
Dedi berjalan cepat menuju pintu. Saat ia membuka pintu tersebut, ia kaget bukan kepalang. Kaget bercampur senang sebenarnya. Tapi ....
Plak-plak.
Dua tamparan keras mendarat di kedua pipi Dedi. Dedi yang kaget karena bahagia, kini berubah menjadi terlalu kaget bercampur bingung. Ia menatap orang yang menamparnya dengan tatapan bingung sambil memegang kedua pipinya.
"Mama ada apa sih? Ngapain mama nampar aku? Apakah ini cara menunjukkan padaku kalau saat ini mama terlalu kangen sama aku, Ma? Tapi gak sekeras ini juga dong. Sakit tau," ucap Dedi ngoceh pada mamanya.
Ya, yang datang barusan adalah mama Dedi. Siska namanya. Mama Dedi datang dari luar negeri dengan perasaan sangat kesal pada anaknya.
"Ya, aku memang terlalu kangen sama kamu. Sangking kangennya aku padamu, rasanya, aku ingin menelan mu kembali ke dalam perutku agar kamu tidak menciptakan masalah lagi buat aku," kata Siska terlalu kesal sampai-sampai, ia bicara dengan nada tinggi.
Apa yang ia bicarakan terdengar oleh Sarah. Dengan rasa penasaran, Sarah bertanya pada Dedi siapa orang yang sedang berbicara dengan Dedi tersebut. Meski ia sedikit mengenali suara orang itu, namun ia tidak ingin menebak-nebak sendiri.
"Dedi! Siapa sih yang berisik itu?" tanya Sarah tanpa beranjak dari meja makannya.
"Aku." Siska menerobos masuk ke dalam dengan wajah yang masih sangat kesal.
"Mbak." Sarah begitu senang sampai ia bagun dengan cepat dari duduknya lalu memeluk Siska dengan erat. Rasa kangen menyelimuti hatinya. Ia begitu bahagia ketika melihat kakak yang sudah sangat lama tidak bertemu karena jarak yang memisahkan mereka.
"Mbak datang kok gak kasih tau dulu. Kan aku bisa jemput mbak di bandara, mbak," ucap Sarah sambil melepas pelukannya.
"Sarah. Aku datang bukan untuk liburan, tapi untuk memberikan pelajaran pada kalian berdua. Terutama pada Dedi."
"Ada apa ini, mbak? Apa maksud dari kata-kata mbak barusan? Memberi pelajaran apa, mbak?" tanya Sarah dengan wajah sangat amat bingung.
Sarah merasa sangat tidak enak hati saat mendengar apa yang Siska ucapkan. Dia jarang melihat kakaknya marah. Tapi, jika Siska berkata dengan nada yang tinggi, itu tandanya, Siska benar-benar sedang berada dalam kemarahan.
"Sarah. Aku tidak tahu apa kesalahan yang telah aku perbuat padamu sebelumnya. Sampai-sampai, kamu mempengaruhi anakku untuk melakukan kesalahan sampai aku kehilangan harta bendaku atas kesalahan itu," kata Siska bicara dengan menatap tajam wajah Sarah dan Dedi secara bergantian.
"Mbak, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya mbak katakan. Tapi sejujurnya, mbak tidak pernah melakukan kesalahan apapun padaku, mbak."
__ADS_1
"Kesalahan apa yang aku perbuat, Ma? Sampai-sampai kamu terlihat begitu marah. Apa yang telah aku perbuat sampai mama bilang aku telah menghilangkan harta benda mama?" tanya Dedi.
"Kalian pura-pura tidak tahu atau memang ingin membodohi aku, hah! Asal kalian tahu, aku tidak sebodoh yang kalian pikirkan, Dedi, Sarah."
"Mbak. Aku bersumpah kalau aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang mbak katakan. Tolong jelaskan padaku mbak, apa kesalahanku? Dan apa yang coba mbak katakan padaku. Tolong jelaskan dengan sangat jelas mbak! Biar aku tahu apa kesalahanku itu."
"Benar, Ma. Tolong jelaskan agar .... "
"Diam! Jangan bicara padaku lagi." Siska membentak Dedi dengan keras. Sampai-sampai, Dedi terperanjat kaget.
"Baiklah, jika kalian benar-benar ingin tahu apa kesalahan kalian. Aku pikir, tidak ada salahnya aku mengulang kembali biar kalian ingat."
