Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
AWAL BARU


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


VISUAL FREY MILES.



Frey membenarkan jasnya lalu menegakkan badan dan melangkah memasuki rumah itu. Rumah masa kecilnya masih terawat dengan baik. Frey selalu menginap dan menghabiskan waktunya di rumah ini. Frey melangkah masuk ke ruang tamu sambil membawa botol wiski untuk menemaninya malam ini. Malam yang begitu tenang mengiringi keindahan suasana malam hari dari rumah masa kecilnya. Frey membuka jendela. Udara terasa dingin dan menyegarkan. Langit cerah dihiasi bintang-bintang yang bertebaran menemani gagahnya raja malam dan bersinar terang menebar cahaya berkilauan.


Frey menuang minuman yang dibawanya tadi. Ia kembali menatap jalanan sambil memutar-mutar gelasnya. Mengeluarkan bunyi gemericik es batu yang saling bertabrakan dengan dinding gelas. Wajahnya begitu tenang, menatap lurus ke depan. Frey menarik napasnya lagi, ia kembali meneguk minuman yang ada di tangannya. Beberapa orang masih saja terlihat melintas walau jam mulai menapaki di angka pukul 00.10 malam. Suara gorden jendela terkibas tertiup angin. Udara semakin dingin menusuk ke tubuh Frey.


Dari penampilan Frey nampak seperti pemuda biasa yang tidak memiliki keistimewaan. Tapi, tidak ada satu orang pun yang tau bahwa ia seorang introvert, atau seseorang yang memiliki kondisi dimana ia lebih menyukai kesendirian dan kesunyian. Baginya kedamaian hanya ia dapatkan disaat ia berdiam seorang diri. Keresahan adalah saat ia berada di tengah orang ramai, bahkan saat ia berada di sekeliling teman-temannya pun, ia tidak merasakan hidup. Tentu saja sifat ini tidak dia dapatkan begitu saja sejak lahir, semua berawal saat ia ditinggalkan pria yang menjadi panutannya. Dan hatinya menjadi retak sejak mommy-nya kerap berganti-ganti pasangan.


Tiba-tiba suara handphonenya berdering-dering meminta di angkat, namun karena nomor baru, Frey tak mau mengangkatnya. Lalu bunyi itu mati dan tak terdengar lagi.


Frey kembali meneguk minuman yang ada di tangannya. Ia terus memperhatikan jalanan. Tatapannya mengunci tanpa berkedip.


Dering suara handphonenya terdengar lagi, Frey berdecak sambil melihat panggilan itu, Ia


membaca di display handphonenya. Kali ini nomornya dari seseorang yang dikenalnya.


"Ehmm..ya Rob?"


"Hei dude, Astaga kenapa lama sekali mengangkatnya?"


"Ada apa Robby? tidak biasanya kau menghubungiku. Apa ada yang penting?"


"Iya. Ini penting sekali dan sangat penting." ucap Robby diujung telepon. Suaranya terdengar gusar.


"Apa itu?" kejar Frey.


"Aku baru melihat Alea di sini."


"Apa?" Frey terkejut, wajahnya berubah tegang. Wanita yang sangat dicintainya tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar. Frey terdiam sesaat. Ia meremas gelas bening berkaki yang ada di tangannya.


"Aku melihat Alea, tapi anehnya dia menghindariku dude. Ada apa dengan Alea, apa dia tidak mengingatkanku?"


"Dimana kau melihatnya?"


"Di London."


DEG!


Frey sangat terkejut sampai menjatuhkan handphone yang ada di tangannya. Wajahnya menegang kaku.


"Halo? Frey, apa kau mendengarkanku? halo... Frey... Frey?"


TIT


Panggilan pun terputus.


