
Acara pertunangan Danu dan Lula di adakan di panti asuhan. Panti tempat di mana Lula di besarkan. Meskipun acara tidak terlalu mewah, tapi suasana pesta terasa sangat membahagiakan.
"Selamat, ya Danu, Lula. Semoga tidak ada halangan hingga sampai ke pelaminan," kata Chacha sambil menyalami Danu dan Lula secara bergantian.
"Amin. Makasih banyak nona Chacha," kata Lula sambil tersenyum.
"Terima kasih, nona bos," ucap Danu pula.
"Selamat Danu, Lula. Semoga kalian bisa sabar sampai satu bulan ke depan," kata Bastian menggoda Danu.
"Bos muda," ucap Danu dengan nada kesal yang di buat-buat.
Ya, tempo dari pertunangan menuju hari pernikahan hanya berselang satu bulan. Itu permintaan Lula. Karena Lula tidak ingin lama-lama bertunangan. Ia ingin berpacaran setelah menikah saja. Tidak ingin terlalu lama mengikat status pertunangan karena dalam pertunangan terlalu banyak halangan. Begitu cerita yang ia dengar dari teman-temannya.
Saat kerabat dekat Bastian semuanya berbahagia. Sarah dan kerabatnya pula yang merasa kesedihan juga sakit hati.
Di kantor polisi, Siska dan Dedi menemui Sarah untuk berpamitan. Mereka akan pulang ke luar negeri siang ini.
"Mbak," ucap Sarah yang baru saja di keluarkan polisi dari dalam sel.
"Sarah (tante)," ucap Siska dan Dedi secara bersamaan.
"Mbak, Dedi." Sarah mencoba tersenyum pada keduanya. Walau, rasa senyum itu terlalu pahit buat Sarah.
"Akhirnya, kalian datang juga, mbak, Dedi. Aku sudah tidak kuat lagi berada di sini. Tolong bebaskan aku mbak, Dedi."
Siska dan Dedi saling pandang. Mereka sebenarnya sangat sedih melihat keadaan Sarah yang begitu menyedihkan saat ini. Tapi, apalah daya. Mereka tidak punya kekuatan untuk menolong.
"Tante, maaf. Kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong tante," ucap Dedi dengan nada menyesal.
"Sarah, kami .... "
Perkataan Siska terputus saat melihat sudut bibir Sarah yang pecah. Terlihat memar di sana.
"Sarah! Apa yang terjadi?" tanya Siska dengan nada tinggi sambil menyentuh pipi Sarah.
__ADS_1
"Tidak ada tante. Aku tidak mau berlama-lama di dalam sana. Aku mohon mbak, tolong aku. Lakukan segalanya untuk menolong aku, mbak. Jika perlu, jual semua harta yang aku punya. Rumah, apartemen, apa saja yang penting bisa membebaskan aku. Aku mohon," kata Sarah sambil menegang kedua tangan Siska.
"Sarah, maafkan mbak. Ini bukan soal uang. Tapi ini soal siapa yang sedang kamu hadapi. Maaf, mbak tidak bisa berbuat banyak untuk menolong kamu." Siska menundukkan kepalanya tak sanggup untuk melihat wajah kecewa Sarah.
Perlahan, Sarah melepaskan pegangan tangannya. Ia menyeka air mata yang jatuh perlahan melintasi kedua pipinya.
"Gak papa, mbak. Maafkan aku yang sudah banyak menyusahkan, mbak."
"Tante."
"Dedi, jangan pikirkan tante. Ini memang sudah nasib tante. Ini adalah balasan atas apa yang telah tante lakukan dahulu. Jadi, jangan sedih. Setiap perbuatan pasti ada balasannya bukan?" ucap Sarah berusaha kuat padahal sebenarnya, ia sangat rapuh. Apalagi saat mengingat apa yang ia lakukan dahulu.
"Mbak akan bantu sebisa mbak, Sarah. Bantuan mbak memang tidak akan bisa membebaskan mu dari jeruji besi ini, tapi, mungkin bisa meringankan hukuman mu nantinya. Untuk itu, mbak dan Dedi akan pulang dulu hari ini. Kami akan berangkat nanti siang."
"Jadi, mbak ke sini sebenarnya untuk berpamitan?" tanya Sarah semakin sedih namun tidak ia tunjukkan.
"Ya." Siska menjawab singkat.