"Sarah. Aku tahu ini ide dari kamu. Kamu meminta Dedi berbohong atas nama Eagle grup untuk bekerjasama dengan perusahaan terbesar di kota ini. Karena kebohongan kalian ini, kalian tahu apa yang terjadi pada perusahaan kita Dedi?" Siska bertanya sambil menahan amarahnya.
"Apa, Ma? Apa yang terjadi?" tanya Dedi dengan nada sangat penasaran.
"Aku tidak tahu kamu ini sedang pura-pura tidak tahu atau memang benar-benar tidak tahu. Yang jelas, kita kehilangan perusahaan kita."
"Kenapa bisa begini, Ma? Apa yang sebenarnya terjadi sampai kita harus kehilangan perusahaan kita?" tanya Dedi sambil menggoyangkan tubuh Siska.
"Mbak, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mbak bisa kehilangan perusahaan mbak sih?"
"Jangan pura-pura bego Sarah. Aku tahu kamu pasti tahu apa alasannya." Siska menatap Sarah dengan tatapan tajam.
"Aku benar-benar tidak tahu mbak."
"Ya, Ma. Aku tidak mengerti apa hubungan kita kehilangan perusahaan dengan tante? Kenapa mama menyalahkan tante, Ma?"
"Sudah aku katakan, ini semua karena kalian yang telah berbohong pada perusahaan terbesar di kota ini. Mereka membeli seluruh saham kita dengan bantuan Eagle grup. Kita tidak punya apa-apa lagi sekarang. Puas kamu, hah!"
"Hutama grup! Bastian! Kalian benar-benar jahat," kata Dedi sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Jadi, mereka sudah tahu semua yang kita rencanakan?" tanya Sarah sambil terduduk lemah.
"Ya, bukan hanya tau, tapi mereka telah bergerak."
"Dasar kurang ajar kamu Bastian," kata Sarah juga mengepalkan tangannya karena geram.
"Sarah. Aku tidak tahu entah apa sebabnya kamu bisa berurusan dengan orang terkaya dan punya kuasa seperti pemilik perusahan terbesar di kota ini. Tapi satu hal yang ingin aku katakan, kamu terlalu bodoh sudah mencari gara-gara dengannya."
"Mbak, bukan aku yang mencari gara-gara dengan Bastian. Tapi dia sendiri yang telah merebut kebahagiaan aku."
"Tante benar, Ma. Bastian itu orang yang sangat licik. Dia mencelakai sepupu hingga sepupu meninggal dunia. Tidak salah bukan? Jika tante sebagai mama ingin balas dendam."
"Balas dendam?"
"Ya, Ma. Tante ingin melihat Bastian menderita karena telah menyebabkan sepupu meninggal."
"Jika itu alasannya, aku sarankan padamu Sarah, kamu segera melupakan balas dendam yang ada dalam hatimu saat ini. Sudahi semuanya sekarang juga."
"Apa mbak? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Sarah sambil melihat Siska dengan tatapan tak percaya.
"Tidak. Kamu tidak salah dengar, Sarah. Aku ingin kamu melupakan niat balas dendam mu itu sekarang juga."
"Tidak mbak! Mbak tidak bisa memaksa aku untuk melupakan sakit hati yang ada dalam hatiku. Aku tetap akan balas dendam pada Bastian juga Chacha karena telah menjadi penyebab meninggalnya Keke. Anak yang paling aku cintai," ucap Sarah sambil menitikkan air mata.
"Sarah."
"Tidak mbak. Apa mbak sudah tidak kenal lagi dengan adikmu ini? Sekali aku katakan tidak, maka selamanya tidak. Mbak belum tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Aku sudah kehilangan suamiku ketika aku baru saja menikmati kebahagiaan. Sekarang, aku kehilangan anakku satu-satunya. Aku tidak bisa membiarkan semua ini menimpaku begitu saja tanpa ada balasan sama sekali pada orang yang telah merebut kebahagiaanku, mbak."
"Sarah."
"Jika mbak tidak mengizinkan Dedi membantuku, maka aku tidak akan memaksakannya. Tapi tolong, jangan halangi aku untuk tetap membalaskan dendam ku pada mereka yang telah menjadi penyebab aku kehilangan anakku."
__ADS_1
"Sarah, cukup! Dengarkan apa yang ingin aku katakan!"