
Karena laporan itu, polisi dengan cepat membuka kembali kasus Sarah. Mereka juga bergerak cepat melakukan tugas mereka untuk menangkap Sarah. Karena kasus Sarah saat ini bertumpuk-tumpuk.
Bukan hanya soal percobaan pembunuhan berencana, Sarah juga terjerat banyak kasus lainnya. Sehingga polisi bergerak sangat cepat.
Malam itu juga, polisi mendatangi apartemen Sarah untuk menangkapnya.
Ketika polisi mengetuk pintu apartemen, Sarah sedang membereskan barang-barangnya. Ia sudah membulatkan tekat untuk meninggalkan negeri ini. Ia akan mengikuti kakaknya kembali ke luar negeri.
"Biar aku aja yang bukain pintunya mbak, mungkin itu Dedi," ucap Sarah sambil bangun dari duduknya. Ia meninggalkan barang-barang yang masih belum selesai ia paking.
"Ya sudah," ucap Siska sambil melanjutkan istirahatnya.
Kebetulan yang sangat pas. Saat itu, Dedi tidak ada di apartemen. Ia sedang keluar untuk membeli makanan buat mereka bertiga.
"Sebentar," ucap Sarah sambil berjalan mendekati pintu.
"Tumben kamu cepat banget kembalinya, Dedi." Sarah bicara sambil membuka pintu.
Alangkah kagetnya Sarah saat pintu telah ia buka. Bukan Dedi yang berada di depan pintu, melainkan polisi yang berseragam lengkap.
"Ad--ada apa ya?" tanya Sarah sangat gugup.
"Kami dapat tugas untuk membawa buk Sarah ke kantor polisi. Ini surat penangkapannya," kata salah satu polisi sambil menunjukkan selembar surat pada Sarah.
"Ap--apa? Ta--tapi saya bukan Sarah." Sarah berusaha membohongi polisi.
"Siapapun anda, kami harap anda bersedia ikut kami ke kantor polisi. Nanti anda bisa jelaskan semuanya di sana."
"Tapi .... "
"Ada apa sih Sarah?" tanya Siska yang tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Sarah?" Kedua polisi itu saling tatap. Mereka bisa menyimpulkan sesuatu sekarang.
"Mbak." Sarah menatap Siska dengan tatapan tajam, kesal juga marah.
"Ayo buk Sarah. Ikut kami ke kantor polisi sekarang juga," kata salah satu polisi sambil memasang borgol di tangan Sarah.
"Tunggu! Apa salah adik saya sampai bapak-bapak ini bisa menangkap adik saya?"
"Nanti kalian akan jelaskan di kantor polisi. Ayo ikut!"
"Sa--saya juga?" tanya Siska benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Ya. Kami membutuhkan keterangan dari ibuk agar memudahkan penyelidikan. Karena ibuk adalah orang yang dekat dengan tersangka."
"Tapi ... tolong .... "
"Ayo! Jangan persulit keadaan. Jika kalian tidak bersalah, maka kalian tidak akan di penjara."
'Baiklah, tidak ada cara lain selain ikut dengan polisi ini. Dengan begitu, aku juga bisa tahu apa yang akan terjadi pada Sarah nantinya,' kata Siska dalam hati.
Merekapun meninggalkan apartemen. Baik Siska maupun Sarah, tidak sempat mengabarkan pada Dedi apa yang terjadi. Mereka tidak sempat membawa ponsel karena kedua polisi itu membawa mereka dengan tergesa-gesa.
Perasaan takut benar-benar menyelimuti hati Sarah saat ini. Jarak tempuh yang jauh, ia rasakan begitu dekat. Tiba-tiba saja mereka sampai di kantor polisi.
"Mbak." Sarah memanggil Siska saat mereka dipaksa turun dari mobil.
"Sabar, Sarah. Aku yakin kalau kita akan mampu melewati ini. Kuatkan semangatmu, dan berusahalah tetap tenang." Siska bicara setengah berbisik.
Sarah di bawa masuk. Ia di pertemukan dengan Bastian sebelum di interogasi oleh polisi.
"Halo Sarah. Eh, salah, miss Linda." Bastian menyapa Sarah dengan senyum manis penuh kemenangan.
"Tapi, kayaknya sekarang bukan miss Linda lagi deh," ucap Bastian lagi.
"Mau apa kamu sebenarnya, hah!" Sarah membentak Bastian dengan keras.
"Sarah." Siska menatap Sarah seolah ia bertanya, siapa dia.
