
"Gimana liburannya, sayang?" tanya Merlin pada Chacha.
"Baik-baik aja, Ma."
"Terus, gimana sama oleh-oleh yang papa minta. Apa kalian penuhi?"
"Papa ini bisa aja," kata Bastian sambil senyum penuh arti.
"Selamat datang kembali bos muda, nona bos," kata Danu ikut bicara setelah sekian lama hanya terdiam menjadi penonton.
"Makasih, Danu. Oh ya, di mana Lula?" tanya Chacha.
"Lula gak ikut," jawab Danu.
"Ya sayang, Lula gak bisa ikut. Dia sibuk menyiapkan pernikahannya sama Danu. Gak lama lagi, Danu kita ini akan menjadi pengantin baru," ucap Merlin.
"Oh ya, aku lupa, Ma." Chacha menjawab sambil tersenyum.
"Ya sudah, ayo kita kembali sekarang. Mau sampai kapan kita berada di sini. Kita lanjutkan obrolan kita di rumah saja," ucap Herman.
Mereka pun meninggalkan bandara, dengan segera.
__________
Hari pernikahan Danu dan Lula akhirnya tiba juga. Pesta pernikahan yang digelar dengan sederhana, namun terasa sangat mewah karena terdapat kebahagiaan di sana. Semua karyawan Hutama di udang. Baik Hutama grup, maupun Hutama cabang. Semuanya turut memeriahkan pernikahan Danu dan Lula.
Bukan hanya karyawan Hutama, seluruh keluarga terdekat pastilah ikut berpartisipasi dalam acara pernikahan tersebut. Tanpa terkecuali, Hendra. Ia juga ikut memeriahkan hari bahagia Danu dan Lula.
Hendra datang bersama suster Mery. Saat Bastian melihat kedatangan Hendra bersama seorang perempuan, ia segera menghampiri Hendra untuk menggoda.
"Hend." Bastian memanggil sambil menepuk pundak Hendra.
"Ya Tuhan, aku pikir siapa tadi. Gak bisa apa, kalo kamu itu panggil aku baik-baik? Tanpa harus tepak tepuk tepak tepuk aku sekencang yang kamu lakukan barusan?" tanya Hendar sambil memasang wajah kesal.
"Peduli apa aku sama kamu. Suka-suka aku dong, apa yang mau aku lakukan, terserah aku. Oh ya, ada mimpi apa aku tadi malam, hari ini lihat kamu bawa cewek. Ke pesta pernikahan lagi," kata Bastian sambil melihat Mery yang sedang bicara dengan Lula dan Chacha.
"Kamu gak mimpi apa-apa. Yang jelas, aku bawa perempuan ke sini biar kamu gak mengejek aku lagi."
"Cih, kamu bayar perempuan buat teman datang ke pesta hanya karena takut aku mengejek mu?" tanya Bastian.
"Yang benar kalo ngomong tuan muda Bastian Hutama. Aku gak bayar perempuan. Dia itu seseorang yang datang dari masa depan. Yang aku percaya akan .... " Hendra tidak melanjutkan perkataannya. Ia melihat Mery yang tersenyum manis sambil bicara dengan perempuan lainnya.
__ADS_1
"Akan apa? Akan menjadi mama dari anak-anakmu? Begitu?"
Hendra tidak menjawab. Awalnya, ia mengajak Mery datang ke acara pernikahan Danu hanya sekedar untuk menghindari ejekan Bastian saja. Tapi, hatinya tidak membenarkan hal itu. Ia merasa kalau ia mengajak Mery memang karena ia ingin Mery ikut bersamanya. Selalu ada di sampingnya.
"Aku sarankan padamu. Jangan permainkan perasaan perempuan. Karena sekali mereka terluka, kamu tidak akan pernah mendapatkan kepercayaan juga hati mereka kembali," ucap Bastian sambil menepuk bahu Hendra.
"Satu lagi, jika suka. Jangan biarkan mereka menunggu lama. Karena perempuan paling tidak suka dengan kata menunggu. Mereka menyukai sesuatu yang serba cepat. Karena bagi mereka, sabar itu ada batasnya."
Setelah bicara seperti itu, Bastian berjalan meninggalkan Hendra. Hendra membiarkan Bastian pergi tanpa menjawab sepatah katapun pada Bastian.
Perlahan, benak Hendra membenarkan apa yang Bastian katakan. Ia berusaha meyakinkan hatinya, kalau dia memang benar-benar suka Mery. Bukan hanya sekedar teman untuk pameran. Juga bukan sebatas, ia butuhkan untuk sesaat saja.
