Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 77


__ADS_3

Tidak ada yang bisa Lisa lakukan selain melihat kepergian Bastian yang semakin lama semakin menjauh, hingga hilang di balik pintu masuk mansion.


'Dasar kurang ajar. Berani-beraninya dia memperlakukan aku seperti ini. Benar-benar tidak bisa aku percaya. Lihat saja, aku akan membuat kamu bertekuk lutut di hadapanku Bastian. Tunggu saja kamu,' kata Lisa dalam hati dengan sangat kesal.


"Lisa, aku mau istirahat dahulu. Kamu juga bisa istirahat sekarang. Nanti sore, kamu baru akan di antar sopirku ke apartemen yang akan menjadi tempat tinggal kamu sementara," kata Merlin sambil bangun dari duduknya.


"Baik tante."


"Uh, akhirnya terselesaikan juga masalah ini. Aku bisa lebih tenang sekarang," kata Merlin sambil meninggalkan Lisa.


'Kalian boleh merasa lega sekarang keluarga Hutama. Tapi lihat saja nanti, aku pastikan, kalian bakalan lebih pusing lagi nantinya. Tunggu saja,' ucap Lisa dalam hati sambil melihat kepergian Merlin.


Belum juga Lisa beranjak dari tempatnya, Merlin sudah turun kembali. Ia terlihat sangat buru-buru ketika menuruni anak tangga. Lisa yang melihat hal itu menjadi penasaran.


"Ada apa tante?" tanya Lisa dengan nada manja.


"Tidak ada. Kamu sebaiknya istirahat saja," kata Merlin bergegas menuju pintu.


"Pak Jono, ayo pergi!" Merlin memanggil sopir pribadinya yang sedang duduk di tempat istirahat para pekerja.


"Baik nyonya besar."


'Mau ke mana dia? Kelihatannya buru-buru banget.' Lisa berucap dalam hati sambil mengikuti langkah Merlin dari belakang.


Belum juga mobil Merlin beranjak dari tempatnya, sebuah mobil masuk melewati gerbang mansion. Merlin yang melihat hal itu, membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Ia malahan menunggu mobil yang baru masuk barusan berhenti.


Pelayan membuka pintu mobil itu, dari mobil tersebut, turun seorang laki-laki yang tidak lain adalah papa Bastian. Merlin menyambut papa dengan pelukan hangat. Ia sangat merindukan suaminya yang sudah hampir satu bulan menjalankan bisnis mereka di luar negeri.


"Maafkan mama, Pa. Mama lupa kalo papa pulangnya siang. Mama baru aja mau jemput papa," kata Merlin sambil membenamkan wajahnya semakin dalam ke dalam pelukan sang suami.


"Papa sebenarnya kesal sih, Ma, sama kalian semua. Gak mama, gak Bastian juga Chacha, kalian semua gak ada yang mau nyambut kepulangan papa. Kayaknya, gak berarti banget kehadiran papa di keluarga ini," kata papa bicara dengan nada kesal yang di buat-buat.


"Gak kok, Pa. Kita semua awalnya udah berencana mau jemput papa di bandara. Tapi ... ada sedikit masalah yang membuat kami lupa dengan kepulangan papa."


"Tega sekali kalian. Bisa-bisanya melupakan papa. Kalo gitu, papa mau pergi lagi aja," ucap papa berbohong untuk mengerjai mama yang sedang merasa sangat bersalah.


"Papa jangan dong. Maafkan mama. Maafkan Bastian juga. Kita gak niat buat melupakan papa. Jangan pergi lagi, Pa. Mama kangen," kata mama sambil menangis juga memeluk papa semakin kuat.


Isak tangis mama terdengar oleh papa. Ia yang awalnya berniat untuk mengerjai mama lebih lama lagi, membatalkan niatnya. Papa mengangkat wajah mama dengan penuh kasih sayang.


"Mama kok nangis?"


"Gimana gak nangis. Papa tuh bilangnya mama gak butuh papa. Padahal kan, mama sangat membutuhkan papa. Mama gak mau papa pergi lagi."


"Udah, Ma. Jangan nangis lagi. Papa cuma bercanda kok, Ma. Ih, mama kayak anak kecil yang gak bisa diajak bercanda. Papa tahu kok kalo mama itu tidak seperti yang papa katakan barusan. Papa tahu mama kangen sama papa. Karena, papa juga sangat kangen mama." Papa menghapus air mata mama dengan jarinya.

__ADS_1


"Beneran papa cuma bercanda sama mama?" tanya mama memastikan.


"Iya. Udah yok, ayo masuk!"


Mama mengangguk senang. Mama berjalan bergandengan dengan papa menuju pintu masuk mansion mereka. Di depan pintu, Lisa berdiri tegak menyaksikan kemesraan mama dan papa sejak tadi.


