
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Apakah istrimu tidak sesuai harapanmu?" alis Jennifer naik dari pangkalnya. Ia mencondongkan badannya agar bisa melihat Frey lebih dekat lagi. "Aku tahu seperti apa tipe wanita yang kau sukai, Frey? Aku sangat yakin itu. Kamu malu untuk menunjukkan seperti apa istrimu itu." Jennifer tersenyum kecil. Ia memiringkan wajahnya menatap Frey dengan ejekan. "Apa benar seperti yang aku pikirkan Frey?"
"....." Frey hanya diam. Ia melanjutkan makanannya dengan tenang. Untuk melirik pun ia enggan.
Victoria tersenyum sambil menepuk punggung tangan Jennifer dengan lembut. Senyumnya tentu mengandung sejuta makna. Antara membenarkan atau untuk menghentikan Jennifer agar tidak menyulut emosi putranya itu. "Frey tidak suka diajak bicara di saat ia menikmati makanan kesukaannya. Jadi, kamu tidak perlu membuang-buang waktumu. Frey tidak akan menanggapinya."
Napsu makan Jennifer langsung hilang. Ia dengan cepat membalikkan sendoknya tanda ia sudah selesai dengan makannya. Pandangannya terus mengunci Frey. Lelaki yang sampai saat ini terpatri di hatinya. Rasa cintanya tidak pernah berubah pada Frey bahkan sampai saat ini. Tapi karena Frey tidak pernah meliriknya sekali pun. Membuat Jennifer kesal.
"Bukankah hidupnya menyedihkan, aunty!"
Mendengar itu Victoria tertawa. Tawanya begitu menggema di sana. Ia pun menimpali perkataan Jennifer.
"Hidupnya memang menyedihkan. Dia lelaki yang susah ditebak. Dia misterius dan selalu menutup diri. Jadi gak usah heran."
Tuk ...tuk....tuk....
Tuk...tuk...
Tuk....
"Ibu Brigitta!"
Terdengar suara langkah kaki menggema di ruangan itu. Pandangan mereka teralihkan. Jennifer mengernyit menatap ke arah sumber suara. Begitu juga Victoria. Mereka saling berpandangan.
"Ibu....!" Kalimat Yara menggantung saat melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. Langkanya mendadak berhenti.
Sementara Victoria dan Jennifer seperti orang bodoh, saat melihat penampakan Yara yang nampak berbeda dengan mini dress bermodel rok melebar hingga ke batas lutut dan berlapis brukat berwarna merah maroon gelap. Pakaian itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Di pinggangnya terdapat pita dan desain lehernya berbentuk V dengan lekukan motif brokat, tangannya tiga perempat di bawah siku. Elegan dan ia sangat manis dengan dressnya. Rambutnya diurai begitu saja melewati bahu. Berombak cantik dan rambut indahnya.
"Siapa dia aunty?" bisik Jennifer dengan kerutan dahi yang dalam.
Frey memalingkan wajahnya menatap sosok wanita yang tak asing baginya. Ia ikut terdiam melihat penampilan Yara yang terlihat berbeda.
Saat semua mata tertuju kepadanya. Yara bertambah gugup. "Maaf....saya ke sini hanya ingin mencari ibu Brigitta." Yara meremas kedua tangannya dengan erat. "Astaga, bagaimana mungkin aku bisa ke sasar sampai ke sini? Apa yang harus aku lakukan? Dimana ibu Brigitta?"
Dengan tatapan meremehkan. Victoria segera bangun dari duduknya. "Apa yang kau lakukan di sini? mencari perhatian frey ya?"
Mendengar itu, Yara dengan cepat mengibas-ngibaskan tangannya. "Tidak, saya ke sini hanya ingin mencari ibu Brigitta."
Victoria menatap Yara dari atas sampai ke ujung kaki. "Mencari Brigitta? Kau ingin mencari Brigitta dengan berpenampilan seperti ini?" Suara Victoria naik satu oktaf.
