Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 57


__ADS_3

Melihat Bastian yang begitu kesakitan. Cahcha tidak bisa menahan diri. Perlahan, air matanya jatuh. Sakit yang Bastian rasakan, tiba-tiba saja menciptakan rasa sakit dalam hati Chacha.


Bastian segera di bawa ke ruangan Hendra. Seperti biasa, ia tidak suka di rawat di ruangan khusus pasien. Hendra sudah sangat hafal apa yang tidak sahabatnya sukai.


"Cha, sebaiknya, kamu dan Danu tunggu di luar saja," kata Hendra setelah mereka sampai depan pintu.


"Mengapa aku tidak boleh masuk ke dalam?" tanya Chacha.


"Bastian pasti tidak akan mau aku obati jika kamu ikut masuk. Dia tidak ingin siapapun melihat dirinya yang sedang diobati. Dia pikir, orang-orang akan melihat dirinya dengan tatapan menyedihkan."


"Ya sudah kalo begitu. Aku akan tunggu di sini. Aku mohon, tolong dia."


"Kamu tenang saja. Aku pasti akan melakukan yang terbaik buat Bastian."


Chacha menunggu dengan gelisah di depan pintu masuk. Ia terus saja melihat pintu dan berharap, Bastian segera keluar dari pintu itu.


"Nona bos, sebaiknya duduk dulu. Kondisi kesehatan nona bos masih belum stabil," kata Danu.


"Aku gak papa, Danu. Kamu gak perlu mengkhawatirkan aku. Yang harus kamu khawatir saat ini itu Bastian. Kenapa Hendra dan Bastian begitu lama di dalam?"


"Nona bos tenang aja, bos muda pasti baik-baik aja. Aku tahu siapa bos muda, dia laki-laki yang kuat."


"Aku gak bisa tenang Danu. Kamu gak lihat bagaimana dia kesakitan?"


Kini, Danu tidak punya kata-kata untuk menjawab. Ia hanya bisa melihat wajah cemas dari Chacha yang tergambar dengan sangat jelas.


'Sepertinya, nona bos sangat khawatir dengan bos muda. Sama seperti bos muda yang begitu cemas ketika melihat nona bos sakit. Sepertinya, sudah ada bunga cinta yang mekar di dalam hati mereka. Hanya saja, mereka sama-sama belum mengakuinya,' kata Danu dalam hati.


Sementara itu, di dalam ruangan Hendra, Bastian sedang berbaring di atas tempat tidur yang biasa Hendra gunakan untuk istirahat. Ia masih menderita menahan rasa sakit yang ia alami pada kakinya.


Tidak banyak yang bisa Hendra lakukan, ia hanya bisa memberikan suntikan pereda sakit. Itupun dosisnya tidak seberapa. Karena sakit Bastian sudah tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya, selain dengan cara operasi.


"Bastian, sebaiknya kamu lakukan apa yang aku sarankan padamu," kata Hendra.

__ADS_1


"Sudah, jangan banyak omong. Kamu sudah tahu bukan, apa keputusanku?"


"Tapi Bas, kamu gak bisa selamanya menahan rasa sakit ini."


"Apa kamu bisa jamin aku sembuh total? Nggak kan?"


"Aku memang tidak bisa jamin. Tapi setidaknya, sakit yang kamu rasakan akan hilang. Dan kamu juga bisa jalan lagi, Bastian." Hendra berucap dengan nada kesal.


"Jika kamu tidak bisa menjamin aku akan sembuh total, maka jangan banyak bicara. Yang kamu katakan itu hanya kemungkinan lima puluh persen dari keberhasilan operasi saja bukan? Jika gagal, maka akan sama saja. Aku masih akan tetap jadi laki-laki lumpuh yang harus hidup di atas kursi roda."


"Bastian. Kamu tidak akan tahu apa hasilnya jika kamu tidak mencoba. Keberhasilan lima puluh persen itu sudah sangat besar, Bastian. Mereka yang memiliki keyakinan dan semangat untuk sembuh, dua puluh persen dari kemungkinan saja mereka coba. Kamu .... "


"Diam Hendra. Aku tidak ingin terlalu berharap. Aku tidak ingin hatiku kecewa seperti yang terjadi .... " Bastian menggantungkan kalimatnya.


