
Sampai depan pintu ruangan Bastian, pegawai itupun mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Siapa?" tanya Bastian dari dalam.
"Saya Haris bos muda."
"Ada apa Haris?"
"Ada tamu bos muda."
"Biarkan mereka masuk."
"Baik bos muda."
Haris pun membuka pintu ruangan Bastian dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Di sini, Lula merasa kagum dengan kantor Hutama grup yang baru pertama kali ia datangi. Semua yang ada di kantor ini benar-benar tertata rapi.
Para pegawainya juga benar-benar menghormati pimpinan mereka. Mau bertemu dengan Bastian saja sangat amat sulit. Ada banyak proses yang mereka lewati. Pantas saja di depan sana satpam melarang mereka masuk jika tidak bikin janji terlebih dahulu. Karena Bastian ternyata bukan bos sembarangan.
Lula mengikuti Mayang dari belakang. Ia merasa gugup saat masuk keruangan Bastian yang ternyata sangat luas. Untuk pertama kali ia melihat Bastian, pewaris Hutama grup. Ia semakin gugup saja. Laki-laki yang penuh kharisma dengan wajah yang sangat tampan, duduk di hadapan mereka.
Tapi, meskipun Bastian tampan dan berkharisma, itu tidak membuat kesadaran Lula hilang. Ia masih ingat siapa dirinya dan apa tujuan mereka datang ke kantor ini.
"Ada perlu apa?" tanya Bastian segera menyadarkan Lula kalo mereka sudah sampai pada puncak tujuan.
"Bastian, kami datang untuk menanyakan soal pembatalan kontrak Hutama grup dengan Mayang Indah," kata Mayang langsung pada intinya.
"Aku suka caramu bicara padaku nyonya Mayang. Tidak berbelit-belit, langsung pada pokoknya."
"Aku tahu kamu adalah orang yang tidak suka berbelit-belit, Bastian. Makanya, aku langsung bicara saja," kata Mayang.
"Baiklah, kita akan bahas sekarang. Kamu pasti ingin menanyakan apa sebab aku membatalkan kontrak kerjasama kita, bukan?"
"Ya, kamu benar. Itulah yang ingin aku tanyakan padamu Bastian. Apakah ada yang tidak kamu sukai dari pembagian hasil? Atau ada yang tidak menguntungkan kamu dari kerjasama kita ini? Bicarakan padaku bagaimana baiknya menurutmu," kata Mayang.
"Oh, tidak ada. Pembatalan kontrak kerja kita bukan karena masalah kerja. Tapi, masalah pribadi."
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Siapa nama anakmu, nyonya Mayang?"
"Dimas."
"Apa ... apakah Dimas penyebab kamu membatalkan kontrak kerjasama kita?"
"Ya, kamu benar sekali. Aku tidak ingin bekerjasama dengan orang seperti anakmu. Suka merusak rumah tangga orang lain."
"Apa maksudmu? Apa yang telah Dimas lakukan sebenarnya?"
"Sampaikan salam ku pada anakmu. Jangan ganggu istriku."
"Apa!? Tidak mungkin. Dimas tidak mungkin menganggu istri orang. Apalagi istri orang seperti kamu. Aku yakin, ini semua bukan salah Dimas."
"Apa! Kamu ingin bilang kalo ini semua salah istriku? Istriku yang membuat Dimas anakmu mengganggunya? Begitu?" tanya Bastian sangat kesal.
"Bukan begitu. Tapi .... "
"Tapi apa?"
Bastian memanggil Danu untuk datang keruangan nya sekarang. Danu tahu kalau Bastian sangat kesal saat ini. Terdengar dari suaranya yang berkata dengan nada tinggi. Danu pun bergegas meninggalkan kantin menuju ruangan Bastian.
"Aku tidak sudi bekerjasama dengan kalian. Kalian sama saja. Tidak ada bedanya."
"Bos Bastian, tolong pertimbangkan kerjasama ini. Ada puluhan karyawan yang sedang beradu nasib sekarang, bos," kata Lula ikut bicara setelah diam sejak tadi.
"Itu bukan urusanku. Itu urusan bos kalian. Aku yakin, bos kalian pasti punya solusi untuk masalah kalian."
"Bos Bastian. Tolonglah kami. Mayang Indah tempat kami mencari rezki. Ada banyak karyawan yang mencari rezki di sana. Mereka semua punya tanggungan membiayai keluarga."
"Kamu berharap aku membantu kalian, kamu yang memikirkan nasib karyawan yang lain, sedangkan bos kalian tidak."
"Siapa bilang tidak," kata Mayang.
"Buk bos, tenang dulu. Biar aku yang bicara," kata Lula bicara dengan suara kecil pada Mayang.
Pembicaraan terhenti saat terdengar pintu diketuk dari luar. Bastian menanyakan siapa yang ada di depan pintu.
__ADS_1
"Danu bos muda," kata Danu.
"Masuk."
Danu pun masuk ke dalam. Berjalan dengan santai melewati Lula dan Mayang. Saat itu, mata Lula tidak luput dari melihat Danu yang berjalan menuju Bastian.
"Ada apa bos muda?" tanya Danu.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu?"
"Sudah saya selesaikan dengan baik, bos muda."
"Bagus. Di mana filenya."
"Ini," kata Danu sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Bastian menerima apa yang Danu berikan padanya. Itu adalah flashdisk. Bastian langsung memasang flashdisk tersebut ke laptopnya. Di sana, semua data perusahaan Mayang Indah terpampang dengan jelas.
"Nyonya Mayang, delapan puluh persen saham perusahaan Mayang Indah adalah milikku sekarang," kata Bastian dengan senyum manis di bibirnya.
"Apa!? Tidak mungkin. Kamu jangan bercanda denganku Bastian. Tidak mungkin kamu memiliki delapan puluh persen saham Mayang Indah." Mayang terlihat begitu kaget sehingga tangannya bergetar.
"Kalo tidak percaya lihat ini," kata Bastian sambil memutar laptop kearah Mayang dan Lula.
"Apa!? Ini tidak mungkin. Pasti ada yang tidak beres dengan data ini," kata Mayang tak percaya.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas, perusahaan Mayang Indah sudah menjadi milikku. Kamu bisa pergi dari perusahaan ku dengan membawa dua puluh persen dari saham mu yang tersisa."
"Sedangkan untuk kamu Lula. Kamu tidak perlu mencemaskan nasib karyawan yang bekerja di Mayang Indah lagi sekarang. Mayang Indah akan tetap menjadi tempat mencari rizki buat semua karyawan yang masih ingin bekerja di sana."
"Benarkah, bos Bastian?" tanya Lula untuk meyakinkan dirinya.
"Ya."
"Syukurlah kalo gitu," kata Lula dengan napas lega dan senyum manis terlukis di bibirnya.
"Apa yang kamu syukur kan, hah!" kata Mayang sangat kesal.
__ADS_1
"Maaf buk bos. Saya hanya merasa lega karena karyawan tidak jadi di PHK."