
Tak berapa lama, apa yang Lisa nanti-nantikan akhirnya datang juga. Bastian dan keluarga besar Hutama sampai. Seperti biasa, mereka menyambut kedatangan keluarga Hutama.
Saat Merlin dan Herman turun, suasana masih terasa adem bagi Lisa. Namun, rasa adem itu berubah ketika Chacha turun dari mobil. Semua perhatian tertuju pada Chacha yang terlihat begitu anggun bak putri raja. Dari ujung rambut, sampai ujung kaki, semua terlihat begitu luar biasa.
"Apa! Tidak mungkin. Mengapa dia selalu jauh di atas aku?" tanya Lisa sangat amat kesal.
"Karena dia adalah nyonya Bastian. Sedangkan kamu?" tanya seseorang dari belakang. Orang itu tidak lain adalah Haris. Pegawai kepercayaan Bastian yang di tugaskan untuk mengawasi Lisa.
"Kamu! Ah! Akan aku buktikan seperti apa diriku nantinya," kata Lisa sambil meninggalkan Haris.
"Aku tunggu, nona Lisa. Eh, maksudku, tante Lisa," kata Haris sambil tersenyum mengejek.
Lisa merasa sangat kesal dengan kata-kata Haris, namun ia mencoba untuk bersabar. Karena saat ini, ia akan mengubah rencananya.
'Dasar kurang ajar semua kacung-kacungnya si Bastian itu. Lihat saja pembalasanku nanti pada kalian semua. Apa hebatnya kalian sebagai kacung. Cih, jadi kacung aja bangga. Penjilat kalian semuanya,' kata Lisa dalam hati dengan perasaan sangat kesal.
Lisa menghampiri Bastian dan yang lainnya. Saat ini, mereka semua ingin memasuki restoran hotel untuk acara makan malam.
"Bastian, bisa bicara sebenar?" tanya Lisa dengan wajah sedih.
"Ada apa? Bicara saja!"
"Tidak bisa di sini. Aku hanya ingin bicara empat mata denganmu di tempat lain."
"Maaf Lisa, aku tidak bisa. Kamu bisa bicara dengan Danu jika itu hal penting. Karena Danu adalah orang kepercayaan ku," kata Bastian sambil beranjak.
"Tapi Bas."
"Mau bicara apa? Cepat bicarakan!" kata Danu yang di sampingnya masih berdiri tegak Lula. Lula melihat Lisa dengan tatapan tajam.
"Tidak ada. Aku ingin bicara dengan Bastian. Bukan kamu."
"Ya sudah, terserah kamu. Ayo sayang, kita masuk."
__ADS_1
"Ya, mas. Ayo masuk sekarang! Aku gak bisa lihat kamu lama-lama di sini bersama dengan ular. Bahaya," kata Lula sambil tersenyum.
"Apa! .... "
Mereka berdua tidak menanggapi apa yang Lisa katakan. Ia ditinggal begitu saja tanpa oleh Danu dan Lula.
Kehadiran Lisa benar-benar tidak di anggap oleh semuanya. Namun, dasar Lisa aja yang tidak tahu malu. Selalu mencari celah agar bisa di perhatikan.
'Dasar kacung kalian. Bisa-bisanya kalian bicara buruk padaku. Kalian lihat saja, aku akan mengusir kalian jauh-jauh jika rencana ku berhasil malam ini,' kata Lisa dalam hati sambil menggenggam erat tangannya.
Usai makan malam, mereka melanjutkan pesta di bar. Demi menjalankan rencananya, Lisa terpaksa mengeluarkan banyak uang untuk membayar pelayan bar. Ia meminta pelayan bar memberikan minuman yang sudah ia campur dengan obat tidur ke dalam minuman semuanya.
Saat mereka semua tertidur, dia akan menjalankan rencananya merusak rumah tangga Chacha dan Bastian. Juga, merusak semua orang yang dekat dengan Bastian. Terutama Lula dan Danu. Ia sangat kesal dengan mereka berdua.
Pelayan bar itu menjalankan rencananya. Lisa tersenyum sambil mengambil gelas yang karyawan bar itu berikan. Melihat semuanya, meminum air mereka, Lisa juga ikut minum dengan rasa bahagia dalam hati. Kalau kali ini, rencananya pasti tidak akan gagal.
