Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 75


__ADS_3

Bastian menerima map itu, lalu membukanya. Map itu berisikan keterangan kelahiran, tes DNA, foto keluarga, juga, buku diary milik Mona. Cover buku diary tersebut adalah gambar Mona dan Bastian.


Ingatan tentang buku diary itu tergambar jelas dalam benak Bastian. Seketika, pikirannya mengembara ke masa lalu. Saat ia berpacaran dengan Mona. Saat itu, mereka sama-sama duduk di bangku perkuliahan.


Waktu itu, Mona sedang duduk sendirian di taman kampus. Bastian yang melihat Mona melamun, ia berjalan pelan-pelan untuk mengangetkan Mona yang sedang termenung sambil menggigit pulpen.


"Bua!" Bastian menepuk pundak Mona pelan.


"Ah, Bastian." Nada manja terdengar khas dari mulut Mona. Meskipun ia kaget, tapi tetap saja, ciri khasnya tidak pernah hilang.


"Kamu jahat, ya," kata Mona sambil memukul bahu Bastian dengan pukulan manja.


"Habisnya, kamu melamun sih siang-siang bolong seperti ini."


"Siapa yang melamun? Aku nggak melamun kok," ucap Mona sambil menutup buku diary tersebut.


Bastian yang melihat sampul diary itu adalah wajah mereka berdua, tiba-tiba muncul rasa penasaran dalam hatinya. Ia pun berpindah posisi, dari berdiri di belakang kursi menjadi duduk di samping Mona.


"Apaan sih ini?" tanya Bastian sambil berusaha mengambil buku tersebut dari tangan Mona.


"Ih, jangan. Ini buku pribadi aku. Gak boleh ada yang lihat. Dokumen berharga, rahasia negara tau," ucap Mona sambil mempertahankan diary tersebut.


"Bisa-bisa aja kamu ngomongnya. Masa sama aku juga main rahasia-rahasiaan. Sini, pinjam bentar. Aku cuma mau lihat covernya aja kok," kata Bastian mencoba merebut kembali.


"Jangan ah. Sama kamu atau sama siapa aja, semuanya gak boleh. Kecuali ketika aku sudah tiada lagi. Baru boleh."


"Kamu ngomong apa sih?" tanya Bastian sambil merubah ekspresi wajahnya. Dari bahagia, menjadi sedih.


"Ya, ngomong apa adanya. Aku gak akan izinin siapapun buka buku ini termasuk kamu, selagi aku masih hidup. Jika sudah tiada, baru boleh kamu tahu apa isinya."


Bastian memeluk Mona dengan erat. Rasa takut akan kehilangan Mona pun menjalan dalam setiap sendinya.


"Jangan ngomong seperti itu lagi. Aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkan aku."


"Bas, kamu tidak akan bisa merubah takdir. Jika takdir sudah mencatat kita berdua tidak akan bersama, maka kita tetap tidak bisa menolak apa yang sudah tertulis."

__ADS_1


"Cukup. Jangan ngomong soal kamu yang berencana ingin pergi dari aku lagi. Karena aku tidak akan mendengarkan apa yang kamu katakan. Kalau memang takdir sudah mencatat kita tidak bersama, maka aku akan mengubahnya," kata Bastian semakin erat memeluk Mona.


"Bastian."


Panggilan itu menyadarkan Bastian kalau dirinya sedang berada di waktu yang berbeda.


"Kamu kok malah bengong," kata mama lagi.


"Ada apa sih? Apa kamu mengingat sesuatu atau .... "


"Tidak ada." Bastian memotong perkataan Merlin dengan cepat.


"Apa wasiat Mona? Katakan padaku!" kata Bastian pada Lisa.


"Wasiatnya berada dalam diary yang kamu pegang itu. Bukan dan lihat saja sendiri!" kata Lisa.


Tanpa menunggu lama lagi, Bastian langsung membuka diary tersebut. Ia sangat ingin tahu apa yang telah di wasiatkan oleh Mona pada Lisa. Bastian pun mencari-cari, tapi, dia tidak ingin menunggu lama, karena rasa penasaran sudah menjalan seluruh tubuhnya.


"Di mana wasiatnya. Cepat katakan padaku! Ini terlalu banyak tulisan, tidak mungkin untuk aku membaca satu persatu," kata Bastian dengan nada sangat kesal.


Tanpa menunggu lagi, Bastian melakukan apa yang Lisa katakan. Ia membuka cover diary tersebut dengan sangat pelan. Karena Bastian tidak ingin merusak diary Mona yang membawanya kembali ke masa lalu.


