Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 90


__ADS_3

Saat mereka sampai ke rumah. Bik Maryam sudah menantikan kedatangan Chacha di depan pintu. Dengan senyum bahagia, ia menyambut kepulangan Chacha dari rumah sakit.


"Selamat datang nona bos. Saya sangat bahagia melihat nona bos yang sudah baik-baik saja. Maaf, saya gak bisa jenguk nona bos ke rumah sakit," kata bik Maryam dengan raut wajah menyesal.


"Gak papa bik, aku tahu bibi pasti punya kesibukan yang tidak bisa di tinggal. Iyakan?


"Iya. Tapi sebenarnya ingin jenguk karena khawatir dengan keadaan nona bos. Cuman, kata bos muda gak papa. Bibi tunggu rumah aja. Chacha baik-baik aja, gitu katanya."


"Bastian benar bik, aku emang gak papa."


"Gak papa kok lama di rumah sakitnya, nona bos?"


"Itu karena Bastian terlalu berlebihan mencemaskan aku. Hendra sudah bilang aku gak papa dan udah dibolehkan pulang sama Hendra. Tapi, Bastian gak percaya. Dia malah minta aku dirawat lagi sampai benar-benar sembuh di rumah sakit itu."


"Untuk nona bos, bos muda rela ngelakuin apa aja ya ternyata. Termasuk, nginap di rumah sakit lama-lama. Kalo dulu, dia paling gak suka sama yang namanya rumah sakit. Lah sekarang dia .... "


Bik Maryam menghentikan kata-katanya karena melihat kedatangan Bastian yang membawa beberapa kantong plastik di tangannya.


"Ada apa bik?" tanya Chacha penasaran.


"Gak ada apa-apa nona bos. Itu, bos muda sudah datang. Bawa sesuatu di tangannya."


Belum sempat Chacha melihat ke belakang. Bastian sudah duluan menegurnya.


"Lho, kok gak masuk-masuk sih sayang? Ngapain malah masih berdiri di depan sini? Kamu itu harus banyak-banyak istirahat."


"Ngapain gak ajak Chacha langsung masuk aja sih bik? Diakan baru pulang dari rumah sakit," kata Bastian menegur apa yang bik Maryam lakukan.


"Maaf bos muda. Saya lupa saking bahagianya melihat nona bos pulang."


"Bastian. Aku itu udah gak papa. Udah baik-baik aja. Kamu gak usah cemas. Aku belum masuk karena aku nungguin kamu tadi. Bukan salah bik Maryam yang gak mau ajak aku masuk," kata Chacha membela bik Maryam.


"Itu, kamu bawa apa sih?" tanya Chacha sambil menunjuk kantong plastik yang Bastian bawa.


"Oh, ini bakso. Tepatnya, bakso yang kamu lihat saat kita dalam mobil tadi."


"Bakso? Kamu beli bakso untuk aku?" tanya Chacha tak percaya.

__ADS_1


"Ya iyalah. Aku tahu kamu mau tapi kamu gak mau ngomong sama aku. Jadi, aku langsung beli aja tanpa harus bertanya lagi padamu."


"Nih bik, tolong di siapkan ya. Mumpung masih anget," kata Bastian menyerahkan pada bik Maryam.


"Baik bos muda," kata bik Maryam sambil menerima bungkusan plastik tersebut.


Bik Maryam sebenarnya tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Dulu, jangankan beli bakso yang dijual pedagang keliling. Beli makanan yang dijual di restoran atau rumah makan untuk dibawa pulang aja, Bastian gak mau. Lah sekarang, apa yang tidak ia lakukan untuk Chacha. Beli makanan di penjual keliling, saja dia siap.


"Jadi, karena aku lihat sesuatu, kamu langsung anggap aku suka sesuatu itu?" tanya Chacha tak percaya dengan apa yang ada dalam pikiran Bastian.


"Ya iyalah. Aku itu sedang belajar bagaimana bisa peka akan apa yang kamu rasakan, tanpa harus kamu mengucapkan apa yang kamu rasakan itu."


"Jadi, kalau aku lihat mobil mewah, kamu anggap aku suka juga dengan mobil itu?"


"Mungkin."


"Terus, kamu mau beli juga mobil itu untuk aku?"


