Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 64


__ADS_3

Sebenarnya, ada rasa kasihan dalam hati Danu ketika melihat Chacha panik seperti sekarang. Namun, ia tidak bisa mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Karena, jika ia katakan, maka, kejutan yang Bastian siapkan akan gagal total jadinya.


"Ayo Danu, cepat!" Chacha berucap tak sabaran.


"Sabar nona bos. Saya sedang berusaha."


"Ya Tuhan. Semoga Bastian baik-baik saja," kata Chacha sambil menggenggam erat kedua tangannya.


Saat mobil berhenti di depan rumah sakit, Chacha segera turun dan berlari meninggalkan Danu. Danu yang melihat hal itu tidak bisa mencegahnya. Ia dengan cepat memarkirkan mobil di parkiran kemudian berjalan cepat menyusul Chacha.


"Nona bos." Danu memanggil sambil berlari kecil. Yang di panggil bukannya berhenti, peduli pun tidak.


"Bastian!" Chacha memanggil saat ia sampai di depan kamar rawat inap Bastian yang ternyata sangat gelap.


"Di mana Bastian?" tanya Chacha panik dengan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi.


"Di mana dia, Danu?" Chacha kembali bertanya saat Danu tiba.


"Aku di sini."


Suara itu membuat Chacha memalingkan wajahnya dari Danu. Bersamaan dengan suara itu juga, tirai hitam yang menutupi pintu kamar rawat inap pun terbuka. Lampu kamar pun di nyalakan.


Kepanikan Chacha berubah seketika. Hatinya kini penuh rasa heran juga bahagia saat melihat Bastian yang baik-baik saja, namun masih duduk di kursi roda.


"Ada--ada apa ini?" tanya Chacha bingung sambil berjalan masuk.


Bastian tidak menjawab. Ia membiarkan Chacha terus berjalan memasuki ruangan sambil memperhatikan sekelilingnya. Aroma mawar merah yang segar, terasa menenangkan. Membawa ketenangan dalam hati.


"Chacha. Aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi istriku satu-satunya dalam hidup ini?" tanya Bastian sambil mengeluarkan sepasang cincin kawin yang indah.


"Lho, bukannya kalian memang sepasang suami istri," kata Merlin yang ada di sudut kamar.


"Mama, jangan ganggu mereka. Ih, mama ini. Merusak suasana romantis saja," ucap papa yang sedang melakukan vidio call dengan mama. Ia juga ingin ikut melihat lamaran Bastian pada Chacha. Meski tidak bisa hadir langsung, tapi setidaknya, lewat udara sudah cukup.


"Eh iya ya. Aduh, mama lupa, Pa."


"Udah, diam."


"Maafkan mama. Anggap saja mama tidak ada di sini. Ayo lanjut."


"Cha." Bastian memanggil Chacha yang sedari tadi hanya diam saja.


"Maafkan aku yang udah bikin kamu panik. Tapi, bukan kejutan jika kamu datang tanpa rasa apa-apa."


"Aku ... apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Bahkan, sangat baik-baik saja sekarang. Aku akan lebih baik jika kejutan ini berjalan lancar tanpa ada penolakan dari kamu."


"Maksud kamu?"


"Maukah kamu menjadi ratuku selamanya, Chacha?" tanya Bastian berusaha mengembalikan suasana romantis yang sempat rusak.


"Aku ... aku tidak yakin, Bastin."

__ADS_1


"Tidak yakin dengan apa? Dengan aku?"


"Bukan. Aku tidak yakin aku bisa jadi wanita terbaik untuk menemani kamu sampai ke hari tua."


"Aku yakin kamu mampu. Aku tidak butuh wanita sempurna ataupun wanita terbaik untuk menjadi ratuku selama aku hidup. Yang aku butuhkan adalah, wanita yang sabar, lemah lembut, juga bisa terima aku apa adanya. Bukan ada apanya."


"Apakah kamu yakin memilih aku?" tanya Chacha mulai berbunga-bunga.


"Sangat yakin Chacha. Seratus persen yakin."


"Bagaimana?" tanya Bastian penuh harap.


