Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 93


__ADS_3

Terdengar bunyi ketukan di pintu ruangan Bastian. Seketika, obrolan mereka harus terhenti karena ketukan tersebut.


"Siapa?" tanya Bastian sambil melihat ke arah pintu.


"Saya bos muda, Haris." Seseorang yang berada di luar sana menjawab pertanyaan Bastian dengan sopan.


"Ada apa, Haris?" tanya Bastian tanpa mempersilahkan yang berada di luar untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.


"Ada yang ingin bertemu dengan bos muda. Dia seorang perempuan, bos muda."


"Seorang perempuan? Siapa dia?" tanya Bastian pura-pura tidak tahu, padahal, dia sudah tahu kalau perempuan itu pasti Lisa. Karena Danu sudah mengatakan sebelumnya.


"Namanya Lisa, bos muda."


"Biarkan dia masuk!"


"Baik bos muda," kata Haris sambil melihat Lisa.


"Nona Lisa, kamu boleh masuk sekarang," kata Haris bicara pada Lisa.


"Kelamaan. Dari tadi aja kek langsung izinkan aku masuk. Ingat ya, kalo aku sudah jadi nyonya Bastian, kamu adalah orang pertama yang aku pecat dari kantor ini. Aku juga akan pastikan kamu tidak akan bisa bekerja di tempat lain setelah aku memecat mu," kata Lisa sangat kesal.


"Nyonya Bastian?" tanya Haris bingung.


"Ya. Apa kamu tidak tahu kalau aku ini adalah calon istri bos muda kalian?" tanya Lisa dengan sombong.


"Bukannya bos muda Bastian sudah menikah, ya? Nona ini calon istri atau apa?"


"Apa kamu bilang! Kamu nuduh aku selingkuhannya Bastian? Akan aku katakan pada Bastian apa yang kamu katakan barusan," kata Lisa sangat kesal karena ia tahu apa maksud dari perkataan Haris barusan. Tanpa menunggu lagi, ia segera masuk ke dalam dengan wajah kesalnya yang masih sangat terlihat.


Jika saya bukan karena ia sedang belajar pura-pura manis di depan Bastian. Lisa sudah pasti akan menerobos masuk sejak tadi. Tanpa harus menunggu lama di depan pintu seperti saat ini. Dan berhadapan dengan karyawan Bastian yang menurut Lisa benar-benar sangat menyebalkan dan juga terlalu sok tahu.


"Bastian!" Lisa memanggil dengan suara tinggi karena ia sedang sangat kesal.


"Ada apa?" tanya Bastian tidak sedikitpun memalingkan wajahnya dari laptop.

__ADS_1


"Karyawan kamu memang tidak tahu sopan santun. Bisa-bisanya dia bilang aku ini selingkuhan kamu. Karyawan macam apa yang kamu punya?"


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Bastian kesal sambil bangun dari duduknya.


"Aku ... Bastian, aku bosan seharian berada di apartemen. Tidak ada yang bisa aku kerjakan selama aku berada di sana. Makanya, aku datang ke sini untuk ngobrol sama kamu," kata Lisa pura-pura manis.


"Kamu pikir aku teman kamu yang seenaknya kamu ajak ngobrol? Jika pun aku teman kamu, seharusnya kamu tahu waktu. Ini bukan jamnya ngobrol karena aku sedang berada di kantor."


"Kalo kamu gak sedang di kantor, itu tandanya aku boleh ngobrol sama kamu?" tanya Lisa dengan senang.


"Tidak. Sudah aku katakan, aku bukan teman kamu yang bisa kamu ajak ngobrol kapan saja kamu mau."


"Masa harus nunggu teman baru bisa ngobrol. Apa kamu lupa, aku datang ke sini itu karena almarhumah kakakku yang meminta. Jika tidak, aku juga tidak mau datang ke sini." Lisa memasang wajah sedih dengan maksud untuk membuat Bastian merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi.


"Jika kamu tidak ingin, sebaiknya kamu pergi saja. Tidak ada yang akan melarang jika kamu ingin pergi. Lebih cepat kamu pergi, maka itu akan lebih baik."