Aneh. Setelah Lisa meneguk satu tegukan saja air yang pelayan bar berikan, kepalanya mendadak pusing. Matanya jadi berkunang-kunang seakan semuanya berterbangan.
"Aduh." Lisa berucap sambil memegang kepalanya yang terasa berat.
Satu hal yang Lisa tidak ketahui, Bastian sudah mengetahui rencana licik Lisa sejak tadi. Lisa yang memang tidak peka, itu adalah kelemahan paling menguntungkan buat mata-mata yang Bastian tugaskan untuk mengawasi semua gerak-gerik Lisa.
Setelah tahu Lisa akan meracuni semuanya dengan memasukkan obat tidur pada semua minuman, Haris segera mengancam pelayan bar untuk melakukan apa yang ia suruh. Manusia sangat takut dengan ancaman, apalagi mereka tahu kalau Bastian orang besar. Sulit untuk menang melawan Bastian. Jadi, diancam sedikit saja, pasti mereka akan menuruti apa yang orang-orang Bastian katakan.
Melihat Lisa yang keluar dari bar dengan berjalan sempoyongan, Haris segera menelpon seseorang. Orang itu adalah juragan kambing yang terkenal banyak istrinya. Haris tahu dari mamanya, kalau juragan itu ingin mencari istri yang ke lima.
Setelah mendengar Lisa ingin menjebak Bastian, ia merasa kalau Lisa sangat cocok untuk menjadi istri ke lima juragan kambing. Dengan begitu, Lisa mungkin akan di sibukkan dengan dunia barunya. Yaitu, menjadi istri sang juragan yang serakah akan wanita-wanita cantik.
"Di mana dia?" tanya anak buah juragan.
"Itu." Haris menunjukkan Lisa yang sedang terbaring di atas kursi.
"Bagus. Juragan pasti sangat senang," kata anak buah itu sambil mengendong Lisa.
__ADS_1
"Terima kasih banyak atas kerja samanya," kata anak buah itu sambil berjalan meninggalkan Haris.
"Sama-sama."
"Aduh, aku berasa jadi orang sangat jahat sekarang. Tapi, apa boleh buat, ini demi kebaikan keluarga bos muda. Lagipula, Lisa itu gadis yang sangat licik. Tidak bisa dibiarkan berkeliaran terlalu lama," kata Haris bicara pada dirinya sendiri.
"Haris."
Tubuh Haris terperanjat akibat kaget saat seseorang memanggil namanya juga menyentuh pundaknya. Sontak, ia segera melihat ke belakang, di mana orang yang memanggilnya sedang berdiri tegak.
"Bos muda."
"Bagaimana?" tanya Bastian.
"Semua berjalan sesuai rencana bos muda. Semoga saja ini yang terbaik buat semuanya."
"Sudah, jangan memasang wajah menyesal seperti itu. Aku yakin ini adalah pilihan yang paling tepat untuk Lisa. Dia harus diberi pelajaran supaya kapok."
"Ya, bos muda benar."
"Ayo masuk. Kita lanjutkan pestanya."
Haris mengikuti apa yang Bastian katakan. Sekarang, ia bisa menikmati suasana pesta dengan tenang tanpa harus memikirkan Lisa lagi.
Sementara itu, Lisa dibawa ke mobil. Di mana juragan kambing telah menunggu kedatangan Lisa dengan rasa tak sabar.
"Wuah, akhirnya kalian datang juga," kata bos Karto sambil melihat Lisa yang masih berada dalam gendongan anak buahnya dengan mata jelalatan.
"Ah, cantik sekali. Aku merasa tidak sabar untuk meni*kmatinya."
"Ya bos. Bagaimana? Apa bos Karto merasa puas?"
"Tentu saja tentu saja. Ayo cepat kita pergi dari sini. Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku sudah sangat tidak sabar lagi untuk berduaan dengan si manis ini."
__ADS_1
"Ya bos."
Mereka meninggalkan hotel itu dengan cepat. Mata juragan kambing yang bernama Karto terus saja menatap Lisa yang terbaring di atas pangkuannya.