Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 94


__ADS_3

"Lisa. Tanda tangan surat kontrak ini jika kamu ingin bekerja di sini," kata Bastian sambil menyodorkan surat kontrak tersebut.


"Aku harus membaca isi dari surat kontra ini terlebih dahulu, baru bisa menandatangi kontraknya. Aku tidak ingin dirugikan di sini," kata Lisa sambil mengambil surat kontrak itu.


"Baik. Silahkan di baca."


Lisa pun membaca dengan seksama surat kontrak yang ada di tangannya. Tidak ada hal yang aneh yang tertulis didalam kontrak ini. Isinya sama seperti yang Bastian katakan.


"Bagaimana? Ada kejanggalan?" tanya Bastian saat Lisa selesai membacanya.


"Tidak ada."


Lisa pun mengambil pulpen yang tergeletak di atas meja Bastian. Ia segera menandatangi dua surat perjanjian kontrak kerja.


"Sudah." Lisa langsung menyerahkan surat tersebut pada Bastian.


"Bagus." Bastian menerima surat tersebut dengan wajah penuh kemenangan.


"Kapan aku mulai bekerja?"


"Sekarang."


"Sekarang?"


"Ya. Sekarang. Apa kamu merasa keberatan untuk bekerja sekarang?"


"Tidak-tidak. Itu lebih bagus. Lebih cepat lebih baik."


"Kalau gitu, ayo ikut aku. Aku akan perkenalkan kamu pada semua karyawan yang bekerja di sini," kata Bastian sambil beranjak.


"Oke," kata Lisa sambil berdiri dari duduknya.


'Cih, pertujukan akan segera dimulai, Lisa. Aku harap kamu tidak akan menyesal dengan apa yang kamu pilih. Aku tidak memaksa, tapi kamu yang menginginkan hal ini. Siap-siap saja untuk menderita terus-terusan,' kata Bastian dalam hati sambil berjalan ke luar ruangan.

__ADS_1


'Kamu terlalu bodoh Bastian. Kamu termakan jebakan yang aku buat. Dengan aku bekerja di sini, maka kita akan bertemu tiap hari. Aku akan manfaatkan kesempatan ini untuk membuat kamu jatuh cinta padaku. Dengan begitu, Sarah akan memuji aku karena keberhasilan yang aku raih,' kata Lisa dalam hati sambil tersenyum licik.


Semua karyawan yang berada di ruang mereka, menghormati Bastian saat melewati ruangan semua staf. Awalnya, Lisa merasa besar kepala karena Bastian sendiri yang mengantar dia ke tempat kerjanya. Namun, setelah sampai di tempat para petugas kebersihan, Lisa kaget bukan kepalang.


"Nah, Lisa. Ini teman-teman kamu. Semoga kamu betah bekerja di sini," kata Bastian sambil tersenyum pada semua karyawan kebersihan yang menyambutnya dengan sangat hormat.


"Apa! Kamu gak sedang bercanda kan, Bastian? Yang benar saja aku bekerja sebagai petugas kebersihan. Kamu lupa? Aku ini sarjana lulusan luar negeri tahu gak?" Lisa benar-benar kesal.


"Lulusan luar negeri? Kamu yang benar saja, Lisa. Sejak kapan aku melihat ijazah sarjana mu itu. Kamu pikir aku mau terima kamu untuk bekerja di sini jika bukan karena pegawai kebersihan ku ada yang berhenti?"


"Aku tidak mau tau, aku tidak ingin bekerja sebagai petugas kebersihan. Kamu harus tempatkan aku di tempat yang lebih baik. Sebagai sekretaris kamu kek gitu."


"Ya sudah. Jika kamu tidak ingin bekerja di sini sebagai petugas kebersihan, kamu bisa membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan ini. Dan jangan lupa, kamu yang membatalkan kontrak kerja sama dengan aku, maka kamu akan membayar denda dua kali lipat selama satu tahun kerja."


"Apa! Gila. Kamu yang benar saja, Bastian. Kamu jebak aku?"


"Tidak. Aku tidak menjebak kamu. Tapi, kamu sendiri yang sudah menyetujui perjanjian kerja sama dengan Hutama grup."


"Tapi .... "


Lisa tertegun memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Bagaimana bisa ia bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor sebesar dan semegah ini. Tapi, dia juga tidak bisa menolak untuk bekerja di kantor ini. Karena kontrak kerja sudah dia tanda tangani.