Cahcha tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Senyum manis terlukis indah di bibir keduanya. Bastian mengambil satu cincin dan di sematkan kejari manis Chacha. Cahcha mengambil satu cincin yang tersisa, lalu, ia pasangkan kejari manis Bastian.


"Cincin ini sebagai pengingat, kalau kamu adalah ratuku, dan aku rajanya," ucap Bastian sambil mencium tangan Chacha.


"Aku memang bukan laki-laki romantis, tapi, sebisa mungkin, aku berusaha untuk menjadi laki-laki terbaik seperti yang kamu harapkan."


"Aku tidak perlu yang terbaik untuk menjadi pendamping hidupku, Bastian. Aku hanya perlu laki-laki yang tulus mencintai aku dengan sepenuh hati," kata Chacha sambil menjatuhkan air mata bahagia.


Bastian bangun dari kursi rodanya. Ia langsung memeluk Chacha dengan erat. Chacha yang melihat Bastian sudah bisa berdiri, ada rasa bahagia dan kaget dalam hatinya.


Awalnya, ia tidak menyangka kalau Bastian benar-benar sembuh setelah di lakukan operasi. Karena, ketika ia masuk ke dalam kamar rawat ini, Bastian masih duduk di atas kursi roda. Ia pikir, Bastian masih lumpuh tadinya.


Ia semakin menangis karena bahagia. Ternyata, Bastian menyatakan cinta bukan karena dia gagal dalam operasi, melainkan, operasinya telah berhasil.


"Jangan menangis lagi," kata Bastian sambil menyeka air mata dengan kedua tangannya.


"Air mata ini begitu berharga bagiku. Jangan jatuhkan air mata ini," kata Bastian sambil menatap bola mata Chacha.


Chacha hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil memperlihatkan senyum manis. Ia begitu bahagia sekarang. Bastian sudah tidak lumpuh lagi. Dan, Bastian adalah suami yang mencintai dirinya dengan sepenuh hati sekarang. Begitu juga dengannya. Ia bisa menjalankan rumah tangga sebagai istri dengan cinta, bukan karena terpaksa.


Chacha menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Bastian kembali. Kali ini, dia yang duluan memeluk Bastian dengan erat. Bastian membalas pelukan itu.


Mama yang berada di pojok kamar sambil terus memegang ponsel, karena papa masih terus melakukan vidio call sejak tadi, menjatuhkan air mata bahagia. Mama juga merasakan kebahagiaan yang anak dan menantunya rasakan saat ini.


Danu yang sedari tadi berada di depan pintu kamar, juga merasakan hal yang sama. Melihat Chacha dan Bastian berpelukan erat dan mesra, Danu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengabadikan momen itu. Ia mengambil beberapa jepretan foto Chacha dan Bastian.


Ternyata, bukan hanya Danu yang ada di sana. Bik Maryam dan pak Danang juga ada di depan pintu kamar sejak tadi. Mereka jiga menyaksikan sesi lamaran yang terasa sedikit menegangkan namun berakhir dengan sangat bahagia.


"Uh, manisnya .... " kata Bik Maryam sambil memeluk kedua tangannya.


"Ya ... terlalu manis untuk dilihat," kata pak Danang.


"Pak Danang, bik Maryam. Kalian juga ada di sini? Sejak kapan sih?" tanya Danu kaget.


"Ih, mas Danu kok kaget gitu. Kita ada sudah sejak tadi. Iyakan pak Danang?"


"Yoi. Kita juga gak mau ketinggalan momen bahagia ini, mas Danu."


Sementara itu, Chacha dan Bastian masih berpelukan. Mama yang ada di sudut sana tiba-tiba memeluk ponselnya.


"Papa kapan pulang? Mama kangen. Mama juga merasa iri sama mereka berdua. Mama juga pengen di lamar, Pa."

__ADS_1


"Lamar? Lamar apaan?" tanya papa di seberang sana dengan wajah bingung.


"Ya dilamar kayak Bastian melamar Chacha." Mama berucap dengan wajah polos.