"Ya pastilah. Cuma mobil mah apa susahnya aku beli untuk kamu. Jangankan mobil, Cha, mansion juga aku belikan jika kamu suka."


"Nah, bagaimana jika aku lihat laki-laki tampan. Apa kamu pikir aku juga suka dia?"


"Chacha. Memangnya aku kurang tampan apa sampai kamu mau lihat laki-laki lain?" tanya Bastian dengan nada kesal.


"Ya Tuhan, aku itu cuma nanya, Bastian. Kamu sendiri kan yang bilang, kalo apa yang aku lihat itu artinya aku ingin sesuatu tersebut."


"Ya ... ya .... "


Saat itu, bik Maryam datang membawakan dua mangkuk bakso. Kedatangan bik Maryam mengalihkan perhatian Chacha, juga menyelamatkan Bastian dari alasan apa yang akan ia katakan pada Chacha soal pertanyaan yang Chacha berikan.


"Ini baksonya nona bos, bos muda," kata bik Maryam sambil menghidangkan di atas meja makan.


"Makasih banyak, bik. Aduh, enak nih kayaknya," kata Chacha tak sabar lagi.


Bastian tersenyum melihat Chacha yang bersemangat menikmati bakso yang ia belikan. Dalam hati, terlukis rasa bahagia karena ia mampu sedikit memahami perasaan Chacha.


_______

__ADS_1


Danu yang sibuk dengan tugas yang Bastian berikan, saat ini jarang berada di kantor. Ia lebih banyak berada di luar rumah. Pekerjaan yang ia miliki ia serahkan pada orang kepercayaannya.


Lula yang sudah beberapa hari tidak melihat Danu datang ke kantor, merasa kehilangan Danu. Ia pun memilih untuk mendatangi kantor pusat Hutama grup untuk menanyakan alasan dari menghilangnya Danu.


"Ada apa kamu datang ke sini, Lula?" tanya Bastian yang sibuk melihat laptopnya.


"Maaf sebelumnya bos muda. Saya ke sini sebenarnya hanya ingin menanyakan keberadaan mas Danu. Maksud saya, pak Danu. Karena pak Danu sudah beberapa hari tidak datang ke kantor. Dia juga tidak bisa saya hubungi. Ada apa sebenarnya, bos muda? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Bastian tidak langsung menjawab. Ia menghentikan pekerjaannya. Mengalihkan pandangan dari melihat laptop menjadi melihat Lula yang kelihatannya sedang sedikit cemas.


Bastian tersenyum pada Lula.


"Kamu kangen sama Danu?" tanya Bastian dengan nada menggoda.


"Apa? Ti--tidak bos muda. Mana ada saya rindu sama pak Danu. Bos muda ini ada-ada saja," kata Lula sambil merona, wajahnya terlihat bersemu malu.


"Benarkah? Saya kira kamu sedang merindukannya karena dia sudah lama tidak menemui kamu. Ish-ish-ish. Danu ini bagaimana sih?"


"Ada apa bos muda? Ada apa dengan mas, pak Danu?" tanya Lula dengan cemas.


"Tidak ada. Aku hanya ingin bilang kalo Danu sangat keterlaluan karena dia tidak mengabari kamu ke mana dia pergi."


"Bos muda. Saya serius bertanya, karena saya sedang ada perlu dengan pak Danu." Lula memasang wajah serius untuk mengetahui di mana Danu sekarang. Ia sedikit memberanikan dirinya untuk bicara seperti itu pada Bastian. Jika tidak, Bastian pasti terus-terusan mengerjainya.


"Danu sedang ada kerjaan di luar. Dia tidak bisa diganggu karena dia harus fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan. Aku harap kamu sabar munggu Danu, sampai ia menyelesaikan pekerjaannya."


"Maksud bos muda? Saya harus nunggu bagaimana?"


"Ya nunggu sampai pekerjaannya beres baru bisa ketemu," kata Bastian memasang wajah serius.


"Oh, ya sudah kalo gitu. Sampaikan salam saya pada pak Danu. Hubungi saya jika pekerjaannya sudah beres, ya bos muda."


"Salam sayang apa salam rindu?" tanya Bastian bercanda lagi.


"Saya ... saya harus segera kembali bos muda. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di kantor," kata Lula sambil tersipu malu.


"Ya."

__ADS_1


__ADS_2