Hendra datang mendekati Mery yang sedang berkumpul bersama Lula juga yang lainnya. Ia melihat Bastian, kemudian berkata.
"Mery, bisa ikut aku sebentar?"
"Ke mana, Dok?" tanya Mery agak bingung.
"Ke luar. Aku ingin bicara empat mata sama kamu."
Mery melihat Chacha, Lula, Danu, juga Bastian sebelum ia menjawab. Semua yang ia lihat, tersenyum padanya. Meskipun ia belum terlalu kenal pada mereka semua, tapi, mereka semua sangat asik dan hangat saat bicara. Ia merasa nyaman walau baru pertama kali bergaul dengan orang-orang kenalan Hendra.
"Ya, ya sudah. Ayo, Dok!"
Setelah kepergian Mery dan Hendra, Chacha melihat Bastian untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang ada dalan benaknya.
"Kira-kira, apa yang mau Hendra bicarakan, ya Mas?"
"Gak tahu, sayang. Yang jelas, soal masa depan."
"Masa depan?" tanya Chacha tidak mengerti.
"Ya. Soal masa depan mereka. Udah, sebaiknya jangan mikirin yang nggak penting. Fokus aja sama calon bayi kita. Ingat, dokter bilang, kamu tidak boleh setres," kata Bastian sambil menyentuh perut Chacha.
Ya, saat ini, Chacha memang sedang hamil muda. Sangat muda. Umur kandungan Chacha baru memasuki hitungan dua minggu. Ia dipastikan hamil setelah tiga minggu pulang dari luar negeri.
Tidak terbayangkan bagaimana kebahagiaan mereka semua saat mendapat kabar kehamilan Chacha dari dokter. Merlin dan Herman saja langsung berpelukan. Bastian tanpa sadar menjatuhkan air mata ketika dokter mengatakan kalau Chacha sedang hamil muda.
Sementara itu, Hendra membawa Mery ke taman samping gedung. Mery menatapnya dengan tatapan aneh.
"Ada apa dokter Hendra? Mau ngomong apa sih? Sampai kita harus berjalan sejauh ini, meninggalkan mereka semua."
__ADS_1
"Aku mau ngomong sesuatu padamu. Mery .... "
Hendra masih berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan isi hanya pada Mery. Meskipun rasanya agak dadakan, tapi ia merasa sudah jatuh cinta sejak lama pada Mery. Hal itu menimbulkan keberanian ekstra dalam hati Hendra.
"Ada apa, Dok? Katakan saja!" kata Mery merasa penasaran karena Hendra tidak melanjutkan kata-katanya.
"Mery aku suka kamu. Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Hendra langsung dengan cepat tanpa jeda.
"Apa? Dokter Hendra ngomong apa barusan?"
"Aku suka kamu."
"Hah! Apa aku gak salah dengar, Dok? Dokter gak sedang mimpikan ya? Gak sedang main-main, atau barang kali, dokter mabuk lagi."
"Aku tahu itu terlalu aneh. Aku hanya berusaha mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan. Aku tahu kamu tidak akan men .... "
"Sssttt. Aku tidak bilang kalau aku tidak ingin menerima lamaran dadakan ini," kata Mery sambil tersenyum bahagia.
"Mak--maksud kamu?"
"Aku terima lamaran dadakan dari dokter Hendra. Meski tanpa bunga ataupun cincin. Juga tidak ada sesi romantis-romantisnya sedikitpun. Tapi aku tetap sangat bahagia dengan pernyataan cinta ini," kata Mery.
"Be--benarkah?"
Mery mengangguk pelan. Melihat anggukan itu, hati Hendra sangat bahagia. Ia dengan cepat menarik Mery ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku yang tidak bisa menghadirkan yang luar biasa untukmu. Maafkan juga aku yang tidak tahu bagaimana caranya menciptakan momen romantis. Tapi aku janji, secepatnya akan membawa mamaku bertemu keluarga kamu."
"Benarkah?"
"Ya. Kamu tunggu saja kedatangan lamaran yang ada bunga juga cincin di rumahmu dalam waktu dekat."
"Baiklah, pak dokter."
"Bisa aku minta satu hal padamu?"
"Apa itu?"
"Tolong jangan panggil aku dokter. Panggil aku dengan panggilan yang enak di dengar. Layaknya sepasang kekasih yang sesungguhnya."
"Hmm ... kalo gitu, aku panggil dokter, dengan panggilan mas saja. Bagaimana?"
__ADS_1
"Itu lebih baik." Hendra tersenyum manis yang membuat hati Mery semakin bahagia.