
Seketika, rumah sakit itu gempar. Ada orang yang jatuh dari lantai lima. Tubuhnya sulit untuk di kenali karena wajahnya hancur.
Danu yang sedang berjalan-jalan, melihat kerumunan dan ikut di dalamnya. Danu merasa ngeri melihat kecelakaan itu. Ia tidak bisa berlama-lama karena tidak sanggup untuk melihatnya.
Kecelakaan itu ternyata membuat heboh satu rumah sakit. Bukan hanya Danu saja yang melihatnya, Dimas yang baru selesai melunasi administrasi mamanya, juga ikut menyaksikan.
Bastian yang sedang bicara dengan kedua anak buahnya, juga mendengarkan kehebohan dari kecelakaan tersebut. Ia ikut merasa penasaran dengan apa yang terjadi. Untung saja Danu kembali dengan cepat sehingga Bastian bisa bertanya.
"Ada apa, Danu? Apa yang terjadi?"
"Ada kecelakaan bos muda."
"Kecelakaan apa? Sampai-sampai, seisi rumah sakit begitu gempar."
"Ada laki-laki jatuh dari atas gedung, bos muda. Namun belum tahu apa penyebabnya. Entah bunuh diri, atau ada hal lain."
"Oh." Bastian menjawab singkat.
____
Karena Bastian masih berada di rumah sakit, Dimas datang untuk melakukan trasaksi juga di rumah sakit. Mereka melakukan kesepakan jual beli saham di ruangan Hendra.
Usai melakukan serah terima, mereka membicarakan tentang kecelakaan yang terjadi tadi siang. Kebetulan, Hendar masuk saat mereka menyingung soal kecelakaan itu.
"Kalian ngomong tentang kecelakaan tadi siang?" tanya Hendra.
"Ya, kecelakaan yang mana lagi?" tanya Bastian balik.
"Dia bukan dibunuh, melainkan bunuh diri," kata Hendra.
"Wuah, aku kira karena dibunuh. Taunya bunuh diri ternyata. Oh ya, apa dokter sudah tahu indentitasnya?" tanya Dimas.
"Sudah. Hasilnya baru saja keluar."
"Boleh aku tahu siapa namanya, Dok? Aku sangat penasaran," kata Dimas.
"Namanya Raditya. Dia suami dari salah satu pasien yang ada di rumah sakit ini."
"Raditya? Boleh aku tahu siapa nama istrinya, Dok?" tanya Dimas semakin penasaran.
"Aku kurang tahu. Tapi, kalo gak salah, nama istrinya Sarah."
"Apa!" Bastian dan Dimas berucap bersamaan. Wajah kaget tergambar dengan jelas.
"Kalian ada apa? Kok kompak gitu kagetnya," kata Hendra merasa aneh.
__ADS_1
"Aku harus kasi tau Chacha soal ini," kata Dimas sambil mengeluarkan ponselnya.
"Jangan!" Bastian mencegah dengan cepat.
"Ma--maaf. Aku lupa."
"Bukan itu masalahnya. Chacha sekarang juga berada di rumah sakit ini. Dia juga sedang dirawat. Aku gak mau kondisinya memburuk," kata Bastian.
"Apa! Chacha juga masuk rumah sakit? Sakit apa dia? Kenapa kok bisa masuk rumah sakit?"
"Dia jatuh dari tangga. Dan sekarang, dia dalam pemulihan. Aku gak ingin proses pemulihannya terganggu."
"Kalian ini ngomong apa sih? Kok kayaknya serius banget. Mana bawa-bawa Chacha lagi. Aku jadi bingung," kata Hendra angkat bicara setelah mendengarkan pembicaraan Bastian dengan Dimas.
"Orang yang kamu bilang bunuh diri tadi siang itu adalah, papa Chacha," kata Bastian.
"Apa! Kamu gak salah bicarakan, Bas?"
"Gak, jika kamu gak salah kasih nama orang yang bunuh diri itu."
"Ya jelas gak salah lah. Orang identitasnya datang dari polisi."
"Kalo gitu, aku juga gak salah bicara. Chacha punya papa bernama Raditya."
"Berarti, Sarah itu mamanya Chacha?"
"Jadi?"
"Sarah itu mama tiri Chacha. Mama kandung Chacha sudah meninggal."
"Oh, begitu ya."