Kenangan buruk itu semakin jelas. Frey menahan amarah, ia mencengkram gelas bening berkaki itu sampai pecah dan tangannya mengeluarkan darah. Rahangnya mengencang menatap nanar ke arah jalanan. Napasnya keluar terbata-bata. Seakan karbon dioksida tertahan di dalam dada. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Bagaimana takdirnya begitu kejam. Hanya ada memori-memori yang membuatnya pilu dan terluka. Bahkan hatinya remuk, terkoyak dan hancur saat Alea pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Frey menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. Ia melangkah menuju dapur dan mengambilkan minuman dingin untuknya. Ia kembali menuju sofa. Frey menghempas tubuhnya, menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Ia meletakkan tangannya ke dahinya dan membiarkan tangannya yang masih terluka. Tak ingin mengingat Alea lagi. Frey menarik napas panjang dan menghembuskan napasnya kembali. Tak beberapa lama, Frey akhirnya tertidur di sofa.


⭐⭐⭐⭐⭐


Pagi harinya.


Pagi yang indah, langit terlihat biru cerah dengan beberapa gulungan awan putih yang lembut. Perlahan-lahan Yara membuka matanya. Hari ternyata sudah pagi, Ia tidak tau jam berapa tertidur semalam. Takut jika lelaki tua berkepala plontos itu menyelinap masuk ke dalam kamar hotel dan merenggut mahkotanya.


Yara bernapas lega, ternyata pria itu sama sekali tidak kembali ke kamar hotel. Ini langkah awal untuk memulai hidup baru sebagai status istri palsu. Yara tersenyum getir, kenapa begitu sakit? hatinya teriris-iris sedikit demi sedikit. Meninggalkan dentum dentum yang menyakitkan. Ia harus bisa melalui semua ini.


Status pernikahan palsu? Yara tersenyum, walau itu senyum kepahitan. Bagaimana jika pria tua itu tidak menerima pernikahan palsu ini? Yara ingin tertawa, menertawakan kebodohannya, sungguh ia wanita terbodoh menerima perjodohan ini. Jalan satu-satunya adalah memang harus kuat. Yara sudah terlanjur memilih jalan ini.


Dia bangkit untuk membersihkan dirinya.


Awal pagi adalah jam berharga buat Yara, Ia hanya bisa menyemangati dirinya sendiri.


Tiba- tiba terdengar bunyi bel kamar hotel. Yara mengernyit, menatap pintu itu dengan perasaan takut.


"Apa jangan-jangan dia????"


Ting nong!


Bunyi bel itu kembali terdengar. Tanpa pikir panjang Yara bangun dari duduknya, melangkah mendekat membukakan pintu. Dibalik pintu, terlihat sosok lelaki berdiri memberikan senyum terbaiknya. Dengan sopan pria itu membungkukkan badannya.


"Selamat pagi nyonya Miles, perkenalkan saya James, asisten pribadi dari tuan Frey Miles." Pria itu memperkenalkan dirinya.


Yara tersenyum ramah membalas sapaan lelaki yang berdiri di depannya itu.


"Selamat pagi, tuan James." sapa Yara dengan tersenyum tipis.


"Anda jangan panggil saya tuan, panggil nama saja." Tutur James tidak nyaman.


"Saya diperintahkan tuan, habis nyonya sarapan, saya akan mengantar anda kembali ke kediaman Miles." ucap James sedikit ragu untuk mengutarakan maksud dan tujuannya.


"Baiklah. Tunggu saya setengah jam lagi. Saya sarapan di kamar hotel saja." Jawab Yara.


"Tentu saya nyonya, kalau begitu saya akan meminta pelayan hotel mengantar sarapan anda sekarang." Kata James pamit undur diri. Namun, sebelum langkahnya jauh, Yara memanggilnya.


"Dimana Tuan Miles?" Tanya Yara.


Ada sedikit keraguan terpancar di wajah lelaki itu, sesaat ia terdiam. Beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis. "Sebelumnya saya minta maaf nyonya. Tuan Miles tiba-tiba ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan." akhirnya dengan terpaksa James mengatakannya.


"Oohh, begitu ya." ucap Yara tersenyum sumringah. "Syukurlah." batinnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya."


James menjauh pergi dari gadis yang berstatus istri tuannya itu.


Entah apa yang dipikirkan tuannya, untuk menyakiti wanita selembut dia. Wanita itu tidak bersalah.


