
"Benarkah apa yang kamu katakan ini?" tanya Lisa memastikan perkataan Sarah.
"Untuk apa aku bohong padamu? Apakah ada hasil yang bisa menguntungkan aku, jika aku bohong padamu?"
"Lisa. Bukankah nasib kita sama? Bagaimana kalau kita kerja sama untuk memberikan pelajaran pada pasangan itu?" tanya Sarah lagi.
"Maksud tante?"
Sarah tersenyum licik sambil mendekat ke arah Lisa. Lisa awalnya bingung, namun ia tetap membiarkan Sarah melakukan apa yang ingin Sarah lakukan.
Sarah membisikkan sesuatu ke telinga Lisa. Wajah Lisa yang awalnya bingung, mendadak berubah setelah Sarah membisikkan sesuatu. Ia ikut tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia mengerti dengan apa yang Sarah katakan.
"Bagaimana? Apa kamu setuju dengan rencana ku?"
"Lumayan bagus idenya. Tentu saja aku setuju."
"Bagus. Kalo gitu, selamat bekerja sama," kata Sarah sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Selamat bekerja sama," ucap Lisa sambil menyambut uluran tangan Sarah.
_____
Di rumah Bastian, Chacha sedang berdiri di balkon sambil menikmati udara segar sore hari yang sangat sejuk. Di tambah, angin yang bertiup sepoi-sepoi menembus kulit. Chacha benar-benar merasakan suasana nyaman yang menenangkan hati.
Ya, sekarang, Chacha sudah tidak tinggal di kamar pembantu lagi. Dia sudah tinggal satu kamar dengan Bastian. Kamar Bastian yang berada di pojokan, sekarang menjadi kamar mereka berdua.
Terlintas dalam ingatan Chacha saat dia menghirup udara segar sore ini, saat pertama kali ia di usir juga bagaimana usaha Bastian yang mengajak dirinya tinggal sekamar.
Waktu itu, ketika mereka sampai ke rumah, Chacha langsung membantu Bastian untuk naik ke lantai dua. Setelah selesai membereskan semua kebutuhan Bastian, Chacha ingin segera pergi dari kamar Bastian. Namun, Bastian langsung memegang tangan Chacha untuk menghentikan langkah Chacha.
"Ada apa?" tanya Chacha bingung.
"Mau ke mana?"
"Ya mau ke kamar lah. Mau ke mana lagi?"
"Ke kamar? Ke kamar mana?"
"Ya kamar aku lah Bas, ke kamar yang mana lagi?" tanya Cahcha bingung juga kesal.
"Tidak. Mulai sekarang, kamu tidak punya kamar lain selain kamar ini."
"Maksud kamu?"
"Kamu dan aku tinggal satu kamar sekarang."
"Kamu ngomong apa sih, Bastian. Jangan mengada-ada ya."
"Chacha, aku tidak mengada-ada. Kamu itu istriku, apa kamu lupa? Seorang istri tidak tinggal terpisah dengan suaminya."
"Tapi Bas .... "
"Tapi kenapa Cha? Kita inikan sudah menikah. Dan sekarang, kamu juga tahu kalau aku sangat membutuhkan kamu di kamar ini. Apa kamu lupa? Hendra bilang apa?"
Chacha terdiam. Ia mencoba mencerna apa yang Bastian katakan. Melihat Chacha yang masih ragu untuk menerima apa yang ia katakan, Bastian pun mengunakan kata-kata terakhirnya untuk memaksa Chacha tinggal satu kamar dengannya.
"Ya sudah kalo kamu gak mau tinggal di kamar ini bersamaku, biar aku yang tinggal di kamar pembantu bersama kamu. Danu!"
"Eh tidak-tidak. Jangan lakukan itu. Aku akan pindah ke kamar ini nanti. Tapi sekarang, biar aku beres-beres dulu."
"Ada apa bos muda?" tanya Danu yang mendengarkan panggilan Bastian, tanpa menunggu lama, ia langsung OTW ke kamar Bastian.
"Tidak jadi," ucap Bastian sambil tersenyum penuh arti pada Danu.
Sebagai sesama laki-laki, Danu mengerti maksud dari senyum Bastian barusan. Ia dengan cepat pamit pergi meninggalkan Chacha dengan Bastian berduaan di kamar itu.
"Kamu sih." Chacha manyun karena kesal. Ia juga merasa malu dengan Danu.
"Habisnya, kamu tidak mau mengikuti apa yang aku katakan."
