
Danu terdiam. Wajah kecewa tergambar jelas saat ini. Lula melihatnya dengan seksama, lalu tersenyum diam-diam.
"Maaf Danu yakin tidak ingin memperjuangan cinta mas Danu?"
"Aku capek berjuang sendirian, Lula. Pada akhirnya, aku yang berjuang akan kalah juga. Karena bertepuk sebelah tangan, gak akan terdengar bunyinya."
"Makanya aku ajak berjuang sama-sama, mas Danu. Biar tepukan mas Danu gak sebelah tangan, dan biar tepukan itu ada bunyinya."
"Maksud kamu?" tanya Danu beralih dari melihat ke depan menjadi menatap Lula.
"Makanya tanya apa alasan aku nolak buat jadi pacarnya mas Danu."
"Apa alasannya?"
"Aku gak mau pacaran, mas Danu. Karena pacaran itu tidak pasti bisa bersama sampai ke pelaminan."
"Maksudnya?" Danu masih tidak mengerti dengan apa yang Lula katakan.
"Jika mas Danu benar-benar cinta sama aku, aku harap hubungan kita bukan sekedar pacaran."
"Kamu tidak ingin pacaran, itu tandanya, kamu mau aku menjadikan kamu istriku?"
Lula tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Danu yang merasa sangat bahagia karena Lula ingin menjadi pendamping hidupnya, langsung menarik Lula ke dalam pelukan.
"Aku akan menikahi mu secepatnya. Tapi sebelum itu, sebagai pelengkap syarat cinta, aku akan melamar mu setelah aku pulang dari luar negeri," kata Danu sambil terus memeluk Lula.
"Mas Danu ingin ke luar negeri?" tanya kaget sambil melepaskan pelukan Danu.
"Ya."
"Ngapain mas Danu ke luar negeri?"
"Bos muda ingin aku melakukan perjalanan bisnis. Tapi itu gak akan lama. Palingan beberapa hari. Jika pun lama, paling cuma akan memakan waktu satu minggu saja."
"Semoga tidak sampai satu minggu," ucap Lula lirih.
"Ya, semoga saja. Aku ingin segera melamar mu pada .... "
Danu menghentikan kata-katanya setelah ingat kalau Lula tidak punya orang tua. Hampir saja ia salah bicara dan membuat Lula merasa sedih pada saat momen bahagia seperti ini.
"Aku tahu apa yang ingin mas Danu katakan. Tenang saja mas Danu, Lula gak akan sedih hanya karena kata-kata itu. Lula udah kebal kok, Mas," kata Lula sambil tersenyum.
"Maafkan aku, Lula. Aku tidak bermaksud merusak momen bahagia yang sedang kamu rasakan."
__ADS_1
"Gak papa mas Danu. Udah aku katakan, aku gak akan merasa sedih hanya karena kata-kata itu. Aku udah kebal."
Sebenarnya, kata kebal itu hanya terucap di bibir saja. Tidak untuk di hati. Bibirnya bisa tersenyum, tapi hatinya menangis. Setiap ingat orang tua, ia ingat kejadian belasan tahun yang lalu. Saat di mana sebuah kecelakaan merenggut nyawa kedua orang yang sangat ia sayangi.
Perlahan air mata Lula mengalir. Danu melihat hal itu. Ia dengan cepat menarik Lula kembali ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku," ucap Danu lirih sambil membelai rambut Lula.
"Gak papa, mas Danu. Aku hanya sedikit kehilangan. Rasa kesepian itu tiba-tiba saja muncul jika aku ingat kalau aku tidak punya siapa-siapa selama ini."
"Mulai sekarang, kamu tidak akan kesepian lagi. Ada aku yang akan menjadi bagian dari hidupmu."
Mendengar kata-kata itu, hati Lula tiba-tiba merasa hangat kembali. Ia semakin membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Danu.
Malam ini adalah malam paling bahagia dalam hidup Lula setelah ia kehilangan orang tuanya belasan tahun yang lalu. Dalam hati, ia berharap kalau ini adalah awal dari kebahagiaan yang ia nantikan selama ini.
