
Hari ini, Danu berangkat keluar negeri. Ia akan menjalankan misinya menyerang perusahan Dedi karena sudah membuat masalah dengan perusahaan Hutama Grup.
Lula mengantar Danu ke bandara. Sedangkan Bastian, tetap berada di kantor. Karena tidak ingin membuat siapapun curiga dengan kepergian Danu. Apalagi saat ini, ada Lisa di kantor, yang kapan saja bisa mendengar berita penting dari karyawan yang mungkin tidak bisa menyimpan rahasia.
Saat Lisa masuk ke kantor, ia mendengarkan pembicaraan dari beberapa karyawati yang sedang sibuk bergosip ria. Mereka sedang membicarakan soal acara tahunan yang sering di adakan oleh perusahaan setiap tahunnya. Dalam rangka menyambut hari jadi perusahaan Hutama Grup.
"Tiga minggu lagi, kantor kita akan mengadakan pesta ulang tahun. Apa kamu ingat?"
"Ya iyalah. Sudah pasti aku ingat. Itu adalah pesta ulang tahun yang paling meriah setiap tahunnya. Bukan hanya pesta makan-makan di kantor ini, tapi juga ada pesta meriah di hotel berbintang, dan yang pasti juga ada bonus tahunan," ucap karyawati itu dengan senyum manis di bibirnya, sambil membayangkan apa yang ia ucapkan.
Lisa tersenyum manis setelah mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Ia seperti sedang mendapatkan sebuah kesempatan emas sekarang. Ide licik pun muncul di dalam benak Lisa.
Dengan cepat, ia mengirimkan sebuah pesan singkat pada Sarah. Ia mengatakan kalau tiga minggu lagi akan ada pertunjukan hebat untuk ia tunjukkan pada semuanya.
"Apa maksudnya?" tanya Sarah setelah membaca pesan singkat tersebut.
"Ada apa tante?" tanya Dedi ikut bingung.
"Si Lisa bilang, tiga minggu lagi dia akan menunjukkan sebuah pertunjukkan pada kita semua."
"Pertunjukkan apa?"
"Ya mana aku tahu. Jika aku tahu, aku tidak akan menanyakan maksud dari pesan yang ia kirimkan padaku," kata Sarah dengan nada kesal.
"Kenapa gak tanya langsung aja sih tante sama orangnya, apa maksud dari pesan yang ia kirimkan?"
"Sudah. Tapi itu anak tidak membalas apa yang aku tanyakan. Dia cuma baca doang pesan dari aku, tapi tidak membalasnya. Jika saja wajahnya tidak mirip kakak sepupumu, aku tidak sudi berhubungan dengan dia," kata Sarah sambil menatap lurus ke depan.
"Ngomong-ngomong, kok bisa mirip ya tante, wajahnya mbak Keke sama si Lisa ini?"
"Mungkin dia operasi plastik biar wajahnya cantik. Secantik putriku."
"Masa sih?"
"Ah sudah. Jangan dipikirkan soal itu lagi. Tidak ada hasilnya jika kita memikirkan soal si Lisa yang mirip Keke. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah, bagaimana caranya agar kita bisa membuat si Bastian menderita," kata Sarah sambil menggenggam erat tangannya.
"Caranya?"
"Aku juga tidak tahu caranya bagaimana. Aku masih belum punya ide apapun."
"Oh ya, bagaimana dengan kerjasama kita dengan perusahaan si Bastian itu? Apa ada kemajuan?"
__ADS_1
"Aku sudah tanyakan pada sekretaris ku soal kerjasama antar perusahan kita dengan Hutama grup. Katanya, masih dalam proses."
"Masih dalam proses? Kenapa bisa selama ini mereka mau terima kerjasama dengan kita?"
"Ya namanya juga perusahaan besar tante. Mereka punya banyak partner lainnya yang harus mereka urus."
"Semoga saja mereka segera menandatangani kontrak kerja sama dengan kita. Dengan begitu, Hutama grup akan berada dalam jangkauan kita. Dan aku, aku akan buat Bastian merasakan kerusakan secara perlahan melalui kerjasama itu," ucap Sarah sambil tersenyum licik.
***
Chacha sedang duduk manis sambil menikmati segelas jus saat Bastian pulang. Bastian yang pulang lebih cepat, membuat Chacha tidak sempat untuk menyambut kepulangan Bastian karena saat Bastian pulang, ia sedang duduk di taman.
