Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 107


__ADS_3

Lisa memikirkan apa yang Sarah katakan. Benaknya membenarkan perkataan Sarah barusan. Yang perlu dia lakukan adalah, menikah dengan Bastian dan kuasai hartanya. Dengan begitu, ia akan memiliki kuasa atas semua harta yang Bastian miliki.


"Tante benar. Aku hanya perlu menikah dengan Bastian. Tapi, gimana caranya agar aku bisa menikah dengan Bastian, sedangkan si Bastian itu sangat galak dan tidak mudah untuk di dekati," kata Lisa sambil berjalan mendekati Sarah.


"Gampang. Kamu hanya perlu menggodanya dengan tubuhmu. Seekor kucing tidak mungkin tidak suka ikan, Lisa. Bastian itu laki-laki, dia pasti tidak akan sanggup menahan godaan dari seorang wanita," kata Sarah sambil tersenyum licik.


"Ah, iya benar. Tante benar, aku akan lakukan apa yang tante katakan. Tunggu saja hasilnya nanti," kata Lisa sambil tersenyum penuh semangat.


Saat itu, Sarah mencium bau pesing yang semakin menyengat. Dia tidak kuat untuk menciumnya. Sarah menutup hidungnya dengan tangan.


"Uh, bau banget, Lisa. Bau pesing ini ternyata dari kamu!" kata Sarah sedikit berteriak.


"Kamu kok bisa ngompol sih? Udah besar, gak malu masih ngompol."


"Ini semua karena hantu yang ada di apartemen ini. Berani-beraninya dia mengganggu aku," kata Lisa dengan wajah sangat kesal.


"Ha ha ha ... kamu ini ada-ada saja. Apartemen mewah begini gak akan ada hantu. Palingan, kamu di kerjain tuh sama seseorang."


"Di kerjain?"


Lisa memikirkan dengan seksama apa yang Sarah katakan. Ia mengingat beberapa hari yang lalu. Saat pertama kali dia tinggal di apartemen ini. Saat itu juga ada kejadian mati lampu karena listrik mati semua. Tapi, saat itu tidak ada kejadian apa-apa. Semuanya baik-baik saja setelah lampu menyala.


"Ya, tante Sarah benar. Ada seseorang yang sedang mengerjai aku sekarang. Huh, lihat saja aku akan mencari tahu orangnya dan memberikan balasan buat oran itu," ucap Lisa sambil mengepalkan tangannya.


"Terserah kamu deh. Yang penting sekarang kamu bersihin dulu badan kamu. Cih, bau banget," kata Sarah sambil mendorong Lisa ke kamar mandi.


"Ada yang ngerjain Lisa. Apa orang suruhan Bastian, ya?" tanya Sarah setelah Lisa menutup pintu kamar mandi. Ia jadi memikirkan apa yang telah terjadi pada Lisa.


Di sisi lain, Danu baru saja tiba di kontrakan Lula. Lula yang sudah siap dari tadi, menunggu Danu di depan teras rumah.


"Udah lama nunggunya?" tanya Danu sambil berjalan mendekat.


"Gak kok, baru beberapa menitan," jawab Lula sambil tersenyum manis.


"Berangkat sekarang?"


"Ayok," ucap Lula sambil bagun dari duduknya.


Danu menjalankan mobil meninggalkan kontrakan Lula. Taman kota menjadi tujuannya.


"Kita mau ke mana, Mas Danu?" tanya Lula penasaran.

__ADS_1


"Pergi ke suatu tempat."


"Suatu tempat? Tempat apa?"


"Nanti kamu akan tau."


"Oh." Lula menjawab singkat.


Tiba di taman kota, Danu menghentikan mobilnya di parkiran.


"Kita ke taman kota?" tanya Lula sambil membuka pintu mobil.


"Ya."


"Ngapain ke taman kota sih mas Danu?"


"Kenapa? Kamu gak suka?"


"Bukan gak suka, mas Danu. Gak lihat tuh, banyak muda-mudi sedang memadu kasih. Risih lihatnya," kata Lula sambil melihat sekeliling.


"Risih, atau cemburu?" tanya Danu dengan nada menggoda.


