Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 67


__ADS_3

Sarah pergi ke makam anaknya untuk ziarah. Tanpa ia sengaja, ia menabrak seorang wanita tak jauh dari gerbang masuk pemakaman.


"Aduh." Wanita itu mengeluh kesakitan.


"Kamu gak punya mata ya? Main nabrak aja," kata Sarah kesal sambil memungut kembangnya yang jatuh berserakan.


"Harusnya aku yang marah-marah sama tante. Tante yang jalan tidak melihat ke depan. Main nyelonong aja. Udah gitu, celingak-celinguk lagi. Kayak maling jemuran yang baru aja ngambil baju orang, terus takut ketahuan," kata gadis itu sambil bagun dari jatuhnya.


"Apa kamu bilang!" Sarah berucap dengan nada tinggi karena sangat emosi mendengar apa yang gadis itu ucapkan. Ia bangun dari jongkoknya dan bersiap-siap untuk memukul gadis tersebut.


Tiba-tiba, tangan Sarah tertahan setelah melihat wajah gadis itu. Tubuhnya seakan membeku dengan kedua mata yang tidak bisa ia pejamkan. Mata Sarah melotot.


"Keke." Hanya nama itu yang mampu lidahnya ucapkan.


"Tante ini kenapa sih? Aneh banget." Gadis itu melihat Sarah dengan tatapan bingung.


"Keke ku. Kau masih hidup, Nak?"


Sarah tak bisa menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia benar-benar berada dalam perasaan bahagia yang luar biasa. Di depannya saat ini sedang berdiri anak kesayangan yang sangat ia rindukan. Tanpa ada cacat sedikitpun.


Sarah pun memeluk gadis yang ia anggap Keke dengan erat. Sampai-sampai, gadis itu sedikit kesulitan untuk bernapas akibat pelukan Sarah yang terlalu erat.


"Apa-apaan sih tante. Lepaskan aku!" kata gadis itu sambil berusaha lepas.


"Keke, mama kangen kamu, Nak."


"Lepaskan aku tante! Aku bisa mati kehabisan oksigen jika tante terus memeluk aku," kata gadis itu terus berusaha melepaskan diri.


Mendengar perkataan gadis itu, Sarah dengan cepat melepaskan tubuh gadis yang ia anggap Keke tersebut. Ia tersenyum sambil menyeka air matanya.


"Maafkan mama Keke, mama terlalu kangen sama kamu soalnya. Kamu baik-baik aja bukan?" kata Sarah sambil menyentuh bahu gadis tersebut.


"Uhuk-uhuk, tante ini gi*la ya? Mau bunuh aku?" tanya gadis itu sambil menarik napas lega.


"Ke, ini mama nak? Kamu lupa sama mama?" tanya Sarah saat mendengarkan gadis itu terus memanggilnya dengan sebutan tante.


"Aku bukan Keke! Siapa lagi itu Keke? Namaku Lisa."


"Li--Lisa? Tidak mungkin! Kamu Keke! Keke ku. Anak kesayangan aku," kata Sarah dengan sedih.


"Hadeh, tante, aku ini Lisa. Namaku Lisa Santika. Aku bukan Keke anakmu. Apa kamu gak lihat wajahku ini."


"Tunggu! Perasaan, aku hanya punya satu kembaran deh selama ini. Gak mungkin kan kalau mama melahirkan anak kembar tiga? Yang satunya sama dia, satu lagi sama oma, dan ... satu lagi dia sedekahkan sama tante ini. Apa mungkin begitu?" tanya gadis itu sambil berpikir keras.


"Apa yang kamu bicarakan? Siapa yang kembar?"


"Tante, aku itu kembar, dan kembaran ku sudah lama meninggal dunia. Gak mungkinkan kalo anak tante itu kembaran ku. Karena, kembaran ku itu mama yang rawat selama dia hidup."

__ADS_1


"Kamu kembar?" tanya Sarah memastikan sekali lagi apa yang dia katakan.


"Iya."


"Bagaimana bisa?"


"Ya bisalah tante. Orang kenyataannya aku memang punya saudara kembar. Sayang aja kembaran ku itu sudah meninggal dunia akibat ulah si Bastian yang .... "


"Bastian Hutama!" kata Sarah memotong perkataan Lisa dengan cepat.


"Iya. Bastian Hutama. Tante kenal dia?"


"Jelas aku kenal dengan orang yang sudah membuat anakku meninggal. Aku tidak akan pernah melupakan dia sedetik pun. Karena luka yang ia berikan, tidak akan pernah sembuh sampai kapan pun," kata Sarah sambil menggenggam tangganya erat.


"Maksud tante?"


"Nama anakku Keke. Wajahnya persis seperti wajahmu. Dia meninggal beberapa bulan yang lalu akibat kecelakaan karena ulah Bastian," kata Sarah sambil meneteskan air mata.


"Ternyata kita bernasib sama ya tante? Bisakah kita cari tempat lain buat ngobrol? Biar terasa lebih nyaman."


Tawaran itu Sarah sambut dengan anggukan kepala. Mereka pun mencari cafe yang letaknya tak jauh dari TPU tersebut. Di sana, mereka melanjutkan obrolan mereka kembali.


"Aku masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja aku alami. Wajahmu benar-benar sama persis dengan wajah Keke anakku."


"Bisakah aku melihat foto anakmu? Aku sangat penasaran sama wajah anakmu. Apakah benar-benar sama persis dengan wajahku seperti yang kamu katakan itu."


