Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 100


__ADS_3

Meskipun Danu merasa bingung. Namun ia tetap melakukan apa yang Bastian katakan tanpa bertanya pada Bastian. Karena Danu yakin, Bastian tau apa yang sedang ia lakukan.


Sepeninggalan Danu dan Beti. Bastian masih berada di rumah kosong itu bersama laki-laki yang menyekap Beti. Laki-laki itu menanyakan apa yang mengganjal dalam hatinya pada Bastian.


"Bos muda benar-benar percaya pada gadis itu? Apa bos muda tidak takut kalau gadis itu akan berkhianat pada bos muda seperti yang telah gadis itu lakukan sebelumnya?"


"Aku tidak yakin sebenarnya. Tapi, sekarang kita punya senjata untuk membuat dia takluk pada kita. Tapi, aku minta kamu menyiapkan seseorang untuk mengawasi gadis itu. Laporkan padaku jika ada yang tidak beres.


"Baik bos muda. Akan saya lakukan apa yang bos muda katakan."


Bastian meninggalkan rumah kosong itu bersama laki-laki juga anak buahnya. Tidak ada bekas dari apa yang mereka lakukan. Mereka adalah orang-orang yang handal dan bisa di percaya. Bastian sangat senang bekerja sama dengan mereka.


Bukan hanya pekerjaannya bagus, tapi mereka juga sangat setia. Tidak akan mau berkhianat pada orang yang sudah mempekerjakan mereka.


____


Setelah mengantar Beti ke apartemen Sarah, Danu kembali ke kantor sesuai yang telah Bastian katakan. Ia langsung masuk ke ruangan Bastian untuk bicara dengan bos mudanya itu.


"Maaf bos muda, saya ingin menanyakan sesuatu," kata Danu agak ragu.


"Kamu ingin menanyakan apa, Danu? Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan!" kata Bastian sambil menutup laptopnya.


"Ini tentang .... " Perkataan Danu terhenti karena seseorang di depan pintu ruangan Bastian.


"Ngapain kamu di sini?" tanya orang yang berada di luar ruangan Bastian.


"Bos muda."


"Lihat Danu, siapa yang sedang bikin keributan!"


Danu bangun dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu masuk ruangan ini. Ketika ia membuka pintu, Lisa dan Lula sedang berada di depan ruangan tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Danu pada keduanya.


"Ini, pak Danu. Dia sedang menguping pembicaraan pak Danu dengan bos muda," kata Lula sambil menunjuk Lisa.


"Apa kamu bilang? Aku menguping? Heh! Kamu yang benar saja. Aku itu masuk, cuma ...."


"Cuma apa? Cuma menguping?" tanya Danu memotong perkataan Lisa.

__ADS_1


"Pak Danu, petugas kebersihan ini mulutnya terlalu lancang. Tidak tahu sopan santun sama atasan. Kenapa di terima orang seperti ini bekerja di sini?" tanya Lula kebingungan.


"Ada apa ini?" tanya Bastian pada akhirnya keluar juga karena tidak bisa membiarkan keributan terus berlanjut.


"Bos muda." Lula tertunduk. Ia takut apa yang ia ucapkan didengar oleh Bastian. Lula berpikir, jika Bastian mendengarkan apa yang ia katakan, maka Bastian juga akan menilai dirinya tidak punya sopan santun selaku bawahan.


"Ini bos muda, karyawan kebersihan yang baru, berani-beraninya menguping pembicaraan bos muda," kata Danu pada Bastian.


"Apa yang kamu bilang! Aku menguping? Kalo ngomong itu di jaga, ya. Emang aku gak ada kerjaan apa?" Lisa bicara dengan nada tinggi.


"Bastian. Jangan dengarkan apa yang mereka katakan. Aku sama sekali tidak menguping. Kamu harus percaya dengan apa yang aku katakan," kata Lisa bicara dengan nada yang sangat manja.


"Benarkah kamu tidak menguping?" tanya Bastian dengan santai.


"Ya, Bas. Kamu percaya sama aku kan?"


"Percaya? Lalu untuk apa kamu berada di depan ruangan ku sekarang?"


"Aku ... aku sedang bersih-bersih. Ya, sedang bersih-bersih."