Tak mau diam, Jennifer ikut bangun dari duduknya. "Siapa dia aunty?" Ucapnya menatap sinis ke arah Yara. Ia tidak terima ada wanita yang menyaingi kecantikannya.
"Dia hanyalah wanita j*lang yang berani masuk ke dalam keluarga Miles."
"Maksud aunty? dia......" Jennifer terbelalak tak percaya. Ia menatap Frey yang hanya diam tanpa melakukan apapun.
Tak ingin memperpanjang masalah, Yara langsung meninggalkan dapur tanpa sepatah kata. Hatinya sudah sakit mendengar saat ia dikatakan wanita j*lang.
__ADS_1
"Hei...mau kemana kau?" Victoria mengejar Yara hingga menarik tangannya dengan kuat.
"Saya ingin kembali ke kamar. Jadi lepaskan saya!" Yara mencoba menepis tangan Victoria.
"Berani sekali kau!" Victoria menggeram sambil mencengkram tangan Yara begitu kuat. Tatapannya mengintimidasi Yara dengan senyum ejekan. "Kembali ke kamar? kau pikir siapa dirimu? hanya karena kau Istri Frey, kau bisa melakukan apa saja, begitu?"
"Saya tidak pernah mengatakan itu. Jadi saya mohon lepaskan tangan anda."
"Dasar wanita j*lang!" Victoria memukul kepala Yara begitu kuat. Hingga membuat rambut Yara berantakan tak beraturan.
"Apa yang anda lakukan?" Mata Yara mendelik tajam.
"Menyadarkanmu!" Victoria kembali mencengkram lengan Yara dengan kuat. "Aku tidak pernah merestui pernikahan kalian. Jadi jangan pernah bermimpi untuk memiliki Frey...."
"Nona, saya sudah membawa..." Brigitta tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat melihat ekspresi gelap dari nyonya Victoria Miles.
"Nyonya....." Panggil Brigitta dengan wajah tegang. Bola matanya bergerak gelisah. Ia tak tahu harus melakukan apa kalau sudah berurusan dengan nyonya besarnya.
"Lepaskan dia!" Suara bariton dan tegas tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka.
Victoria tidak juga melepaskan cengkeramannya dari tangan Yara. Sorot matanya semakin tajam menatap Yara.
"Aku bilang lepaskan dia, mom!" kembali suara dingin itu terdengar membuat Brigitta bergidik takut karena suaranya begitu rendah seolah menahan amarah.
Karena begitu kesal, Victoria mendorong Yara hingga terjatuh.
"Ahhhhh....." Yara terkejut hingga tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Ia terduduk di lantai.
"Jangan pernah membela wanita itu di depanku Frey, aku bisa mematahkan kaki dan tangannya. Walau itu istrimu!"
DEG!
"Apa kau mendengar mommy? Pernikahan kalian tidak sah. Aku tidak pernah tahu, pernikahan bisa berjalan tanpa restu orang tua. Jika jangan pernah mengharapkan pengakuan dari mommy."
DEG!
Yara semakin mengerutkan dahi bingung, mencoba mengerti maksud perkataan wanita itu. Tapi jantungnya tak bisa berbohong.
"Apa maksudnya? Pernikahan kalian?" Yara menatap Frey dan Victoria bergantian. Ia berusaha mengatur debaran jantungnya yang semakin terpukul kencang. Jari-jari tangannya terasa dingin. Ia masih mencoba mencerna.
"Aku juga tidak pernah mengharapkan restu dari mommy. Dia adalah istriku, jadi mommy harus menerima itu."
Bagaikan suara petir menggelegar di telinga Yara saat Frey mengatakan istri. Ia begitu shock saat ini. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Ia terdiam seakan tidak percaya dengan apa di dengarnya.
