Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 130


__ADS_3

Sementara itu, di sisi lain, Dimas yang baru saja pulang dari bekerja, duduk di ruang keluarga sambil menikmati segelas teh. Di temani oleh istrinya yang sedang hamil muda.


Ya, Dimas sekarang sudah tidak lajang lagi. Ia sudah menikah beberapa bulan yang lalu dengan seorang perempuan yang berasal dari negara yang sama dengan dirinya. Sekarang, istri Dimas sedang hamil muda. Usia kandungannya baru menginjak delapan minggu.


Seperti halnya sebuah pasangan, Dimas tidak pernah menyimpan apapun rahasia pada istrinya. Semua tentang masa lalu yang telah ia lewati, istrinya mengetahui semuanya. Terutama soal Chacha.


Dimas pun bercerita apa yang telah terjadi hari ini pada istrinya.


"Sayang, apa kamu tahu apa yang aku temui hari ini?" tanya Dimas pada istrinya.


"Apa, mas?" tanya sang istri antusias.


"Aku ketemu Bastian. Kamu masih ingat bukan siapa dia?"


"Ya. Terus?"


Belum sempat Dimas menjawab pertanyaan dari istrinya, Mayang yang mendengarkan nama Bastian disebut oleh Dimas, segera angkat bicara.


"Apa kamu bilang barusan, Dimas? Kamu ngomong soal Bastian, bukan?" tanya Mayang dengan nada tinggi.


"Mama," ucap keduanya serentak.


"Di mana kamu bertemu dengan Bastian, Dimas? Cepat katakan!"


"Ma, apa perlunya mama tahu di mana aku bertemu dengan Bastian? Orang tidak ada gunanya juga mama tahu," kata Dimas.


"Apa kamu bilang? Tidak ada gunanya? Kamu tahukan, bagaimana kita kehilangan perusahaan karena ulah si Bastian itu. Sekarang, dia tidak punya siapa-siapa di tempat asing seperti ini. Ini adalah kesempatan bagus buat kita memberikan pelajaran padanya."


"Ma, dengarkan aku. Kita kehilangan perusahaan, itu adalah masa lalu yang sudah kita lewati. Jadikan saja sebuah pelajaran agar kita tidak salah langkah ke depannya. Apa mama mau, kita hidup tersiksa dalam dendam terus menerus?"


"Jika kamu gak mau bantu mama, ya sudah, kamu gak perlu bantu mama. Biar mama sendiri yang melakukannya."


"Ma, apa yang mas Dimas katakan itu benar. Mama sudah pernah berhadapan dengan orang sekeras Bastian. Mama sudah kehilangan perusahaan mama karena dia. Apa mama sanggup kehilangan yang lainnya lagi, hanya karena mama dendam padanya karena telah merebut perusahaan mama?" tanya menantunya.


"Lidya benar mama. Sekali mama kalah, mama akan tetap kalah. Mama lupa, Bastian itu orang tinggi. Ia punya kuasa, juga banyak cara untuk menyingkirkan siapapun yang berhadapan dengannya."

__ADS_1


"Lagipula, tidak baik jika mama menyimpan dendam. Hidup dengan dendam tidak akan membuat mama bahagia. Malahan, akan membuat kita semua berada dalam derita. Mama tidak ingin bahagia? Menikmati hari tua dengan tenang. Sebentar lagi, mama juga akan menjadi seorang nenek, Ma," kata Dimas lagi.


Perlahan tapi pasti, Mayang membenarkan apa yang anak dan menantunya katakan. Ia tertunduk menyesali apa yang selama ini ia pikirkan. Selama ini, ia sudah cukup bahagia meskipun mereka hidup dengan kehidupan yang sederhana.


"Maafkan mama, Dimas, Lidya. Mama salah selama ini."


"Syukurlah kalo mama sudah sadar, Ma. Aku merasa sangat bahagia dengan kesadaran mama ini," kata Dimas.


"Iya, Ma. Aku dan mas Dimas akan selalu menjaga mama. Aku bahagia punya mama mertua seperti mama."


"Terima kasih kalian berdua sudah menyadarkan mama. Selama ini mama lupa, kalo mama sudah bahagia tanpa harus membalaskan dendam mama pada Bastian. Sekarang, mama tidak ingin mengenang apa yang telah berlalu. Mama akan fokus untuk menjaga calon cucu mama," kata Mayang sambil mengusap perut Lidya yang masih tidak terlihat ada apa-apa.


Dimas memeluk mamanya. Mayang membalas pelukan itu. Lidya itu merangkul mertua dan suaminya. Mereka berpelukan dengan sangat bahagia.