Bastian menemukan secarik kertas yang terlipat rapi setelah ia membuka cover diary tersebut. Dengan rasa penasaran, ia membuka kertas itu secepat mungkin.


𝘉𝘢𝘴𝘵𝘪𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢. 𝘋𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. 𝘉𝘢𝘴𝘵𝘪𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘢𝘥𝘢, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳 𝘬𝘶. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘯𝘢.


𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨


𝘔𝘰𝘯𝘢𝘭𝘪𝘴𝘢.


Begitulah bunyi tulisan yang Lisa bilang itu adalah wasiat dari Mona, kakak kembarnya. Bastian kaget bukan kepalang saat membaca isi dari surat wasiat tersebut.


"Tidak mungkin. Aku tidak mungkin bisa meluluskan apa yang tertulis di dalam surat ini," ucap Bastian.


"Kenapa? Apa itu terlalu berat?" tanya Lisa kesal.

__ADS_1


"Ya, sangat amat berat. Karena aku sudah punya istri."


"Apa! Kamu sudah punya istri?" tanya Lisa pura-pura kaget, padahal sebenarnya, dia sudah tahu apa status Bastian sebelumnya.


"Tapi Bas, bagaimana dengan wasiat ini?" tanya mama bingung.


"Setahu mama, sebuah wasiat itu tidak boleh tidak dipenuhi. Bahaya nantinya."


"Aku tidak bisa melakukan apa yang tertulis di surat wasiat, Ma. Apa mama lupa? Aku sudah menikah."


"Iya. Mama gak lupa kok. Mama ingat."


"Apa mama tega melihat Chacha terluka nantinya. Aku tidak bisa melukai hati Chacha, Ma."


"Untuk kamu, maafkan aku karena tidak bisa meluluskan permintaan terakhir Mona. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya."


"Untuk apa minta maaf padaku. Aku juga sebenarnya tidak ingin melakukan apa yang tertulis di dalam surat wasiat itu jika bukan karena mama yang memintanya. Mama bilang, ia sering didatangi kak Mona dalam mimpi. Kak Mona ingin mama melakukan apa yang telah ia wasiatkan. Karena mama sudah tidak kuat lagi melihat kak Mona tersiksa dan tidak tenang di alam sana, mama pun mencari aku untuk melakukan apa yang tertulis dalam surat wasiatnya kak Mona," kata Lisa menjelaskan panjang lebar.


"Apakah tidak ada cara lain untuk membuat Mona tenang?" tanya mama Merlin antusias.


"Aku juga tidak tahu, tante. Aku hanya melakukan apa yang mamaku katakan. Sejujurnya, aku sangat menolak untuk melajukan wasiat ini, tapi mama ... mama memohon padaku untuk aku bersedia mendatangi keluarga kalian untuk membuat kak Mona tenang di alam sana," ucap Lisa dengan nada sedih.


"Bastian." Merlin melihat Bastian dengan tatapan mengiba.


"Maaf, Ma. Aku tidak bisa. Aku tidak akan menduakan Chacha."


"Aku juga tidak ingin menikah dengan kamu. Apalagi jadi istri kedua," kata Lisa kesal.


"Lalu, sekarang, kita harus apa?" tanya mama kebingungan.


Lisa juga Bastian terdiam. Mereka sama-sama bermain dengan pikiran masing-masing. Bastian sibuk memikirkan apa yang akan terjadi dengan Chacha jika Chacha tahu semua masalah yang sedang ia hadapi saat ini. Sedangkan Lisa, ia sibuk menertawakan Bastian dan Merlin dalam hatinya. Karena ia berhasil membodohi keluarga Hutama dengan mudah.


'Katanya keluarga paling kaya di kota ini. Tapi kok bego, ya? Mau aja aku bodoh-bodohi. Bastian juga, katanya laki-laki paling teliti, tapi mau aja percaya dengan apa yang tertulis di dalam surat wasiat palsu itu. Mereka gak tahu apa, kalau itu bukan tulisan Mona,' kata Lisa bicara dalam hati.


'Apa mungkin karena yang menulis surat itu terlalu pintar meniru tulisan Mona? Sampai-sampai Bastian tidak bisa membedakan yang mana tulisan asli tangan Mona, dan yang mana cuma jiplak doang? Gak sia-sia dong aku bayar mahal laki-laki itu untuk nulis surat wasiat palsu ini. Toh hasilnya, Bastian sangat percaya dengan surat wasiat palsu itu,' kata Lisa sambil tertawa dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2