"Bersih-bersih apa?" tanya Danu tak percaya.


"Sepertinya, dia masih belum bisa menjaga sopan santunnya, bos muda. Apakah kita harus meminta Minarti mendisiplinkan nya lagi?" tanya Danu pada Bastian.


"Terserah kamu saja. Aku serahkan semuanya pada kamu. Apa yang ingin kamu lakukan, lakukan saja," kata Bastian sambil beranjak masuk kembali.


"Bastian! Kamu tidak bisa mengabaikan aku seperti ini. Apa kamu lupa? Kakakku adalah cinta pertama kamu. Apa kamu tidak merasa bersalah pada kakakku jika kamu memperlakukan aku seperti ini?" tanya Lisa dengan rasa kesal.


Bastian tidak menjawab. Ia benar-benar mengabaikan Lisa dengan tidak bergeming sama sekali.


'Kakakmu memang cinta pertamaku. Tapi, aku sudah punya cinta sejati sekarang. Untuk perasaan bersalah atau tidak. Jawabannya, aku tidak merasa bersalah pada kakakmu, karena sifat kamu sangat jauh berbeda dari kakakmu,' kata Bastian dalam hati sambil duduk kembali ke kursinya.


Danu memanggil Minarti untuk memberikan Lisa pelajaran lagi. Minarti dengan senang hati membawa Lisa pergi dan memberikan hukuman yang lainnya pada Lisa.


Sementara itu, setelah kepergian Lula dari ruangan Bastian, Danu kembali bicara berdua dengan Bastian.


"Bos muda, apakah Lisa tidak menjadi ancaman buat bos muda jika dia terus berada di kantor ini?" tanya Danu dengan tatapan serius.


"Kamu benar. Dia adalah perempuan yang bermuka dua. Tidak mustahil baginya untuk melakukan apapun yang ia inginkan."

__ADS_1


"Danu. Suruh seseorang mengawasi Lisa. Jangan sampai kita kecolongan. Pastikan dia tidak bisa melakukan apapun yang bisa merugikan kita."


"Baik bos muda. Saya akan lakukan sesuai perintah bos muda."


"Satu lagi, Danu. Aku ingin kamu ke luar negeri untuk melakukan sesuatu pada perusahaan asing yang sudah menipu kita atas nama Eagle grup. Aku yakin kamu tahu apa yang seharusnya kamu lakukan," kata Bastian dengan serius.


"Baik bos muda. Serahkan semuanya pada saya. Kapan saya harus berangkat?"


"Secepatnya. Aku akan siapkan semua yang kamu butuhkan terlebih dahulu."


"Baiklah bos muda."


Setelah bicara seperti itu, Danu pun pamit pergi meninggalkan ruangan Bastian. Sedangkan Bastian, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Halo."


"Ya bos muda," jawab seseorang yang berada di seberang sana.


"Bagaimana rencana yang aku katakan padamu kemarin? Apa sudah kamu siapkan?"


"Sudah bos muda. Semua sudah siap. Hanya tinggal menunggu perintah dari bos muda saja."


"Bagus. Jalankan semua sesuai rencana malam ini."


"Baik bos muda. Saya akan laksanakan sesuai rencana."


"Bagus."


Bastian tersenyum sambil memutuskan panggilan.


"Kejutan sedang menanti kamu Lisa. Aku harap kamu benar-benar sadar, dengan siapa kamu sedang berhadapan. Itulah hukuman untuk seseorang yang sudah berani menyentuh milik Bastian."


"Milik aku?" Tiba-tiba, Bastian teringat dengan Chacha.


"Sepertinya, jalan-jalan berdua sangat bagus malam ini. Atau ... makan malam romantis juga sangat luar biasa. Kalau kedua-duanya juga boleh," kata Bastian tersenyum sambil memikirkan saat-saat bersama Chacha.


"Ya, kedua-duanya. Malam ini akan jadi malam paling romantis. Huh, aku terlalu sibuk dengan urusanku sampai lupa memanjakan orang yang aku sayang."


Bastian kembali mengambil ponselnya. Ia kembali menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Halo, bos muda," ucap seseorang yang berada di seberang sana.


__ADS_2