______


Satu minggu telah berlalu, kini tiba saatnya, Bastian dan Chacha meninggalkan negara seribu kincir tersebut. Chacha terlihat tidak bahagia saat mereka menuju bandara.


"Ada apa sih sayang? Kok wajahnya cemberut gitu?" tanya Bastian.


"Mau kembali, tapi kok malah sedih sih. Harusnya, mau kembali itu bahagia, dong."


"Iya sih. Tapikan sedih meninggalkan negara ini. Banyak kenangan manis di sini," ucap Chacha semakin cemberut saja.


"Kenangan manis apa ayo? Apa kenangan manis saat malam pertama? Atau ... malam kedua? Kamu tenang saja sayang, kita bisa mengulangi kenangan itu saat di rumah nanti," tanya Bastian dengan nada menggoda.


"Mas, kamu apa-apaan sih. Gak malu apa? Pak sopir bisa mendengarkan apa yang kamu katakan," kata Chacha kesal sambil bicara setengah berbisik.


"Saya gak dengar kok, nyonya. Tenang saja," kata sopir itu sambil tersenyum.


"Tuh dengar apa yang pak Anang katakan. Dia gak dengar kok," kata Bastian sambil tersenyum terus menggoda Chacha.


"Ih, mas." Chacha semakin kesal bercampur malu.


'Gak suami, gak sopir, sama aja,' ucap Chacha dalam hati.

__ADS_1


'Aku rasa, yang dekat dengan Bastian, kelakuannya sama semua kayaknya. Persis mirip Bastian,' kata Chacha dalam hatinya lagi.


Mobil itu berhenti. Bastian dan Chacha turun. Pak Anang sebagai sopir pribadi Bastian di negara ini, merasa sedih enggan untuk berpisah. Ia melambaikan tangan setelah mengantarkan barang-barang Bastian.


"Selamat jalan tuan Bastian, nyonya Chacha. Semoga kita bisa bertemu lagi," ucap pak Anang.


"Sampai jumpa lagi pak Anang," kata Chacha membalas lambaian tangan sopirnya.


Mereka pun berpisah. Chacha dan Bastian segera menaiki pesawat. Mereka meninggalkan negara itu. Meninggalkan kenangan manis di sana. Kenangan yang telah mereka lalui selama satu minggu di Belanda.


Belasan jam mereka habiskan di dalam pesawat, hingga akhirnya, pesawat mendarat di bandara tanah air. Kalau saat pergi Chacha tertidur pulas, berbeda dengan pulangnya. Chacha malah tidak tidur sama sekali. Ia sibuk melihat foto-foto mereka saat berada di tempat-tempat yang mereka kunjungi. Sedangkan Bastian pula, ia sibuk dengan mimpi indahnya. Karena sejak mulai pesawat berangkat, gantian dia yang tertidur pulas.


"Mas, ayo bangun!" kata Chacha membangunkan Bastian ketika pesawat baru saja berhenti.


"Ada apa sayang?" tanya Bastian bangun dengan cepat.


"Kita sudah sampai. Apa mas mau tetap tidur di sini?"


"Ya nggaklah. Aku itu udah gak sabar mau pulang ke rumah. Mana mau aku tinggal di sini lama-lama lagi."


"Ya sudah, ayo turun!"


Bastian melihat sekeliling. Belum ada satu penumpang pun yang meninggalkan kursi mereka. Bastian melihat kearah Chacha.


"Ya ampun sayang, ini masih belum boleh turun. Terbuktikan, siapa yang ingin pulang lebih awal," kata Bastian. Chacha hanya tersenyum menyeringai saja menanggapi apa yang Bastian katakan.


Beberapa menit kemudian, mereka turun dari pesawat. Di sana, Merlin dan Herman sudah menunggu kepulangan anak dan menantu mereka. Sedangkan Danu, ia juga ada di sana. Namun, tidak bersama Lula.


"Bastian, Chacha. Ya ampun, akhirnya kalian pulang juga," kata Merlin sangat bahagia.


"Ya Tuhan, Ma. Mama ini nyambut nya kayak orang yang udah pergi bertahun-tahun aja. Mereka itukan baru seminggu yang lalu perginya," kata Herman.


"Aku gak peduli, Pa. Yang jelas aku kangen sama mereka," kata Merlin beranjak mendekati Chacha dan Bastian yang berjalan semakin mendekat kearah mereka.


Merlin dan Chacha saling berpelukan. Sedangkan Bastian, Herman dan Danu, hanya bisa tersenyum melihat tingkah Merlin yang terkesan terlalu berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2