Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 51


__ADS_3

Aksi kejar-kejaran terus saja berlangsung. Sarah terus menaikkan kecepatan agar polisi tidak berhasil menangkap mereka, tanpa dia sadari, kalau saat ini yang berada di hadapannya adalah tikungan.


"Mama awas, Ma!" kata Keke sambil berteriak ketika ia melihat ke depan.


"Aaaa .... "


Mobil menghantam truk yang sedang melaju pelan melewati tikungan. Truk yang membawa tanah terhenti sedangkan mobil yang mereka kendarai terpental berguling-guling di jalan raya tersebut.


"Gawat, pak. Mereka kecelakaan," kata salah satu polisi pada polisi yang lain.


"Beri tahu ketua apa yang terjadi."


"Siap pak."


Jalanan yang kebetulan sedang sepi membuat tidak ada warga yang datang berkerumun. Yang ada hanya sopir truk dan dua polisi yang masih berada dalam mobil mereka. Salah satu polisi menghubungi ketua mereka yang kebetulan sedang membawa Raditya menuju kantor polisi.


"Apa! Mereka kecelakaan?"


" .... "


"Baiklah, kami akan ke sana sekarang," kata polisi tersebut.


"Putar arah. Kita ke jalan Cempaka sekarang."


"Baik, pak.


"Maaf pak, siapa yang kecelakaan?" tanya Raditya setelah polisi menyimpan teleponnya.


"Tersangka."


"Apa! Bagaimana keadaan mereka pak? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Radit cemas.

__ADS_1


"Kita akan lihat bagaimana keadaan mereka setelah kita sampai."


Radit terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa dalam hati untuk keselamatan Sarah dan Keke.


'Tuhan ... semoga mereka baik-baik aja. Selamatkan lah mereka. Aku tahu mereka punya banyak salah. Tapi, berilah mereka ampunan dan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri,' kata Raditya dalam hati.


Ketika mereka sampai, ambulan dan alat berat juga baru saja sampai. Radit begitu hancur saat melihat mobil yang Sarah dan Keke kendarai hancur dan terbalik di tengah jalan raya.


Ketika di keluarkan, tubuh Keke seperti remuk akibat terhimpit. Sedangkan Sarah, kakinya saja yang remuk. Air mata tak tertahankan lagi ketika melihat anak dan istrinya sedang di bawa oleh tim medis masuk ke ambulan.


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya ketua polisi pada salah satu tim medis.


"Ibunya masih bisa di selamatkan. Tapi, anaknya sudah meninggal."


"Apa!" Raditya menutup mulutnya dengan tangan.


"Ini tidak mungkin. Keke!" kata Raditya berteriak mengejar ambulan yang kebetulan sudah bergerak.


"Tidak! Ini tidak mungkin!" kata Raditya lagi.


"Ayo pak, kita susul ambulan itu ke rumah sakit," kata ketua polisi sambil menepuk pundak Raditya.


Melihat Raditya yang tidak bergerak sama sekali, ketua polisi meminta anak buahnya memapah Radit untuk di bawa masuk ke mobil. Saat dipapah, Raditya hanya mengikuti saja apa yang polisi itu lakukan. Ia sudah tidak punya tenaga lagi sekarang. Tubuhnya benar-benar lunglai.


Para tim medis berjalan cepat membawa Keke dan Sarah masuk keruangan. Mereka akan melakukan pengecekan sekali lagi pada keduanya dengan alat lengkap yang berada di rumah sakit ini.


Seperti yang sudah dikatakan salah satu tim medis tadi, hasilnya tetap sama. Keke sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Sedangkan Sarah, ia masih bisa ditolong walau saat ini kondisinya sedang kritis.


Setelah di lakukan operasi pada kaki Sarah, dia dipindahkan keruang rawat inap. Ruangannya ternyata bersebelahan dengan ruang rawat inap mama Dimas. Ya, mama dimas harus di rawat inap karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk ia pulang pada hari yang sama. Ia harus dirawat selama beberapa hari terlebih dahulu.


Jasat Keke segera dipindahkan, untuk di makamkan. Saat para suster membawa jasat tersebut, tanpa sengaja, Dimas melihat wajahnya yang terbuka karena tertiup angin.

__ADS_1


"Ke--Keke," kata Dimas sambil terus memandang wajah itu dengan tatapan tak percaya.


"E ... suster, apa yang terjadi? Ma--sud saya, benarkah dia sudah meninggal" tanya Dimas gelagapan.


"Ya. Dia meninggal. Seperti yang anda lihat," jawab suster itu sambil menatap Dimas dengan tatapan aneh.


"Maksud saya ... me--meninggal ... karena apa?"


"Kecelakaan."


"Apa!"


"Maaf mas, kami harus segera membawa jasat ini pergi. Karena keluarganya sedang menunggu," kata suster yang lain.


"Iy--iya. Terima kasih, Sus."


Kabar meninggalnya Keke sampai ke telinga Bastian yang sedang menemani Chacha yang masih belum sadar dari pingsannya.


"Apa! Kamu yakin?" tanya Bastian tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Yakin bos muda. Saya baru saja dapat kabar dari salah satu polisi yang mengejar Keke dan Sarah."


"Aku tidak yakin sebelum aku melihat sendiri jasat nya. Kalian berdua, jaga istriku selama aku tidak ada," kata Bastian pada kedua anak buah yang ia tugaskan untuk menjaga kamar Chacha.


Kedua anak buah itu tidak memakai pakaian serba hitam layaknya penjaga yang ada di dunia mafia. Penjaga yang Bastian sewa memakai pakaian biasa, agar tidak membuat penghuni yang lain merasa terganggu dengan kedua penjaga ini.


"Baik bos muda." Mereka menjawab serentak.


"Ingat. Jangan lengah. Jika ada apa-apa, langsung kabari aku."


"Ya bos muda."

__ADS_1


Selesai berpesan seperti itu, Bastian pun meninggalkan kamar Chacha bersama Danu. Tujuannya adalah mencari tahu kebenaran dari berita yang ia dengar.


__ADS_2