Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 125


__ADS_3

Setelah diinterogasi, Lisa dibawa menuju sel. Lisa masih tetap berontak walau dia tahu kalau berontak itu tidak akan ada hasilnya.


"Lepaskan aku! Aku tidak bersalah," kata Lisa terus saja mengulangi apa yang ia ucapkan tadi.


"Sebaiknya anda diam. Tidak akan ada yang mau mendengarkan anda. Sudah terbukti bersalah, masih saja tidak mengakuinya," kata polisi itu dengan kesal.


"Lisa."


Panggilan yang datang dari dalam sel itu membuat Lisa mendadak kebingungan. Ia dengan cepat menoleh ke arah asal suara untuk melihat siapa yang telah memanggil namanya.


"Tante Sarah."


Lisa kaget ketika melihat Sarah berada dalam tahanan. Wajahnya terdapat memar di beberapa tempat. Wajah Sarah juga terlihat sedikit pucat dati biasanya.


"Tante Sarah."


Lisa ingin menghampiri Sarah namun polisi itu tidak mengizinkannya. Polisi itu memasukkan Lisa ke dalam sel yang berbeda dengan Sarah.


"Buk, tolong izinkan saya bicara dengan seseorang dalam tahanan sana," kata Lisa memelas.


"Tidak."


"Buk, tolonglah. Saya ingin bicara sebentar saja. Saya sudah lama tidak bertemu dengan tante Sarah Saya mau bicara."


"Kamu pikir ini tempat reunian apa? Kamu seenaknya ingin bertemu. Tidak bisa. Ini tahanan. Di sini punya peraturan." Selesai bicara seperti itu, polisi perempuan itu langsung meninggalkan sel tersebut.


Lisa terus berteriak memanggil polisi itu, namun, polisi itu tetap pada pendiriannya. Tidak mengizinkan Lisa melakukan apa yang ia inginkan.


Setelah melihat polisi meninggalkan sel, wanita gendut yang ada dalam sel Lisa, segera bangun dari duduknya. Ia merasa terusik akibat keributan yang Lisa ciptakan.


"Hei! Anak baru. Sini kamu," kata wanita gendut itu.


Lisa mengabaikan apa yang wanita itu katakan. Ia tetap pada apa yang ia lakukan. Berteriak-teriak meminta polisi membebaskannya sekarang juga. Sama seperti yang Sarah lakukan saat pertama kali datang ke tahanan ini.


"Diam! Apakah kamu tidak dengar apa yang aku katakan? Aku meminta kamu datang padaku, tapi kamu mengabaikannya. Punya nyali juga kamu," kata wanita itu bangun dari duduknya.


"Mau apa kamu?" tanya Lisa sedikit takut ketika wanita itu mendekatinya dengan tatapan tajam.


"Aku mau memukulmu agar kau tahu siapa aku."

__ADS_1


Pukkk ....


Sebuah pukulan segera mendarat di perut Lisa. Lisa segera berteriak kesakitan. Ia memanggil polisi untuk menolongnya. Namun, tidak ada yang mendengarkan panggilan Lisa. Semua polisi sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Mendengar Lisa yang tidak jera setelah mendapatkan pukulan darinya, wanita itu menambah pukulan lagi ke tubuh Lisa. Bukan hanya satu pukulan, wanita itu terus memukul Lisa dengan pukulan yang keras. Sehingga Lisa tidak kuat untuk menahannya. Lisa pingsan di sana.


Lisa terbangun saat tubuhnya disiram dengan air. Dengan tubuh yang terasa sangat sakit, ia membuka matanya dengan sangat malas.


"Tolong. Aku mohon tolong aku. Aku sudah tidak kuat lagi," kata Lisa merintih sambil berusaha mengangkat tangannya dengan sekuat tenaga.


Melihat Lisa yang sepertinya sedang sekarat. Polisi itu meminta temannya membawakan Lisa keruangan medis untuk diperiksa. Jika benar-benar parah, maka Lisa akan di larikan ke rumah sakit.


Sementara itu, Bastian dan Chacha sedang berada di bandara. Merlin, Herman, Danu, juga Lula, ikut berada di sana untuk mengantarkan Bastian dan Chacha.


"Hati-hati di jalan ya, Nak," kata Merlin sambil memeluk menantunya.