"Mbak dan Dedi harus kembali dahulu. Nanti, mbak pasti akan mendampingi mu saat kamu di persidangan nanti."
Seorang polisi datang menghampiri mereka. Polisi itu datang untuk mengingatkan kalau waktu besuk sudah habis. Polisi itu akan membawa Sarah kembali ke dalam sel.
"Sarah," ucap Siska sambil bangun dari duduknya. Hatinya terhiris saat melihat adik yang ia sayangi di bawa polisi kembali ke dalam sel.
"Hati-hati, mbak, Dedi. Kalian harus baik-baik saja saat dalam perjalanan," ucap Sarah sambil berjalan meninggalkan Siska dan Dedi.
_____
Lisa yang merasa kehilangan Sarah, sekarang mencoba menghubungi Sarah lewat ponselnya. Namun, ia sudah menghubungi Sarah beberapa kali, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Ke mana tante Sarah? Tumben gak ada kabar," kata Lisa sambil mengutak-atik layar ponselnya.
"Aku heran deh sama semua orang akhir-akhir ini. Tante Sarah tiba-tiba menghilang, Danu sama Bastian, juga sering pergi-pergi bahkan terkadang gak masuk sama sekali ke kantor. Ini ada apaan sih sebenarnya?" tanya Lisa pada diri sendiri.
Lisa berulang kali mencoba mencari tahu ada apa dengan Danu dan Bastian. Namun, bukannya mendapatkan informasi, yang ada, dia yang mendapat masalah. Minarti selalu saja memberi hukuman padanya jika ia ketahuan sedang mencari tahu tentang Danu, apalagi Bastian.
__ADS_1
"Tante Sarah, tante Sarah. Kamu itu ke mana sih? Kok tiba-tiba menghilang saat aku butuhkan," kata Lisa benar-benar pusing sekaligus kesal.
"Aku itu mau ngasih tahu kamu sebuah rencana. Kamu nya malah hilang gitu aja," kata Lisa lagi.
Lisa kesal. Ia ingin bertemu langsung dengan Sarah, tapi tidak tahu di mana alamat tempat tinggal Sarah.
"Kalau begini, kamu jangan salahkan aku, tante Sarah. Aku terpaksa bergerak sendiri, juga menikmati hasilnya sendiri nanti."
___
Ulang tahun Hutama grup akhirnya tiba. Ruangan kantor di dekor sedemikian rupa agar terlihat indah. Banyak balon di mana-mana. Semua terkesan sangat mewah juga indah.
Makan siang bersama, akan diadakan siang ini. Seluruh karyawan ikut merayakan ulang tahun dengan makan siang bersama, tanpa terkecuali.
Akhirnya, apa yang Lisa nanti-nantikan tiba juga. Ulang tahun Hutama grup adalah kesempatan emas untuk ia menjalankan rencananya untuk mendekati Bastian.
Lisa datang lebih awal hanya karena ingin duduk di samping kursi Bastian yang telah di siapkan. Dengan begitu, ia akan lebih mudah untuk mencari celah agar bisa lebih dekat dengan Bastian.
Lima menit menunggu, barulah ada yang datang ke ruangan itu. Dia, Minarti. Seseorang yang ditugaskan Danu untuk menyiapkan semuanya. Setiap tahun, petugas kebersihan adalah orang yang paling sibuk dalam urusan perayaan pesta. Semuanya mereka yang menyiapkan.
"Lisa." Minarti memanggil Lisa karena ia kaget melihat orang paling malas, kali ini datang duluan.
"Ada apa?" tanya Lisa ketus.
"Ngapain kamu di sini?"
"Duduk. Gak lihat ya?"
"Ya aku lihat. Yang aku tanyakan, ngapain kamu duduk di dini sedangkan yang lain sedang bersiap-siap menyambut kedatangan pemilik perusahaan beserta keluarganya."
"Apa kamu bilang? Menyambut?" Lisa kaget. Ia tidak tahu kalau harus menyambut terlebih dahulu baru duduk di sini.
"Ya, kita semua tidak langsung menempati meja makan Lisa. Kita akan mengadakan sambutan terlebih dahulu baru menempati ruangan ini."
"Kenapa gak bilang dari kemarin kalo ada acara sambutan, hah! Buang-buang waktu aja kamu," kata Lisa sangat kesal sambil beranjak dari tempatnya meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1