"Terserah kau mau mengatakan apa Frey, yang jelas mommy tidak pernah menganggapnya bagian dari keluarga Miles. Dan kau...." Victoria menunjuk ke arah Yara yang terdiam dengan wajah pucat tak berdaya. "Jangan pernah menunjukkan wajahmu di depanku lagi. ingat itu!" Victoria menggertakkan giginya, karena begitu kesal. Frey membela wanita sialan itu. Dengan segera Victoria membalikkan badannya dan kembali ke dapur.
Yara menunduk sambil meremas erat tangannya. Napasnya sungguh tidak beraturan. Ia masih benar-benar shock mendengar semua ini.
"Jadi lelaki yang dinikahinya di gereja itu siapa?"
Yara mengembuskan napasnya dengan wajah tegang. Brigitta dengan cepat mendekati Yara.
"Nona, anda tidak apa-apa!" Brigitta memegang ke dua pundak Yara.
Frey menarik napas menatap Yara tanpa ekspresi. "Bawa dia kembali ke kamar."
Brigitta dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Baik tuan."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Frey melangkah menuju ruang kerjanya.
"Ada apa ini? kenapa pria itu menjadi suamiku? apakah lelaki itu bisa berubah wujud?" Ucap Yara pelan hampir tidak terdengar.
"Nona, anda tidak apa-apa?" Tanya Brigitta lagi.
"Siapa dia ibu Brigitta?"
"Heuh? maksud anda?"
"Pria itu? siapa dia sebenarnya?" Tanya Yara dengan pandangan bingung.
"Maksud anda tuan Miles?"
Yara mengangguk cepat dengan wajah tegang. "Ya. Siapa dia?"
"Tuan Miles adalah pemilik rumah ini." Jawab Brigitta dengan polos.
Yara menggeleng. "Bukan....bukan itu maksudku. Apakah dia manusia siluman?"
Mendengar itu tawa Brigitta hampir saja terlepas. Dengan cepat ia menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar. Baru ini ia mendengar manusia siluman.
"Apa ada yang lucu?"
"Maaf nona," Brigitta kembali bersikap formal. "Tidak ada manusia siluman di rumah ini."
"Tapi..."
"Iya, saya tahu apa yang anda rasakan. Pernikahan karena perjodohan membuat hati kita tidak nyaman. Nyonya Victoria memang seperti itu, setiap perkataannya jangan pernah ambil pusing....Karena sikap beliau kepada kekasih tuan...." Brigitta tersadar, ia menutup mulutnya. "Maaf..."
Yara mengernyitkan dahinya, "Kenapa dengan kekasihnya?" Kejar Yara mencoba mencari tahu.
"Maaf, nona...anggap saja saya tidak pernah mengatakan hal itu. Sekarang lebih baik anda kembali ke kamar seperti pesan tuan Miles."
Yara mengembuskan napasnya dengan berat dan beberapa detik kemudian ia mengangguk.
"Biar aku bantu." Kata Brigitta lembut. Ia memegang ke dua bahu Yara dan menuntunnya berjalan. Brigitta membukakan pintu untuk Yara dan kembali membawanya masuk ke kamar.
Yara duduk di tepi kasur dan hanya diam menatap ke arah luar jendela dengan pandangan kosong. Ia masih tidak mengerti dengan semua ini. Kenapa di hari pernikahan Frey menggantikan dirinya dengan orang lain. Pikiran Yara benar-benar campur aduk saat ini.
"Semuanya akan baik-baik saja, nona."
Yara tersenyum sendu. "Terima kasih ibu Brigitta."
Brigitta mengangguk dengan senyuman. "Kalau begitu, saya tinggal dulu nona."
Yara mengangguk pelan. Brigitta pun meninggalkan kamar. Saat pintu tertutup, Yara menarik napasnya yang terasa berat. Tiba-tiba ia teringat orangtuanya.
"Mom, dad....apa kabar kalian?" Ucapnya pelan dengan tatapan sendu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.