
Saat itu, ponsel Danu berbunyi. Membuyarkan lamunan Danu akan kekagumannya pada Chacha. Danu melihat ponsel tersebut. Tertera nama Lula di layar ponsel itu. Danu segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo."
"Halo, mas Danu. Mas Danu di mana sekarang?"
"Di ... di jalan. Ada apa, La?"
"Mau ke mana?"
"Tidak ada. Jalan-jalan saja."
"Oh, kalo gitu, bisa ajak aku gak?"
Danu berpikir sejenak. Mungkin, ini saat yang tepat untuk ia jadian dengan Lula. Karena dia tidak bisa membiarkan hatinya terus-terusan menaruh kekaguman pada istri bos mudanya terlalu lama. Ia takut, rasa itu lama-lama semakin parah sehingga ia tidak bisa menahan diri lagi.
"Mas Danu." Lula memanggil Danu karena ia tidak mendengarkan suara Danu setelah pertanyaannya tadi.
"Ya, La."
"Kalo gak bisa gak papa kok, mas Danu. Aku juga gak maksa. Aku cuma iseng aja, ingin jalan-jalan."
"Gak kok, La. Kamu di mana? Aku jemput sekarang," kata Danu bersemangat.
"Aku di kontrakan, mas Danu."
"Ya sudah, aku segera ke sana."
"Oke."
Danu menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu tanpa melihat Chacha dan Bastian lagi. Tekadnya sudah bulat. Malam ini akan menyatakan cinta pada Lula. Apapun tanggapan Lula, akan ia terima.
Sementara itu, Bastian yang masih terdiam saat melihat pesona Chacha, harus merasa kaget dengan sentuhan yang Chacha berikan.
"Kamu kenapa sih, Bas?" tanya Chacha.
"Kamu cantik. Sangat cantik malam ini, tuan putri," ucap Bastian tanpa memindahkan pandangannya dari Chacha.
"Udah pandai ngegombal kamu, Bas?" tanya Chacha sambil merona.
"Aku gak gombal, tuan putri. Kamu memang sangat cantik."
"Udah ah, jangan bercanda terus. Sebenarnya, ada apa? Sampai kamu melakukan semua ini? Aku rasa, hari ini bukan hari ulang tahun kamu, apalagi ulang tahun aku. Juga, bukan hari-hari spesial lainnya."
__ADS_1
"Apa perlu menunggu hari spesial baru bisa ajak kamu jalan-jalan?"
"Hmm ... gak juga sih."
"Ya udah, ayo ratuku. Kita berangkat," kata Bastian sambil mengulurkan tangannya.
Awalnya, Chacha merasa lucu, tapi ia sambut juga uluran tangan Bastian tersebut. Merekapun beranjak menuju mobil. Saat Bastian membuka pintu mobil, Chacha merasa ada yang kurang.
"Di mana Danu?" tanya Chacha langsung tanpa berpikir lagi.
"Danu?"
"Ya, Danu. Biasanya kan, dia yang mengemudi mobil ini."
"Apakah harus ada Danu di saat kita ingin kencan?" tanya Bastian kesal.
"Ya bukan gitu, Bas. Aku cuma nanya, di mana dia. Karena kamu itu gak pernah bawa mobil sendiri."
"Malam ini aku ingin kita berdua saja. Memulai perjalanan rumah tangga menuju keluarga bahagia. Oh ya, bisa aku minta kamu merubah panggilan mu padaku?"
"Maksud kamu?"
"Aku ingin sedikit merasakan kalau kamu dan aku itu sudah menjadi keluarga yang sesungguhnya. Mulai dari merubah panggilan mu padaku."
"Cha, bisa kamu panggil aku dengan sebutan, sayang?"
"Sayang?" Chacha memasang wajah aneh pada Bastian.
"Oh tidak-tidak. Mungkin itu terlalu berlebihan. Kamu bisa panggil aku mas Bastian. Bagaimana? Kali ini aku yakin tidak terlalu berlebihan, bukan?"
"Mas? Mm ... akan aku coba," kata Chacha sambil memikirkan apa yang Bastian katakan.
Pembicaraan itu harus terhenti ketika mobil memasuki area restoran. Bastian bergegas turun dari mobil untuk membukakan pintu untuk Chacha.
"Silahkan ratuku."
"Kamu ada-ada saja, Bas, mm maksudku, mas."
