Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 53


__ADS_3

"Cha, apa kamu ingat aku?" Pertanyaan pertama yang Bastian tanyakan pada Chacha. Karena, selama Chacha koma, hanya pertanyaan itulah yang selalu muncul dalam benaknya.


Chacha yang mendengar pertanyaan itu menatap Bastian dengan tatapan yang sulit untuk Bastian tebak. Antara iya atau tidak, sama sekali Bastian tidak bisa menebak jawaban dari tatapan itu.


Chacha melihat Hendra, meminta penjelasan dari sebuah tatapan yang ia lontarkan. Hendra paham dengan tatapan itu, ia pun melihat raut wajah cemas bercampur sedih dari wajah Bastian.


"Bro, istri lo ini gak papa. Ingatannya gak hilang kok. Lo kayaknya takut banget kalo dia hilang ingatan. Lo takut apa? Takut dia gak ingat sama lo lagi?" Hendra bicara sedikit meledek membuat Bastian sangat kesal padanya.


"Sejak kapan kamu berani bicara lo gue sama aku? Apa kamu sudah bosan jadi dokter di rumah sakit ini?"


"Ya ampun. Aku cuma bercanda Bastian. Kamu itu sahabat aku, tapi, aku gak bisa ngomong bebas sama kamu. Ampun ... persahabatan seperti apa yang kita jalani ini?"


"Kalian lagi reunian ya?" tanya Chacha menyela, ikut bercanda.


"Gak!" jawab keduanya serentak.


"Aduh. Galaknya kalian berdua. Kompak lagi galaknya. Aku ini pasien lho ya. Jangan lupa hal itu. Jangan bentak aku atau aku mendadak jantungan."


"Kamu ngomong apa sih? Jangan ngomong yang nggak-nggak. Gimana? Apa yang sakit sekarang?" tanya Bastian penuh perhatian.


"Telat," kata Hendra sambil memutar bola matanya dengan malas.


"Jangan ikut campur."


"Kamu itu sebenarnya sayang gak sih sama Chacha? Aku lihat kayak gak sayang aja. Eh, salah tanya. Kamu itu sebenarnya ada hati gak sih sama dia?"


Bastian terdiam. Ia tak menyangka kalau Hendra begitu berani menanyakan soal cinta padanya. Mana di depan orangnya lagi dia nanya.


"Jawab Bas!"


"Sudah aku bilang, jangan ikut campur urusanku. Apa kamu sudah bosan jadi dokter sekarang?"


"Yah, bisanya ngancem doang. Aku nanya gitu karena aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. Jika kamu memang gak ada rasa sama dia, ya biarin dia jadi milik aku aja."


"Hendra! Jangan bercanda terlewat batas. Aku tidak suka kamu ikut campur urusanku. Dia itu istriku, ada atau tidak rasa dalam hatiku, itu bukan urusan kamu. Sebaiknya, kamu tinggalkan kamar ini sekarang juga," kata Bastian benar-benar emosi sekarang.


"Bas, aku cuma bercanda kok. Kamu kok serius banget."

__ADS_1


"Tidak ada bercanda dengan yang namanya hati. Dan yang kamu bawa dalam bercanda itu istriku."


"Udah-udah, kalian kok malah berdebat. Bastian, tolong jangan emosi. Hendra, aku tahu kamu bercanda, tapi candaan mu terlewat batas. Aku harap kalian bisa mengerti apa yang aku rasakan. Tolong, tinggalkan aku sendirian di kamar ini, aku mau istirahat."


"Biarkan aku tetap di sini, Cha. Aku akan temani kamu," kata Bastian.


"Bas, biarkan aku sendiri. Aku sedang ingin sendiri."


"Ya--ya sudah kalo gitu. Aku akan tunggu di luar. Ada apa-apa, tolong panggil aku atau Danu."


"Ya."


Bastian ingin keluar, namun ia berhenti untuk bicara lagi dengan Chacha.


"Kalo sudah cukup istirahatnya, panggil aku. Ada yang mau aku omongin sama kamu."


"Iya."


