
Malam itu, seperti yang papa minta, mereka datang ke mansion untuk makan malam bersama. Chacha menggunakan dress panjang berwarna hijau. Rambut ia biarkan tergerai begitu saja. Dengan tambahan make-up natural seperti biasa.
Chacha tidak terlalu menggunakan make-up. Dia sengaja menggunakan semua yang sederhana untuk undangan makan malam di rumah mertuanya. Namun begitu, dia kelihatan tetap cantik bahkan sangat cantik dengan semua sederhana yang ia kenakan.
"Kamu cantik malam ini." Bastian memuji Chacha saat mereka tutun dari mobil.
"Malam ini saja? Biasanya aku tidak cantik? Begitu?" tanya Chacha sambil memasang wajah kesal yang ia buat-buat.
"Tidak. Kamu cantik sejak lama. Sejak pertama. kita bertemu, aku sudah menggagumi kamu. Hanya saja, saat itu aku tidak ingin melihat kamu dengan mata cintaku. Aku memaksakan melihat kamu dengan mata benci," kata Bastian bicara dengan tatapan penuh kasih.
"Ehem. Bos muda, nona bos, kalian sepertinya harus menghentikan suasana romantis kalian ini. Karena mungkin, nyonya dan tuan besar pasti sudah menunggu di dalam," kata Danu mengingatkan Chacha dan Bastian.
"Danu. Sepertinya kamu sudah bosan menjadi tangan kananku. Apa kamu mau merubah profesi mu?" tanya Bastian kesal.
"Maaf bos muda," ucap Danu sambil menahan senyum. Ia tahu saat ini Bastian cuma menggertak nya saja.
"Danu benar Bastian. Ayo masuk sekarang! Papa dan mama pasti sedang menunggu."
"Kamu selamat kali ini," kata Bastian sambil melihat Danu dengan tatapan tajam.
"Sudah-sudah."
"Danu, kami masuk dulu. Apa kamu yakin tidak mau ikut masuk?" tanya Chacha.
"Tidak nona bos. Saya ada kerjaan di luar. Tidak bisa ikut makan malam kali ini."
"Ya sudah kalo gitu. Kami masuk sekarang," ucap Chacha sambil mendorong kursi roda Bastian.
Chacha dan Bastian pun masuk ke dalam. Sedangkan Danu, ia pergi meninggalkan mansion setelah melihat bos muda dan nona bosnya masuk ke dalam.
Merlin yang sudah menunggu kedatangan anak dan menantunya sejak tadi, bergegas menyambut Chacha dan Bastian setelah ia melihat mereka datang.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kok kalian baru sampai sekarang sih sayang?" tanya Merlin pada Chacha.
"Maaf, Ma. Kita terjebak macet tadi. Untungnya gak lama."
"Syukur gak lama ya. Kalo lama, bisa panik mama nungguin kalian."
"Mama mah selalu begitu. Apa-apa panik, apa-apa panik," kata papa.
Lisa yang masih berada di kamar, keluar saat salah satu pelayan memberitahukan padanya, kalau Bastian sudah datang bersama dengan istrinya. Lisa yang sangat penasaran untuk melihat wajah Chacha, tidak sabar lagi ingin bertemu. Ia berjalan cepat menuju lantai dasar.
"Bastian." Lisa memanggil nama Bastian dengan suara manja. Seolah-olah, dia tidak tahu kalau Bastian datang bersama Chacha istrinya.
Semua mata yang ada di ruang keluarga menatap Lisa dengan seksama. Dia menjadi pusat perhatian sekarang. Chacha begitu kaget ketika melihat wajah Lisa yang tidak ada bedanya dengan Keke dan Mona yang ada di bingkai foto bersama Bastian waktu itu.
'Ya Tuhan. Jadi dialah yang bernama Lisa? Tidak ada bedanya dengan Mona juga Keke. Apakah dia benar-benar Lisa? Atau jangan-jangan, dia adalah salah satu dari mereka berdua?' tanya Chacha dalam hati pada dirinya sendiri.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu datang bersama istrimu," kata Lisa sambil memasang wajah menyesal.
"Ma, Pa, kenapa dia masih ada di sini?" tanya Bastian sangat kesal.
"Pa." Bastian melihat papanya. Ia meminta penjelasan sang papa atas apa yang telah papanya lakukan.
"Papa sengaja meminta Lisa tinggal di sini malam ini. Karena kita akan makan bersama sebagai keluarga malam ini."
"Tapi dia bukan bagian dari keluarga kita, Pa." Bastian semakin kesal saja.