"Bastian, jaga istrimu baik-baik. Dan jangan lupa, pulangnya bawa cucu buat papa dan mama," kata Herman sambil menepuk pundak Bastian.


"Papa ada-ada saja, pulang bawa cucu, emangnya cucu itu oleh-oleh yang banyak di jual di pasar apa?" kata Bastian.


"Emang gak ada. Tapikan, kalian bisa bikin cucu buat dibawa pulang."


"Betul itu," kata Bastian.


"Kalian berdua sama aja. Udah ah, yang penting kalian baik-baik di sana. Terus nikmati liburan bulan madu kalian dengan baik. Terus .... "


"Pulangnya bawa cucu. Iyakan bos besar?" Danu memotong perkataan Herman.


"Iya, Danu. Tepat sekali."


"Ah, itu sama aja," ucap Bastian kesal.


"Untuk kamu Danu, kalo udah bosan kerja, ngomong," kata Bastian lagi.


"Nggak kok bos muda." Danu pura-pura memang wajah kesal. Sedangkan Lula dan Chacha hanya tersenyum saja.


"Lah terus?" tanya Bastian.


"Sudah-sudah. Jangan asik bercanda terus kalian. Gak dengar apa, itu sudah ada panggilan?" Merlin lagi-lagi menjadi penengah saat perdebatan.

__ADS_1


Chacha dan Bastian pamit sekali lagi pada mama dan papa mereka. Kemudian, beranjak meninggalkan mereka semua dengan lambaian tangan dari mereka berempat.


"Hati-hati ya, Nak. Jangan lupa, pulang bawa oleh-oleh." Herman berteriak.


Lima belas menit kemudian, pesawat pun meninggalkan bandara menuju negara Belanda. Ya, pilihan mereka jatuh ke Belanda. Itu karena Chacha sangat ingin berkunjung ke negara itu. Ia penasaran bagaimana dengan kehidupan di negara tersebut.


Ada banyak tempat indah yang ingin Chacha kunjungi di sana. Terutama, taman bunga tulip, kanal Amsterdam, dan kincir-kincir yang selalu ia lihat di ponselnya.


Belasan jam, waktu yang mereka habiskan di dalam pesawat untuk sampai ke negara Belanda. Sampai-sampai, Chacha tertidur pulas di bahu Bastian. Sehingga, bahu Bastian sampai mati rasa akibat sandaran Chacha tersebut.


Saat pesawat mendarat, Bastian pun harus membangunkan Chacha dengan berat hati. Sebenarnya, ia merasa kasihan untuk membangunkan Chacha yang sedang tertidur sangat nyenyak. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin mereka berdua terus berada di dalam pesawat sedangkan yang lain semuanya sudah keluar.


"Cha, bagun." Bastian menepuk pelan wajah Chacha. Namun, Chcaha masih terlena di dalan tidurnya.


"Sayang, ayo bagun. Kita sudah sampai."


Kata-kata itu mampu membuat Chacha bangun dengan cepat. Ia memperhatikan sekeliling. Kursi penumpang yang awalnya terisi, kini sudah kosong semua.


"Ya ampun, semuanya sudah keluar?" tanya Chacha agak kaget.


"Ya, seperti yang ratuku lihat."


"Mas, kamu kok gak bangunin aku sih? Aduh."


"Sudah sayang. Cuma, kamu nya susah banget mau bangun."


"Aduh, gimana ini? Ayo turun sekarang!" ucap Chacha agak panik.


"Sayang, gak perlu panik seperti itu."


"Mas, kamu enak aja bilang jangan panik, nanti kalo kita di bawa kembali, gimana? Jadi gagal dong liburannya."


"Gagal liburan atau gagal bulan madu?" tanya Bastian menggoda Chacha.


"Ih, gagal liburan lah. Aku kan udah mengimpikan jalan-jalan ke taman bunga sejak kemarin. Jika kita gagal liburan, aku gak bisa jalan ke taman bunga dong."


"Ya udah deh, iya." Bastian beranjak sambil tersenyum.


Ia merasa Chacha semakin hari semakin lucu saja. Ada saja yang bisa membuat Bastian tersenyum geli saat melihat tingkah lakukan.

__ADS_1


__ADS_2