Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 126


__ADS_3

Sebuah mobil sedang menunggu kedatangan Bastian dan Chacha. Saat melihat Bastian dan Chacha, sopir mobil itu langsung menghampiri mereka berdua.


"Selamat datang, tuan Bastian, nyonya Bastian. Ayo ikut saya. Saya sudah menunggu tuan dan nyonya sejak tadi," kata sopir itu.


Mendengar apa yang sopir itu katakan, Chacha terheran. Ia melihat sopir, lalu bergantian melihat Bastian udengan tatapan meminta penjelasan.


"Kenapa, sayang?" tanya Bastian heran.


"Mas, dia .... " Chacha bicara sambil mengarahkan telunjuknya pada suopir yang berada di depan mereka.


"Kenapa dengan sopirnya? Ada yang aneh? Atau, kamu kenal dia?"


"Ih, nggak. Maksud aku, kok dia bisa bahasa kita sih?"


"Oh ... aku kira apa tadi. Kamu ini bikin aku heran saja, sayang. Dia itu sama kayak kita. Berasal dari negara yang sama. Makanya, dia bisa bahasa kita."


"Oh .... " Chacha membulatkan mulutnya sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah sampai ke mobil, sopir itu dengan sopan membuka pintu mobil buat mereka berdua.


"Silahkan masuk tuan Bastian, nyonya."


"Ya, makasih."


"Ayo, sayang."


Mereka segera meninggalkan bandara untuk menuju hotel. Tempat di mana mereka akan menginap selama satu minggu lamanya di negara kincir ini.


____


Lisa yang dibawa ke ruang medis telah diperiksa dokter. Ternyata, sakit Lisa masih bisa ditangani dokter yang ada di sana, tanpa perlu melarikannya ke rumah sakit lagi. Lisa hanya menderita luka luar saja. Tidak ada yang serius selain bekas pukulan yang berwarna kebiru-biruan di sekitar perutnya.


Setelah di berikan vitamin, ia sedikit terlihat segar. Namun ia masih belum bisa bangun dari baringnya. Sarah yang melihat Lisa di larikan ke ruangan medis, meminta izin untuk melihat keadaan Lisa.


"Buk, saya mohon izinkan saya melihat dia. Saya mengenali dia karena dia adalah saudara saya," kata Sarah pada polisi tersebut.


"Alah, jangan percaya apa yang dia katakan, buk. Palingan juga dia bohong sama ibuk kalau perempuan yang tadi itu saudaranya," kata perempuan yang satu sel dengan Sarah.


"Saya gak bohong kok buk. Saya mengenali wanita itu itu dengan baik. Namanya Lisa, buk." Sarah berusaha menjelaskan agar polisi itu percaya padanya.

__ADS_1


"Baiklah. Saya akan izinkan kamu melihat perempuan tadi. Tapi ingat, jangan lama-lama," ucap polisi itu sambil membuka pintu sel.


Sarah di keluarkan dari sel. Ia pergi bersama seorang polisi yang lainnya ke ruangan di mana Lisa berada.


Sampai di sana, ia diizinkan masuk oleh polisi yang menjaga Lisa. Namun dengan catatan tidak boleh lama. Waktunya hanya kurang dari sepuluh menit saja.


Walau begitu, Sarah sudah berterima kasih pada polisi-polisi yang sudah bersedia mengizinkannya menemui Lisa yang sedang di rawat.


"Lisa."


Mendengar namanya di panggil. Lisa membuka mata. Ia melihat Sarah yang berdiri di samping ranjangnya, segera bangun dengan susah payah.


"Tante Sarah."


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Sarah.


"Seperti yang tante lihat. Aku sangat tidak baik-baik saja."


"Apa yang terjadi, Lisa? Kenapa kamu bisa berada di sini?"


"Ceritanya panjang. Yang jelas, ini semua karena tante. Tante yang telah membawa aku masuk ke dalam sumur berbahaya seperti saat ini. Aku menyesal bertemu tante," kata Lisa sambil menatap Sarah dengan tatapan tajam.


"Lisa. Aku minta maaf. Aku memang salah," ucap Sarah dengan nada menyesal sambil menundukkan kepalanya.


"Apa! Kamu bunuh orang? Siapa yang sudah kamu bunuh, Lisa?" tanya Sarah kaget.


"Cih, tidak usah kaget tante Sarah. Kamu saja pernah melajukan apa yang aku lakukan sekarang. Bedanya, orang yang kamu celakai tidak mati. Iya, kan?"