"Mbak, dia Bastian. Orang yang telah mengambil saham keluarga mbak."
"Wuah, ternyata aku bukan hanya bisa bertemu dengan Sarah, tapi juga bertemu dengan bu Siska. Pemilik perusahaan Purnama yang telah bangkrut," kata Bastian sambil tersenyum mengejek.
"Oh, jadi ini yang namanya Bastian?"
"Maaf Tuan Bastian, kami harus membawa tersangka ke ruangan interogasi sekarang," kata salah satu polisi.
"Ya, silahkan. Secepatnya kalian bawa dia agar dia bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan pada aku dan istriku," kata Bastian sambil menatap Sarah dengan tatapan tajam.
Keduanya dibawa ke ruangan lain untuk di interogasi. Mereka di bawa ke ruangan yang terpisah untuk mencari tahu info yang berbeda dari keduanya.
Sarah yang panik tidak bisa menjawab apa yang polisi tanyakan dengan baik. Sedangkan Siska, ia dengan santai menjawab satu soalan yang polisi itu berikan.
Memakan waktu tiga puluh menit untuk menginterogasi Sarah dan Siska. Karena ada banyak bukti yang memberatkan Sarah, ia di tahan sampai hari persidangan nanti. Sementara Siska, ia di bebaskan karena ia tidak punya kesalahan.
"Mbak! Mbak! Tolong aku mbak." Sarah berteriak histeris saat melihat Siska.
__ADS_1
"Sabar Sarah. Mbak akan cari cara agar kamu bisa bebas nantinya. Tapi untuk saat ini, mbak minta maaf karena belum bisa berbuat apa-apa untuk menolong kamu," kata Siska dengan nada penuh penyesalan.
"Mbak, aku tidak ingin di penjara mbak. Lakukan sesuatu mbak. Tolong!" kata Sarah sambil menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan mbak Sarah. Seperti yang telah mbak katakan, kamu harus bersabar sekarang. Mbak akan cari cara agar bisa membebaskan kamu dari sini."
Sarah menangis sambil menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak percaya atas apa yang baru saja menimpa dirinya saat ini. Rasa putus asa menyelimuti hati Sarah sekarang.
Polisi meminta Siska meninggalkan Sarah. Siska tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti apa yang polisi itu katakan. Dengan berat hati, ia melangkahkan kakinya menjauh dari Sarah.
"Mbak! Jangan pergi!" Sarah berteriak keras sambil menangis.
'Maafkan mbak Sarah. Mbak janji akan bantu kamu agar bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Mbak janji, Sarah,' kata Siska dalam hati sambil tak kuasa menahan air mata melihat adiknya.
Saat ingin meninggalkan kantor polisi, Siska melihat Bastian sedang bicara dengan beberapa polisi juga Danu dan Hendra. Siska dengan cepat menghampiri Bastian untuk berbicara dengan Bastian.
"Permisi. Maaf aku mengganggu kalian yang sedang ngobrol. Aku ingin bicara empat mata dengan Tuan Bastian. Apakah tuan Bastian bersedia bicara denganku?"
Mereka saling pandang. Melihat Siska yang benar-benar berharap, Bastian memutuskan untuk menerima tawaran Siska.
"Mau bicara apa? Katakan saja di sini."
"Maaf Tuan, saya tidak bisa bicara di sini. Karena apa yang ingin saya bicarakan, adalah hal yang tidak bisa saya bicarakan pada orang lain."
Bastian melihat Hendra dan Danu secara bergantian. Keduanya terlihat tidak setuju jika Bastian menerima tawaran Siska untuk bicara empat mata.
"Saya janji tidak akan lama, Tuan Bastian. Cuma lima menit saja."
"Baiklah. Aku akan bicara denganmu. Tapi di mana?"
"Di sana saja," kata Siska sambil mengarahkan telunjuknya di bawah lampu samping kantor.
"Oke."
"Bos muda, saya ikut," kata Danu.
"Aku juga," ucap Hendra.
"Tidak perlu. Kalian berdua tunggu saja di sini. Biar aku saja yang pergi ke sana. Dia hanya ingin bicara empat mata denganku."
"Tapi bos muda .... " Danu merasa sangat keberatan. Ia takut kalau wanita ini bersikap nekat, lalu mencelakai Bastian. Pikiran buruk itu membuatnya merasa takut.
"Tidak apa-apa, Danu. Jangan cemas.
__ADS_1
Bastian pun beranjak dari tempatnya, mengikuti langkah Siska, berjalan menuju samping kantor.