"Ha ha ha, mama ini ada-ada aja. Udah tua, Ma. Ingat umur. Lagian, mana ada sesi lamaran lagi. Kita udah nikah. Dan gak lama lagi, udah mau punya cucu."


"Papa." Mama berucap dengan nada manja.


Ia memasang wajah kesal karena keinginannya tidak mau papa penuhi. Chacha dan Bastian hanya bisa tersenyum dengan tingkah mama yang sedikit aneh. Sementara itu, bik Maryam dan pak Danang malah menggoda Danu yang sedari tadi hanya bisa mengabadikan momen bahagia Bastian dan Chacha.


"Ayo mas Danu, kapan giliran mas Danu melamar pacar mas Danu? Seperti yang bos muda lakukan sekarang," kata bik Maryam.


"Aku?"


"Iya. Siapa lagi? Bibi kan udah sebutin namanya mas Danu," kata bik Maryam sambil tersenyum.


"Mas Danu."


Sementara itu, Chacha dan Bastian masih berpelukan. Mama yang ada di sudut sana tiba-tiba memeluk ponselnya.


"Papa kapan pulang? Mama kangen. Mama juga merasa iri sama mereka berdua. Mama juga pengen di lamar, Pa."


"Ih, mama ini. Lamar apaan, udah tua, Ma."


Mereka semua tertawa melihat ekspresi mama yang begitu tidak enak dilihat setelah papa ngomong begitu. Sedangkan mama, ia tetap memasang wajah tidak enaknya.


"Ayo mas Danu, kapan giliran mas Danu melamar pacar mas Danu? Seperti yang bos muda lakukan sekarang," kata bik Maryam.


"Aku?"


"Iya. Siapa lagi?"


"Mas Danu."


Tiba-tiba, Lula memanggil Danu. Panggilan itu membuat Danu jadi sasaran bik Maryam dan pak Danang sekarang. Suasana kembali riuh karana tawa akibat tingkah bik Maryam dan pak Danang yang menggoda Danu. Bastian dan Chacha juga ikut tertawa tanpa melepaskan pelukan mereka berdua.


Dari kejauhan, Hendra menatap mereka semua. Ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum, sedangkan hatinya kini sedang menahan sakit akibat rasa tidak rela yang ia rasakan.


"Aku ikut bahagia untuk lamaran mu yang di terima Bastian. Aku juga ikut bahagia buat kamu yang bahagia saat ini Chacha. Semoga, setelah ini, tidak ada kesedihan lagi yang menghampiri kamu. Semoga kamu bahagia dengan keluarga yang penuh cinta," ucap Hendra sambil menahan buliran bening supaya jangan sampai jatuh ke pipi.


"Dokter Hendra suka sama wanita itu?" tanya suster yang sedari tadi bersama Hendra.


Mendengar pertanyaan itu, Hendra tersentak kaget. Ia baru menyadari kalau ternyata dirinya tidak sedang sendirian. Ia lupa kalau sedari tadi, susternya sedang bersama dia.


"Apa--apa yang kamu katakan?" tanya Hendra pura-pura tidak mengerti.


"Dokter mengatakan kalau dokter bahagia melihat gadis itu di lamar oleh bos muda. Berarti .... "


"Sudah, jangan ikut campur. Kamu gak akan mengerti apa yang aku rasakan," ucap Hendra memotong perkataan suster tersebut.


"Cinta tak harus memiliki dokter. Masih banyak wanita lain yang sedang berharap bisa dicintai oleh dokter Hendra. Jadi, relakan saja dia bahagia bersama laki-laki yang ia cintai."


"Ish, kamu tau apa? Aku sudah rela dia bahagia. Jika tidak, aku pasti sudah berada di sana untuk merusak kejutan Bastian," kata Hendra sambil memelototi suster tersebut lalu beranjak pergi.

__ADS_1


Suster tersebut bukannya merasa tidak enak hati, ia malah tersenyum dengan pelototan Hendra barusan. Ia terus melihat Hendra hingga punggung itu lenyap dari pandangannya.


"Aku akan dapatkan hatimu pak dokter," ucap suster itu pada dirinya sendiri.


__ADS_2