__ADS_1
"Sayang," Bastian memeluk Chacha dari belakang.
Seketika, ingatan yang telah terjadi beberapa hari yang lalu, lenyap seketika akibat Bastian yang tiba-tiba datang langsung memeluk tubuh Chacha dari belakang.
"Ih, Bastian. Apa-apaan sih, bikin kaget aja."
"Kamu melamun apa sih? Bisa-bisanya bengong sampai gak sadar kalo aku datang."
"Siapa yang melamun?" tanya Cahcha sambil membalikkan tubuhnya menghadap Bastian.
"Bastian, mana kursi rodanya? Kok kamu berdiri?"
"Ada di sana. Aku tinggalkan karena aku mau peluk kamu. Gak enak dong kalo aku masih pakai kursi roda kalo mau peluk istri aku."
"Tapi kan Bas, kaki kamu itu belum boleh kamu gunakan terlalu sering. Kamu lupa apa yang Hendra katakan?"
"Aku capek sayang, kalo harus gunakan kursi roda terus. Padahal, aku sudah bisa jalan dengan kaki aku. Hendra terlalu berlebih. Sampai kapan aku harus duduk di kursi roda terus?"
"Bastian, Hendra kan ngomong, kamu bisa gunakan kakimu jika sudah dua minggu. Biar kakimu benar-benar kuat untuk kamu gunakan. Kan gak lama waktu dua minggu itu," kata Chacha sambil menatap mata dan memegang tangan Bastian.
Bastian tidak menghiraukan apa yang Chacha katakan. Ia malah menatap wajah Chacha dengan penuh rasa cinta. Hasrat untuk memiliki Chacha seutuhnya pun timbul.
"Kamu cantik, Cha." Bastian berkata sambil terus mendekatkan wajahnya ke wajah Chacha.
Chacha tidak menjawab. Hanya detak jantung yang berdetak dua kali lebih cepat yang terdengar dari Chacha. Matanya terus menatap wajah Bastian yang semakin lama semakin mendekat.
Ketika bibir Bastian hampir menyentuh bibir Chacha, ponsel Bastian yang berbunyi menjadi penghalang kebahagiaan Bastian yang tinggal sesenti lagi. Bastian memasang wajah kesal saat ia mengambil ponsel dalam saku celananya.
"Ada apa?" tanya Bastian sangat kesal pada orang yang telah merusak rencana bahagianya.
"Maaf bos muda, saya cuma mau tanya, ada Danu di sana?"
"Tidak ada," kata Bastian langsung memutuskan pembicaraannya.
"Ada apa Bas?" tanya Chacha sambil tersenyum geli melihat ekspresi wajah Bastian yang tidak enak dilihat.
"Ngapain kamu senyum? Bahagia banget kamu kayaknya ya," kata Bastian sambil bersiap-siap untuk menggelitik Chacha.
"Apa lagi Lula?" tanya Bastian dengan nada tinggi.
"Ma--maaf bos muda. Saya cuma ingin mengatakan pada bos muda, perusahaan dari luar negeri ingin bertemu bos muda sore ini."
"Kenapa kamu tidak ngomong dari tadi?"
"Maaf bos muda. Saya tidak enak hati untuk bicara tadinya, makanya, saya menanyakan apakah Danu ada di sana atau tidak. Jika ada, saya ingin bicara pada Danu saja, dan meminta Danu menyampaikan pada bos muda apa yang saya katakan."
"Mengapa kamu tidak hubungi Danu langsung? Mengapa menghubungi aku tapi menanyakan Danu?"
"Ma--maaf bos muda, ponsel Danu nya gak aktif."
"Ya sudah," kata Bastian sambil memutuskan sambungan telponnya.
Di seberang sana, Lula sedang memegang dadanya akibat kaget dengan suara Bastian yang terdengar sangat keras. Ia belum pernah mendengarkan Bastian berkata dengan nada tinggi seperti barusan.
"Ya Tuhan, untung saja aku tidak punya riwayat penyakit jantung. Jika tidak, jantung ini sudah pasti copot dari tempatnya karena mendengar suara si bos muda yang bagaikan guntur membelah gurun."
Sedangkan di sisi Bastian. Chacha yang sedari tadi berdiri di samping Bastian, mendengarkan pembicaraan Bastian, juga merasa kaget sekaligus penasaran.
"Ada apa, Bastian? Kok kamu malah marah-marah sih?" tanya Chacha saat melihat wajah kesal Bastian yang tidak kunjung berubah walau panggilan sudah berakhir.