Merekapun memasuki restoran dengan bergandengan. Memang agak canggung bagi Chacha, karena ini yang pertama kalinya ia bermesraan di tempat umum.
***
Sementara itu, di apartemen Lisa. Ia tersadar dari pingsannya karena bunyi ketukan yang keras di pintu masuk. Lisa membuka mata dengan sangat malas. Ia bagun sambil memegang kepalanya yang terasa agak pusing.
__ADS_1
"Siapa sih?" tanya Lisa masih agak sempoyongan.
"Kamu sedang apa sih di dalam? Lama banget bukain pintunya," kata Sarah sambil menerobos masuk.
"Ish, bau apa ini?" tanya Sarah lagi saat ia mencium bau pesing yang menyengat.
"Lisa. Kamu ngompol, ya?" Sarah melihat Lisa yang sedari tadi hanya diam di depan pintu.
"Mau apa tante ke sini?" tanya Lisa sangat kesal.
"Aku ke sini untuk menanyakan apa saja kerajaan mu akhir-akhir ini. Kenapa begitu sulit aku hubungi, hah!"
"Aku sibuk."
"Sibuk? Hei! Sibuk apa kamu? Apa kamu sibuk menikmati kenyamanan kamu tinggal di apartemen keluarga Hutama secara gratis sendirian? Terus kamu lupa dengan misi kamu untuk balas dendam pada Bastian?"
"Cukup tante! Tante tidak tahu apa yang sudah aku lalui selama ini. Kalo cuma untuk tinggal di apartemen seperti ini, aku tidak perlu menyusup masuk ke dalam keluarga Hutama. Tinggal cari om-om kaya, terus porotin uangnya. Tidak harus tersiksa seperti ini," kata Lisa sangat marah.
"Lho, kok jadi kamu yang marah sama aku sih?"
"Habisnya, tante enak aja ngomong tanpa mikir. Tante tidak tahu bagaimana si Bastian itu menyiksa aku, kan?"
"Nyiksa? Nyiksa gimana?"
"Aku di suruh kerja di kantornya sebagai petugas kebersihan. Terus, pegawai senior di sana di suruh ngerjain aku habis-habisan. Sampai-sampai, badan ini rasanya seperti remuk akibat penyiksaan itu."
"Kamu kerja di kantor Hutama grup?"
"Ya. Ada lagi nih. Aku di suruh tinggal di apartemen berhantu ini. Sepertinya, dia ingin aku mati berdiri."
"Berhantu? Dari mana kamu tahu apartemen mewah seperti ini berhantu?"
"Aku baru saja habis mengalaminya. Makanya aku tahu. Terus, para penghuni di sini juga pernah ngomong kalo ini apartemen ada hantunya. Kayaknya, aku udahan. Gak mau ikut campur lagi dengan kehidupan Bastian juga keluarganya. Terlalu berbahaya."
"Eh, kamu ngomong apa sih barusan? Udahan? Kamu yakin mau meninggalkan gunung emas yang ada di depan matamu ini? Terlalu sayang untuk kamu tinggalkan Lisa. Lagipula, kamu lupa bagaimana Bastian telah merenggut nyawa saudari kembar mu itu."
"Kalo untuk kekayaan, aku bisa cari duda-duda keren yang butuh kehangatan. Atau, om-om tampan juga bisa. Kekayaan seperti apapun bisa aku dapatkan. Dari pada mati tersiksa hidup dalam ancaman si Bastian itu."
"Lisa-Lisa. Kamu ini bodoh atau apa sih? Kamu pikir muda mendapatkan om-om yang kaya? Apalagi untuk mengulangi rencana yang telah kamu lalui setengah jalan seperti ini."
"Kamu pikir baik-baik, Lisa. Kamu bisa balas dendam pada Bastian, juga bisa dapatkan kekayaan keluarga Hutama yang sangat kaya di kota ini. Kamu gak akan tersiksa jika kamu pintar dalam melangkah. Kamu tahu? Anakku hampir saja menikah dengan Bastian dan jadi nyonya di sana jika bukan karena Chacha yang merebut posisinya."
"Yang harus kamu lakukan adalah, menikah dengan Bastian terus kuasai harta keluarga Hutama. Masalah dia cinta atau tidak sama kamu, tidak jadi masalah, bukan? Toh, yang terpenting adalah, kamu bisa menjadi nyonya keluarga Hutama."
__ADS_1