Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 118


__ADS_3

Karena desakan dari Dedi, akhirnya, kesadaran Siska pun kembali. Ia melihat Dedi sebelum menjawab apa yang Dedi tanyakan.


"Tante mu ditangkap polisi."


"Apa! Kenapa tante bisa di tangkap polisi, Ma? Apa salah tante?"


"Kesalahan paling fatal dalam hidup tante mu adalah, mencari masalah dengan orang yang salah."


"Maksud mama?"


"Sudah. Jangan banyak bertanya lagi. Mama sangat pusing juga terlalu capek. Mama mau istirahat, besok pagi kita akan kembali ke tempat kita."


"Apa! Mama gak salah ngomong kan?"


"Tidak."


"Bagaimana bisa kita meninggalkan tante Sarah di sini sendirian? Dalam tahanan lagi. Mama ini gimana sih? Apa mama gak ada niat sedikitpun mau bantuin tante Sarah. Kita gak mungkin membiarkan dia di sini begitu saja, Ma."


"Terus, kamu mau apa? Kamu mau ikut tante mu dalam penjara gitu?" tanya Siska kesal sambil menatap tajam Dedi.


"Ma .... "


"Asal kamu tau, aku sangat sayang adikku. Tapi mau bagaimana lagi. Dia sudah melakukan kejahatan yang menyebabkan dirinya harus menerima hukuman. Lagipula, kita tidak bisa membantu tante mu."


"Kenapa tidak bisa, mama? Bukankah mama punya banyak kenalan pengacara andal dari luar negeri?"


"Dedi, ini tidak mudah. Orang yang kita hadapi bukan orang tanggung-tanggung. Dia punya kuasa juga punya banyak cara. Lagipula, tante kamu memang bersalah. Bastian punya banyak bukti juga sakti. Kamu ingin kita bunuh diri dengan ikut campur dalam urusan ini?"


"Tapi Ma, kasihan tante Sarah. Kita harus tetap membantunya. Jika kita mencoba, maka kita tidak akan tahu apa hasilnya, mama."


Dedi bersikeras untuk menolong Sarah. Mendengar Dedi yang terlalu keras kepala, Siska menatap anaknya dengan tatapan tajam.


"Dedi, sekarang mama tanya sama kamu, kamu ingin masuk penjara bersama tante mu atau tidak?"


"Ya jelas tidaklah, Ma. Mama ini ada-ada saja pertanyaannya. Mana ada orang yang mau masuk penjara."


"Kalau begitu, dengarkan apa yang mama katakan. Besok pagi, kita harus kembali ke luar negeri."


"Tapi, Ma. Bagaimana dengan tante?"


"Biarkan tante mu mempertangungjawabkan apa yang telah ia lakukan. Kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu tante mu."


"Jika mama tidak ingin membantu tante Sarah, biarkan aku sendiri yang membantunya."


"Dedi! Kamu pikir kamu bisa, hah! Kamu tidak akan bisa membantu tante mu. Yang ada, bukan hanya tante mu yang akan mendekam dipenjara, kamu dan mama juga."

__ADS_1


"Ma--maksud mama?"


"Bastian bukan orang sembarangan. Jika kita bersikeras menolong tante mu, maka kamu, juga mama, akan ia jembloskan ke dalam penjara."


"Apa alasan dia ingin memenjarakan kita, Ma? Sudahlah, dia hanya menggertak saja. Dia tidak akan mampu memenjarakan kita. Memenjarakan seseorang perlu bukti, mama," kata Dedi sambil menyentuh kedua pundak Siska.


"Dedi dengarkan mama, kamu lupa bagaimana kamu membantu tante mu? Kamu lupa kalau kamu adalah dalang di balik semua kejadian ini? Dan yang paling tidak masuk akal adalah, si Bastian itu tau semua rahasia yang mama simpan puluhan tahun. Tentang mama yang telah menukar bayi Sarah dengan bayi orang lain."


"Apa!" Dedi benar-benar kaget.


"Ya, dia tahu semua rahasia kita."


"Bagaimana dia bisa tahu soal itu, Ma? Aku saja baru tahu setelah mama katakan."


"Mama juga tidak tahu. Tapi, itu tidak penting lagi sekarang. Yang terpenting sekarang adalah, kita tidak bisa berhadapan dengan Bastian sekalipun kita punya peluang. Karena kita tidak akan tahu apa yang sedang menunggu kita ke depannya."


