
"Permainan apa lagi yang sedang anda rencanakan tuan Ben Alberto yang terhormat, apa anda tidak merasa bosan dengan semua yang anda lakukan terhadap saya." ujar Putri dingin, yang membuat Ben termangu dengan mulut yang terkatup rapat.
Ia tidak suka gadisnya memanggilnya dengan sebutan Anda, terutama Tuan, yang baginya terkesan sangat asing dan formal, ia lebih suka jika Putri memanggilnya kakak seperti sebelumnya.
"Pilihannya ada ditangan mu, Valencia Flora Putri." ujar Ben tersenyum licik.
"Saya rasa anda sudah tidak waras tuan."
Ben terkekeh, "Kau betul, aku memang sudah tidak waras, dan kau tahu siapa penyebabnya?"
Tawa Ben terhenti, mencondongkan wajah kearah Putri, "Semuanya karena kau, kau yang sudah membuatku menjadi seseorang yang kehilangan akal sehatku."
"Maaf mas, pesanannya." ujar seorang anak muda, yang bekerja di pondok sate pak Cipto, meletakan 3 porsi sate di hadapannya.
"Ya!" jawab Ben datar.
"Makanlah!" Ben mengangsurkan satu porsi sate ke hadapan Putri, kemudian ia melahap satenya sendiri dengan rakus, sementara Putri menelan ludah dengan susah payah saat melihat suaminya menghabiskan 2 porsi satenya hanya dalam waktu beberapa menit saja.
"Kenapa?" tanya Ben dengan kening berkerut, saat menyadari istrinya sama sekali tak menyentuh makanannya.
Repleks Putri menggeleng, lalu mengambil satu tusuk sate dari atas piring tanpa mengalihkan pandangannya dari Ben yang mulai melahap kembali satenya yang tersisa 2 tusuk.
Ben meneguk segelas teh hangatnya hingga tandas, kemudian melirik Putri yang tengah menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kenapa, kau baru pertama kali melihat seseorang makan dengan jumlah yang banyak?" ujar Ben, menebak apa yang tengah di pikirkan sang istri.
Putri menggeleng, "N-nggak!"
"Kau tahu sejak kemarin aku bahkan tidak sempat makan." curhatnya, sembari memperhatikan wajah Putri yang terlihat tak bereaksi sama sekali.
"Kau tidak khawatir, suamimu tidak makan?" lanjutnya, yang membuat Putri semakin bingung.
Ben menghela nafasnya, "Baiklah, lupakan!" lanjutnya, saat Putri terlihat tak meresponnya, lalu beranjak mengajaknya untuk pulang.
*********
Sesampainya di depan rumah, Putri tampak termenung memandangi rumah mewah berlantai dua tersebut, tak menyangka jika pada akhirnya ia akan kembali kerumah itu.
Dan kini ia merasa seperti wanita gampangan yang tidak punya harga diri, karena dengan suka rela kembali lagi kesana, hanya karena sebuah ancaman yang dilayangkan Ben.
Putri bisa saja egois, tetap pada pendiriannya, meninggalkan Ben, meninggalkan semuanya, lalu mencari kehidupan baru diluar sana.
__ADS_1
Namun, ancaman Ben tak bisa ia anggap remeh, terlebih yang akan menjadi korbannya adalah sahabatnya sendiri.
"Ayo masuk!" suara berat Ben membuyarkan lamunannya.
Tanpa mengatakan apapun, Putri melangkah terlebih dahulu.
"Mandilah dikamar ini, aku akan mandi di kamar sebelah," ujarnya setelah mengambil handuk dan satu setel pakaian rumahannya.
Putri mengangguk kecil, kemudian berlalu memasuki kamar mandi.
Saat Putri keluar dari kamar mandi terlihat Ben sudah kembali berada di kamarnya, duduk di sisi ranjang hendak mengobati wajahnya yang masih terlihat lebam kebiru-biruan.
Tanpa mengatakan apapun, Putri merebut salep dari tangan Ben, kemudian membantunya mengolesi seluruh luka lebam diwajah nya.
Sementara Ben, ia tak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari wajah cantik yang kini berada tepat di hadapannya.
Kenapa gue baru sadar, kalau dia benar-benar cantik. batinnya.