"Seperti siapa? Mona? Kamu selalu begitu Bastian," kata Hendra beranjak dari tempatnya meninggalkan Bastian yang masih terbaring.


Ketika membuka pintu, Chacha sudah menunggu di depan dengan wajah cepat. Chacha langsung menghujani Hendra dengan pertanyaan.


"Bagaimana keadaan Bastian? Apa dia baik-baik saja? Apa dia masih sakit sekarang? Apa .... "


Chacha melihat Hendra dengan tatapan aneh. Sebelumnya, Chacha tidak pernah melihat Hendra dengan raut wajah seperti ini. Kata-katanya juga jauh berbeda dari biasanya. Membuat Chacha menebak-nebak, ada yang tidak beres dengan Hendra.


"Aku permisi dulu, ada pasien yang harus aku cek kondisinya," kata Hendra lagi sambil beranjak pergi meninggalkan Chacha yang masih menyimpan tanda tanya.


Tidak ingin banyak membuang waktu, Chacha memilih langsung masuk ke dalam untuk melihat keadaan Bastian. Ia pun menemukan Bastian yang masih berbaring di atas sofa. Meskipun tidak terlihat menahan sakit, tapi, Bastian sepertinya masih lemah.


"Bastian. Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa kamu baik-baik aja?" tanya Chacha sedikit hati-hati karena takut Bastian mungkin juga sedang kesal sama seperti Hendra.


"Aku baik-baik aja, Cha. Kamu gak perlu cemas. Sebaliknya, kamu harus mencemaskan kondisi kamu sendiri. Kesehatan kamu kan masih belum stabil."


"Bastian, kamu gak lihat aku sudah baik-baik saja. Aku juga sudah bisa jalan dengan kuat tanpa merasa lelah atau sakit. Itu tandanya, aku sudah baik-baik saja."


"Ya sudah kalo gitu, syukurlah. Oh ya, bagaimana rencana kamu ingin melihat makam papamu?" tanya Bastian berusaha mengalihkan perhatian Chacha dari dirinya.

__ADS_1


"Oh iya, aku lupa soal itu," kata Chacha sambil tertunduk sedih karena kembali ingat kalau papanya sudah tiada.


"Sudah. Jangan sedih lagi. Kamu bisa pergi sekarang bersama Danu," kata Bastian sambil menyentuh lembut tangan Chacha.


"Kamu yakin tidak ingin aku temani kamu di sini?"


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Kamu jangan cemas."


"Baiklah kalo gitu," kata Chacha dengan berat hati.


Chacha dan Danu meninggalkan rumah sakit, menuju tempat pemakaman umun yang berada tak jauh dari rumah sakit itu. Danu dengan setia berada di samping Chacha memasuki pemakaman tersebut.


Saat mereka melewati makam-makam, tanpa sengaja, mata Chacha melihat nama yang sangat amat tidak asing lagi baginya. Keke binti Raditya. Nama itu memancing dirinya untuk berhenti.


"Keke?" tanya Chacha. Ingatan Chacha tiada lain selain kakak tirinya.


"Ada apa nona bos?" tanya Danu heran.


"Tidak ada. Aku melihat nama yang sangat persis dengan nama Keke. Ini sangat kebetulan sekali."


"Kebetulan, atau mungkin memang makamnya nona Keke, nona bos."


"Apa! Kamu ini bercanda apa Danu? Aku memang gak baik dengan kak Keke. Tapi, kamu gak boleh juga nyumpahin dia cepat mati," ucap Chacha polos.


"Nona bos gak tahu kalo nona Keke sudah meninggal?" tanya Danu tanpa memikirkan apa akibat dari kata-kata yang ia ucapkan.


"Apa maksud kamu?" tanya Chacha mulai memasang wajah serius.


"Nona Keke sudah meninggal satu minggu yang lalu nona bos. Ia dan mamanya terlibat kecelakaan dengan truk yang bermuatan tinggi."


"Tidak! Aku tidak percaya," kata Chacha mulai panik lagi.


"Ma--maafkan saya nona bos. Sa--saya .... "

__ADS_1


"Benarkah apa yang kamu katakan itu?" tanya Chacha sekedar memastikan.


__ADS_2