
Saat Lisa sampai, kebetulan, keluarga Hutama baru saja ingin keluar dari mobil mereka. Dua buah mobil mewah berhenti di depan kantor. Para sopir masing-masing membuka pintu mobil itu dengan sopan.
"Cih, pantas saja tidak ada seorang pun yang datang ke ruangan makan siang itu. Ternyata, mereka berada di sini untuk menyambut keluarga si Bastian," kata Lisa masih saja merasa kesal.
Lisa menyaksikan Merlin dan Herman turun, kemudian, Bastian. Lalu, dengan sangat anggun, Chacha turun dari mobil dengan dandanan yang sangat elegan memukau.
Semua mata tertuju pada nyonya Bastian. Mereka memuji Chacha yang terlihat sangat cantik. Ini untuk yang pertama kalinya mereka melihat istri dari bos muda mereka setelah menikah hampir satu tahun lamanya.
"Wuah, cantik banget. Cocok sama bos muda," kata karyawan yang ada di sana.
"Iya, mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Bos muda ganteng, istrinya cantik banget," ucap yang lain pula.
Masih banyak pujian-pujian lain yang mereka berikan pada Chacha sebagai tanda mereka menggagumi kecantikan dari istri bos muda mereka. Pujian-pujian itu membuat kuping Lisa menjadi sakit akibat kesal.
'Cih, cantik dari mana dia? Lebih jauh cantikan aku dari pada dia,' kata Lisa kesal.
'Lihat saja, akan aku buat kalian merasa menyesal telah memuji istrinya Bastian itu,' kata Lisa lagi.
Merlin dan Herman masuk duluan. Bastian dan Chacha mengikuti mereka dari belakang. Sedangkan di belakang mereka lagi, ada Danu, Lula, Haris, dan semua staf penting dari semua cabang Hutama grup.
Setelah menerima sambutan dari semua karyawan, mereka langsung menuju ruang makan siang yang telah disediakan. Minarti sebagai ketua panita, mengiringi mereka menuju ke ruangan tersebut.
Melihat semuanya ingin menuju ruang makan, Lisa bergegas pergi mendahului mereka. Ia akan menduduki kursinya yang tadi, yang sebelumnya ia pikir, tempat paling bagus untuk mendekati Bastian.
"Lisa!" Panggilan itu membuat langkah Lisa terpaksa terhenti. Ia dengan kesal membalikkan badannya untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Lisa berusaha terlihat manis di depan semuanya.
"Tolong bantu yang lain menyiapkan makanan!" kata Minarti.
__ADS_1
"Apa! Kamu minta aku menyiapkan makanan?"
"Ya. Semua pada sibuk melakukan tugas mereka masing-masing. Sebentar lagi, pemilik perusahaan akan masuk ke ruangan ini. Gak enak jika membuat mereka menunggu lama."
"Tidak. Aku .... "
Tepat saat itu, Merlin dan yang lainnya sampai. Merlin melihat Lisa dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia tidak mengerti mengapa Lisa ada di kantor ini.
"Bastian, ada apa ini?" tanya Merlin meminta penjelasan Bastian.
"Dia bekerja di sini, Ma."
"Apa! Mama gak salah dengar?" tanya Merlin kaget, namun setengah berbisik.
"Tante, om. Aku kangen sama kalian. Kalian apa kabar?" tanya Lisa sambil berjalan mendekat.
"Baik." Merlin menjawab singkat.
"Ayo om, Bastian. Kalian kok pada bengong di sana sih? Ayo semuanya, masuk, kita duduk sambil menunggu hidangan datang," kata Lisa benar-benar bersikap manis layaknya dia adalah orang yang paling dekat dengan keluarga itu.
Mendengar perkataan itu, semua yang ada di depan pintu masuk, segera memasuki ruangan. Mereka menduduki tempat masing-masing. Saat Chacha ingin duduk, Lisa yang berada di sampingnya dengan sengaja menyenggol gelas yang berisi air hingga tumpah mengenai kursi. Kursi Chacha basah.
"Aduh, maaf mbak Chacha, aku gak sengaja," kata Lisa sambil memperlihatkan wajah bersalahnya.
