
Setelah Chacha membuka kotak itu, terlihatlah sebuah dress hijau tua yang sangat indah. Bukan hanya itu, di dalamnya juga ada sebuah jepit rambut hijau dengan bunga berwarna merah.
"Apa maksud Bastian mengirimkan aku barang-barang ini?" tanya Chacha semakin bingung saja.
Bik Maryam yang ikut melihat barang-barang itu, tiba-tiba menemukan selembar kertas di bawah dress tersebut.
"Nona bos, ini sepertinya ada catatan untuk nona bos," kata bik Maryam sambil menyerahkan kertas itu pada Chacha.
Chacha mengambilnya, lalu membuka kertas tersebut. Tertulis pesan singkat di dalam kertas tersebut untuk Chacha.
Istriku sayang, aku ingin kita makan malam bersama malam ini. Sebagai kejutan, aku tidak pulang nanti sore. Aku kirim kamu dress ini agar kamu memakainya ketika kita makan malam bersama. Semoga kamu suka dengan dress yang aku belikan.
salam manis
Bastian.
'Apa benar ini Bastian yang kirimkan?' tanya Chacha dalam hati.
"Ada nona bos? Apa ada yang salah?" tanya bik Maryam ketika melihat Chacha terdiam.
"Tidak ada bik." Cahcah berusaha tersenyum manis.
"Oh, bibi kira, nona bos tidak suka dengan baju ini. Uh, ternyata, bos muda bisa romantis juga," kata bik Maryam sambil tersenyum.
"Kenapa bik? Memangnya, Bastian tidak pernah begini sebelumnya?" tanya Chacha penasaran.
"Setahu bibi sih tidak. Bos muda itu orang yang sulit untuk menciptakan sesuatu yang berbau romantis. Tapi, setelah menikah dengan nona bos, dia jadi berbeda dari yang sebelumnya. Beruntungnya, bos muda menikah dengan nona bos."
"Bibi bisa saja. Aku yang beruntung bisa menikah dengannya. Dia laki-laki yang peka. Ya sudah, aku masuk dulu ya. Ini sudah siang, mau istirahat dulu biar segar jalan-jalan nanti malam," ucap Chacha sambil tersenyum.
"Ya nona bos." Bik Maryam juga ikut bahagia atas apa yang Chacha rasakan sekarang.
Usaha keras yang Lula lakukan ternyata tidak mengecewakan. Sebelum menginjak sore, ia sudah menyelesaikan semuanya.
"Bagaimana bos muda? Apa semuanya sesuai dengan yang bos muda harapkan?" tanya Lula pada Bastian yang datang untuk meninjau restoran tempat mereka akan makan malam.
"Bagus. Ini tempat yang sangat romantis. Oh ya, apa kamu sudah pastikan kalau tidak akan ada tamu yang datang makan di sini malam ini?"
"Tenang saja bos muda. Restoran ini sudah aku booking biar kalian bisa berduaan di sini. Tanpa ada pengganggu seorang pun."
"Bagus. Kamu memang bisa di andalkan."
"Terima kasih bos muda. Tapi, ini tidak akan berjalan lancar tanpa adanya bantuan pak Danu," kata Lula sambil melihat Danu.
"Sudah aku duga," kata Bastian sambil melihat Lula dan Danu secara bergantian.
__ADS_1
"Ada apa, bos muda?" tanya Lula agak takut.
"Kalian berdua cocok jika menjadi pasangan," ucap Bastian sambil tersenyum.
Keduanya tidak bisa menjawab. Hanya mata yang saling tatap mewakili kata-kata. Bastian berjalan mendekati Danu. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Danu.
"Dia ada di sini. Cepat ungkapkan perasaanmu atau dia akan di ambil orang. Perempuan tidak suka menunggu terlalu lama. Ingat itu."
Setelah berbisik kata-kata itu pada Danu, Bastian tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua.
"Aku pergi dulu."
"Ayo Danu, lakukan! Ingat apa yang aku katakan. Jangan sampai menyesal nantinya," kata Bastian sambil melangkah pergi dengan senyum manis yang menggoda Danu.
"Bos muda ngomong apa sih?" tanya Lula penasaran.
"Ti--tidak ada. Hanya bercanda saja," ucap Danu
sangat gugup.