"Ada masalah kerja. Kayaknya, aku harus pergi sekarang."
"Pergi?"
"Ya."
"Inikan sudah sore, mau pergi ke mana?"
"Ke kantor. Ada perusahaan asing yang ingin bertemu denganku sore ini. Karena mereka datang dari jauh, tidak mungkin untuk aku menunda pertemuan ini."
__ADS_1
"Oh." Cahcha menjawab singkat. Ada nada kecewa terselip di sana.
"Aku pergi dulu ya," kata Bastian sambil membawa laptopnya.
"Gak mandi dulu?" tanya Chacha dengan nada yang terdengar masih berharap Bastian bersamanya.
"Tidak. Pulang nanti saja aku mandinya. Lagian, pertemuan ini tidak akan lama. Setelah semua selesai, aku akan segera pulang."
"Iya, jangan lupa jaga kesehatan kamu. Jangan terlalu capek. Ingat, jangan lupa pakai kursi rodanya." Chacha berpesan sambil mengikuti Bastian yang ingin keluar dari kamar.
"Iya bawel. Kamu sudah mirip guru yang berpesan pada anak muridnya. Ya sudah, aku pergi dulu," kata Bastian sambil tersenyum.
Saat Bastian ingin keluar kamar, Chacha memanggil Bastian untuk menghentikan Bastian. Bastian berhenti, ia melihat Chacha.
"Ada apa?" tanya Bastian bingung.
"Biar aku antar sampai ke depan."
"Iya." Bastian mengangguk sambil tersenyum manis pada Chacha.
Sebelum mereka menuju lift, Bastian memanggil Danu yang berada tak jauh dari kamarnya.
"Danu."
Panggilan pertama tidak ada respon dari Danu. Bastian terpaksa harus mengulangi panggilannya berkali-kali, barulah Danu menjawab panggilan Bastian dengan rambut berantakan.
"Ada apa bos muda?" tanya Danu dengan wajah kusut.
"Ada apa ada apa. Kamu itu habis ngapain sih di dalam, sampai-sampai aku harus berteriak kamu berulang kali, layaknya berada di tengah hutan saja aku jadinya."
"Maaf--maaf bos muda. Saya tidak mendengar panggilan bos muda. Saya tertidur soalnya."
"Tidur apaan sore-sore begini?"
"Maaf bos muda, tadi malam saya begadang."
"Huh, alasan aja kamu. Satu lagi, kamu punya ponsel kamu gunakan untuk apa sih Danu, kenapa tidak bisa di hubungi?"
"Itu ... itu karena baterainya habis bos muda. Tadi malam saya begadang main game online dengan teman-teman online."
"Ya Tuhan, kamu kayak anak-anak Danu. Kamu kan tahu kalo .... "
"Bastian udah. Mau sampai kapan kamu marah-marah sama Danu. Kamu lupa kalo kalian harus berangkat secepat mungkin. Jangan biarkan wakil dari perusahaan asing menunggu kalian terlalu lama."
"Apa? Kita ada pertemuan bos muda? Kapan?" Danu terlihat kaget dengan kabar yang baru saja ia dengar.
"Sekarang. Cepat siap-siap. Aku tunggu di bawah."
"Baik bos muda."
Danu bergegas masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Sedangkan Bastian, ia dan Chacha meninggalkan kamar Danu menuju lift untuk membawa mereka ke lantai dasar.
"Bastian, kamu tidak seharusnya ngomong seperti itu pada Danu. Dia bukan anak kecil lagi, kan?"
"Tapi aku kesal dengan sikapnya yang masih saja kekanak-kanankan. Padahal, umurnya sudah terbilang dewasa."
"Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Aku tidak setuju jika kamu mencampuri urusan dia."
"Kamu kok malah belain Danu sih Cha."
"Aku gak belain Danu, Bastian. Ih .... " Chacha berucap kesal sambil memasang wajah manyun.
"Sudah-sudah, aku hanya bercanda," kata Bastian sambil memegang tangan Chacha dengan lembut.
"Senyum dong," kata Bastian lagi.
Chacha mengukir senyum dengan terpksa.
"Yang ikhlas dong," kata Bastian sambil mencubit manja pinggang Chacha.
__ADS_1
"Ih, apaan sih kamu. Kaget tahu," kata Chacha semakin kesal.
Lift terbuka, obrolan mereka pun terhenti. Chacha mendorong kursi roda Bastian keluar dari lift tersebut.