"Kamu gimana sih? Kok bisa ceroboh seperti ini, Lisa?" Merlin kesal, sampai ia lupa menjaga imejnya di depan semua karyawan.
"Maaf tante. Aku gak sengaja."
"Gak papa Lisa. Kamu gak usah merasa bersalah gitu. Aku yakin kamu gak sengaja," kata Chacha bersikap sangat lembut.
__ADS_1
"Ma, udah ya, gak papa. Dia gak sengaja. Kitakan tahu dia gadis paling ceroboh selama ini. Jadi, jangan dipermasalahkan lagi."
'Apa! Dia bilang apa barusan? Dia bilang aku gadis ceroboh. Kurang ajar! Aku ingin dia marah, mengapa sulit sekali mencari amarah perempuan ini?' tanya Lisa dalam hati.
'Kamu benar-benar ingin cari masalah dengan aku, Lisa? Kamu jangan menyesal,' kata Chacha dalam hati.
"Lisa. Apa tidak sebaiknya kamu duduk di tempat lain? Takutnya, kamu malah mencelakai diri jika kamu tetap duduk di sini? Di sini bukan hanya ada gelas yang berisikan air putih, juga ada sup dan makanan panas lainnya. Aku takut jika kamu tidak bisa mengendalikan dirimu. Kamu bisa menumpahkan benda-benda yang berbahaya lagi," kata Chacha sambil menepuk pelan bahu Lisa.
"Kamu .... " Saking emosinya Lisa, ia lupa kalau saat ini dirinya berada di depan orang-orang penting. Ia bangun dari duduknya, lalu ingin memarahi Chacha.
"Chacha benar, Lisa. Kamu tidak perlu marah padanya. Apa yang ia katakan itu adalah bagian dari rasa khawatirnya padamu. Kamu yang terlalu ceroboh, mungkin tidak hanya akan menyakiti dirimu sendiri, tapi juga akan menyakiti orang lain," kata Merlin ikut memainkan peran.
Lisa yang tidak berpikir kalau dia akan mendapat serangan secara beruntun dari anak dan mertua itu, kini harus menelan rasa emosinya. Ia tetap berusaha bersikap semanis mungkin walaupun hatinya terasa sangat kesal.
"Tante sama nona Chacha tidak perlu mencemaskan aku. Aku pasti bisa menahan kecerobohan ku di sini," ucap Lisa sambil tersenyum manis.
"Kamu yakin? Barusan kamu baru saja menumpahkan segelas air ke kursi yang akan Chacha duduki. Jika kamu bisa menahan kecerobohan itu, maka kamu tidak akan melakukannya," kata Merlin.
"Ma, sudah. Ini hari bahagia Hutama grup. Kita juga harus bahagia. Jangan ada perdebatan lagi. Biarkan Lisa tetap duduk di tempatnya," kata Herman.
Merasa dapat pembelaan dari Herman, Lisa sangat bahagia. Ia jadi besar kepala karena merasa Herman menyukai dirinya dari pada Chacha.
'Biarkan kalian berdua tidak suka padaku. Tapi, om Herman ada dalam genggaman ku. Apa pentingnya bagi aku kalian berdua. Yang terpenting itu, tuan besarnya,' kata Lisa dalam hati.
"Bastian, minta seseorang menyiapkan meja lain untuk kita. Karena Chacha tidak bisa menduduki kursi itu, maka kita akan pindah meja. Aku tidak ingin menantuku berada dalam masalah lagi. Aku juga tidak ingin menantuku merasa tidak nyaman di hari bahagia ini. Maka sebaiknya, kita duduk ke tempat lain."
"Baik, Pa."
'Apa! Aku gak salah dengar apa yang Herman tua itu katakan? Mereka mau pindah meja hanya karena takut Chacha merasa tidak nyaman. Gila! Baru aja aku merasa bahagia karena merasa dibela. Ini ... ah, sial sekali,' kata Lisa dalam hati dengan wajah sangat kesal.
__ADS_1
Bastian tersenyum. Ternyata, ia tidak perlu turun tangan untuk membela istrinya. Pembela istrinya sudah sangat ramai. Sampai-sampai, dirinya tidak kebagian kesempatan.