"Bas, sudah. Jangan di perpanjang lagi. Ikuti saja apa yang papa katakan. Biarkan saja di makan malam bersama kita malam ini," kata Chacha berusaha menjadi penengah.
"Maafkan aku. Jika kalian keberatan untuk makan malam bersama dengan aku, aku tidak akan makan malam dengan kalian. Kalian tenang saja. Aku tidak akan merusak suasana makan malam keluarga kalian," kata Lisa berucap dengan nada sedih.
"Lisa. Kamu jangan dengarkan apa yang Bastian katakan. Tidak akan merusak momen makan malam keluarga jika kamu ikut makan bersama kami. Kita akan makan bersama. Iya kan Cha?" tanya papa pada Chacha.
__ADS_1
"Iy--iya, Pa." kata Chacha sedikit gelagapan. Dia tidak tahu apa tujuan papa menanyakan itu padanya. Yang jelas, dia mencium ada sesuatu yang tidak beres.
'Jadi, dia Chacha? Wanita yang tante Sarah katakan seperti ular berbisa. Pandai berekting juga bermuka dua. Tapi ... sepertinya dia tidak sama dengan yang tante Sarah katakan. Dia lebih terlihat seperti wanita lemah yang gampang ditindas juga terlalu polos,' kata Lisa dalam hati sambil terus mengamati Chacha.
'Kenapa ini gadis? Sepertinya ia sedang mengamati aku. Heh, kita lihat saja nanti,' kata Chacha juga bicara dalam hati.
"Oh ya, jadi ini yang namanya Chacha? Kita belum kenalan. Kenalin, aku Lisa kak Chacha," kata Lisa sambil mengulurkan tangannya.
'Kakak?' tanya Chacha dalam hati.
'Heh, kamu panggil aku kakak, sedangkan Bastian kamu panggil nama. Lucu sekali. Sepertinya, kamu ingin merendahkan aku dari kata-kata yang kamu ucapkan. Cepat sekali dia memulai peperangan,' kata Chacha lagi.
"Salam kenal dede. Nama kakak Chacha. Kakak istrinya kak Bastian," kata Chacha sambil memeluk bahu Bastian yang sedang duduk di kursi roda.
Mendengarkan apa yang Chacha jawabkan, Bastian ingin tertawa, tapi ia tahan. Begitu juga mama Merlin. Ia berusaha menahan tawanya agar tidak lepas. Sedangkan Lisa, ia menahan wajah kesal agar tidak terlihat. Niatnya untuk membuat Chacha merasa malu dengan memanggil kakak, ternyata tidak berhasil. Malahan, dia yang di permalukan.
"Sudah-sudah, ayo kita makan sekarang. Ini sudah masuk waktu makan malam. Nanti kita sambung pembicaraan kita lagi," kata papa menjadi penengah.
Chacha mendorong kursi roda Bastian menuju meja makan. Merlin berjalan di samping Chacha. Sedangkan Lisa, ia masih belum beranjak dari tempatnya. Ia masih berdiri menahan rasa kesal.
'Ternyata, tante Sarah benar. Dia wanita ular yang pandai berekting, juga bermuka dua. Aku harus lebih pandai memainkan sandiwara ini. Jangan sampai kalah darinya. Kamu lihat saja Chacha, aku tidak akan menyerah. Kamu tidak tahu siapa aku? Aku adalah pemeran terbaik dalam sandiwara. Juga perusak rumah tangga terbaik yang pernah ada. Sudah banyak rumah tangga yang aku rusak. Dan sekarang, aku pastikan kalau akulah pemenang dalam pertunjukan kali ini,' kata Lisa dalam hati sambil tersenyum licik melihat kearah Chacha.
Melihat Lisa yang tidak beranjak dari tempatnya, papa pun memanggil Lisa.
"Lisa, kok kamu masih di situ?"
"Eh, maaf om. Lisa pikir, Lisa tidak dibutuhkan di sini. Jadi, untuk apa Lisa ikut ke meja makan. Orang Lisa bukan anggota keluarga Hutama," kata Lisa dengan wajah sedih.
"Lisa. Kita makan bersama ya. Tidak perlu merasa tidak enak seperti itu. Kamu datang dari jauh. Kamu adalah tamu di keluarga ini. Jadi, ayo makan bersama. Tidak baik kalo kamu tidak ikut makan. Nanti, dikira, keluarga Hutama tidak tahu menghormati tamu lagi.
"Tapi om Lisa .... "
__ADS_1
"Sudah Lisa. Ayo!"
"Baik om."