Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 127


__ADS_3

Mereka pun masuk ke dalam sambil berangkulan. Cahcha yang bahagia, tidak bisa untuk tidak memikirkan apa kejutan lain yang Bastian sediakan untuknya.


"Mas."


"Hm." Bastian menjawab sambil melihat Chacha.


"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?"


"Sebaiknya, kamu beristirahat, sayang. Biar aku keluar beli makanan."


"Aku tidak ingin istirahat, Mas."


"Lalu?" tanya Bastian sambil mendekat.


"Aku ... aku mau ... jalan-jalan." Cahcha gugup ketika Bastian menatapnya dengan tatapan tajam. Ia ingat, kalau saat ini, ia sedang berada dalam misi bulan madu, bukan cuma liburan biasa.


"Kamu gak capek memangnya?" tanya Bastian mengalih pandangan.


"Ya, nggaklah. Lagian, inikan masih sore. Jalan-jalan sore kayaknya seru."


"Ya sudah kalo gitu. Ayo kita jalan sekarang!" kata Bastian berusaha mengumpulkan semangatnya yang tercecer akibat perasaan buru-buru ingin melakukan apa yang selama ini ia harapkan.


"Tapi, Mas .... "


"Ya, sayang. Tapi apa?"


"Besok saja jalan-jalannya. Aku merasa ingin berada di kamar ini saja dahulu."


"Ya sudah. Apapun yang kamu katakan, terserah kamu saja. Aku ikut saja apa yang kamu katakan."


"Ya, mas."


"Ya sudah kalo gitu, biar aku carikan cemilan yang enak buat kita berdua. Kamu mau apa?"


"Aku tidak tahu mau apa, Mas. Terserah padamu saja. Apa yang enak menurut kamu sajalah."


"Siap yang mulia ratu. Tunggu di kamar ini sampai aku kembali. Ingat, jangan buka kamar untuk siapapun. Ini tempat asing, harus selalu hati-hati. Jangan bikin aku cemas, ya."


"Ya, mas. Aku tahu. Aku kan bukan anak kecil lagi," kata Chacha sambil memasang wajah kesal.


"Bukan karena kamu anak kecil, sayang. Tapi karena aku takut kamu lupa soal itu, makanya aku ingatkan. Udah ya, aku pergi dulu."


"Ya. Hati-hati ya, mas. Jangan lama-lama juga."


"Ya." Bastian berucap sambil tersenyum sebelum ia menutup pintu kamar mereka.


Setelah kepergian Bastian, Chacha membuka kopernya. Ia penasaran dengan kotak yang mama mertuanya berikan saat sehari sebelum mereka berangkat.

__ADS_1


Ingatan Chacha kembali pada malam itu. Di mana saat Merlin datang ke rumah mereka bersama Herman. Merlin membawa paper bag di tangannya saat ia masuk ke kamar Chacha.


"Sayang, ini mama punya sesuatu untuk kamu," kata Merlin sambil menyerahkan paper bag tersebut.


"Apa ini, Ma?" tanya Chacha sambil menerima paper bag tersebut.


"Sesuatu untuk kamu. Ini adalah hadiah dari mama untuk kamu bawa ke luar negeri. Ini hanya boleh kamu buka saat sudah sampai di hotel tempat kalian menginap."


Seperti itulah pesan Merlin pada Chacha. Meskipun merasa penasaran dengan isi kotak yang Merlin berikan, namun Chacha tetap memegang amanah mama mertuanya. Ia tidak membuka kotak itu selama mereka belum berada di hotel. Dan sekarang, Chacha merasa ini waktu yang tepat untuk ia membuka kotak itu.


"Apa isinya, ya?" tanya Chacha sambil membuka kotak dengan tidak sabaran.


"Lingerie?" tanya Chacha tidak mengerti.


Ia mengangkat lingerie itu dari dalam kotak. Terlihatlah lingerie yang berwarna hijau yang sangat lucu dan seksi.


"Ini yang mama bilang hadiah?" tanya Chacha semakin bingung.


"Bagaimana mungkin aku bisa memakai ini. Ini terlalu seksi. Ini mah bukan baju, melainkan plastik yang tembus pandang," ucap Chacha sambil mengangkat lingerie itu setinggi kepala.


