Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 56


__ADS_3

"Ini soal papamu."


"Ada apa dengan papa?" tanya Chacha bingung.


"Papamu sudah meninggal," kata Bastian yang menjawab pertanyaan Chacha.


"Apa! Tidak mungkin. Kalian bercanda kan?"


"Kita gak bercanda, Chacha. Kita serius. Papa kamu meninggal kemarin sore."


"Gak! Papa gak mungkin meninggal. Dia kemarin baik-baik aja. Kenapa bisa meninggal?" tanya Chacha mulai berlinangan air mata.


"Papa kamu bunuh diri, Cha." Hendra menjelaskan.


"Dia loncat dari lantai lima rumah sakit ini."


"Tidak! Tidak! Papa tidak mungkin melakukan hal itu."


Tangis pecah di kamar ini. Chacha benar-benar merasa kehilangan saat mendengar berita kepergian papanya. Ia tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi. Tiba-tiba saja, tubuhnya melemah dan pingsan.


"Chacha!" Bastian dan Hendra berteriak secara bersamaan.


Hendra yang melihat hal itu, dengan cepat menyambut tubuh Chacha. Ia singkirkan rasa tidak enaknya pada Bastian. Karena, Bastian tidak mungkin bisa memberikan pertolongan secepat dia buat Chacha.


"Cha, kamu gak papa kan?" tanya Hendra sambil menggoyangkan wajah Chacha pelan.


Bastian yang melihat hal itu, merasa sangat kesal. Namun, dia bisa apa? Dia tidak bisa menjadi sandaran buat Chacha saat Chacha membutuhkan bahu untuk bersandar.


"Sudah aku katakan, jangan ngomong sekarang!" kata Bastian meluapkan kekesalannya.


"Bas, dia gak papa. Dia hanya syok saja. Syok itu wajar, bagi orang yang tidak kuat menerima kabar buruk secara mendadak."


"Awas! Kalo terjadi apa-apa dengan dia, kamu tahu akibatnya," ucap Bastian semakin kesal.


"Aku jamin gak akan terjadi apa-apa dengan Chacha. Kamu percaya sama aku. Aku inikan dokter."


"Mau sampai kapan kamu terus memeluk istriku?" tanya Bastian tak mampu menahan rasa cemburu lagi.


"Maaf, aku gak bermaksud meluk dia. Cuma ...."


"Cuma apa? Jangan cari kesempatan dalam kesempitan, Hendra."


"Kamu ngomong apa sih? Aku gak akan jadi pagar makan tanaman, Bastian. Kamu tenang aja. Gini-gini, aku masih waras kok."

__ADS_1


Bukannya berusaha menyadarkan Chacha, Hendra malah berdebat dengan Bastian. Chacha yang pingsan karena syok, akhirnya terbangun sendiri setelah Hendra menaruh minyak kayu putih di hidungnya.


"Cha, gimana? Apa kamu merasa baik-baik saja sekarang?" tanya Bastian.


"Aku sedikit pusing. Aku baru saja mimpi buruk. Mimpi tapi kayak nyata," ucap Chacha sambil memegang kepalanya.


"Kamu gak mimpi Cha. Itu semua memang nyata," kata Hendra.


"Hendra! Sudah aku katakan, jangan ngomong lagi!" ucap Bastian begitu kesal.


"Aku tahu itu bukan mimpi. Aku hanya ingin menguatkan hatiku saja sebenarnya," kata Chacha sambil menahan tangis.


"Cha." Hendra melihat Chacha penuh iba. Ia rasanya sangat ingin memberikan bahu sebagai tempat bersandar Chacha. Tapi, ia takut kalo Bastian akan salah sangka lagi. Ia juga merasa tidak enak hati dengan Bastian. Jika saja tidak ada Bastian, ia pasti sudah melakukan apa yang ingin hatinya lakukan.


Chacha menangis tanpa suara. Air mata jatuh dengan sangat deras melintasi pipi. Bastian memegang tangannya dengan lembut. Ia sebenarnya ingin sekali memeluk Chacha. Tapi sayang, ia tidak bisa melakukan hal itu. Kakinya yang lumpuh menjadi penghalang.


"Udah Cha, jangan nangis lagi. Kamu harus kuat. Aku tahu kamu mampu melewati cobaan ini," kata Bastian.