"Cemburu? Kenapa aku harus cemburu?" tanya Lula sedikit merona. Namun, ia berusaha menyembunyikan apa yang ia rasa.


"Ih, nggaklah. Mana ada rasa seperti itu dalam hati seorang Lula."


Mereka terus ngobrol, sampai menemukan kursi paling pojok yang kebetulan, yang duduk di kursi itu baru saja beranjak pergi.


"Duduk di sini?" tanya Danu pada Lula.


"Boleh."


Merekapun duduk, sambil tidak lupa terus bicara juga bercanda. Danu berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya pada Lula. Sampai akhirnya, ia merasa sudah utuh keberanian itu, barulah ia mencoba mencari celah untuk bicara pada Lula.


"La, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan padamu."


"Apa, mas Danu?"


"Kamu janji jika aku bicara, kamu tidak akan mengubah sikapmu padaku?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Jika kamu tidak suka dengan apa yang aku katakan ini, kamu janji, jangan ubah sikapmu padaku."


"Ya mau ngomong apa dulu? Tergantung sama apa yang mas Danu omongkan. Jika hal itu bikin aku sakit hati, jelas aku tidak bisa tidak mengubah sikapku pada mas Danu. Orang mas Danu udah bikin aku kecewa."


"Mm ... kalo gitu, lain kali sajalah."


"Lho, kok lain kali sih mas Danu. Jangan buat aku penasaran dong, mas."


'Ya Tuhan, rasanya berat banget buat ngomong kalo aku suka dia. Itu kata-kata yang simpel tapi kenapa rasanya sulit untuk aku utarakan?' tanya Danu dalam hati.


"Mas Danu." Lula memanggil sambil menyentuh pundak Danu.


"Ya." Danu menjawab dengan cepat karena kaget.


"Yah, kenapa malah bengong sih, mas? Katanya mau ngomong. Ayo ngomong! Jangan bikin aku penasaran terlalu lama dong, mas."


'Baiklah, mungkin ini saat yang paling tepat,' kata Danu dalam hati sambil menatap Lula.


"Lula, aku suka kamu. Mau gak kamu jadi pacar aku?" kata Danu langsung sambil menggenggam tangannya.


"Oh, cuma mau bilang itu? Aku pikir mau ngomong apa tadi," kata Lula santai seperti tidak ada kejadian.


"Apa!" Lula kaget bukan kepalang setelah ia sadar dengan kata-kata yang Danu ucapkan barusan.


"Mas Danu ngomong apa barusan!" tanya Lula sangat kaget dengan sedikit berteriak membuat yang mendengar teriakan itu, semuanya melihat ke arah mereka berdua.


Danu merasa malu akibat ulah Lula barusan. Ia menutup wajahnya dengan tangan. Sedangkan Lula, ia nyengir kuda dengan senyuman tidak enak karena malu telah menjadi pusat perhatian.


"Maaf semuanya. Maaf," kata Lula sambil nyengir pada yang melihat mereka berdua.


"Maaf mas Danu. Aku terlalu berlebihan. Mas Danu beneran mau aku jadi pacarnya mas Danu?"


"Ya. Aku serius ingin kamu jadi pacarku. Apa kamu bersedia?" tanya Danu penuh harap.


"Maaf mas Danu. Lula tidak bersedia."


"Ti--tidak bersedia? Oh, ya--ya sudah. Gak papa. Aku tidak memaksa," kata Danu dengan perasaan gugup campur aduk karena penolakan Lula.


"Apa mas Danu tidak ingin tahu apa alasannya?" tanya Lula mulai memasang wajah sedih.


"Aku hanya perlu tahu kamu bersedia atau tidak, Lula. Soal alasannya, aku tidak perlu tahu. Karena alasan itu adalah hak kamu. Hak kamu menolak, juga hak kamu menerima. Aku cukup tahu, cinta tak bisa di paksa. Cinta juga tidak harus memiliki."

__ADS_1


"Tapi mas Danu, cinta juga butuh pengorbanan. Jangan cuma tahu mencintai, tapi tidak mau berkorban buat cinta," kata Lula dengan wajah kesal.


__ADS_2