
Tiba-tiba, lampu di apartemen Lisa mati. Lisa sangat kaget dengan lampu yang tiba-tiba saja mati. Ia melihat ke arah luar, listrik di jalan masih menyala.
"Ada apa ini? Apa cuma apartemen ini saja yang lampunya mati?" tanya Lisa sambil melihat sekeliling.
"Aku rasa iya. Aduh, bagaimana ini? Aku kan takut sama kegelapan," kata Lisa sambil berjalan menuju pintu dengan bantuan senter dari ponselnya.
Belum juga Lisa sampai ke pintu, sekelebatan bayangan hitam tiba-tiba muncul, lalu dengan cepat menghilang kembali.
"Siapa itu!" Lisa berteriak keras.
"Jangan beraninya cuma main belakang aja kamu. Sini muncul, aku gak takut!"
Tidak ada jawaban sama sekali. Tiba-tiba saja, bulu kuduk Lisa berdiri. Rasa takut pun menyelimuti hatinya. Ia baru ingat, tadi sebelum masuk, ada beberapa penghuni apartemen yang sedang bergosip soal makhluk tak kasat mata penghuni apartemen ini, yang akan berkeliaran pada malam hari saat lampu tidak menyala.
Dengan cepat, Lisa berlari menuju pintu. Tapi sayang, saat ia ingin membuka pintu apartemen itu, pintunya terkunci dari luar. Sekuat apapun ia berusaha membuka, terap saja tidak bisa.
"Aaa ... tolong! Tolong!" Lisa berteriak keras berharap ada yang mendengar teriakannya.
Tiba-tiba, lampu menyala. Lisa berhenti berteriak. Perasaan lega kini ia rasakan. Namun, rasa lega itu tidak lama. Saat ia melihat ke lantai, ada seekor ular yang sedang berjalan pelan ke arahnya.
"Aaa ... tolong! Ada ular. Tolong!"
Ia kembali melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya. Berusaha membuka pintu apartemen yang terkunci rapat dari luar.
"Tolong! Siapapun yang ada di luar. Tolong aku! Tolong!" kata Lisa sambil menggedor-gedor pintu dengan keras.
Karena terlalu panik melihat ular berbisa yang semakin mendekat, Lisa tidak bisa menahan diri lagi. Tubuhnya mendadak lemas tak berdaya. Kesadarannya pun menghilang. Lisa pingsan di depan pintu masuk dengan celana yang basah akibat mengompol.
****
Bastian yang sudah rapi, kini siap berangkat meninggalkan mansion. Merlin dan Herman yang melihat Bastian seperti ini, teringat saat Bastian waktu masih remaja. Ia pasti berusaha tampil sebaik mungkin ketika ingin bertemu orang yang ia cintai.
"Ya Tuhan, mama kok merasa kalo kamu itu mau ketemu sama pacar kamu ya, Bas," kata Merlin sambil tersenyum, namun air mata tiba-tiba mengalir.
__ADS_1
"Emang dia mau ketemu sama pacarnya, Ma. Tapi, pacar yang sudah halal," kata Herman sambil merangkul papa.
"Papa benar. Aku emang mau kencan sama pacarku, Ma. Lho, mama kok nangis sih?"
"Mama cuma ingat saat kamu remaja dulu. Saat .... "
"Udah ya, Ma. Gak usah dibahas lagi. Biarkan Bastian berangkat sekarang, kasihan menantu kita menunggu suaminya terlalu lama," ucap papa memotong perkataan mama.
"Oh iya ya. Maafkan mama. Titip salam buat Chacha ya, Bas."
"Ya, Ma. Ya udah, aku berangkat dulu," kata Bastian sambil beranjak.
"Ya. Hati-hati, ya."
Bastian membalas perkataan mama dengan senyum. Ia lalu berjalan cepat meninggalkan ruang keluarga menuju mobil.
Baru saja Bastian ingin membuka pintu mobil, tapi gerakannya harus tertahan karena panggilan seseorang. Ia menoleh melihat pintu masuk mansion mereka.
"Ada apa lagi, Danu?" tanya Bastian kesal.
"Ikut?"
"Ya," kata Danu sambil tersenyum.
