
Setelah kepergian Danu, Bastian segera melihat isi flash disk yang ada di tangannya. Semua info tentang Sarah yang mengganti indentitasnya ada di dalam flash disk tersebut.
Ternyata, Dedi telah mencelakai miss Linda untuk mengambil identitasnya, dan menggantikan miss Linda dengan Sarah. Saat ini, miss Linda yang asli sedang koma di rumah sakit karena sebuah kecelakaan yang direncanakan oleh Sarah dan Dedi.
Dengan keadaan miss Linda yang masih belum bisa di pastikan kapan akan sadar dari komanya, Sarah dengan leluasa menggunakan identitas miss Linda untuk berkeliaran. Ia pikir, tidak akan ada yang tahu karena miss Linda adalah warga negara asing.
"Cih, kamu pikir bisa membodohi aku terlalu lama?" tanya Bastian pada dirinya sendiri setelah ia melihat semua informasi yang ada dalam flash disk tersebut.
"Kamu salah Sarah. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu karena sudah berani membodohi aku. Kamu akan lihat seperti apa serangan balik yang akan aku lontarkan padamu. Tunggu saja, nyonya Sarah." Bastian mengepal tangannya dengan erat.
Saat berpikir tentang Sarah. Tiba-tiba ia ingat dengan perkataan Danu tadi. Lisa dan Sarah bekerja sama untuk melawannya.
"Tunggu! Jika Lisa dan Sarah bekerja sama, itu tandanya ... ular yang mengigit Chacha pasti ulah Lisa."
"Awas kamu. Akan aku balas apa yang telah kamu lakukan pada orang yang aku sayang."
Bastian bangun dari duduknya, ia memanggil salah satu karyawan yang ia percayai untuk datang ke ruangan. Karyawan itu datang dengan cepat setelah mendengar panggilan Bastian.
"Maaf bos muda, bos muda panggil saya?" tanya karyawan itu dengan sopan.
"Ya, aku panggil kamu."
"Ada apa bos muda?"
"Aku punya kerjaan buat kamu."
Bastian mendekati karyawan itu, lalu membisikkan sesuatu ke telinga karyawan itu. Karyawan itupun mendengarkan dengan seksama apa yang Bastian katakan. Sesekali, ia mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti dengan apa yang Bastian katakan.
"Bagaimana? Apa kamu paham?"
"Ya bos muda. Saya mengerti."
"Bagus kalo gitu, ini untuk kamu," kata Bastian sambil memberikan sebuah amplop coklat pada karyawan itu.
"Apa ini bos muda?" tanya karyawan itu pura-pura tak mengerti.
"Ambil saja uang itu. Anggap saja sebagai gaji lembur untukmu karena kamu harus meninggalkan pekerjaan kantormu. Jika kamu berhasil melakukan apa yang aku perintahkan, aku akan tambah lagi gaji kamu."
"Baik bos muda. Saya akan kerjakan apa yang bos muda katakan dengan sebaik mungkin."
"Bagus. Kamu bisa pergi sekarang."
__ADS_1
"Baik bos muda. Saya permisi," kata karyawan itu dengan sopan sambil beranjak dari tempatnya.
"Ya."
Bastian kembali duduk. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo, Ma," kata Bastia saat panggilan sudah tersambung.
"Ada apa, Bastian? Tumben kamu menghubungi mama saat jam kantor begini."
"Ada yang mau aku tanyakan sama mama."
"Apa? Tanyakan saja?"
"Apakah pak Andi sudah menemukan pelayan yang bernama Beti itu, Ma?"
"Belum sayang, kenapa?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu saja."
"Oh, mama kira ada apa tadi. Nanti mama kabari jika pak Andi sudah menemukan pelayan itu."
"Iya, Ma. Aku tunggu."
"Terlalu lama mereka menemukan pelayan itu. Aku tidak bisa menunggu hasil dari pak Andi saja. Aku harus melakukannya sendiri agar bisa cepat mencari tahu kebenaran dari apa yang aku prasangka kan," kata Bastian bicara pada dirinya sendiri.
"Halo." Bastian kembali menghubungi seseorang.
"Ya bos muda," ucap suara dari seberang sana.
