
"Sarah, cukup! Dengarkan apa yang ingin aku katakan!"
"Apa, mbak? Apa? Mbak ingin aku membatalkan niat balas dendam aku bukan?"
"Ya, tapi dengarkan dulu apa yang ingin aku katakan."
"Tante, sebaiknya tante tenang dan dengarkan apa yang ingin mama bicarakan," kata Dedi sambil menyentuh pundak Sarah.
Sarah terdiam. Ia mendengarkan saran yang Dedi berikan. Ia berusaha tenang sambil menundukkan wajahnya. Memberi kesempatan Siska untuk bicara.
"Sarah, ini semua salah aku. Jika saja aku tidak menukar bayimu dengan bayi seorang perempuan yang melahirkan anak kembar tiga, mungkin kamu tidak jadi seperti ini," kata Siska
sambil menatap lurus ke depan.
"Apa mbak! Apa yang baru saja mbak katakan?" tanya Sarah kaget bukan kepalang. Ia sampai bangun dari duduknya akibat kaget dengan kata-kata yang Siska ucapkan.
"Sarah. Hari ini aku akan mengungkapkan sebuah kebenaran yang terkubur rapat selama puluhan tahun. Hari ini aku akan katakan yang sejujurnya. Keke bukan anak kandungmu. Aku menukar Keke dengan bayimu saat kamu melahirkan di rumah sakit waktu itu."
"Tidak mungkin. Mengapa mbak melakukan ini padaku, mbak? Mengapa mbak menukar bayiku, hah!" Sarah bicara dengan deraian air mata.
"Karena aku kasihan padamu, Sarah."
"Kasihan? Ha ha ha. Adakah orang kasihan melakukan hal gila seperti yang mbak lakukan padaku? Aku rasa tidak. Aku pikir mbak sayang padaku. Ternyata tidak. Mbak bahkan membenci aku."
"Siapa bilang aku tidak sayang padamu Sarah? Karena aku sayang padamu, aku melakukan hal senekat itu. Aku menukar bayimu yang telah meninggal dengan bayi orang lain. Aku kasihan padamu, kau pasti tidak akan sanggup menerima semua cobaan yang datang bertubi-tubi mengenai mu."
"Apa? Bayi yang aku lahir kan meninggal?"
"Ya, bayimu meninggal sesaat setelah kamu melahirkannya. Aku tidak ingin kamu menjadi sedih. Aku menukarkan bayi yang telah meninggal itu dengan bayi seorang perempuan yang telah melahirkan anak kembar tiga. Aku pikir, itu tidak akan jadi masalah, jika mereka kehilangan satu, mereka tidak akan sedih. Karena mereka masih punya dua lagi sebagai pengobat luka. Sedangkan kamu, kamu hanya punya satu. Jika kamu kehilangan yang satu ini, maka kamu tidak punya pengobat luka lagi," kata Siska menjelaskan panjang lebar pada Sarah.
"Jadi ... jadi, Keke bukan anak kandungku dengan mas Raditya?"
"Bukan."
"Mengapa mbak? Mengapa baru sekarang mbak katakan semua ini?"
"Aku tidak berpikir kalau rahasia ini akan menimbulkan masalah bagi kamu, apalagi bagiku. Aku berniat untuk menyimpan rahasia ini sampai mati. Tapi nyatanya, anak angkat itu membawamu jauh ke dalam masalah. Sampai-sampai, aku juga terkena imbasnya."
"Kalo gitu, Lisa adalah saudari kandung sepupu Keke dong, tante. Maksudku, sepupu angkat," kata Dedi.
"Siapa Lisa?" tanya Siska.
__ADS_1
"Lisa adalah gadis yang tante temui saat ingin ziarah ke makam sepupu angkat, Ma. Wajahnya sangat mirip dengan sepupu angkat, sehingga tante suka melihatnya."
"Kamu benar Dedi. Lisa juga pernah bilang kalo dia punya saudari kembar yang bernama Mona. Tapi, Mona juga sudah meninggal," kata Sarah membenarkan perkataan Dedi. Ia baru ingat dengan cerita Lisa saat mereka pertama kali bertemu.
"Sudah tidak diragukan lagi sekarang, mereka adalah kembar tiga yang aku tukar dengan anakmu. Jika gadis itu tahu, kita semua dalam masalah." Siska berucap sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan.