"Bastian! Ya sudah. Aku akan pergi. Tapi nanti. Setelah aku berhasil mencari cara yang tepat untuk bicara sama mamaku. Untuk saat ini, aku masih harus bertahan di sini."


"Terserah kamu. Aku tidak pernah melarang apa yang ingin kamu lakukan. Jangan saja kamu mengganggu hidupku, juga hidup keluarga besar ku. Selagi kamu tidak mencari masalah dengan aku juga keluargaku, maka hidupmu akan baik-baik saja."


"Apa yang kamu pikirkan? Kalau tidak ada keperluan lain, kamu bisa pergi sekarang," kata Bastian membuyarkan lamunan Lisa.


"Kamu usir aku?" tanya Lisa dengan nada kesal.


"Ya. Apa kurang jelas apa yang aku katakan barusan?"


'Tidak. Aku tidak boleh emosi saat berhadapan dengan Bastian. Aku harus pakai cara halus. Aku harus bisa mengalah dari dia. Mengalah bukan berarti kalah. Iyakan?' tanya Lisa pada dirinya sendiri dalam hati.


"Bastian. Aku mohon kamu jangan usir aku. Aku ke sini karena aku bosan berada di apartemen sendirian."


"Itu bukan urusanku. Kamu mau bosan atau tidak, itu urusan kamu," kata Bastian sambil kembali sibuk dengan urusannya.


"Ya aku tahu itu bukan urusan kamu. Tapi, tolong ngertiin aku juga dong. Bagaimana jika kamu berikan aku pekerjaan agar aku punya kesibukanku sendiri?" tanya Lisa dengan senyum manis di bibirnya.


"Pekerjaan?" tanya Bastian tiba-tiba menghentikan apa yang ia kerjakan.

__ADS_1


"Iya." Lisa berusaha tetap tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya.


Bastian menatap Lisa dengan seksama. Dalam benak Bastian tergambar satu ide untuk mengerjai Lisa dengan memperkerjakan Lisa di perusahaan ini. Sedangkan Lisa, ia berpikir hal lain. Jika ia berhasil kerja, dia punya kesempatan untuk dekat dengan Bastian setiap saat di kantor ini.


"Baik. Aku akan terima kamu bekerja di kantor ini."


"Benarkah?" tanya Lisa tak percaya dengan apa yang Bastian katakan.


"Ya. Tapi dengan satu syarat."


"Syarat?"


"Iya, syarat. Itupun jika kamu benar-benar berniat ingin kerja di perusahaan ini," kata Bastian dengan nada tidak memaksa.


"Apa syaratnya? Katakan saja! Karena aku memang ingin bekerja di sini."


"Kamu tidak boleh mengeluh. Jika kamu mengeluh, aku akan keluarkan kamu dari pekerjaanmu dan aku akan buat kamu membayar denda dua kali lipat dari gaji kamu di perusahaan ini."


"Hanya itu?"


"Ya. Hanya itu saja. Jika kamu sanggup, aku akan buat surat kontrak kerja kamu sekarang juga. Tapi jika tidak, sebaiknya, kamu jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di kantor ini. Atau kamu akan aku permalukan di depan umum."


"Baik. Aku terima syarat yang kamu ajukan. Aku akan tanda tangan kontrak kerjaku sekarang juga."


"Tunggu sebentar."


Bastian memanggil salah satu karyawatinya lewat telepon kantor. Ia meminta karyawati tersebut membuatkan surat kontrak sesuai yang ia inginkan. Perjanjian surat kontrak itu Bastian sendiri yang mengetuk, sedangkan karyawatinya hanya tinggal memprintkan saja.


Lima menit menunggu, barulah karyawati itu datang. Ia membawa sebuah map berwarna hijau masuk ke dalam ruangan Bastian.


"Ini surat kontrak yang bos muda minta," kata karyawati itu sambil menyerahkan map hijau tersebut pada Bastian.


"Terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang."


"Baik bos muda. Permisi."

__ADS_1


"Ya."


__ADS_2