
Bastian yang sedari tadi mendengar apa yang bik Maryam dan Chacha bicarakan. Ia tersenyum lebar. Hatinya tiba-tiba merasa geli sekaligus suka dan penuh harap. Ia mengharapkan apa yang bik Maryam katakan secepatnya bisa terujut.
Chacha yang baru saja ingin meninggalkan dapur, ia kaget ketika memutar tubuh melihat Bastian yang sedang senyum ke arahnya.
"Bastian. Sejak kapan kamu di situ?" tanya Chacha semakin kesal.
"Baru aja. Kenapa kamu kok sepertinya sedang buru-buru?"
"Tidak. Siapa yang buru-buru?"
"Lalu? Mengapa kamu tidak habiskan makananmu dulu."
"Aku sudah kenyang."
"Belum makan tapi kok udah kenyang? Kok bisa ya?"
"Ya bisalah."
"Caranya?"
"Itu ... aku harus ke kamar. Ada yang mau aku kerjakan," kata Chacha mengubah topik pembicaraan.
"Apa yang mau kamu kerjakan? Aku kan di sini," kata Bastian berniat mengerjai Chacha lagi.
"Bastian .... " Cahcha memanggil Bastian dengan nada tinggi sambil berteriak keras.
Danu yang berada di ruang kerja Bastian segera berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Sedangkan pak Danang yang kebetulan berada tak jauh dari pintu masuk rumah, juga ikut berlari ke dapur untuk melihat apa yang terjadi. Bik Maryam pula hanya bisa tersenyum melihat kedua bos mudanya ini.
"Ada apa nona bos?" tanya Danu yang baru saja sampai.
"Ada apa dengan bos muda?" tanya pak Danang pulang.
Melihat pak Danang dan Danu yang datang ke dapur karena teriakannya. Chacha menjadi sangat malu. Wajah putihnya terlihat merah akibat menahan rasa malu itu. Ia tidak bisa menjawab apa yang Danu dan pak Danang tanyakan. Chacha hanya bisa memaksakan senyum tidak enak pada Danu juga pak Danang.
Melihat Chacha yang sedang menahan rasa malunya, Bastian tersenyum kecil. Hatinya benar-benar geli sehingga ia sangat ingin tertawa namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak membuat Chacha semakin kesal lagi.
"Aku baik-baik saja. Tidak ada apa-apa. Nona bos kalian sedang ... ya kalian paham sendirilah. Biasa, mood baiknya kurang bersahabat. Yang sudah menikah pasti tahu," kata Bastian sambil melirik Chacha.
"Bastian .... " Chacha menatap Bastian dengan tatapan tajam. Ia benar-benar kesal pada apa yang Bastian katakan. Bukannya merasa bersalah, Bastian malahan semakin merasa bahagia dengan tatapan tajam yang Chacha lontarkan. Niat mengerjai Chacha semakin bertambah besar lagi jadinya.
__ADS_1
"Sayang, jangan galak-galak, nanti dia ikutan galak, sama kayak kamu," kata Bastian tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Danu dan pak Danang saling pandang. Mereka sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sekarang. Bik Maryam juga ikut kaget dengan apa yang Bastian ucapkan.
"Nona bos sedang hamil?" tanya bik Maryam antusias dengan wajah bahagia.
"Apa! Nona bos hami?" tanya Danu dan pak Danang serentak.
"Bastian! .... "
Chacha berteriak kencang pada Bastian. Kemudian ia meninggalkan dapur dengan langkah besar. Bukannya marah, Bastian malah tertawa bahagia karena berhasil membuat Chacha kesal.
Bik Maryam, Danu, dan pak Danang dibuat tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Mereka penasaran dengan berita yang Bastian ucapkan. Tapi tidak berani menanyakan tentang kebenaran dari berita tersebut. Mereka hanya bisa saling pandang sampai Bastian beranjak dari tempatnya.
Pak Danang yang tidak bisa menahan rasa penasaran, segera menghampiri bik Maryam untuk menanyakan kebenaran dari kata-kata yang baru saja mereka dengar. Sedangkan Danu, ia tertegun dengan pikirannya sendiri.
"Beneran ya bik, nona bos sedang berbadan dua? Kalo iya sih, ini kabar paling hangat buat kita semua," kata pak Danang dengan senyum bahagian nya.
"Ya mana saya tahu pak Danang. Orang saya juga baru dengar tadi. Saat bos muda mengatakan hal itu barusan."
"Tapi, kayaknya, kabar itu benar deh. Orang saya sendiri tadi gak sengaja memergoki nona bos dan bos muda sedang mesra-mesraan gitu," kata bik Maryam lagi.
"Ye ... pak Danang ini."