"Kenapa semua yang aku sayang pergi meninggalkan aku? Apa salah aku? Kenapa mereka begitu tega meninggalkan aku sendiri?" tanya Chacha sambil menangis.


"Cha ... kamu gak sendiri kok. Ada aku," kata Hendra.


Bastian rasanya ingin sekali memukul mulut Hendra biar tidak bicara seperti itu. Ia menatap tajam ke arah Hendra yang berada di seberangnya.


Merasa ada yang salah dengan tatapan itu, Hendra baru menyadari apa yang ia katakan. Ia cepat-cepat memperbaiki apa yang baru saja ia katakan.


"Cha, ini cobaan buat kamu. Kamu harus sabar. Kamu gak sendirian. Aku akan selalu ada buat kamu," kata Bastian berusaha memberi semangat.


Cahcha tidak menjawab. Ia terus menangis tersedu-sedu karena mengingat nasibnya yang begitu menyedihkan. Saat kecil, ia kehilangan mama. Setelah dewasa, ia kehilangan nenek dan papa. Harus hati sesabar apa lagi untuk ia terap bertahan dengan semua cobaan ini.


Sesaat kemudian, Chacha sudah bisa mengontrol dirinya. Ia tidak lagi menangis tersedu-sedu.


"Bastian, Hendra, di mana papaku sekarang?"


"Dia .... " Bastian melihat Hendra.


"Dia sudah di makamkan. Maaf, karena .... " Perkataan Hendra terhenti karena Bastian menatapnya dengan tajam. Bastian tidak ingin Hendra mengatakan kondisi papa Chacha.


"Karena apa?" tanya Chacha penasaran.


"Tidak. Maksudku, maaf tidak menunggu kamu dulu."


"Gak papa. Antarkan aku ke tempat papa dimakamkan.

__ADS_1


"Tapi Cha, kondisi kamu masih belum stabil," kata Hendra menolak.


"Aku mohon," kata Chacha dengan wajah memelas.


Hendra melihat Bastian untuk mencari izin dari wajah Bastian. Bastian menganggukkan kepala tanda ia mengizinkan Chacha ke tempat papanya dimakamkan.


"Ya sudah kalo gitu, aku akan antarkan kamu ke tempat papamu dimakamkan," kata Hendra.


"Pakai mobil aku aja," kata Bastian.


"Ya sudah. Ayo!"


Hendra membantu Chacha turun dari ranjang. Bastian hanya bisa menahan rasa cemburu melihat Hendra memapah Chacha. Jika saja dia tidak lumpuh, maka, tidak ia biarkan satu orang pun menyentuh istrinya, termasuk Hendra.


Baru saja keluar dari kamar Chacha, Bastian tiba-tiba berhenti. Ia tiba-tiba merasakan sakit pada kakinya. Sakit yang sangat sulit ia tahan. Bastian mencengkram kuat sisi kursi roda yang ia duduki. Danu melihat ada yang tidak beres dengan bos mudanya, ia segera menghentikan kursi roda yang ia dorong.


"Ada apa bos muda?" tanya Danu ketika melihat wajah Bastian yang basah dengan peluh.


"Gak ... gak ada apa-apa," ucap Bastian hampir tidak terdengar, karena ia sangat kesakitan.


"Tidak mungkin," kata Danu.


"Dokter Hendra .... "


"Jangan Danu. Biarkan Hendra membawa Chacha ke makam papanya. Aku .... "


"Maaf bos muda. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini."


"Dokter Hendra! Tunggu!"


Mendengar teriakan Danu, Hendra segera menghentikan langkahnya. Ia memutar arah untuk melihat Bastian dan Danu.


"Ada apa?"


"Bos muda sepertinya sedang kesakitan."


"Aku ... gak ... pa--pa. Aku ba--ik ... baik sa--ja."


Saat itu, Bastian benar-benar tidak mampu berpura-pura lagi. Sakit yang ia rasakan semakin parah saja. Ia hampir lupa siapa dirinya ketika sakit itu semakin parah.


"Bastian!" Hendra panik ketika ia melihat Bastian yang bermandikan peluh dan wajahnya terlihat sangat pucat.


"Ada apa dengan Bastian?" tanya Chacha ikut panik.

__ADS_1


"Bastian! Kamu kenapa?" Chacha semakin panik saat melihat wajah Bastian dari dekat.


"Aku gak pa--pa. Kamu ja--ngan ce--cemas," kata Bastian sambil berusaha menahan sakit.


__ADS_2