"Cari tahu tentang seorang pelayan yang melarikan diri dari mansion keluarga Hutama. Kalo sudah ketemu, tangkap dia hidup-hidup. Bawa dia padaku!"
"Baik bos muda. Saya akan jalankan perintah secepat mungkin."
"Bagus. Aku tunggu kabar baik dari kalian."
Bastian menutup kembali panggilan tersebut.
Kini, hatinya sudah sedikit lega dari yang sebelumnya. Karena dia percaya, orang yang ia kerahkan mampu bekerja lebih cepat dari orang-orang suruhan papanya.
Sementara itu, Lula yang merasa malu meninggalkan kantor Hutama grup. Ia merasa tidak siap untuk bertemu Danu setelah ia pikir-pikir apa yang sudah ia lakukan barusan.
__ADS_1
Danu yang baru keluar dari ruangan Bastian, langsung mencari keberadaan Lula. Ia penasaran dengan kedatangan Lula ke kantor pusat Hutama grup.
"Apa kalian melihat Lula? Manajer perusahaan Hutama cabang?" tanya Danu kepada dua karyawan yang sedang berada di depan pintu masuk.
"Maaf pak Danu, kami tidak melihatnya," kata salah satu dari mereka.
"Kami baru saja ke sini pak Danu. Jadi, kami tidak melihat buk Lula sama sekali," kata yang lain pula menjawab.
"Oh, ya sudah kalo gitu," ucap Danu sambil beranjak meninggalkan mereka berdua.
'Ke mana Lula? Katanya ada perlu padaku?' tanya Danu dalam hati.
Ia bergegas menaiki mobilnya. Danu berniat menyusul Lula langsung ke kantor Hutama cabang.
Saat ia ingin menjalankan mobilnya, tanpa sengaja, ia melihat wanita yang sangat mirip dengan Keke. Danu terperanjat karena kaget. Berkali-kali ia kucek matanya agar ia sadar dengan apa yang ia lihat.
"Mataku masih baik-baik saja, bukan? Mataku masih sehat. Apa yang aku lihat barusan benar-benar mirip nona Keke. Tidak mungkin itu setannya nona Keke. Inikan siang bolong. Mana ada setan muncul siang-siang begini," kata Danu bicara pada dirinya sendiri.
"Tidak. Aku yakin itu bukan setan. Kakinya aja tadi jalan masih napak tadi. Aku harus kasih tahu bos muda apa yang aku lihat barusan," kata Danu sambil mengeluarkan ponselnya dengan cepat.
Bastian yang kebetulan sedang mengutak-atik ponselnya, segera menjawab panggilan masuk dari Danu.
"Halo bos muda."
"Ada apa, Danu?" tanya Bastian.
"Bos muda, saya baru saja melihat seorang perempuan masuk ke dalam kantor Hutama grup. Wajahnya sama persis dengan wajah nona Keke. Tidak mungkin itu nona Keke kan bos muda?"
"Kamu ngomong apa sih Danu? Inikan siang-siang bolong. Jangan ngomong yang nggak-nggak."
"Tapi bos muda, apa yang saya lihat itu sangat jelas. Dia memang sangat amat mirip dengan nona Keke. Saya yakin kalo saya tidak salah lihat. Saya juga yakin kalau mata saya masih baik-baik saja."
"Kamu tidak salah lihat. Juga matamu memang masih baik-baik saja. Yang kamu lihat bukan Keke, melainkan Lisa. Aku yakin dia datang ke sini untuk mencari masalah lagi," kata Bastian dengan santai.
"Apa! Lisa? Lisa yang berkerja sama dengan nyonya Sarah?" tanya Danu untuk memastikan.
"Ya. Dia kembaran Mona. Pantas saja jika kamu melihat ia mirip Keke. Karena Mona, Keke, juga Lisa, wajah mereka semuanya sama."
"Jadi, dia adalah kembaran nona Mona? Pantas saja sangat mirip nona Keke. Bos muda, apa jangan-jangan mereka bertiga itu kembar?" tanya Danu pada Bastian.
"Kembar tiga?" tanya Bastian balik.
__ADS_1
"Ya, kembar tiga bos muda."
"Bisa jadi," kata Bastian sambil memikirkan apa yang Danu katakan.