
Mereka menaiki dua bianglala yang berbeda. Baru beberapa detik naik ke atas, Bastian sudah merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Kepalanya mendadak pusing. Perutnya tiba-tiba merasa mual.
Dengan susah payah ia menahan rasa itu, tapi pada akhirnya, ia kalah juga. Bastian tidak bisa membuka mata, rasa pusing semakin menguasai kepalanya. Pandangan mata yang tidak jelas lagi, membuat ia ingin berbaring saja.
Tidak ada pilihan lain selain bersandar di bahu Chacha. Chacha kaget dengan Bastian yang tiba-tiba saja menyandarkan kepalanya.
"Ada apa, Bas, maksudku, mas?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Apakah mainan ini masih lama lagi baru berhenti?" tanya Bastian tanpa membuka mata.
"Kamu kenapa sih? Jangan buat aku cemas, Mas," kata Chacha sambil menyentuh dahi Bastian.
Bastian tidak menjawab. Ia hanya diam saja, menahan perutnya yang sedang sangat tidak enak.
"Dahinya tidak panas. Itu tandanya, dia tidak dalam keadaan demam," kata Chacha pada dirinya sendiri.
Satu putaran pun akhirnya sampai. Merasa bianglala itu berhenti, Bastian segera membuka mata lalu berlari meninggalkan bianglala tersebut. Chacha yang merasa ada yang salah dengan suaminya, segera menyusul. Melihat Bastian dan Chacha keluar dari bianglala mereka, Danu dan Lula juga ikut keluar.
"Ada apa, bos muda?" tanya Lula.
Di sana, Chacha sedang mengelus punggung Bastian yang baru saja mengeluarkan unek-unek yang sedari tadi ia tahan. Melihat kejadian itu, ada rasa geli dalam hati Danu. Ia ingin tertawa tapi kasihan pada bos mudanya yang memang tidak bisa menaiki mainan itu.
"Bos muda gak papa?" tanya Danu mencoba mengambil alih apa yang Chacha lakukan.
"Aku gak papa. Hanya sedikit pusing saja."
"Sudah aku katakan, kalo gak kuat, harusnya jangan pura-pura kuat, bos muda. Kan gini jadinya."
"Danu, apa kamu mau pindah kerja sekarang?"
"Tidak-tidak. Aku hanya bercanda."
"Bas, maafkan aku," kata Chacha dengan wajah menyesal.
"Kamu gak salah. Aku aja yang terlalu lemah."
"Kamu gak lemah kok mas. Hanya saja, setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ayo pulang! Kamu harus segera istirahat," kata Chacha sambil terus menatap Bastian dengan perasaan bersalah.
"Aku gak bisa bawa mobil saat ini. Kepalaku masih terlalu pusing untuk nyetir."
"Danu." Chacha menatap Danu.
"Ya sudah, gini saja. Biar aku yang bawa mobil bos muda."
__ADS_1
"Lalu? Mobil yang kamu bawa bagaimana?" tanya Chacha.
"Biar aku yang bawa," kata Lula cepat.
"Ya sudah kalo gitu, ayo!"
Danu memapah Bastian menuju mobil, diikuti oleh Chacha dari belakang. Sedangkan Lula, pergi menuju mobil yang membawa mereka datang ke sini tadinya.
Setelah membantu Bastian masuk ke dalam mobil, Danu pun segera masuk. Mereka meninggalkan pasar malam segera dengan Lula yang mengikuti mereka dari belakang.
"Danu, maafkan aku." Chacha berucap lirih penuh rasa bersalah sambil terus membelai rambut Bastian yang terbaring di pangkuannya.
"Maaf, nona bos? Maaf untuk apa?" tanya Danu tak mengerti.
"Maaf untuk aku yang sudah membuat kekacauan. Terutama, untuk kamu dan Lula," kata Chacha dengan wajah menyesal.
"Tidak nona bos. Nona bos tidak membuat kekacauan apapun."
"Apa yang Danu katakan itu benar, sayang. Kamu tidak merusak apapun. Jangan banyak berpikir yang tidak-tidak," kata Bastian.