Sementara itu, Bastian sedang menikmati makan malam mereka dengan penuh kehangatan. Di temani musik slow yang semakin menambah keromantisan makan malam hangat mereka. Bastian sesekali menyuapi Chacha makanan, begitu juga sebaliknya.
Setelah selesai makan, Bastian membicarakan soal bulan madu mereka berdua. Rencana yang sempat tertunda karena ada beberapa hal yang perlu mereka urus.
"Sayang, gimana kalau kita melakukan bulan madu dalam bulan ini?"
"Bulan madu ke mana?"
"Aku masih tidak tahu mau ke mana, Bastian."
"Sayang, kamu lupa kalau kita punya perjanjian?" tanya Bastian.
"Perjanjian?"
"Aku melarang kamu memanggil aku dengan sebutan nama. Kamu ingin aku hukum?"
"Tidak-tidak. Maafkan aku, Bas maksudku, mas."
"Bagus jika kamu ingat. Sekali lagi kamu salah memanggil, aku akan buat kamu bulan madu di rumah."
"Uhuk-uhuk." Chacha tersedak mendengarkan apa yang Bastian katakan.
Bulan madu di rumah memang tidak ada salahnya. Dia sudah menyiapkan diri sejak lama. Tapi, walaupun begitu, Chacha tetap saja merasa kaget dengan kata-kata bulan madu itu.
"Ini minum," kata Bastian sambil memberikan Chacha segelas air.
"Makasih."
__ADS_1
"Ya sudah. Lanjut lagi makannya."
"Tidak. Aku sudah sangat kenyang."
"Kamu yakin sayang?"
"Ya, aku sangat amat kenyang, mas."
"Ya sudah. Apa kamu mau tetap di sini selama beberapa waktu? Atau, kita pergi saja sekarang?"
"Kayaknya, lebih baik kita pergi aja dari sini sekarang. Untuk apa berlama-lama di sini."
"Ya sudah, ayok!"
Bastian dan Chacha sama-sama beranjak meninggalkan restoran tersebut. Tentunya, dengan bergandengan tangan.
Mereka meninggalkan restoran itu segera setelah masuk mobil. Bastian yang berharap Chacha bahagia, sepertinya tidak berhasil. Cahcah seolah-olah tidak menikmati makan malam romantis yang baru saja mereka lakukan.
"Ada tempat lain yang mau kamu kunjungi, Cha?" tanya Bastian sambil sesekali melirik Chacha.
"Kayaknya nggak, mas."
Saat Chacha membuang muka ke samping, ia melihat pasar malam yang berada di seberang jalan. Matanya menatap dengan penuh bahagia.
"Bastian, itu ada pasar malam. Ayo ke sana!" Chacha berucap dengan sangat bahagia.
"Pasar malam? Kamu yakin mau ke sana?"
"Ya yakinlah. Ayok!"
"Ya, ya."
Bastian menuruti apa yang Chacha katakan dengan berat hati. Sebenarnya, dia sangat tidak suka dengan tempat itu. Dulu, ketika masih kecil, Bastian pernah menghilang di dalam keramaian pasar malam seperti ini.
Saat itu, ia benar-benar merasa ketakutan karena dikelilingi oleh orang-orang asing. Untungnya, sang papa yang memiliki kuasa dengan cepat menemukan Bastian kecil yang sedang menangis karena ketakutan.
Sejak kejadian itu, Bastian tidak pernah mengunjungi pasar malam lagi. Ia benar-benar merasa trauma dengan pasar malam.
Ini untuk yang pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke tempat keramaian setelah puluhan tahun ia tidak pernah mau mengunjungi tempat yang telah membuatnya merasakan ketakutan setengah mati.
Ia memarkirkan mobil dengan perasaan sedikit takut. Semakin melihat tempat itu, semakin timbul pula rasa takut dalam hatinya.
Chacha dengan penuh semangat turun dari mobil. Karena terlalu bersemangat, ia sampai tidak sempat memperhatikan wajah Bastian yang turun perlahan dari mobil dengan keringat dingin di wajahnya.
__ADS_1
"Ayo Bas, cepat!" Chacha menarik tangan Bastian. Ia melupakan panggilan baru yang Bastian buat. Ia terus memanggil Bastian dengan sebutan nama karena terlalu bersemangat.