mereka.
Mark adalah seorang security yang sudah bertahun-tahun bekerja di perusahaan Miles. Beliau juga adalah security senior di sini. Mark keluar dari mobil dengan berpakaian rapi. Ia mengitari mobil tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya ke arah Frey. Menyapa dengan santun, dan membungkukkan tubuh ke arah Frey, menunjukkan rasa hormatnya.
Belum lagi Mark menyapa. Frey sudah lebih dulu memberi sapaan kepada Mark. Karena ia lebih menghormati yang lebih tua darinya. "Selamat sore pak Mark, apa kabar?"
"Sangat baik pak," Mark tersenyum sumringah saat pak Frey menyapanya.
"Bagaimana operasi anak anda pak?" tanya Frey.
"Semenjak melakukan operasi ke dua. Keadaan anak saya semakin membaik pak. Dia sudah bisa berjalan. Walau masih di bantu."
"Syukurlah, jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan. Saya siap membantu siapapun itu."
"Saya tidak dapat memberikan apa pun kepada anda tuan, Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan kebaikan tuan mendapatkan balasan terbaik dari Tuhan dan kehidupan tuan selalu diberkati dengan banyak kebahagiaan dan berkah."
"Hmm, terima kasih atas doanya pak," ucap Frey tersenyum hangat.
"Sama-sama pak," Mark membungkukkan badannya kembali. "Pak James, ini kuncinya!" Ia pun menyerahkan kunci itu kepada James.
"Terima kasih pak Mark." ucap James tersenyum singkat dan menerima kunci itu.
"Sama-sama pak," Mark membalas senyuman dari James. Lalu kembali membungkukkan badannya dan pamit undur diri untuk kembali ke pos.
"Mari, tuan. Silakan." James mempersilakan Frey untuk berjalan mendekat ke arah mobil. Ia segera membukakan pintu mobil bagian belakang, seperti yang biasa ia lakukan selama ini. Frey pun masuk dan duduk di sana. James sendiri duduk di kursi bagian kemudi dan meletakkan dokumen di samping kursinya untuk diperiksa tuan Frey di rumah. James memasang sabuk pengaman. Klik! sabuk pengaman terpasang dengan baik. Ia pun mulai menginjak pedal gas dan membawa mobil itu menuju kediaman Miles.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.