"Oh, aku pikir ada masalah apa. Ya sudah mas Danu, Lula pulang dulu, ya. Capek banget soalnya. Makasih banyak buat hari ini," kata Lula sambil beranjak dari tempatnya.
"Ee ... La. Tunggu!"
Lula menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuh untuk melihat Danu.
"Aku .... "
"Apa?"
"Tidak ada. Cuma mau bilang. Hati-hati."
"Oh. Iya deh." Lula kembali melanjutkan langkahnya.
Sementara Danu, ia menepuk jidatnya dengan kesal. Kesal pada diri sendiri yang tidak berani mengatakan apa yang ingin ia katakan pada Lula. Ia yang tidak punya nyali untuk mengungkapkan perasaan membuat hatinya marah pada diri sendiri.
"Aduh Danu, kamu kok gak punya nyali banget sebagai laki-laki. Apa susahnya cuma bilang suka sama dia. Huh, tinggal ngomong aja susah," kata Danu kesal pada diri sendiri.
Danu pun pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa rasa kesal dalam hati.
Ia menuju mobil, di mana Bastian sudah menunggunya sejak tadi.
"Maaf bos muda, sudah membuat bos muda menunggu lama. Kita ke mana sekarang?" tanya Danu saat ia masuk ke dalam mobil.
"Ke mansion saja. Aku ingin siap-siap di sana."
"Baik bos muda."
__ADS_1
"Oh ya Danu, nanti, kamu bisa istirahat di mansion. Aku bawa mobil sendiri saja."
"Lalu? Siapa yang jemput nona bos, bos muda?"
"Aku sendiri yang jemput Chacha. Kamu bisa istirahat di mansion. Atau ... barangkali kamu bisa kencan dengan Lula."
"Bos muda ... saya sama Lula itu tidak ada hubungan apa-apa. Mana bisa kencan kalo gak ada hubungan."
"Kamu benar-benar tidak ingin ada hubungan dengan Lula? Aku lihat, dia gadis yang baik."
Danu terdiam. Ia tidak punya jawaban untuk pertanyaan Bastian barusan. Bos mudanya yang dingin kini berubah terlalu hangat. Jadinya, ya begini deh. Bisa jadi bos, juga bisa jadi mak comblang, eh, pak comblang. Pikir Danu dalam sambil terus mengendarai mobilnya.
"Danu." Panggilan itu menyadarkan Danu dari lamunannya.
"Ya bos muda. Ada apa?" tanya Danu cepat.
"Kamu itu kenapa sih? Sakit?"
"Tidak bos muda. Saya baik-baik saja."
"Lalu, kenapa kamu melamun?"
"Saya gak melamun kok bos muda."
"Lalu? Kamu mau bawa aku ke mana sekarang?"
"Pulang ke mansion, bos muda."
"Mansion siapa?"
Saat itu, Danu baru sadar setelah Bastian menanyakan padanya tentang mansion siapa. Karena saat ini, mereka sudah jauh melewati mansion keluarga Hutama.
"Ya Tuhan. Maafkan saya bos muda," kata Danu dengan perasaan sangat bersalah.
"Baru sadar kamu ternyata. Aku pikir kamu sedang kesurupan sampai tidak ingat kalau kita sudah sejak tadi melewati mansion. Rencananya, aku ingin mengikuti ke mana kamu membawaku pergi. Tapi aku ingat, malam ini aku ingin kencan dengan istriku. Jika aku ikuti kamu yang sedang kesurupan, maka semua rencana ku akan gagal total."
"Maaf bos muda," kata Danu semakin merasa tidak enak hati.
Di sisi lain, Lisa yang dapat tugas bertubi-tubi dari Minarti, sekarang baru menyelesaikan tugas terakhirnya ketika kantor hampir tidak ada satu karyawan pun selain Minarti dan satpam, juga seseorang yang Danu tugaskan untuk mengawasi Lisa secara sembunyi-sembunyi.
"Kamu mau ke mana lagi?" tanya Minarti yang melihat Lisa bergerak ke arah lain. Bukan menuju pintu keluar kantor.
"Aku ... aku mau mengambil sesuatu di ruangan Bas, maksud aku, bos muda."
"Mengambil sesuatu? Apa?"
"Bos muda meminta aku membawakan file yang tertinggal."
__ADS_1