"Apakah dia punya sosial media?"


"Iya, dia punya."


"Katakan padaku biar aku bisa melihatnya langsung."


"Keke Putri Jelita. Itu nama facebooknya."


"Lucu juga namanya. Gak ada nama lain kah?"


"Sudah. Ngapain bahas nama anakku. Apakah tidak ada pembahasan lain yang mau kamu bahas? Apakah cuma itu saja yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya Sarah agak kesal.


"Tunggu. Biar aku lihat dulu wajah anakmu. Dengan begitu, aku baru yakin dan percaya dengan apa yang kamu katakan."


Sarah hanya terdiam. Hatinya berkata, 'dasar anak muda jaman sekarang. Apa-apa lihatnya cuma ponsel. Ponsel lagi ponsel lagi.'


Sementara Sarah sibuk dengan pikirannya, Lisa juga sibuk dengan ponselnya. Ia benar-benar ingin tahu semirip apa Keke yang Sarah ceritakan padanya. Waktu itu, oma pernah mengatakan kalau sebenarnya, mama mereka melahirkan bayi kembar tiga. Hanya saja, yang satunya meninggal saat masih bayi.


Dalam benak Lisa muncul sebuah teka teki. Benarkah saudara mereka benar-benar meninggal saat bayi? Atau jangan-jangan, mama mereka memberikan salah satu dari mereka pada orang lain? Tapi kenapa? Bukankah mereka dari keluarga berada yang tidak kekurangan sedikitpun. Tidak mungkin kalau keluarga mereka takut tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka bertiga.


"Ketemu!" Lisa berucap keras sehingga membuat seisi cafe kaget dengan teriakannya.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan sih? Bikin kaget orang aja," kata Sarah kesal.


"Maaf-maaf."


"Maaf semuanya," kata Lisa sambil menunduk pada semua tamu.


"Aku menemukan foto anakmu," kata Lisa sambil memperlihatkan foto itu pada Sarah.


"Sekarang, kamu sudah yakin bukan? Kalo aku punya anak yang sama persis wajahnya dengan wajah kamu."


"Ya, aku yakin. Tapi .... "


"Tapi apa?"


"Aku tidak yakin kalau ini benar-benar anakmu. Jangan-jangan .... "


"Kamu ini bicara apa? Aku yang melahirkannya, bagaimana bisa kamu tidak percaya itu anakku. Aku berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan Keke kesayanganku itu."


"Aku hanya bercanda. Kamu tidak perlu semarah itu."


"Untung wajahmu sangat mirip dengan Keke. Jika tidak, mungkin aku sudah membuat perhitungan dengan mu. Oh ya, siapa nama kembaran mu itu? Dan, kenapa bisa ia meninggal? Apa sebabnya? Apa hubungannya dengan Bastian Hutama?"


"Namanya Mona. Ia meninggal karena operasi yang ia jalani gagal. Semua itu karena Bastian yang memaksakan Mona untuk melakukan operasi. Sampai detik ini, aku tidak bisa memaafkan Bastian."


"Kamu bilang, dia meninggal sudah lama. Kenapa kamu baru tidak terimanya sekarang?" tanya Sarah sambil meminum kopi yang ia pesan.


"Itu karena aku baru tahu kalau ternyata, kembaran ku itu sudah meninggal. Aku dan saudara kembar ku tinggal terpisah. Aku tinggal bersama oma dan kembaran ku bersama mama. Baru-baru ini, aku pulang ke tempat mama di Belanda. Dari cerita mama lah aku baru tahu kalau saudara kembar ku meninggal dan semua itu gara-gara kebodohan si Bastian," kata Lisa sambil menggenggam erat tangganya karena geram.


"Kalau begitu, kita sama-sama kehilangan orang yang kita sayang karena orang yang sama."


"Ya. Oh ya, bisakah aku tahu apa sebab anakmu meninggal?"


Sarah menceritakan apa yang terjadi pada mereka sebelum Keke meninggal. Tentunya, dengan tambahan dan pengurangan di setiap kejadian yang ia ceritakan.


Sarah melimpahkan semua kesalahan pada Bastian dengan menceritakan sesuatu yang ia buat-buat. Ia menutupi kesalahan mereka dan menimbulkan kesalahan hanya pada Bastian saja. Dengan begitu, sangat jelaslah kalau dia dan Keke adalah korban yang tidak punya salah sedikitpun.


Bukan hanya itu, Sarah juga mengatakan pada Lisa, kalau Chacha adalah perempuan penggoda. Chacha menggoda Bastian dan merebut Bastian dari Keke. Dengan begitu, Lisa semakin kesal dengan pasangan itu. Kemarahan Lisa semakin memuncak setelah mendengar kata-kata Sarah yang menjelek-jelekkan Chacha dan Bastian.


____________________________________________


Catatan:


Karena ada banyak pertanyaan soal Sarah yang awalnya lumpuh dan sakit jiwa, tapi kenapa kok bisa keluar dari rumah sakit jiwa?


Juga kenapa kok bisa jalan? Padahal kan dia lumpuh?


Ini rencananya mau bikin pembaca penasaran terus nanti jadi kejutan. Akan ada penjelasan nantinya. Mohon maaf jika bikin pembaca jadi bingung dengan apa yang aku tuliskan.

__ADS_1


Semoga kalian tetap terus membaca karya aku yah. Salam sayang, muach.


__ADS_2