Papa yang melihat Lisa untuk pertama kalinya, begitu kaget. Ia tertegun memikirkan siapakah wanita ini. Karena yang dia tahu, Keke sudah meninggal.


'Kedua manusia yang berwajah sama, semuanya sudah meninggal. Lalu, ini siapa?' tanya papa dalam hatinya.


"Ma, siapa dia? Mengapa ada di mansion ini?"


"Ceritanya panjang, Pa. Ayo masuk dulu, nanti mama akan ceritakan di kamar."


"Hai, om. Selamat datang," kata Lisa dengan senyum manis sambil membungkuk badannya tanda hormat.


"Y--ya. Terima kasih," ucap papa canggung.


"Saya Lisa om, salam kenal," kata Lisa dengan manja sambil mengulurkan tangannya.


"Lisa?" tanya papa sambil melirik mama.


"Nanti mama ceritakan. Papa baru pulang, pasti capek."


"Maaf ya Lisa. Lain kali aja kenalannya. Kita mau ke kamar dulu, permisi," kata mama kesal.


"Ayok, Pa!" Mama menarik tangan papa meninggalkan Lisa.


'Kurang ajar banget kamu Merlin. Dasar tua, gak tau diri. Lebai lagi. Ih, menyebalkan. Tapi ... sebenarnya, lebih tampan papanya dari pada anaknya. Kalau bisa mengambil hati papa Bastian, kayaknya lebih bagus deh. Lebih menarik dan menantang,' kata Lisa dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


'Atau ... kalau bisa kedua-duanya juga boleh. Juga lebih baik lagi.'


Sampai di kamar, papa tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Ia langsung memaksa mama untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mama yang memang ingin berbagi cerita dengan papa, tidak merasa keberatan untuk bercerita semua tentang masalah yang terjadi.


"Gitu ceritanya, Pa."


"Oh, jadi dia adalah adik kembar Mona?"


"Iya. Menurut semua bukti yang ia bawa sih begitu."


"Apa Cahcha udah tau soal ini?"


"Belum."


"Lho, kenapa Bastian tidak menceritakan pada Chacha masalah ini?"

__ADS_1


"Ya mana mama tahu, Pa. Tapi, kayaknya, Bastian takut Chacha sakit hati deh."


"Gak bisa gitu dong, Ma. Bastian seharusnya langsung bicara pada Chacha tentang surat wasiat itu. Biar Chacha tahu, dengan begitu tidak ada yang dirahasiakan dalam hubungan rumah tangga mereka."


"Pa, masalahnya baru aja datang. Bastian juga mungkin belum sampai rumah sekarang. Jadi, kita tidak tahu apakah Bastian akan bicara dengan Chacha atau tidak nanti setelah ia sampai rumah. Kita tunggu aja."


"Tidak bisa. Papa kayaknya harus menghubungi Bastian sekarang juga."


"Untuk apa?"


"Ngomong sama dia. Biar dia tahu apa yang harus dia lakukan."


Papa tidak menunggu lagi, ia langsung menelpon Bastian. Bastian yang memang sedang mengutak-atik ponselnya, segera menjawab panggilan papa.


"Halo, Pa."


"Bastian. Kamu di mana?" tanya papa.


"Udah mau sampai rumah. Papa di mana sekarang?"


"Di rumah."


"Lho, papa udah pulang? Katanya, jadwal penerbangan papa di undur? Kok sekarang udah sampai aja."


"Papa tukar tiket pesawat. Makanya bisa sampai secepat ini. Kamu bisa ke mansion sekarang? Kalo bisa sama Chacha."


"Sama Chacha?" tanya Bastian agak kaget.


"Ya."


"Tapi, Pa?"


"Tapi kenapa?"


"Apa mama belum cerita sama papa apa yang sedang terjadi?"


"Sudah. Papa sarankan sama kamu, kamu harus bicara pada Chacha tentang masalah ini. Biar tidak ada rahasia dalam rumah tangga kalian."


"Tapi, Pa, ini tidak semudah yang papa bayangkan."


"Ya, papa tahu. Asal kamu tahu, lebih baik Chacha tahu sekarang dari kamu, dari pada dia tahu nanti dari orang lain. Saat itu, penjelasan tidak akan pernah berarti lagi. Papa harap kamu paham apa yang papa maksud."


"Ya papa. Aku mengerti."


"Bagus kalau gitu. Papa tunggu kedatangan kamu dengan Chacha untuk makan malam bersama."

__ADS_1


"Ya."


Panggilan itu pun terputus. Bastian termenung memikirkan apa yang baru saja papanya katakan. Perlahan ia mencerna maksud dari perkataan papa barusan. Benaknya membenarkan semua perkataan papa. Bastian mengubah niat dalam hatinya, dari menyembunyikan masalah ini dari Chacha, menjadi ingin menceritakan semuanya.


__ADS_2