Tidak terasa, mereka akhirnya sampai ke rumah. Danu dengan cepat membantu Bastian keluar dari mobil, lalu memapahnya menuju kamar. Sedangkan Chacha, ia tidak ikut masuk. Ia masih menunggu Lula yang baru saja sampai.
"Ayo masuk, Lula!"
"Apa kamu takut orang tuamu akan mencemaskan mu?" tanya Chacha.
Lula terdiam. Ia tidak bisa menjawab langsung apa yang Chacha tanyakan. Hatinya sedikit terasa sakit. Walaupun dia tahu kalau Chacha tidak tahu menahu tentang siapa dia, tapi, rasa sakit itu tetap saja terasa.
"Ada apa, Lula?" tanya Chacha merasa ada yang aneh.
"Tidak ada nona. Aku tidak punya orang tua. Jadi .... "
"Maafkan aku. Aku tidak tahu soal itu. Maaf sudah membangkitkan rasa sedih dalam hatimu," ucap Chacha dengan sangat menyesal.
"Gak papa nona Chacha, gak perlu minta maaf. Aku gak sedih kok," ucap Lula sambil memperlihatkan senyum manis di bibirnya.
Obrolan mereka harus terhenti karena kedatangan Danu.
"Kamu mau langsung pulang?" tanya Danu pada Lula.
"Iyah. Ini udah larut malam. Aku gak enak nanti sama tetangga jika pulangnya lebih malam lagi."
"Ya sudah, aku antar kamu sekarang."
__ADS_1
"Nona bos, saya permisi dulu. Saya akan mengantarkan Lula pulang sekarang," kata Danu pada Chacha.
"Ya, hati-hati."
"Nona Chacha, saya pulang dulu. Selamat malam. Semoga bos muda baik-baik saja," kata Lula sambil tersenyum.
"Iya, Lula. Selamat malam. Hati-hati di jalan ya. Jika ada waktu, mainlah ke rumah ini."
Lula mengangguk sambil tersenyum. Ia beranjak meninggalkan Chacha yang masih berdiri di tempatnya sambil melihat kepergian mereka.
"Ternyata, nona Chacha itu orangnya hangat juga ya," kata Lula sambil memikirkan apa yang telah ia lalui malam ini.
"Ya, dia memang hangat juga baik. Jodoh yang pas untuk bos muda."
"Ya benar. Jodoh yang sangat pas mereka berdua. Aku yakin, mereka pasti menikah saat mereka benar-benar saling mencintai waktu itu."
"Siapa bilang?" tanya Danu yang masih fokus sama jalan raya sejak tadi.
"Siapa bilang? Maksud mas Danu?" tanya Lula penasaran.
"Maksudku, siapa bilang saat mereka menikah itu mereka saling mencintai. Mereka menikah karena sama-sama terpaksa."
"Terpaksa?"
"Ya, terpaksa. Nona bos menggantikan kakak tirinya menikahi bos muda yang lumpuh waktu itu."
"Jadi, nona Chacha punya keluarga tiri?"
"Ya. Dia punya keluarga tiri yang memusuhi, dari dulu hingga sekarang. Mama tiri nona bos masih saja ingin merusak kehidupan nona bos hingga saat ini."
"Jahat sekali mama tiri nona Chacha itu ternyata. Apa salah nona Chacha sampai dia harus memusuhi nona Chacha?"
"Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, dia tidak suka melihat nona bos bahagia."
"Terus, papa sama mama kandung nona Chacha?"
"Sudah meninggal. Sekarang, nona bos tidak punya siapa-siapa lagi selain bos muda. Untungnya sekarang, bos muda sudah sangat mencintai nona bos."
"Syukur deh kalo gitu. Aku ikut merasakan apa yang nona Chacha rasakan. Tidak punya orang tua, rasanya seperti hidup dalam kegelapan. Tidak punya tempat berteduh."
"Sudah, jangan sedih. Kamu punya aku sekarang," kata Danu sambil memegang tangan Lula dengan lembut.
Lula tersenyum dengan apa yang Danu lakukan. Saat ini, ia bisa merasakan sebuah kehangatan dalam hatinya. Itu semua karena Danu.
__ADS_1