"Jadi, sekarang kita harus apa, Ma?" tanya Dedi melemah.


"Apa kamu masih tetap ingin berhadapan dengan Bastian setelah mama jelaskan semuanya?"


"Tidak."


"Ya sudah kalo gitu, kenapa kamu harus bertanya lagi? Besok pagi, kita kembali ke tempat kita."


"Baik, Ma."


Bastian yang baru pertama kali melihat Chacha menatapnya dengan tatapan tajam, merasa ngeri namun lucu.


"Ada apa, sayang?" tanya Bastian sambil membuka jaketnya.


"Dari mana kamu, Mas? Tumben, pulang larut malam?"


"Dari ... dari mana, ya?" tanya Bastian pada diri sendiri. Niat mengerjai Chacha tiba-tiba kambuh saat melihat wajah curiga yang Chacha perlihatkan.


"Mas, aku sedang tidak bercanda. Aku sedang bertanya serius padamu." Terdengar nada yang sangat kesal dari ucapan Chacha barusan.


"Sayang, kamu cemburu?"


"Mas."


"Aku senang kamu mencurigai aku, Cha."


"Aku tidak sedang mencurigai kamu, Mas."


"Lalu?" tanya Bastian dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya."


"Kamu yakin tidak ada rasa curiga dan cemburu dari pertanyaan itu?"


"Tidak."


"Benar-benar yakinkah?"


"Mas, udah ah, aku mau tidur sekarang. Jangan ganggu," kata Chacha sambil berpaling dengan wajah kesal.


"Hm tunggu dulu." Bastian memegang tangan Chacha untuk menghentikan langkah Chacha.


"Ada apa lagi, Mas? Aku kan udah bilang kalo aku mau tidur sekarang."


"Jangan dulu, aku mau bicara sesuatu padamu."


"Apa?" tanya Chacha sambil menoleh.


"Ee .... "


Sebelum kata-kata itu ia ucapkan, sebuah pikiran tiba-tiba saja melintas dalam benak Bastian. Ia membatalkan niatnya untuk bercerita soal Sarah yang saat ini berada dalam penjara. Bastian tidak ingin Chacha tahu sebelum vonis bersalah dan hukuman dijatuhkan pada Sarah. Ia takut kalau Chacha akan membebaskan Sarah atas dasar kasihan pada mama tirinya ini.


"Mas." Chacha memanggil Bastian untuk menyadarkan Bastian dari lamunannya.


"Ya."


"Mau ngomong apa sih?"


"Tidak ada sayang. sebaiknya kamu tidur sekarang."


"Jangan bikin aku merasa penasaran Mas Bastian. Katakan apa yang ingin mas katakan!"


"Tidak ada, sayang. Mas hanya ingin mengingatkan padamu, besok pertunangan Danu, jangan sampai lupa." Bastian mengubah apa yang ingin ia katakan sebelumnya.


"Oh iya, besok hari bahagia Danu, Mas. Untung saja kamu mengingatkan aku, jika tidak, aku pasti melupakan hal penting ini," kata Chacha sambil memegang dahinya.


"Ya sudah, supaya tidak bangun terlambat, sebaiknya kita tidur sekarang."


"Sebentar, Mas. Aku lupa menyiapkan baju untuk kita. Besok itu acarnya pagi-pagi banget, bukan? Mana sempat aku siapkan baju lagi besok." Cahcha bicara sambil berjalan menuju lemari.


"Sayang, kamu gak perlu cemas. Apa kamu lupa siapa suamimu ini? Kamu gak perlu repot-repot sayang. Semuanya sudah aku siapkan. Apalagi kita adalah bagian dari keluarga Danu. Sudah pasti aku menyiapkan semuanya dari jauh hari."


"Yang benar, Mas?"


"Ya, sayang. Sekarang, kita harus tidur dengan nyenyak karena besok, kita harus benar-benar menunjukkan semangat kita pada Danu. Biar Danu merasa sangat bahagia."

__ADS_1


"Ya, Mas." Chacha pun membatalkan niatnya menuju lemari. Ia mengubah langkah menuju ranjang.


'Maafkan aku Cha. Aku belum bisa mengatakan apa yang terjadi pada mama tiri mu sekarang. Aku gak ingin kamu kepikiran. Apalagi besok hari bahagia Danu. Kamu harus terlihat bahagia di sana."


__ADS_2