Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 109


__ADS_3

Melihat Chacha yang terlalu bahagia, Bastian mencoba membunuh rasa takut yang ada dalam hatinya. Ia terus mengikuti Chacha memasuki pasar malam tersebut.


"Ayo Bas, kita ke sana," kata Chacha sambil mengarahkan telunjuknya pada rumah hantu.


Melihat apa yang Chacha tunjuk, Bastian semakin takut. Jangankan masuk, untuk melihatnya saja dia merasa tidak berani. Rumah hati yang sangat gelap, pasti sangat menyeramkan.


Bastian menghentikan langkahnya yang sedari tadi terus mengikuti Chacha. Merasa tangannya tertahan, Chacha menoleh ke arah Bastian yang sedang tertegun mematung.


"Ada apa, Bas?"


"Kamu yakin mau pergi ke sana?"


"Ya yakinlah. Aku paling suka dengan rumah hantu."


"Bukannya kamu bilang, kamu takut kegelapan, Chacha. Rumah hantu kan, sangat menakutkan."


"Ih, Bastian. Gelapnya rumah hantu itu gak sama dengan gelapnya mati lamu tahu. Gelapnya rumah hantu, itu menguji nyali kita biar semakin berani. Lagipula, di dalam rumah hantu ramai orang juga kan?"


"Aku sarankan sebaiknya kita tidak masuk ke dalam. Tidak ada bedanya gelap mati lampu dengan gelap rumah hantu. Malahan, lebih menakutkan gelap rumah hantu dari pada gelap mati lampu, Cha."


"Bastian, gelap rumah hantu itu cuma gelap dalam permainan. Tapi, saat gelap mati lampu, aku merasa takut akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku."


Bastian merasa ada kesedihan yang tersembunyi di balik kata-kata Chacha barusan. Ia tidak tahu ada apa, yang jelas, perasaan itu seperti kesedihan yang berasal dari sebuah kejadian. Yang mungkin, sampai saat ini membuat Chacha merasakan rasa kesedihan itu.


Ini sama seperti rasa trauma yang Bastian miliki. Hanya akan muncul ketika ia melihat sesuatu hal yang telah membuatnya takut. Jika tidak melihatnya, maka rasa itu tidak akan muncul.


"Ya sudah. Ayo kita masuk! Jika itu yang membuat kamu merasa bahagia," kata Bastian sambil mengelus pelan rambut Chacha.


"Jangan paksakan jika hatimu tidak ingin, Bastian. Kamu bisa tunggu aku di sini. Biar aku bermain sendiri saja. Gak papa, gak akan ada masalah," kata Chacha sambil tersenyum.


"Tidak! Jangan! Maksudku, biar aku temani kamu masuk. Aku tidak akan tenang jika kamu bermain sendirian," kata Bastian dengan cepat.


"Kamu yakin?" tanya Chacha dengan nada menggoda.


"Ya ... ya yakinlah." Bastian memantapkan hati dengan seribu keyakinan meskipun rasanya terlalu sulit untuk ia lakukan.


"Memangnya kamu gak takut?"


"Siapa bilang aku takut? Aku gak akan takut. Cuma mainan rumah hantu doang," kata Bastian mencoba berbicara dengan seribu keberanian.


"Ya sudah, ayok!"

__ADS_1


Chacha kembali menarik tangan Bastian. Mereka mendekati rumah hantu. Tapi sebelum masuk, Chacha membelikan dua tiket untuk mereka berdua.


"Yuk!"


"A--ayuk," kata Bastian benar-benar kembali diselimuti rasa takut.


Baru saja mereka akan mencapai pintu masuk. Seseorang memanggil Bastian dengan keras. Langkah kaki Bastian dan Chacha terhenti. Mereka menoleh untuk mencari siapa pemilik suara itu.


"Danu, Lula," kata Bastian


Danu dan Lula berjalan mendekat. Sedangkan Chacha, ia memperhatikan keduanya dengan seksama.


"Mereka berdua pacaran?" tanya Chacha terlalu penasaran.


"Mungkin." Bastian menjawab singkat.


"Maafkan Lula bos muda, nona bos, udah ganggu nona bos sama bos muda yang ingin masuk ke dalam," kata Danu pada Bastian dan Chacha.


"Gak papa. Aku gak merasa terganggu. Oh ya, kalian udah lama di sini?" tanya Bastian sedikit senang. Dengan kehadiran Danu, ia merasa sedikit tertolong.