"Bagaimana selanjutnya mbak? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sarah mendadak bingung.
"Aku juga tidak tahu."
Mereka bertiga terdiam sambil memikirkan jalan keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi.
Di sisi lain, Bastian sedang berbicara dengan Hendra lewat udara. Mereka membahas soal bukti dan saksi yang sudah mereka dapatkan untuk menjerat Sarah ke jalur hukum.
"Apa langkah selanjutnya, Bas?" tanya Hendra.
"Jika bukti sudah cukup. Tunggu apa lagi? Kita akan bawa Sarah ke jalur hukum sekarang juga."
"Ya, kamu benar. Aku sudah mengumpulkan semua saksi beserta buktinya. Aku pastikan, Sarah tidak akan bisa lolos dari jeratan hukum lagi sekarang."
"Bagus. Sekarang, kita akan pergi ke kantor polisi. Kamu tunggu aku di sana."
"Apa? Sekarang, Bas?"
"Bukan gitu, Bas. Kamu gak lihat apa? Inikan udah sangat sore. Bentar lagi senja lho."
"Aku gak peduli. Lebih cepat aku laporkan Sarah pada pihak yang berwajib, maka akan lebih cepat dia di tangkap."
"Ya sudah kalo gitu. Aku berangkat sekarang. Jika kamu sampai duluan, kamu tunggu aku."
"Ya."
Dengan begitu, sambungan telepon terputus. Hendra menatap sejenak layar ponselnya.
"Kamulah orang yang paling tidak sabaran, Bas. Apa-apa pengen cepat, apa-apa mau sekarang," kata Henda sambil menggelengkan kepalanya.
"Eh tapi tunggu, apa yang aku katakan barusan tidak sepenuhnya benarkan ya. Bastian adalah orang paling sabar saat berhadapan dengan Chacha, istrinya. Buktinya saja, Chacha masih belum hamil sampai sekarang. Mereka masih menunda bulan madu mereka hingga detik ini," kata Hendra sambil memikirkan apa yang ia katakan.
"Ah, apa yang aku pikirkan. Dasar bego-bego. Masa mikirin rumah tangga orang lain sih," kata Hendra kesal sambil mengetuk kepalanya sendiri.
Untuk tidak semakin terhanyut dengan apa yang ia pikirkan. Hendra segera beranjak menuju pintu. Mama yang melihat Hendra yang sedang terburu-buru, segera menghampiri Hendra untuk menanyakan apa penyebabnya.
__ADS_1
"Ada apa, Hend? Kok kamu buru-buru amat?"
"Ada yang harus Hendra urus, Ma. Hendra pergi dulu."
"Eh tunggu! Kamu mau ke mana senja-senja begini, Hendra?"
"Bertemu Bastian, Ma."
"Ada masalah apa lagi sampai kamu harus bertemu Bastian senja begini?"
"Ada deh, Ma. Aku tidak bisa ngomong sama mama. Karena ini, adalah rahasia anak cowok."
"Hendra-hendra. Ada-ada saja kamu ya."
"Ya udah, Ma. Hendra berangkat dulu."
"Hati-hati ya, Nak."
"Ya, Ma. Da .... "
Setelah berpamitan pada mamanya, Hendra bergegas menuju mobil. Lalu meninggalkan rumah menuju kantor polisi. Yang di mana, Bastian ternyata sudah menunggunya di sana.
"Kamu kok lama banget sih, Hend?" tanya Bastian pada Hendra yang baru saja memperlihatkan batang hidungnya.
"Ya Tuhan, bisakah kamu sedikit bersabar Bastian Hutama? Aku itu gak dengan terbang lho ke sini. Tapi dengan mobil yang menggunakan jalan raya. Ya kamu tahulah kalo sudah berada di jalan raya. Pasti ramai yang ...."
"Ah sudah. Jangan terlalu banyak bicara. Kamu gak bosan apa bicara terus. Sekarang, ayo masuk ke dalam!"
"Tunggu!"
"Apalagi?" tanya Bastian kesal.
"Kamu tidak melupakan semua bukti yang aku berikan padamu, bukan?"
"Jelas tidak. Kamu pikir aku seceroboh dirimu?"
"Bisakah kamu tidak menyingung aku jika bicara?"
"Kalo masalah itu, lain kali saja kita bahas nya.
Sekarang, ada yang lebih penting."
__ADS_1
"Ah, ya sudah."