Bukan hanya kehilangan banyak uang, dia juga akan kehilangan kesempatan dekat dengan Bastian jika ia menolak kerja di sini. Kesempatan itu sangat langka bagi Lisa. Jadi, mau tidak mau, ia hanya bisa mengambil kesempatan kali ini saja.


"Baiklah, aku akan bekerja sebagai petugas kebersihan seperti yang kamu katakan," kata Lisa pasrah dengan keadaan.


"Bagus kalo gitu."


"Semuanya, kenalin, ini Lisa, karyawan baru yang akan bekerja sama dengan kalian."


"Karena dia karyawan baru yang datang karena terpaksa aku pekerjakan. Maka kalian bebas menyuruh dia melakukan apa saja. Intinya, berikan dia semua pekerjaan yang kalian biasa kerjakan. Semua terserah kalian mau melakukan apa sama dia," kata Bastian bicara panjang lebar dengan semua karyawannya.


"Bastian! Kamu bicara apa barusan! Tidak cukup kamu menyiksa aku dengan menempatkan aku sebagai petugas kebersihan di kantor ini? Apa kamu mau membuat aku mati berdiri, hah!"

__ADS_1


"Aku tidak pernah meminta kamu bekerja di kantor ini, Lisa. Kamu yang ingin bekerja sendiri. Bukankah aku sudah memberikan syarat sebelum kamu menandatangani surat kontrak?"


"Ya tapi tidak seperti ini juga dong."


"Terserah kamu. Jika kamu merasa tidak sanggup, kamu bisa pergi. Jika kamu merasa sanggup, maka kamu bisa bertahan."


"Baiklah semuanya, apa kalian mengerti dengan apa yang aku katakan tadi?"


"Ya bos muda, kami mengerti," jawab semua karyawan dengan serentak.


"Bagus. Aku permisi dulu. Selamat bekerja semuanya. Terutama, kamu Lisa, selamat menikmati pekerjaan sebagai petugas kebersihan," kata Bastian sambil beranjak dari tempatnya.


Ia juga mempersembahkan senyum termanis yang ia punya pada Lisa. Tapi bukan senyum termanis karena senang, melainkan karena Bastian sedang mengejek Lisa.


'Huh, jangan senang dulu Bastian. Aku tidak kalah. Tapi, aku hanya mengalah. Mengalah untuk menang nantinya. Kita lihat saja nanti, siapa yang lebih pintar dalam permainan ini. Aku, atau kamu yang akan keluar sebagai pemenang. Sama-sama kita tunggu nantinya,' kata Lisa dalam hati sambil menatap punggung Bastian yang berjalan semakin menjauh dengan perasaan yang sangat amat geram.


Belum juga rasa kesal yang ada dalam hati Lisa menghilang. Salah satu karyawati yang ada di sana langsung menyerahkan ember beserta kain pel pada Lisa.


"Heh anak baru, nih, lanjutkan apa yang aku kerjakan. Aku mau istirahat dulu sekarang," kata Karyawati yang berbadan tinggi juga sedikit gemuk.


"Apa! Kamu suruh aku melanjutkan pekerjaan kamu. Heh! Kamu yang benar saja? Kamu gak tahu siapa aku?" tanya Lisa dengan sangat marah.


"Teman-teman, kalian tahu siapa dia?" tanya karyawati itu pada semua petugas kebersihan yang sedang duduk-duduk karena memang waktu istirahat.


"Tau. Dia petugas kebersihan yang diterima bos muda dengan terpaksa. Iyakan?" Salah satu petugas yang lain menjawab.


"Iya," kata yang lain pula.


Semua petugas kebersihan sedang mengolok-olok Lisa dengan berbagai kata-kata cemoohan. Mereka juga menertawai Lisa yang begitu tidak tahu diri sebagai sesama petugas kebersihan. Dan yang paling penting, bos muda mereka telah membebaskan mereka melakukan apa saja pada Lisa. Termasuk, membebankan semua pekerjaan berat pada Lisa.


"Sudah. Kamu yang tidak tahu diri. Ayo cepat kerjakan apa yang aku katakan. Anak baru juga sangat belagu," kata karyawati yang tadi, sambil mendorong Lisa hingga terjatuh ke lantai.


"Kamu!" Lisa berucap dengan amarah sambil menatap karyawati tersebut.

__ADS_1


"Apa!" Karyawati itu tidak memberikan Lisa muka.


'Awas saja kalian. Tinggu pembalasanku,' kata Lisa dalam hati sambil bangun dari jatuhnya.


__ADS_2