"Baru aja masuk. Bos muda sama nona Chacha udah lama?" tanya Lula.


"Oh ya, kenalin, saya Lula, manajer perusahan Hutama cabang," kata Lula lagi sambil mengulurkan tangan pada Chacha.


"Kita juga baru datang. Gak nyangka bisa ketemu kalian di sini," kata Bastian.


"Iya, gak nyangka banget. Kami yang mau pulang dari taman, melihat keramaian pasar malam ini. Mas, maksudku, pak Danu ingin kita mampir. Ya aku ikut saja," kata Lula menjelaskan.


"Kamu tidak perlu memanggil Danu dengan sebutan pak di depanku, Lula. Ini bukan kantor," ucap Bastian.


Lula hanya tersenyum malu sambil melihat Danu. Danu juga sepertinya sedang merasa canggung. Melihat suasana yang agak tidak bersahabat, Chacha dengan cepat mengubah topik pembicaraan.


"Ya sudah, bagaimana jika kita main saja sekarang. Kan rugi, kalo udah datang ke sini gak main, cuma berdiri aja," kata Chacha.


"Oh, ya. Boleh juga tuh," kata Lula bersemangat.


"Mau main apa?" tanya Danu.


"Rumah hantu saja." Chacha dengan cepat menjawab.


Danu melihat Bastian. Ia tahu betul bagaimana bos mudanya ini. Dia sangat tidak suka dengan tempat keramaian seperti pasar malam ini. Apalagi rumah hantunya.

__ADS_1


Danu dengan cepat mengirip pesan singkat pada Lula. Lula yang paham dengan isyarat dari Danu, dengan cepat membuka pesan itu.


"Kayaknya jangan rumah hantu deh. Aku gak suka sama suasana gelapnya," kata Danu


"Aku juga gak suka. Takut soalnya," kata Lula ikut berbohong. Padahal sebenarnya, rumah hantu adalah hal paling menyenangkan bagi Lula.


"Ya sudah kalo kalian semua gak mau. Kita cari mainan lain aja," ucap Chacha agak sedih.


"Aku setuju masuk rumah hantu," kata Bastian membiat kaget Lula dan Danu. Dia jadi pusat perhatian sekarang.


"Bos muda yakin mau main rumah hantu?" tanya Danu.


"Ya iyalah. Istriku ingin masuk ke dalam, jelas aku ikut," kata Bastian.


"Ya sudah kalo gitu, aku juga ikut," ucap Lula.


"Ya udah. Ayok!" Danu juga setuju.


"Kayaknya, aku gak jadi main rumah hantu. Gimana kalo kita naik bianglala aja?" tanya Chacah penuh semangat lagi.


"Boleh," jawab Lula dan Danu secara bersamaan.


"Bianglala?" tanya Bastian agak khawatir.


"Ya. Bianglala. Gak ada kegelapan, gak ada hal yang menyeramkan, juga bisa santai." Chacha menjelaskan pada Bastian.


"Santai?" tanya Bastian tidak bisa mempercayai apa yang Chacha katakan.


"Jangan bilang kamu juga gak mau naik bianglala." Chacha cemberut.


"Gak kok. Ayo ke sana!"


Lula dan Chacha yang terlalu bersemangat berjalan mendahului Bastian dan Danu. Sementara itu, Danu melihat Bastian dengan seksama. Memperhatikan wajah bos mudanya yang terlihat sedang ketakutan.


"Bos muda yakin mau ikut naik bianglala? Jangan dipaksakan jika bos muda tidak mau. Biar saya yang ngomong sama nona bos."


"Jangan! Aku gak papa. Kamu jangan ngomong apa-apa sama Chacha. Kamu gak lihat bagaimana dia bahagia saat sampai ke sini? Dia terlalu bahagia," kata Bastian.


Melihat Bastian dan Danu masih belum sampai, Chacha dan Lula serentak melihat kebelakang. Mereka menemukan Bastian dan Danu tertinggal jauh di belakang dalam keramaian orang yang sibuk melakukan kegiatan masing-masing.


"Bastian! Danu! Ayo cepat! Kita udah mau naik nih," kata Cahcha dengan teriakan yang keras yang disertai lambaian tangan.

__ADS_1


"Ayo Danu! Cepat." Bastian mempercepat langkah kakinya. Sedangkan Danu, ia hanya bisa mengikuti Bastian dari belakang dengan perasaan agak cemas.


__ADS_2