"Aku kan sudah bilang sama kamu, kalo aku ingin berduaan saja dengan Chacha. Ngapain kamu ikut?"
"Kalo saya ikut, saya bisa nyetir. Saya gak akan ganggu bos muda sama nona bos."
"Aku bisa nyetir sendiri. Kamu gak usah ikut aku. Kamu bawa mobil mama atau papa, atau bisa bawa mobil yang mana yang kamu suka. Yang jelas, malam ini aku mau berduaan saja dengan istriku," kata Bastian sambil melanjutkan apa yang tertunda tadi.
Danu tidak bisa memaksakan Bastian untuk mengajaknya. Dia hanya bisa melihat kepergian Bastian yang semakin jauh meninggalkannya.
"Danu-Danu, kamu kayak gak tahu Bastian aja," kata Herman yang ternyata sudah berada di sana sejak tadi.
__ADS_1
"Iya, Danu. Bastian itu kalo sekali ngomong nggak, ya tetap nggak," kata Merlin pula.
Danu tidak menjawab. Ia hanya bisa nyengir tidak enak sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal saja.
"Sudah, kalo kamu merasa bosan, kamu kan bisa pergi ke mana kamu suka. Atau, kamu ikutin aja tuh si Bastian dari belakang. Yang penting, gak ganggu suasana mereka nantinya," kata Merlin sambil menepuk bahu Danu.
Keluarga ini tidak hanya mengganggap Danu sebagai tangan kanan Bastian saja. Tapi, mereka sudah mengganggap Danu bagian dari keluarga mereka. Makanya, mereka memperlakukan Danu dengan sangat baik. Seperti anak mereka sendiri.
Hanya saja, Danu yang merasa tidak nyaman dengan hal itu. Ia masih tahu diri siapa dirinya. Tidak mungkin berlaku seenak hati layaknya bagian dari keluarga itu sendiri.
"Tapi nyonya bos, saya takut bos muda kesal sama saya."
"Dia gak akan kesal sama kamu hanya karena kamu ikutin dia. Kamu gak dengar tadi Bastian ngomong apa? Dia bilang jangan pergi bersamanya karena dia hanya ingin berduaan saja. Tapi, dia bebaskan kamu ke mana kamu ingin pergi."
"Tapi .... "
"Sudah. Ini kunci mobilnya. Aku tahu kamu tidak ingin berdiam diri di sini," kata papa sambil menyerahkan kunci mobil.
"Tapi bos besar, saya .... "
"Kamu masih merasa tidak enak hati?" tanya Merlin tahu betul apa yang Danu rasakan. Karena ini bukan yang pertama kalinya Danu seperti ini jika ditawarkan sesuatu.
"Kami akan lebih merasa tidak enak jika kamu terus menolak kebaikan kami," kata Herman.
"Ya sudah. Ayo masuk, Ma," kata Herman sambil beranjak.
"Terima kasih bos besar, nyonya bos," ucap Danu sebelum mereka benar-benar masuk rumah.
Merlin dan Herman hanya membalas kata itu dengan sebuah senyuman saja. Lalu, mereka meninggalkan Danu yang masih menatap kunci mobil tersebut.
Kebaikan keluarga inilah yang membuat Danu tidak pernah ingin meninggalkan mereka semua. Ia bertekad dalam hati untuk terus bekerja dengan Bastian hingga ia sudah punya keluarga sendiri.
Danu menyusul Bastian. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi hatinya membawa ia untuk mengikuti Bastian menjemput Chacha di rumah. Kebetulan yang sangat pas. Saat ia sampai, ia melihat Chacha yang baru saja membuka pintu rumah. Sedangkan Bastian, ia sedang menunggu di depan pintu.
__ADS_1
Mata Danu melihat Chacha dengan tatapan kagum. Entah itu rasa suka, atau hanya sebatas kekaguman akan kecantikan Chacha. Yang jelas, ia benar-benar terpesona melihat Chacha yang begitu cantik dengan balutan dress hijau di tubuhnya. Rambut panjang digerai lurus dengan jepit rambut hijau menambah cantiknya wajah yang memang sudah dasarnya cantik.
"Nona bos terlalu cantik untuk aku kagumi," kata Danu lirih.