Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 36


__ADS_3

"Beraninya kamu bikin aku kesal," kata Chacha sambil memperlihatkan wajah kesalnya.


"Ampun nona bos. Saya gak berani," kata Danu sambil tersenyum. Ia tahu kalau Chacha sekarang sedang mengajaknya bercanda.


"Udah ah, aku mau masuk aja."


"Lho, tadi katanya mau tanya. Tanya aja nona bos. Jangan bikin aku penasaran."


"Yang mirip Bastian ternyata bukan aku, tapi kamu."


"Lho, kok aku sih nona bos?"


"Habisnya kamu pemaksa. Sama kayak Bastian. Kamu sih, sering bergaul sama Bastian."


"Nona bos, jangan keras-keras suaranya, nanti bos muda dengar. Bisa habis aku sama bos muda. Karena bawa-bawa nama dia saat ngobrol," kata Danu sedikit berbisik.


"Biarin aja, aku gak takut."


"Nona bos yang gak takut. Lah aku?"


"Kamu? Kamu sih terserah kamu. Siapa suruh kamu takut sama Bastian."


"Ya udah deh kalo gitu. Dari pada aku habis sama bos muda, lebih baik aku permisi dulu nona bos," kata Danu sambil beranjak dari tempatnya.


"Danu, tunggu."


"Ada apa nona bos?"


"Aku ingin bertanya."


"Ya."


"Di mana Mona sekarang?"


"Nona Mona sudah tidak ada di dunia ini lagi nona bos," kata Danu menjawab dengan suara pelan.


"Maksud kamu, dia .... "


"Ya. Nona Mona meninggal lima tahun yang lalu."


"Sakit apa? Maksud aku, apa penyebabnya?"


"Sakit jantung."


"Sakit jantung?" tanya Chacha merasa tak percaya.


"Ya. Katanya, dari kecil dia mengalami kelainan pada jantungnya. Aku juga kurang tahu kalo soal itu. Yang aku tahu, dia meninggal karena sakit jantung yang ia derita sejak kecil," kata Danu menjelaskan.


"Oh." Chacha menjawab singkat sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Ada lagi yang mau nona bos tanyakan padaku?"


"Tidak, tidak ada."

__ADS_1


"Kalo gak ada, aku permisi dulu. Aku ada kerjaan yang harus diselesaikan sekarang."


"Oh, ya sudah. Silahkan."


"Permisi nona bos."


"Ya."


'Jadi, cinta pertama Bastian sudah pergi mendahului dia?' tanya Chacha dalam hatinya.


'Kasihan sekali dia,' kata Chacha lagi sambil membuka pintu kamar.


Saat pintu kamar terbuka, Chacha dikagetkan dengan Bastian yang sudah ada di depan pintu kamar tersebut.


"Bas--Bastian," kata Chacha sangat kaget.


"Se--sejak kapan kamu di sini?"


"Baru aja. Ngapain kamu kaget seperti itu, seperti baru melihat hantu saja."


"Aku ... aku gak kaget kok."


"Lalu?"


"Gak ada. Hanya .... "


"Hanya kaget," jawab Bastian menyambung perkataan Chacha.


Bastian tidak menggubrisnya lagi. Ia langsung menjalankan kursi roda meninggalkan Chacha di depan pintu kamar.


"Mau ke mana?" tanya Chacha dengan cepat.


"Taman."


"Taman mawar?"


"Ya."


"Boleh aku ikut?"


"Silahkan kalo mau."


Chacha pun berjalan dengan cepat mengikuti Bastian masuk ke dalam lift. Bastian selalu mengunakan lift saat turun naik lantai dua. Bukan karena ia menggunakan kursi roda, saat ia tidak cacat dulu juga selalu begitu.


Tidak ada satu patah katapun yang terucap dari mulut Bastian maupun Chacha selama mereka berada dalam lift. Yang ada hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.


Sebenarnya, Bastian mendengarkan semua pembicaraan Chacha dan Danu. Hanya saja, Bastian tidak ingin Chacha tahu kalau dirinya telah menguping obrolan Chacha.


Entah mengapa, akhir-akhir ini, Bastian selalu merasa ada yang tidak beres dengan hatinya. Selalu merasa bahagia ketika berada di samping Chacha. Ingin selalu memberikan yang terbaik buat Chacha. Ingin melihat Chacha bahagia dan lain sebagainya.


Bastian masih sibuk dengan pikirannya ketika lift terbuka. Bukannya keluar, Bastian malah diam mematung di dalam lift. Chacha yang melihat lift terbuka langsung keluar. Tapi, ketika dia melihat Bastian, ia merasa aneh dengan Bastian yang hanya diam saja.


"Bastian." Chacha memanggil Bastian dari pintu lift.

__ADS_1


Bastian hanya diam saja. Ia tetap tidak bergeming, membuat Chacha semakin bingung.


"Kesambet apa nih orang? Tiba-tiba diam membisu," kata Chacah bicara kecil pada dirinya sendiri.


"Bastian, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Chacha sambil menyentuh dahi Bastian.


Saat itulah baru Bastian sadar kalau mereka sudah sampai di lantai bawah.


"Kamu ngapain?"


"Yah, harusnya aku yang bertanya sama kamu. Kamu ngapain diam termenung sampai aku harus masuk lagi ke dalam lift ini."


"Siapa yang diam? Aku gak diam apa lagi termenung," kata Bastian sambil keluar dari lift dan meninggalkan Chacha di belakang.


"Eh, malah ninggalin," ucap Chacha kesal.


***


"Ya Tuhan .... indahnya," kata Chacha sambil menarik napas panjang sambil mencium aroma khas bunga-bunga.


"Ini tamanku."


"Aku sudah tahu."


"Tahu dari mana? Dari mama?"


"Iya."


"Kamu sudah pernah ke sini?"


"Sudah."


"Kapan?"


"Tadi."


"Oh."


"Hmm ... Bastian, aku minta maaf," kata Chacha tiba-tiba.


"Minta maaf untuk apa?"


"Aku sudah membangkitkan kesedihan yang sudah lama terkubur."


Chacha beranggapan kalau Bastian termenung karena sedih. Pertanyaannya di kamar mungkin membuat Bastian teringat kembali akan kebersamaannya dengan Mona. Dan, dia ingat apa yang mama Merlin katakan. Bastian akan datang ke taman jika ia merasa tidak enak dengan hatinya.


"Kesedihan apa?" tanya Bastian pura-pura tidak mengerti.


"Ya ... kesedihan. Kesedihan .... " Chacha tidak mau melanjutkan apa yang ingin ia katakan. Ia menundukkan wajahnya. Bastian tahu apa yang Chacha rasakan.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Aku tidak merasa sedih sekarang. Karena aku sudah mengikhlaskan apa yang sudah pergi dariku. Sekarang, aku sudah bisa terima kenyataan kalau yang pergi tidak akan kembali. Dan, sekarang, aku sudah menemukan pengganti dari hatiku yang hilang itu," kata Bastian bicara panjang lebar.


Chacha membulatkan matanya ketika Bastian mengatakan kalau dia sudah memiliki pengganti dari hatinya yang hilang. Ada sedikit rasa penasaran yang tiba-tiba melintas di hati Chacha. Rasa itu menimbulkan sebuah pertanyaan dan sedikit rasa takut akan sebuah kekecewaan.

__ADS_1


__ADS_2