
Melihat ekspresi pasrah yang Chacha tunjukkan, Bastian merasa tidak sampai hati untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan. Hatinya mendadak geli dengan ekspresi wajah pasrah tersebut. Bastian tertawa. Ia tertawa sambil melihat wajah Chacha.
"Ha ha ha."
Chacha yang melihat Bastian tertawa, menjadi kesal sekarang. Wajahnya cemberut, manyun sambil menatap tajam wajah Bastian.
"Sayang, kamu lucu."
"Mas pikir aku badut?" tanya Chacha kesal.
"Nggak kok sayang. Lucu itu gak harus badut, kan?"
"Terserah mas saja. Mas bisa tertawa sampai besok di sini. Aku mau ke kamar mandi," ucap Chacha sambil bangun dari baringnya.
"Kamu mau ke kamar mandi?"
"Iya." Chacha menjawab singkat.
"Gak ajak aku?"
Chacha tidak menjawab. Ia hanya memasang wajah kesal sambil melihat Bastian. Tubuhnya terasa sakit namun ia paksakan untuk bangun.
Saat ingin meninggalkan ranjang, ia menarik selimut agar ia bisa membawa selimut itu pergi bersamanya ke kamar mandi. Tapi sayangnya, selimut itu juga selimut yang menutupi tubuh Bastian.
Saat Chacha menarik selimut itu, tubuh Bastian yang tidak menggunakan sehelai benang pun, terlihat dengan jelas. Melihat hal itu, sontak, Chacha kaget. Ia menjerit sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Mas, kamu apa-apaan sih?" Chacha berucap dengan nada kesal.
"Lho, ada apa dengan aku, sayang?" tanya Bastian tetap dengan nada menggoda sambil bangun dari baringnya. Ia mendekati Chacha yang masih berdiri di samping ranjang dengan menutupi wajahnya.
"Mas, jangan mendekat. Kamu gak malu apa sama aku?"
"Malu? Ya nggaklah. Kenapa aku harus malu? Kamu itu istriku, Cha. Dan selanjutnya, kamu akan terbiasa melihat aku seperti ini. Se-la-lu." Bastian bicara kata selalu sambil berbisik di telinga Chacha. Membuat bulu kuduk Chacha menjadi merinding.
"Ya tapikan, kamu gak harus seperti itu juga dong."
"Salah siapa coba? Bukankah kamu yang menarik selimut ini? Sampai-sampai, aku tidak punya sesuatu lagi untuk menutupi tubuhku."
"Ya ... ya sudah, mas. Aku mau mandi dulu," ucap Chacha sambil beranjak ingin meninggalkan Bastian. Namun sayang, Bastian menarik tubuh Chacha dengan cepat sehingga mereka berdua sama-sama terjatuh di atas ranjang.
__ADS_1
Untuk sesaat, mereka terdiam saling tatap dengan degup jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Walaupun sudah melakukan malam pertama dalam pernikahan mereka, tapi tetap saja, rasa itu tetap sama. Sama seperti baru beberapa waktu bersama.
Ketukan di pintu kamar menyadarkan mereka berdua dari tatap-tatapan yang masih belum usai. Dengan cepat, Chacha bangun dari baringnya. Ia segera berjalan cepat menuju kamar mandi, meninggalkan Bastian yang masih terbaring di atas ranjang. Ia abaikan siapa orang yang berada di luar pintu kamar hotel itu. Karena dia tahu, siapapun yang ada di sana, dia tidak mungkin melihat orang tersebut. Karena ia pasti akan sangat malu jika dilihat oleh siapapun.
Sementara Chacha masuk ke dalam kamar mandi, Bastian bangun dari baringnya. Kemudian, ia menyambar handuk untuk menutupi tubuh sebelum membuka pintu kamar tersebut. Karena tidak mungkinkan untuk ia memasang bajunya lagi. Seseorang yang mengetuk pintu kamar itu bisa-bisa jamuran menunggu Bastian membuka pintu kamar.
"Sebentar," ucap Bastian sambil berjalan menuju pintu.
Saat Bastian membuka pintu, seorang laki-laki sedang berdiri membelakanginya. Orang itu seperti tidak asing lagi di benak Bastian. Namun, ia melupakannya.
"Ada apa?" tanya Bastian.
