Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 117


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Bastian setelah sampai ke samping kantor polisi.


"Tuan Bastian, saya mohon, cabut tuntutan tuan pada adik saya. Adik saya sudah sangat menderita selama ini. Kasihanilah dia tuan Bastian," ucap Siska dengan nada memelas.


"Nyonya Siska. Maaf, saya tidak bisa. Selama ini, adik nyonya telah banyak membuat kesalahan. Saya hampir saja kehilangan orang yang paling saya cintai gara-gara ulah adik nyonya itu."


"Tuan Bastian. Saya tahu siapa adik saya. Dia tidak akan melakukan kejatahan jika ia tidak dalam pengaruh seseorang. Tuan Bastian, saya mohon kebijakannya. Adik saya melakukan semua itu, pasti ada alasannya."


"Ha ha ha. Nyonya Siska ternyata bisa melawak ya. Lucu sekali. Sudah tahu adiknya salah, masih saja membela dengan menyalahkan orang lain. Saya salut dengan nyonya Siska."


Siska terdiam. Ia tidak berpikir dahulu sebelum berbicara. Pada akhirnya, ia sendiri yang harus terjerat pada kata-katanya.


'Aku tahu ini tidak akan berhasil. Baiklah, aku akan coba cara lain agar bisa membantu Sarah. Apapun akan aku lakukan untuk membebaskan Sarah. Kamu tenang saja, aku akan cari cara lain agar bisa melawan tuan Bastian ini,' kata Siska dalam hati sambil menatap Bastian.


"Nyonya Siska, ada beberapa hal yang ingin saya katakan pada nyonya."


"Apa?"


"Yang pertama, jangan ikut campur dalam masalah ini. Apalagi, mencari cara untuk menolong Sarah. Karena sudah bisa aku pastikan, apa yang nyonya lakukan akan sia-sia saja. Jadi, jangan buang-buang waktu."


"Cih, lihat saja apa yang bisa aku lakukan tuan Bastian. Tolong jangan remehkan aku. Kamu tidak tahu siapa aku, bukan?"


"Aku tahu siapa kamu, nyonya Siska. Kamu adalah mama dari laki-laki yang bernama Dedi. Asal kamu tahu, Dedi anakmu bisa ikut tantenya masuk penjara jika aku inginkan."


"Apa! Jangan macam-macam tuan Bastian. Jangan bawa-bawa anakku dalam masalah ini." Siska benar-benar emosi sampai wajahnya menjadi merah akibat menahan marah.


"Jika kamu ikut campur dalam urusanku ini, maka siap-siap, anakmu akan ikut tantenya."


"Kamu tidak bisa membawa anakku karena dia tidak bersalah, tuan Bastian." Siska tersenyum penuh kemenangan.


"Tidak bersalah? Siapa bilang anakmu tidak bersalah, nyonya Siska? Anakmu adalah dalang di balik penipuan yang Sarah lakukan. Aku masih berbaik hati dengan mengabaikan dalang itu karena aku kasihan padanya. Aku yakin, dia hanya melakukan apa yang tantenya minta."

__ADS_1


"Jika kamu berani membawa anakku ke dalam masalah ini, kamu akan berhadapan dengan aku tuan Bastian. Asal kamu tahu, aku bisa lebih jahat dari Sarah adikku."


"Bagus jika begitu. Aku bisa menjobloskan kalian semua ke dalam penjara."


"Cih, jangan terlalu besar omong kamu tuan Bastian. Jika aku tidak punya kesalahan, kamu hanya bisa bermimpi saja untuk menjobloskan aku."


"Nyonya Siska. Apakah aku harus mengingatkan padamu sebuah kejadian puluhan tahun yang lalu. Kamu dengan sengaja menukar bayi Sarah yang sudah meninggal dengan bayi kembar tiga?"


"Apa!"


Wajah Siska benar-benar memerah akibat kaget. Ia sedikitpun tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Benar-benar tidak masuk di akan Siska perkataan Bastian barusan.


"Kenapa? Nyonya Siska kelihatannya sedang syok akibat terlalu kaget saat mendengar kata-kata yang aku ucapkan," kata Bastian tersenyum manis.


"Da--dari mana kamu tahu soal itu?" tanya Siska terlalu gugup sehingga ia tidak bisa menyangkal apa yang Bastian katakan.


"Jangan tanyakan dari mana aku tahu, nyonya Siska. Yang jelas, aku akan selalu tahu apa yang ingin aku ketahui. Jadi, pikirkan baik-baik sebelum berhadapan dengan aku."