Sarah terdiam. Benaknya membenarkan apa yang Lisa katakan. Lisa terus menatap Sarah dengan tatapan tajam, sampai polisi datang untuk menjemput Sarah untuk dibawa kembali masuk ke dalam sel.


____


Mobil yang membawa Bastian dan Chacha akhirnya berhenti di depan sebuah hotel. Hotel mewah yang berada di belanda. Keduanya pun turun, lalu masuk ke dalam.


Ternyata, semua sudah diatur oleh Bastian. Mereka tidak perlu melakukan transaksi lagi, mereka hanya perlu mengambil kunci, lalu masuk ke kamar yang telah di siapkan.


Sampai di depan kamar yang mereka pesan, sopir itu meletakkan koper yang sedari tadi ia bawa di depan pintu.


"Tuan Bastian, sepertinya saya hanya bisa mengantarkan koper tuan dan nyonya sampai di sini saja. Apakah tidak apa-apa?" tanya sopir itu.

__ADS_1


"Ya, gak papa kok pak. Terima kasih banyak sudah membantu," ucap Bastian.


"Sama-sama. Jika butuh apa-apa, tinggal hubungi saya saja. Saya akan segera datang," ucap sopir itu sambil tersenyum, lalu pergi.


"Aneh banget. Ngapain gak masuk sekalian aja. Inikan nanggung namanya," kata Chacha sambil melihat sopir itu pergi.


"Kenapa sayang?"


"Gak ada. Kok sopirnya aneh banget sih Mas. Kenapa gak sekalian aja ngantar sampai ke dalam gitu?"


"Ya, mana aku tahu," kata Bastian pura-pura tidak tahu.


"Dari pada mikirin sopirnya, lebih baik kita masuk aja sekarang. Kamu pasti capek kan?" kata Bastian sambil menyentuh pundak Chacha.


"Iya."


"Nih kuncinya, tolong bukain pintu, biar mas yang bawa koper-koper kita."


Chacha melakukan apa yang Bastian katakan. Ia membuka pintu kamar tanpa tahu kejutan apa yang ada di dalam kamar tersebut.


Ketika pintu terbuka, mata Chacha benar-benar tidak bisa berkedip akibat kagum dengan isi kamar tersebut. Seprai warna hijau dengan motif bunga tulip terhampar di atas kasur. Bukan hanya seprai yang berwarna hijau dengan motif bunga tulip, tapi juga gorden dan tembok kamar, semuanya sama.


Kamar yang berfasilitas lengkap itu terlihat seperti taman bunga tulip, dengan dekor hijau ditambah beberapa pot bunga tulip hidup yang disemprot dengan aroma khas bunga. Di atas kasur juga terdapat kelopak tulip yang dibentuk seperti hati juga terdapat tulisan, aku cinta kamu Chacha.


Chacha masih tertegun di depan pintu. Matanya tanpa sadar menumpahkan cairan bening yang sulit ia tahan karena hatinya yang terlalu bahagia.


Bastian menyentuh pundak Chacha dengan sentuhan lembut. Menyadarkan Chacha kalau saat ini, dirinya tidak sedang sendirian. Melainkan, ada seorang suami yang berada di belakangnya.


"Sayang."


"Mas." Chacha berbalik lalu memeluk Bastian dengan sangat erat.


"Apa kamu senang dengan kejutan ini?" tanya Bastian sambil membelai rambut Chacha.


"Jangan tanyakan hal itu padaku. Aku tidak tau harus ngomong apa padamu, mas. Karena aku terlalu merasa bahagia dengan semua ini."


"Sudah. Jangan habiskan air matamu untuk menangisi apa yang kamu lihat sekarang. Aku tidak ingin kamu menangis, sayang. Tapi, aku ingin kamu tersenyum karena bahagia," kata Bastian sambil menyapu air mata di pipi Chacha.


"Ini air mata karena aku terlalu bahagia, Mas. Bukan karena sedih."

__ADS_1


"Aku tahu, sayang. Air mata ini karena kamu terlalu bahagia. Tapi, jika kamu terus menangis saat aku memberikan kejutan, nanti air matamu bisa habis. Karena, masih banyak kejutan-kejutan lain yang belum aku berikan. Sekarang kita masuk. Kita tidak bisa terus berada di depan pintu ini berjam-jam, bukan?"


"Iya, Mas." Chacha tersenyum sambil melihat Bastian.


__ADS_2