Bastian pun keluar dari kamar Chacha. Saat ia keluar dari kamar itu, Dimas melihatnya dari kejauhan. Dimas yang begitu mengharapkan bisa ngobrol dengan Bastian, tidak membuang waktu lagi. Ia segera mendekati Bastian.


"Kamu lagi kamu lagi. Gak bosan-bosannya ya kamu muncul di hadapanku."


"Bastian, aku butuh bicara berdua dengan kamu. Ini soal kerjaan."


"Soal kerjaan, ngapain diomongin di rumah sakit?" tanya Bastian kesal.


"Habisnya, aku tidak bisa bertemu kamu di kantor. Makanya aku cari kamu sampai ke rumah sakit ini."


"Kamu ikutin aku sampai rumah sakit?"


"Bukan-bukan. Aku gak ngikutin kamu, pertemuan kita hanya kebetulan aja kok. Aku di rumah sakit ini karena mama ku sedang di rawat di sini."


"Buk Mayang di rawat?"


"Ya, dia di rawat karena tekanan darahnya tinggi dan ... ah, tidak usah dibahas lagi. Itu tidak penting. Aku ingin kita bicara soal saham mamaku yang sekarang tinggal dua puluh persen."


"Ada apa dengan saham mamamu?" tanya Bastian dengan setengah hati. Ia sebenarnya sangat malas untuk bicara dengan Dimas.

__ADS_1


"Aku berniat menjual saham itu padamu. Semuanya. Bisakah kamu sedikit meninggikan harga saham tersebut? Aku akan bawa mama keluar negeri setelah saham itu terjual."


"Kamu ingin pindah?" tanya Bastian sedikit tertarik.


"Ya. Aku ingin mama menikmati hari tuanya dengan tenang."


'Sebenarnya, bukan hanya mama ku yang ingin menikmati hari-hari dengan tenang, aku juga. Aku ingin pergi dari kota ini. Melupakan semua yang telah aku lewati di sini. Menata kehidupan yang baru di tempat lain. Terutama, menata hatiku biar lebih tenang,' kata Dimas dalam hati.


"Bagaimana? Apa kamu bisa, Bastian?" tanya Dimas lagi.


Bastian terlihat memikirkan apa yang Dimas tawarkan. Bukan soal harga saham, melainkan soal Chacha. Jika Dimas pergi, maka dia akan jauh dari Chacha. Tidak ada lagi cinta dari masa lalu yang membuat Bastian takut.


"Baiklah. Aku Terima tawaranmu. Bagaimana dengan harga dua kali lipat dari harga sebelumnya?


"Be--benarkah? Aku setuju," kata Dimas tanpa membuang waktu lagi.


Dimas pun bergegas meninggalkan Bastian dan Danu. Terlukis kebahagiaan di wajahnya saat ini. Ia bergegas menuju kamar mamanya.


"Ma, ada kabar baik," kata Dimas sambil berjalan mendekat.


"Kabar baik apa?" tanya Mayang malas.


"Bastian ingin membeli saham mama yang tinggal dua puluh persen dengan harga dua kali lipat."


"Apa! Itu kamu bilang kabar baik. Kamu gila ya! Mama tidak akan menjual saham itu berapapun harganya. Jangankan dua kali lipat, tiga atau empat kali lipat juga mama gak akan menjualnya."


"Ma, dengarkan aku. Kita jual saham itu, kita tinggalkan kota ini. Aku ingin mama hidup tenang, menikmati masa tua dengan nyaman."


"Dimas, mama tahu kamu bermaksud baik. Tapi, apa kamu lupa? Saham itu adalah peninggalan papa satu-satunya untuk kita, untuk kamu."


"Ma, harta dan kekayaan itu bisa di cari di manapun kita berada. Peninggalan papa juga bukan hanya saham itu. Papa juga meninggalkan rumah, bukan?"


"Dimas .... "


"Ma, ayolah. Aku tidak ingin lagi tinggal di kota ini. Aku juga tidak ingin melihat mama bersedih di kota ini. Menghabiskan hari tua dengan terus mengingat papa."


Mayang terdiam memikirkan apa yang Dimas katakan. Sebagian hatinya membenarkan apa yang Dimas katakan. Sedangkan sebagian lagi, menolak perkataan Dimas.

__ADS_1


__ADS_2