Setalah puas melihat lingerie hijau itu, Chacha kembali melihat ke dalam kotak. Ada sebuah botol berwarna pink. Chacha merasa penasaran dengan botol pink berbentuk hati tersebut. Ia pun langsung mengambil botol itu.


"Apa lagi ini?" tanya Chacha sambil membulak-balikkan botol tersebut.


Tidak puas hanya dengan memperhatikan botol itu, Chacha pun membuka penutup botol tersebut. Lalu, ia mencium bau dari botol itu.


"Ma, perasaan, kemarin itu mama memberikan sesuatu pada Chacha. Iyakan?" tanya Herman.


"Iya." Merlin menjawab singkat sambil terus memperhatikan layar ponselnya.


"Mama kasih apa pada Chacha?"


"Sesuatu."


"Ya sesuatu. Tapi apa?"


"Rahasia dong."


"Yah, mama sekarang sudah pintar main rahasia-rahasiaan sama papa, ya? Oke kalo gitu. Papa juga akan merahasiakan apa yang telah papa berikan pada Bastian."


Mendengar kata-kata itu, Merlin tertarik. Ia melepaskan ponselnya, lalu berpindah duduk ke samping Herman.


"Papa juga kasi sesuatu pada Bastian?" tanya Merlin bersemangat.


"Iya." Kini giliran Herman yang menjawab dengan jawaban yang singkat.


"Papa kasi apa sama Bastian?" tanya Merlin sangat penasaran.

__ADS_1


"Ya rahasia. Sama kayak mama yang merahasiakan sesuatu dari papa."


"Oke deh, mama akan katakan apa yang mama berikan pada Chacha. Tapi papa janji, papa juga akan katakan apa yang papa berikan pada Bastian. Gimana?"


"Iya," kata Herman sambil terus melihat majalah yang sedari tadi ia pegang tapi tidak untuk ia baca karena majalah itu hanya untuk melawan mama yang sedang sibuk dengan ponselnya sejak tadi.


"Mama berikan bantuan pada mereka," kata Merlin sambil tersenyum.


"Bantuan?" tanya Herman sangat penasaran sambil melepaskan majalah yang ia pegang.


"Iya, bantuan."


Sementara itu, Chacha yang sudah menghirup aroma dari botol pink berbentuk hati, tiba-tiba merasa sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya.


"Aduh, ada apa ini? Kok mendadak jadi gerah gini ya?" tanya Chacha sambil berusaha membuka sedikit kancing bajunya.


Bukannya merasa nyaman, Chacha malahan merasa semakin gerah saja. Ia melihat sekelilingnya. Chacha merasa sangat tidak nyaman saat ia. Ia berbaring dengan resah di atas ranjang.


"Auh, panas. Gerah sekali," kata Chacha terus saja menarik-narik bajunya.


"Sayang, aku kembali," kata Bastian sambil membuka pintu.


"Sayang."


Mata Bastian tertuju pada Chacha yang sedang terbaring dengan resah di atas ranjang. Ia segera menghampiri Chacha dengan cepat. Rasa cemas sedang menyelimuti hati Bastian saat ini.


"Cha, kamu kenapa?"


"Apa yang terjadi? Kamu sakit?" tanya Bastian sambil mendekat dan berniat ingin menyentuh dahi Chacha untuk merasakan suhu tubuhnya.


Belum juga tangan Bastian sampai ke dahi Chacha, tangan itu sudah di tarik Chacha dengan keras. Bastian yang tidak waspada dengan apa yang akan terjadi, ia langsung terjatuh menimpa tubuh Chacha.


"Mas, aku merasa panas." Chacha berucap sambil memeluk erat tubuh Bastian


"Kamu kenapa sih, Cha. Apa yang sebenarnya terjadi sih?" tanya Bastian semakin kebingungan saja.


"Mas, panas. Aku ingin sesuatu."


"Kamu haus? Ingin air?"


"Bukan."


"Lalu? Apa yang kamu inginkan?"


"Aku ingin kamu, mas. Tolong."


'Ada yang tidak beres dengan Chacha. Aku yakin, dia saat ini sedang tidak sadarkan diri. Chacha sedang dalam pengaruh obat tertentu,' kata Bastian dalam hati sambil terus berusaha menghindar dari keganasan Chacha.

__ADS_1


__ADS_2