Laki-laki itu memutar tubuhnya. Bastian merasa kaget ketika melihat laki-laki itu. Begitu juga dengan laki-laki itu. Matanya sedikit melotot ketika melihat Bastian di hadapannya.
"Dimas." Bastian memanggil dengan nada tak percaya.
"Tuan Bastian."
"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Bastian dengan nada tidak suka.
"Maaf tuan Bastian, saya datang ke sini hanya untuk mengantarkan sarapan saja. Saya tidak menyangka kalau kamar ini adalah kamar tuan Bastian."
"Mengantarkan sarapan?" tanya Bastian penuh rasa curiga. Rasa cemburu menyelimuti hati. Sehingga menimbulkan prasangka buruk dalam benaknya.
"Benarkah?"
"Ya, tuan muda. Oh ya, bagaimana kabar tuan muda? Bagaimana kabar .... " Dimas tidak melanjutkan pertanyaannya, karena melihat ekspresi wajah tidak senang yang Bastian tunjukkan.
"Kabar siapa?" tanya Bastian dengan kesal.
"Nona Chacha. Bagaimana kabarnya?"
"Untuk apa kamu tanya kabar istriku? Sudah pasti dia baik-baik saja."
"Bagus deh kalo gitu. Oh ya, ini sarapannya," kata Dimas sambil menyerahkan apa yang ia bawa. Bastian menerima dengan wajah tidak enak dilihat.
"Oh ya, saya permisi dulu tuan Bastian. Masih ada banyak pekerjaan yang harus saja kerjakan. Titip salam buat .... "
"Siapa?" tanya Bastian dengan nada tinggi yang terdengar sangat galak dan menakutkan.
__ADS_1
"Tidak ada. Saya permisi dulu tuan Bastian," kata Dimas sambil beranjak meninggalkan Bastian.
Setelah Dimas meninggalkan kamar mereka. Bastian masuk ke dalam. Chacha baru saja keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan handuk karena ia terlupa membawa baju ganti ke dalam.
"Siapa tadi, mas?" tanya Chacha penasaran.
"Tukang antar sarapan."
"Oh." Chacha menjawab singkat sambil berlalu melewati Bastian.
"Cha."
"Hem." Langkah Chacha terhenti karena panggilan itu.
"Ada apa, mas?"
"Kamu cantik sekali pagi ini," kata Bastian menggoda.
"Mas, jangan mulai lagi. Aku tidak ingin bermain-main sama kamu lagi. Sekarang, cepat mandi. Kita akan sarapan sama-sama. Terus pergi jalan-jalan."
"Baiklah yang mulia ratu. Saya akan dengarkan apa yang Yang mulai ratu katakan. Kita akan lanjutkan main-mainnya nanti malam, oke."
"Mas! Ih." Chacha berucap kesal. Namun, Bastian sudah meninggalkannya saat itu.
_____
Seperti yang Chacha katakan, mereka jalan-jalan setelah sarapan bersama di kamar hotel tersebut. Namun, Chacha jalan-jalan dengan menggunakan syel karena bekas ****** terpampang jelas di lehernya.
"Nona Bastian tidak gerah ya? Kok pakai syel panas-panas begini?" tanya sopir itu merasa aneh melihat Chacha.
"Gak kok pak. Saya gak gerah. Saya dingin malahan."
"Beneran gak gerah, sayang? Tapi kok kayaknya kamu berkeringat," kata Bastian sambil mengelap keringan yang ada di dahi Chacha.
"Ih, mas." Chacha menatap Bastian dengan tatapan tajam karena dia kesal. Bastian sudah mengerjainya dengan pura-pura tidak tahu. Padahal, itu ulah Bastian sendiri.
"Oke-oke, aku minta maaf. Aku yang salah," kata Bastian sambil tersenyum geli dengan wajah kesal yang Chacha perlihatkan.
Selama dalam mobil, Chacha dan Bastian terus saja bercanda. Sedangkan sopir itu hanya tersenyum ikut merasakan kebahagiaan dari sepasang suami istri yang sedang menikmati waktu bersama mereka.
__ADS_1
Seperti yang telah di katakan, Chacha berkunjung ke taman bunga tulip. Lalu, ia pergi ke kanal amsterdam, kemudian. Karena hari sudah sore, mereka memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalannya besok lagi.
Sementara itu, di sisi lain, Dimas yang baru saja pulang dari bekerja, duduk di ruang keluarga sambil menikmati segelas teh.