Dengan tatapan lurus ke depan, Siska berjalan meninggalkan kantor polisi.


Sementara itu, Sarah yang sudah berada dalam tahanan, terus berteriak-teriak memanggil polisi. Ia mengatakan kalau dirinya tidak bersalah. Ia meminta polisi untuk membebaskan dirinya.


"Pak polisi! Tolong saya, Pak. Saya tidak bersalah. Saya di jebak."


Sarah terus mengulangi apa yang ia ucapkan. Sehingga, tahanan lain merasa terganggu akibat teriakan Sarah yang sangat berisik itu.


"Hei! Lo bisa diam gak seh!" Bentak salah satu tahanan yang berbadan gempal.


"Iya. Kamu berisik sekali," ucap yang berbadan kurus.


Sarah mengabaikan mereka semua. Ia terus berteriak memanggil polisi dengan kata-kata yang sama berulang kali.

__ADS_1


Merasa diabaikan, tahanan yang bertubuh gempal merasa kesal. Ia bangun, lalu menghampiri Sarah. Lalu .... "


Plakk ....


Sebuah tamparan keras bersarang di wajah Sarah. Karena terlalu keras tamparan itu, sudut bibir Sarah sampai pecah dan mengeluarkan darah.


"Aaa .... tolong. Pak polisi tolong!" Sarah berteriak keras sambil menahan sakit.


"Sekali lagi lo teriak, gue akan bikin lo gak bisa bicara lagi selamanya."


"Mbak, sudah. Jangan bikin masalah lagi. Ini sudah malam. Sekeras apapun mbak teriak, tidak akan ada yang peduli. Ini tahanan mbak, bukan hotel," kata tahanan berbadan kurus merasa iba melihat Sarah.


"Awas lo!" kata tahan berbadan gempal sambil menatap Sarah dengan tatapan tajam.


Nyali Sarah tiba-tiba ciut. Satu tamparan sudah sangat menyakitkan baginya. Apalagi jika tahanan itu benar-benar nekat menyakiti dirinya lagi. Ia tidak bisa lari, juga tidak bisa sembunyi. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah, duduk diam di sudut sel sambil memeluk kedua lututnya.


Sarah menangisi apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia menyesali kesalahan yang telah ia perbuat. Kenapa dia harus mengulangi kesalahan ini lagi? Kenapa saat ada kesempatan kemarin, dia tidak langsung meninggalkan kota ini dan memulai kehidupannya yang baru. Jika itu ia lakukan, pasti saat ini ia sudah hidup bebas tanpa harus menderita dibalik jeruji besi ini.


Dendam tidak akan membawa kebahagiaan. Malahan, menjerumuskan hidup Sarah pada titik terendah. Titik yang mustahil untuk bangkit lagi. Sarah benar-benar menyesali semua itu.


Jujur saja, jika ada kesempatan kedua. Ia tidak ingin melakukan semua kejahatan yang telah membawa hidupnya kejalan tersulit seperti sekarang. Ia ingin bersikap baik pada siapapun.


Penyesalan pasti akan datangan belakangan. Saat kita sudah merasakan sakitnya jatuh dari ketinggian. Saat itulah, baru kita merasakan yang namanya penyesalan. Tapi sayangnya, saat itu, kita tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan menjadi semula. Kita hanya bisa mengambil pelajaran saja, agar hidup kita ke depannya menjadi lebih baik. Tapi tidak untuk mengubah jalan hidup saat ini. Jalan hidup yang telah kita lalui.


Siska baru saja sampai ke apartemen. Di sana, Dedi sudah menunggu kedatangan Siska dengan wajah cemas.


"Ma, kalian ke mana aja sih? Gak tau apa, aku sangat bingung mencari kalian?" tanya Dedi dengan nada kesal.


Siska yang di tanya hanya diam saja. Tatapan matanya seperti orang yang sedang kerasukan. Membuat Dedi semakin bingung saja dengan mamanya.


"Ma, ada apa sih? Mama dari mana? Mana tante Sarah?"

__ADS_1


"Ma, jawab dong. Jangan bikin aku semakin bingung. Kalian yang pergi gak bawa ponsel kalian aja udah bikin aku sangat bingung untuk mencari kalian. Nah ini, mama yang baru pulang diam tanpa kata, semakin membuat aku menjadi bingung aja."


__ADS_2