
"Bos muda," kata bik Maryam saat ia membuka pintu untuk Bastian.
"Ada apa, bik?" tanya Bastian ketika melihat wajah bik Maryam yang sepertinya sedang cemas.
"Nona bos .... "
"Ada apa dengan Chacha?" tanya Bastian tak sabar lagi.
"Nona bos kembali ke rumahnya. Katanya, papa nona bos sedang sakit saat ini."
"Apa? Chacha kembali ke rumah? Kok gak ngabarin aku dulu kalo mau pergi?"
"Nona bos kayaknya panik banget bos muda. Makanya gak sempat ngabarin bos muda."
"Bibi kok gak ngabarin aku? Apa bibi juga ikut cemas sampai lupa kasi tahu aku kalo Chacha pergi?"
"Bibi sudah berkali-kali menghubungi bos muda, tapi, bos muda tidak mengangkatnya."
Bastian segera melihat ponselnya. Ternyata benar apa yang bik Maryam katakan, ada beberapa panggilan masuk dari telpon rumah, juga ada beberapa pesan. Tentunya, itu pesan dari nomor Chacha.
"Maaf bik, aku lupa kalo ponselku sedang aku silent."
Bastian membuka pesan itu satu persatu. Ternyata, itu pesan dari Keke, dan balasan pesan yang Chacha kirim ke nomor Keke.
"Dengan apa Chacha berangkat, bik?" tanya Bastian.
"Kayaknya, dengan ojek bos muda."
"Danu. Kita susul Chacha sekarang."
"Baik bos muda."
Danu dan Bastian kembali menaiki mobil untuk menyusul Chacha.
"Cepat Danu! Perasaan ku gak enak sekarang."
__ADS_1
"Baik bos muda," kata Danu berusaha mengendarai mobil sedikit lebih cepat.
____
Chacha sudah sampai depan rumah papanya. Ia membayar gojek tersebut dan memberikan uang kembalian pada gojek itu. Abang gojek pun pergi setelah mengucapkan terima kasih.
Chacha mengetuk pintu rumah dengan tak sabar. Bukan bibi yang membukakan pintu untuk Chacha, melainkan Keke. Tidak seperti biasanya, selalu bibi yang membukakan pintu.
Meskipun ada kejanggalan. Namun Chacha tidak sedikitpun merasakan kejanggalan itu. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah sang papa.
"Di mana papa?" tanya Chacha ketika Keke membuka pintu.
"Di kamar atas."
Tanpa ada rasa curiga, Chacha langsung berjalan menuju kamar atas di lantai dua. Ia menaiki anak tangga dengan terburu-buru tanpa memikirkan apa yang akan terjadi padanya.
Ketika sampai pada anak tangga terakhir, Sarah memperlihatkan dirinya di depan pintu menuju lantai dua. Chacha masih tidak peka dengan keadaan. Ia masih tidak mencium adanya bahaya yang sedang mengincar dirinya.
"Tante. Di mana papa? Bagaimana keadaannya?" tanya Chacha tak sabaran.
"Papa kamu baik-baik aja. Dia di kantor sekarang," kata Sarah sambil tersenyum licik.
"Duh ... jadi orang kok bego banget kamu Chacha," kata Keke dari bawah.
"Apa maksud kalian? Ada apa ini? Apa yang sedang kalian rencanakan?"
"Pertanyaan yang tidak perlu jawaban. Tapi, aku akan jawab juga agar kamu tidak mati dengan penasaran. Nanti bisa-bisa, arwah kamu gentayangan lagi. Ih ... serem," kata Sarah.
"Kamu mau tahu apa yang sedang kita rencanakan? Kita berdua ingin menyingkirkan kutu busuk pembawa virus kayak kamu," kata Sarah lagi.
"Udah, Ma. Ngapain malah ngobrol sih. Ayo cepat! Nanti keburu dia kabur lagi," kata Keke.
"Iya," kata Sarah sambil tersenyum jahat melihat Cahcha. Sarah berjalan pelan mendekati Chacha.
"Tante mau apa?" tanya Chacha deg-degan.
__ADS_1
"Aku mau apa? Mau dorong kamu." Sarah langsung mendorong Chacha dengan kuat.
"Aaaa .... " Chacha yang tidak bisa menahan dorongan karena memang tidak ada sesuatu untuk ia jadikan pegangan, terjatuh dengan cepat.
Tepat saat itu, Bastian dan Danu baru aja sampai. Mereka langsung masuk ke dalam saat mendengar jeritan.
"Chacha! (Nona bos!)" Bastian dan Danu berteriak secara bersamaan.
Keke yang awalnya sangat bahagia menikmati Chacha yang terjatuh berguling-guling dari satu anak tangga ke anak tangga yang lain, kini kaget bukan kepalang. Wajahnya pucat pasi ketika melihat kedatangan Bastian dan Danu.
Tubuh Chacha tergeletak dengan darah segar keluar dari hidung dan juga kepalanya. Danu segera menghampiri Chacha yang tidak sadarkan diri. Ia tidak menunggu perintah dari Bastian lagi untuk mengangkat tubuh Chacha.
"Dasar manusia sampah! Aku akan tuntun kalian! Kalian tidak bisa lari dari tangung jawab. Aku akan buat kalian membayar apa yang telah kalian lakukan pada istriku," kata Bastian sangat marah.
Ia mengikuti langkah Danu keluar dari rumah sambil mengendong Chacha. Mereka menuju mobil untuk segera membawa Chacha ke rumah sakit.
Setelah Bastian meninggalkan rumah. Barulah Keke bisa menggerakkan badannya. Keke naik ke atas dengan wajah panik yang masih terlihat dengan jelas.
"Bagaimana ini, Ma? Rencana kita gagal total," kata Keke sambil berjalan mondar-mandir tak lupa mengigit kukunya.
"Mama juga tidak tahu," kata Sarah tak kalah paniknya.
"Ini semua salah mama. Mama bilang rencana kita ini paling cantik dan akan berhasil. Sekarang, bukannya berhasil, malah kita yang sedang berada dalam masalah besar."
"Ya mana mama tahu akhirnya jadi begini. Kalo tahu jadi begini juga mama gak akan lakukan rencana ini."
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Aku gak mau masuk penjara. Bastian pasti akan bikin hidup kita sengsara nantinya."
"Mama juga bingung. Kamu jangan tanya mama. Bantu mama mikir apa yang harus kita lakukan sekarang."
"Ah, mana bisa aku mikir. Kepalaku sedang mampet banget."
"Ini semua salah mama. Kalo aja aku gak ikutin ide mama gak gila ini, kita pasti gak akan dalam masalah seperti ini."
"Lho, kok kamu malah nyalahin mama terus-terusan sih. Bukannya bantuin mikir gimana cara kita lolos dari si Bastian itu."
__ADS_1
"Sudah aku bilang, aku gak bisa mikir," kata Keke membentak Sarah.
"Dasar kamu. Maunya cuma enak doang. Giliran mikir cari jalan keluar, gak bisa."