Suasana hening. Tidak ada yang berani membuka mulut untuk beberapa saat lamanya. Mereka diam dengan pikiran masing-masing. Danu yang sedari tadi hanya diam, rasanya ingin bicara, namun ia tahan.
"Bas, sebaiknya kamu bicara dengan Chacha soal ini. Lebih cepat Chacha tahu, lebih baik," kata Hendra.
"Aku takut dia syok."
"Apa yang dokter Hendra katakan itu benar Bastian. Chacha berhak tahu apa yang telah terjadi pada papanya," kata Dimas membenarkan.
"Dia syok itu wajar, Bas. Tapi, cepat atau lambat, nanti dia juga akan tahu. Lebih baik dia tahu dari kamu sekarang, dari pada dia tahu kamu menyimpan kebenaran dari dia nanti," kata Hendra.
"Aku takut kesehatan Chacha terganggu."
"Aku dokter. Aku yakin kalau dia akan baik-baik saja."
__ADS_1
Pada akhirnya, Bastian memutuskan untuk mendengarkan saran dari Hendra juga Dimas. Ia datang ke kamar Chacha bersama Hendra. Awalnya, Dimas juga ingin ikut, tapi, karena panggilan dari mamanya, ia membatalkan niat untuk bertemu Chacha terakhir kali sebelum ia pergi.
"Cha, bagaimana keadaan kamu?" tanya Bastian sambil menatap Chacha dengan lembut.
"Aku baik-baik aja, Bas. Sudah semakin baik sekarang."
"Bagus deh kalo gitu."
"Ya. Semoga aja aku semakin membaik dan gak perlu tinggal lebih lama lagi di sini," kata Chacha sambil melihat langit-langit kamar tersebut.
"Kalo kamu punya semangat yang kuat untuk cepat sembuh, tentu aja kamu akan baik-baik saja dan segera bisa keluar dari sini," ucap Hendra.
"Ini aku udah kuat banget semangatnya, tapi kamu masih juga gak ngizinin aku pulang," kata Chcacha sambil manyun.
"Ya itu memang karena kamu belum boleh pulang, nyonya muda Hutama," kata Hendra sambil melirik Bastian.
"Mmm ... Cha, ada yang mau aku omongin sama kamu," kata Bastian tidak ingin melihat Chacha dan Hendra terlalu lama bicara.
"Ada apa, Bas? Katakan saja! Perasaan, kamu udah mau ngomong dari kemarin deh, tapi kok gak jadi-jadi, ya?"
'Ya, aku memang ingin bicara padamu dari kemarin. Tapi bukan soal ini yang ingin aku bicarakan, Chacha. Ada hal lain sebenarnya. Tapi, mau gimana lagi. Masalah ini tiba-tiba saja datang dan merusak rencana yang telah aku siapkan masak-masak,' kata Bastian dalam hati.
Hendra menepuk bahu Bastian karena Bastian tiba-tiba saja melamun. Sampai-sampai, panggilan Chacha tidak ia hiraukan karena asik melamun.
"Kamu kok malah melamun sih?" tanya Hendra berkata dengan suara kecil pada Bastian.
"Ayo sampaikan pada Chacha!"
"Aku gak enak hati. Gak sanggup melihat dia sedih."
"Kamu tidak bisa menyimpan rahasia besar dari Chacha. Jika dia tahu dari orang lain, maka dia akan marah padamu."
"Kalian ngomong apa sih? Kok bisik-bisik segala," kata Chacha yang sedari tadi melihat Bastian dan Hendra.
"Nggak ... gak bisik-bisik kok," kata Hendra merasa tidak enak.
"Cha, aku mau ngomong." Bastian kembali mengulang kata-kata yang telah ia ucapkan.
"Bicara saja, Bastian. Aku udah nunggu kok dari tadi."
"Ini soal .... "
"Soal apa?"
Bastian begitu berat hati ingin berbicara soal papa Chacha yang sudah tiada. Ia begitu takut jika kabar itu akan mempengaruhi kondisi Chacha yang baru saja membaik. Melihat Bastian sangat sulit untuk bicara, Hendra memutuskan ambil alih bicara pada Chacha.
__ADS_1
"Cha, biar aku saja yang bicara. Tapi, aku mohon kamu kuatkan hati terlebih dulu," kata Hendra.
"Ada apa sih kalian berdua. Mau ngomong aja susah banget. Ayo ngomong! Jangan bikin aku penasaran."