"Tunggu!" Ben menahan tangan Putri yang hendak berdiri menyimpan kotak obat yang diambilnya dari dalam laci tadi.
Tak menjawab, namun gadis itu menoleh menatapnya, seakan menunggu apa yang hendak Ben katakan.
"Terimakasih!" ujarnya kemudian, padahal itu bukanlah kalimat yang sesungguhnya yang ingin ia ucapkan.
***********
Di tempat yang berbeda, wanita paruh baya yang lebih sering di sapa Nita tengah terisak memandangi sebuah foto yang kini berada di genggamannya.
Tidak ada yang tahu, bahwa selama belasan tahun ini ia begitu menderita memikul beban hidup sendirian.
Disaat rumah sepi, atau putranya sedang tidak disana, ia akan menangis sendirian sembari memeluk dan menciumi foto itu hingga merasa puas.
"Salahkah jika mama masih berharap nak!" gumamnya lirih.
dengan isakan yang semakin kuat.
"Seharusnya mama lupa, dengan semua hal apapun yang terjadi selama 17 tahun ini, tetapi mama salah nak, mama nggak bisa melupakan kamu, dan mungkin sampai seumur hidup mama, nggak akan pernah bisa lupa."
"Kamu tahu nak, sampai detik ini mama masih menunggu, menunggu kamu kembali ke dalam pelukan mama, kita, kamu, kakakmu dan mama berkumpul bersama lagi."
**********
__ADS_1
"Secepat ini kamu kembali Za,!" ujar Arfan dengan mata berbinar yang begitu senang dengan kehadiran Rezza anak dari sahabatnya itu.
"Udah beres sih Om, lagian Om tahu sendirilah saya nggak begitu betah di Bandung, udah biasa tinggal di Jakarta mungkin."
"Begitu rupanya, lalu bagaimana Za hasilnya,?" Arfan menutup laptopnya, dan memfokuskan tatapannya pada Rezza yang kini tengah duduk di hadapannya.
"Beres Om, pak Bagya setuju dengan harga segitu, dan beliau bilang uangnya akan segera di transfer sore ini, atau paling lambat besok siang."
"Benarkah?"
"Tentu Om," balas Rezza meyakinkan.
"Kamu benar-benar hebat, Om sangat berterimakasih untuk hal ini."
"Ah Om bisa aja, oh iya Om boleh saya bertanya sesuatu, tapi sebelumnya saya minta maaf karena mungkin hal yang saya tanyakan ini bersifat sangat pribadi bagi Om."
"Tanyakan saja."
"Euhmz." Rezza tampak menimbang-nimbang kalimat pantas apa yang ingin ia ucapkan untuk mengawalinya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan Za?" lanjut Arfan saat Rezza tak kunjung berbicara.
"Eumz, apa benar Putri bukan anak kandung Om dari tante Yani?" tanya Rezza dengan nada suara sedikit gugup, khawatir jika perkataannya membuat Arfan tersinggung.
Terlihat Arfan menghela nafasnya, kemudian menyandarkan tubuhnya di senderan kursi.
"Kamu tahu sesuatu Za?" menoleh kearah Rezza yang terlihat serius menatapnya.
"Kemarin saya sempat mengantar Putri ke sebuah alamat di daerah Bandung untuk mencari seseorang yang bernama Merlinda Yuanita, dan Putri mengatakan pada saya bahwa wanita itu adalah ibu kandungnya, apakah benar begitu Om?"
"Benar Za," balas Arfan seraya memijat dahinya.
"Sebenarnya saya sama sekali tidak berniat memberi tahu kebenaran ini pada Putri Za, tapi ternyata Putri sudah tahu terlebih dulu, mungkin pernah mendengar ketika saya dan Yani sedang berbicara yang kebetulan membahas tentang dia, saya yang ceroboh Za."
"Menurut saya memang ada baiknya begitu Om, Putri berhak mengetahui siapa ibu kandungnya."
"Tapi menurut saya Putri tidak akan menemukan Linda Za, karena yang saya dengar dia sudah pindah rumah kan?"
"Kok Om bisa tahu?" seru Rezza dengan alis bertaut.
"Saya punya sahabat lama disana, dan tentunya sangat mengenal baik siapa Linda."
__ADS_1
.
.