"Sayang." Bastian menyapa Chacha yang sedang fokus pada ponsel sejak tadi. Mendengar panggilan itu, Chacha segera memalingkan pandangannya untuk melihat Bastian.
"Mas, udah pulang? Tumben pulang cepat," kata Chacha sambil meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Ya. Lagi malas berada di kantor, bosan."
"Kamu lagi apa?" tanya Bastian sambil duduk di samping Chacha.
"Baca."
"Baca cerita lah, Mas. Emang baca apa?"
"Duh, galaknya. Kesal karena aku pulang cepat?"
"Kesal kenapa? Gak kok."
"Yang kesal karena aku pulang cepat, aku jadi ganggu kamu yang sedang asik baca-baca cerita," kata Bastian sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Chacha.
"Stop! Jangan mulai drama lagi. Siapa juga yang kesal? Aku gak merasa kesal sama sekali. Malahan aku senang lihat kamu pulang siang. Biasanya, kamu pulang selalu sore. Gak ada waktu buat aku," kata Chacha sambil memasang wajah ngambek.
"Cie ... udah bisa ngambek kamu ternyata. Ya udah, gini aja, karena aku hari ini pulang siang, gimana kalo kita jalan?"
"Jalan ke mana?"
"Mall."
"Mall? Ngapain?"
"Beli pesawat, sayang."
__ADS_1
"Bastian." Chacha memasang wajah kesal pada Bastian.
"Semakin ngambek, semakin cantik," kata Bastian mencubit hidung Chacha.
"Bastian, ah! Kamu gak tahu apa aku sedang marah?" tanya Chacha semakin memperlihat wajah kesalnya pada Bastian.
"Ya udah ya udah. Aku takut kalau wajah cantik itu tiba-tiba berubah menjadi semakin merah." Bastian berucap sambil menarik Chacha ke dalam pelukannya.
"Sayang, kita ke mall agar kamu bisa belanja apa yang kamu inginkan. Bukankah kamu sudah lama tidak berbelanja?"
"Berbelanja apa? Aku rasa semua yang aku butuhkan sudah terpenuhi semuanya. Apa yang aku mau, semuanya sudah ada. Semuanya sudah lengkap."
"Sayang, apakah kamu tidak ingin beli baju baru lagi?"
"Mas, aku sudah punya banyak baju. Masa .... "
"Sayang, bisakah kamu membelikan aku baju baru? Jika kamu tidak ingin beli baju untuk untukmu, maka kamu bisa beli baju baru untukku," kata Bastian sedikit kesal karena sangat sulit untuk mengajak Chacha berbelanja.
"Ya sudah kalo gitu. Ayo jalan sekarang!" ucap Chacha sambil bangun dari duduknya.
"Seperti itu lebih baik," ucap Bastian ikut beranjak.
Mereka pun meninggalkan taman menuju mobil.
"Kita cuma jalan berdua aja, mas?" tanya Chacha saat ia dan Bastian masuk ke mobil.
"Iya. Kita hanya akan jalan berdua. Kamu lupa? Danu sedang ke luar negeri."
"Aku ingat. Maksudku, bagaimana jika kita ajak bik Maryam sekalian? Bukankah bik Maryam selama ini hanya duduk di rumah saja. Jika tidak ke pasar, dia gak akan keluar rumah."
"Ide bagus. Kamu boleh ajak bik Maryam jika dia mau," ucap Bastian setuju.
Dengan senang hati, Chacha berjalan masuk ke dalam untuk menemukan bik Maryam. Sedangkan Bastian, ia menunggu Chacha dengan sabar di mobil.
Lima menit menunggu, akhirnya, Chacha keluar juga bersama bik Maryam. Dengan senyum manis, bik Maryam berjalan bersama Chacha menuju mobil yang di mana Bastian sudah menunggu mereka.
"Maaf bos muda, saya sudah membuat bos muda menunggu lama," kata bik Maryam tidak enak hati.
"Gak papa bik. Saya gak merasa menunggu kok. Asalkan, kesayangan saya bahagia," kata Bastian sambil melirik Chacha.
Chacha tersenyum mendengarkan apa yang Bastian katakan. Sedangkan bik Maryam, ia masuk sambil ikut tersenyum karena bahagia.
__ADS_1