Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 21


__ADS_3

Bastian dan Danu meninggalkan Hendra yang masih terdiam karena kaget. Hendra dilanda kebingungan saat ini. Bukan hanya bingung, tepatnya tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Bos muda, nona bos ada di dalam," kata Danu saat sampai di depan kamar rawat pasien dan melihat dari kaca kecil yang ada di pintu kamar tersebut.


"Sedang apa dia? Apa dia yang sakit?" tanya Bastian tak sabaran.


"Bukan. Yang sakit bukan Chacha, tapi neneknya." Hendra yang menjawab pertanyaan Bastian.


"Neneknya?" tanya Bastian.


"Ya, neneknya adalah pasienku. Sudah hampir empat bulan koma di rumah sakit ini. Chacha sering datang melihat neneknya, tapi, setelah memasuki bulan keempat, Chacha jarang berkunjung. Entah apa alasannya, aku juga tidak tahu," kata Hendra lagi.


"Jadi, nenek nona bos sakit parah?" tanya Danu.


"Iya. Neneknya jatuh dan mengalami benturan keras di bagian kepala. Hal itu menyebabkan nenek Chacha koma. Aku sudah berusaha keras untuk membuat neneknya sadar, tapi sayangnya masih belum berhasil. Malahan, hari ini, kondisi nenek Chacha semakin memburuk saja."


"Bos muda .... "


"Aku tahu. Sekarang, kita biarkan saja Chacha bersama neneknya terlebih dahulu. Aku yakin, dia butuh waktu untuk menemani neneknya," kata Bastian memotong perkataan Danu.


"Sekarang giliran kamu menjelaskan padaku, Bas, apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Chacha Danu panggil nona bos? Apakah .... "


"Chacha istriku," ucap Bastian memotong perkataan Hendra.


"Apa!? Jangan bercanda kamu, Bas," kata Hendra tak percaya.


"Aku tidak bercanda."


"Tidak mungkin. Yang aku tahu, calon istrimu itu Keke namanya. Gadis manja yang suka nempel di sampingmu sebelum .... " Hendra menghentikan perkataannya, ia tidak mungkin bicara terus terang karena itu akan membuat hati bastian terluka.


"Ceritanya panjang. Aku tidak mungkin menceritakannya padamu sekarang."


"Kapan kamu mau cerita padaku kalau bukan sekarang?"

__ADS_1


"Nanti, jika aku punya banyak waktu. Sekarang, aku harus pulang karena hari sudah malam."


"Pulang?"


"Ya."


"Kok pulang sih? Bukannya .... "


"Jangan ikut campur urusanku jika kamu masih ingin menjadi dokter di rumah sakit ini," kata Bastian mengancam.


"Wuah-wuah wuah ... bos muda main ngancam aja sekarang. Kamu lupa ya, rumah sakit ini punya papa ku," kata Hendra tak mau kalah.


"Kamu pikir semuanya punya papamu?"


"Ya tidak sih. Tapi setidaknya, sebagian punya papaku. Aku masih bisa berkuasa di sini."


"Apa sulitnya bagiku untuk merampas sebagian yang kamu miliki itu?"


"Ya Tuhan, salah aku di mana? Semua yang aku punya kayaknya mau kamu rampas," kata Hendra mengeluh.


"Iya kayaknya. Susah punya teman orang kaya. Apa-apa main ngancam aja."


"Terserah kamu mau bilang apa. Aku tidak punya waktu untuk ngobrol lebih lama. Aku harus pulang sekarang."


"Iya, hati-hati. Jangan lupa kalau lusa adalah jadwal cek-up kamu."


Bastian tidak menjawab. Ia dan Danu meninggalkan rumah sakit ini sesegera mungkin.


"Dasar Bastian," kata Hendra bicara pada dirinya sendiri.


"Tunggu. Barusan Bastian bilang kalau Chacha adalah istrinya. Tidak mungkin. Ya Tuhan ... haruskah aku selalu kalah dari Bastian. Apa salahku?" tanya Hendra begitu kecewa ketika ingat kalau Chacha istri Bastian.


Sebenarnya, Hendra punya hati pada Chacha. Ya walaupun hanya sebatas suka, masih belum bisa di katakan cinta. Hendra menaruh simpati pada Chacha karena melihat keadaan Chacha yang lumayan memprihatinkan.

__ADS_1


Ia baru saja berniat untuk menata hati. Ingin menemukan cinta dari rasa simpati yang ia miliki. Tapi sayang, ia harus membunuh rasa itu karena tidak mungkin ia lanjutkan.


Tidak mungkin bagi Hendra untuk bersaing dengan Bastian. Meskipun sekarang Bastian tidak sempurna, tapi tetap saja, Bastian ya tetap Bastian. Seseorang yang terlahir dengan seribu keberuntungan dalam hidup, walaupun pada akhirnya, keberuntungan itu tak selama berpihak padanya.


Hendra memutuskan untuk meninggalkan kamar rawat nenek Chacha. Ia berusaha sebisa mungkin tidak memberikan perhatian lagi pada Chacha. Ia takut kalau-kalau perasaan itu benar-benar nyata dan tidak bisa ia musnahkan.


Belum sempat Hendra melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu, Danu menghentikan langkahnya dengan cepat.


"Dokter Hendra."


"Danu." Hendra menghentikan langkahnya.


"Bos muda minta dokter memberikan selimut juga makanan ini pada nona bos," kata Danu sambil menyerahkan sebuah selimut juga sekantong makanan.


"Mengapa tidak dia sendiri yang memberikannya?"


"Aku tidak tahu, aku hanya mengikuti apa yang dia katakan saja."


"Lalu, mengapa tidak kamu sendiri yang memberikan?" tanya Hendra lagi.


"Maaf dokter, aku tidak berani melakukan apa yang tidak bos muda minta. Aku hanya menjalankan apa yang ia katakan saja."


"Ya sudah kalo gitu, aku akan berikan sekarang."


"Makasih banyak dokter."


"Ya, sama-sama."


Danu bergegas meninggalkan Hendra, sedangkan Hendra berjalan memasuki kamar rawat nenek Chacha.


"Ya Tuhan, mati aku," kata Danu sambil menepuk jidatnya.


Danu baru ingat kalau ia lupa mengatakan apa yang Bastian katakan padanya. Dia baru ingat perkataan Bastian setelah keluar dari pintu rumah sakit.

__ADS_1


Dengan cepat, Danu memutar langkah kembali menuju kamar rawat nenek Chacha. Ia sangat berharap kalau dirinya masih belum terlambat. Kalo tidak, habislah dia di tangan Bastian. Karena tidak menjalankan tugas dengan benar.


__ADS_2