"Kenapa? Apa bik Maryam gak senang kalo nona bos hamil?"
"Siapa bilang. Aku orang paling bahagia kalo nona bos hamil. Dengan begitu, kita akan kedatangan bos muda kecil. Ini rumah pasti akan jadi sangat ramai kan?"
Sementara bik Maryam dan pak Danang sibuk membicarakan apa yang Bastian katakan, Danu malah hanya diam mematung mendengarkan perkataan mereka. Ia tidak bersemangat untuk ikut bahagia dengan kabar yang baru saja dia dengar. Rasanya, dia orang yang paling sedih ketika mendengarkan kabar itu.
Bik Maryam yang melihat raut sedih dari wajah Danu, ia merasa penasaran. Karena, cuma Danu yang kelihatan tidak bahagia saat mendengar kabar nona bos mereka sedang hamil.
"Mas Danu, ada apa? Kok kelihatannya gak bahagia gitu?" Bik Maryam menepuk pelan bahu Danu.
"Gak kok bik. Siapa yang gak bahagia? Aku bahagia kok."
"Lah itu, mas Danu melamun aja dari tadi."
"Kamu gak senang ya, kalo rumah ini kedatangan bos muda kecil?" tanya pak Danang pula.
__ADS_1
"Siapa bilang?" tanya Danu sebisa mungkin terlihat bahagia padahal sebenarnya memang dia sedang tidak hati.
"Ya gak ada yang bilang sih. Tapi, itu lho mas Danu, wajah mas Danu itu kayak orang yang lagi sedih. Seperti punya sesuatu hal yang mengganjal gitu lho," kata bik Maryam.
"Gak ada kok bik Maryam. Gak ada yang lagi sedih, juga gak ada yang mengganjal. Ya sudah ya bik Maryam, pak Danang, saya permisi dulu. Ada hal yang harus saya urus," kata Danu sambil beranjak meninggalkan bik Maryam dan pak Danang tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua.
Bik Maryam dan pak Danang saling pandang. Semakin Danu menutupi apa yang ia rasakan, maka rasa itu semakin kelihatan jelas. Keduanya bisa merasakan adanya yang tidak beres dari Danu.
"Ada apa itu mas Danu, kok kayaknya sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya bik Maryam setelah Danu tidak terlihat lagi.
"Mana saya tahu. Mungkin dia punya banyak masalah kerjaan kali," kata pak Danang mengubah arah pikir bik Maryam.
"Iya kali ya."
"Sudahlah, jangan di pikirkan. Ayo lanjut kerjaan kita masing-masing," kata pak Danang sambil beranjak meninggalkan bik Maryam.
Sementara itu, ketika Bastian sampai di kamar, ia tidak menemukan keberadaan Chacha. Matanya pun tertuju ke pintu yang menghubungkan balkon dengan kamar.
Bastian menggerakkan kursi rodanya menuju balkon. Seperti yang ia pikirkan, Chacha sedang berdiri di sana. Menikmati angin sore yang rasanya sangat menenangkan hati.
"Cha." Bastian memanggil Chacha dengan nada takut.
Karena dirinya sudah membuat Chacha kesal habis-habisan. Kini perasaan takut tiba-tiba saja muncul dalam. hati Bastian.
"Chacha." Bastian kembali memanggil Chacha dengan suara sedikit keras.
Jika panggilan pertama tidak dapat respon, berbeda dengan panggilan kedua. Cahcha langsung berbalik arah. Dengan tatapan taj, Chacha melihat Bastian seakan ia ingin menelan Bastian bulat-bulat.
"Bastian." Chacha memanggil sambil berjalan pelan, tanpa mengurangi sedikitpun tatapan tajam yang membuat bulu kuduk Bastian berdiri.
Chacha terus mendekat, hingga tidak ada jarak lagi untuk ia melangkah. Chacha menundukkan kepalanya, tepat beberapa senti jarak antara wajah Chacha dengan wajah Bastian.
"Cha." Bastian memanggil pelan sambil menatap mata Chacha.
"Kenapa? Bos muda Bastian takut? Bukankah bos muda Bastian begitu bahagia mengerjai aku tadinya? Sekarang, giliran aku mengerjai bos muda," kata Chacha sambil semakin mendekati wajahnya ke wajah Bastian.
"Kamu mau mengerjai aku atau mewujudkan impian ku?" tanya Bastian.
Cahcha tidak menjawab. Tiba-tiba, ia yang awalnya siap mencium Bastian, kini berubah jadi menggelitik Bastian. Bastian yang tidak tahu apa rencana Chacha, kini harus menerima gelitikan plus rasa kecewa karena harapannya hanya sebatas harapan saja.
__ADS_1