"Tidak bersalah?" James merutuki kebodohannya. Bagaimana ia bisa memikirkan kalimat itu. Kalau tuannya mendengar itu bisa-bisa tuan Frey mengoyak hatinya. James menggelengkan kepalanya.


Mobil mewah yang membawa Yara perlahan-lahan meninggalkan hotel.


Hening tak ada yang membuka suara. Mobil itu terus meluncur menuju Kediaman Miles yang berada di kota A.


Yara membuka sedikit kaca mobil, Ia menikmati angin yang menerpa wajah dan rambutnya. Hari ini adalah lembaran baru kehidupan rumah tangganya. Ia memejamkan matanya, sesaat melupakan kesedihan hatinya.


Tak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka tiba. Yara menarik napasnya, lalu akhirnya Yara ikut turun. Matanya langsung disungguhkan dengan pemandangan yang begitu indah. Rumah ala Eropa ini, tersaji dengan dinding-dinding terbuat dari kaca. Terdapat beraneka ragam bunga Cemara sekaligus membentuk pagar pendek. Yara melangkah menyusuri taman kecil. Tiba-tiba James datang menemuinya.

__ADS_1


"Saya permisi nyonya, saya langsung ke kantor menemui tuan Miles." James pamit undur diri.


"Baiklah, terima kasih James." Ucap Yara kemudian.


"Baik, nyonya."


Yara tersenyum menatap mobil yang semakin menjauh darinya. Ia kembali melangkah memasuki rumah mewah itu.


"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak begini ya?" Ucap Yara berulang kali mengembuskan napasnya.


Rumah mewah ini menawarkan desain yang mengandalkan warna-warna kayu yang natural, untuk langit-langit dan juga perabotan. Terdapat dinding kaca yang transparan. Detail dinding yang klasik yang elegan ala Eropa, diramaikan dengan sofa merah dengan list emas yang tampak mewah.


"Cih...Pantas saja dia bisa mengeluarkan uang 100 miliar begitu cepat. " Batin Yara.


Tiba-tiba seseorang datang menyapanya.


"Selamat siang, nyonya. Saya pembantu di rumah ini. Kalau anda membutuhkan sesuatu, bisa panggil saya." Seorang wanita paruh paruh baya menyapanya dengan ramah.


Yara hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Nyonya????" Tiba-tiba Victoria muncul dari arah belakang Yara. Yara begitu terkejut, ia membalikkan badannya menatap ke arah wanita paruh baya yang memiliki wajah cantik dan masih terawat dengan baik itu.


Wanita paruh baya itu menundukkan kepalanya dengan cepat. "Maaf nyonya."


"Siapa kamu bilang nyonya di rumah ini?" Tanya Victoria tanpa melepaskan tatapannya kepada Yara.


"Tadi tuan James berpesan agar melayani nyonya ini dengan baik."


Victoria memejamkan matanya karena begitu kesal. Ia mencoba bersabar. "Kau tidak bertanya siapa dia?"


"Ma-" Belum lagi wanita itu melanjutkan kalimatnya, Yara sudah memotong ucapannya.


"Saya adalah Istri dari Frey Miles. Anda puas!" Ucap Yara tak takut sama sekali.


"Apa???" Victoria begitu terkejut. "Kamu istri Frey?"


"Ya. Saya adalah Istri dari tuan Miles."


PLAKKK!


Victoria memberikan tamparan di pipi Yara. "Jangan macam-macam kamu. Bagaimana kamu bisa mengatakan kamu adalah istri Frey!" Teriak Victoria.


Yara begitu shock saat wanita yang ada di depannya menamparnya. Ia menyentuh bagian pipinya, rasa panas menjalar akibat bekas tamparan itu. Telinganya sampai berdengung dan pandangannya juga berkunang- kunang.


"Kau menamparku?" Mata Yara terlihat merah menahan emosi. Seumur hidup baru kali ini ia ditampar.


"Ya, aku menamparmu agar kau sadar dari mimpimu. Dasar wanita murahan!"


Deg!


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.

__ADS_1


__ADS_2