Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Resepsi pernikahan


__ADS_3

Tiba waktunya hari yang di tunggu-tunggu oleh Ben dan Putri, yaitu melakukan resepsi pernikahannya yang diadakan di sebuah gedung yang Ben pilih sendiri kala itu.


Ben mengadakan resepsi pernikahan yang terbilang mewah, meski diadakan secara mendadak dan ia melakukan semuanya sendiri, tanpa bantuan dari sang mama sedikitpun.


Ben ingin selalu mandiri dari berbagai hal, ia tidak mau jika harus selalu merepotkan kedua orang tuanya, meski pada kenyataannya ia begitu mengharapkan mereka untuk selalu ada disampingnya.


Karena sedewasa apapun seorang anak, ia tetaplah seorang anak yang akan selalu menginginkan cinta dari kedua orang tuanya.


******


Putri nampak begitu cantik dengan gaun indahnya yang berwarna putih, begitupun dengan Ben yang terlihat tampan dan gagah, dengan balutan jas pengantinnya.


Keduanya tampak gugup, terutama Ben Alberto, padahal saat mengucapkan janji suci didepan penghulu, orang tuanya dan orang tua Putri, begitupun dengan para saksi, ia tak segugup sekarang ini.


Mungkin karena keadaannya sudah berbeda, dulu Ben menikah karena terpaksa, sedangkan kini ia begitu mencintai Putri istrinya.


"Disini gue dateng bukan sebagai tamu bro, tapi sebagai sahabat elo, yang bakal dampingin elo sampai acara selesai." ujar Arsen yang sudah berdiri dihadapan Ben bersama Algar dan juga Raka yang berada di sampingnya.


"Bener bro, kita datang bukan sebagai tamu undangan, tapi sebagai sahabat elo!" timpal Raka yang terdengar serius.


Sedangkan Algar tak berkata apa-apa, namun ia langsung memeluk sahabatnya itu.


"Selamat bro, semoga setelah ini semua kebahagiaan yang pernah lo impikan terwujud bersama gadis pujaan lo yang sekarang." ucap Algar yang kini melerai pelukannya, menepuk pundak Ben seraya tersenyum.


"Thanks semuanya, lo bertiga memang sahabat gue!" Ben bergantian memeluk ketiganya.


"Semoga setelah ini kebahagiaan terus bersama elo Ben, lo berhak bahagia!" ucap Arsen sungguh-sungguh, ia tahu persis bagaimana kehidupan Ben sejak kecil, di asingkan keluarga, lalu setelah dewasa di khianati kekasihnya dan juga kakak kandungnya sendiri.


"Selamat juga buat kamu cantik, semoga bahagia selalu ya, kalau si Ben menyakiti kamu, kamu bisa minta bantuan kita bertiga, dan kami akan senang hati mencincang suamimu, sampai dagingnya halus sekalipun." lanjut Arsen menatap Putri dengan tawa yang tertahan, sedangkan Ben mendesis pelan mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Terimakasih kak," Putri tersenyum malu menatap ketiganya.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan si Ben ya cantik apapun keadaannya kecuali dia melakukan kesalahan, karena harus kamu tahu, hatinya tak sekuat tubuhnya."


"Hatinya mudah rapuh!" lanjut Raka dengan senyum tulusnya.


Putri ikut tersenyum, melirik Ben yang memasang wajah datar seperti biasa, "Iya kak."


Setelah berdiri cukup lama disamping mempelai, ketiganya kini duduk di kursi tamu dengan posisi paling depan, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Ben membutuhkan bantuannya.


Dari pintu gedung sepasang suami istri yang tak lain adalah kedua orang tua Ben tampak berjalan pelan, menuju pelaminan, yang di belakangnya diikuti oleh Alby dan juga Darrel.


"Ben, Putri, Anak-anak mama, semoga kalian berdua bahagia menjalani rumah tangga kalian." Maura memeluk Putri lalu bergantian memeluk Ben lama, yang kemudian terisak dipelukannya, ia tak mengatakan apapun selain menangis dalam pelukan putra keduanya itu.


Ia tak mampu berkata-kata.


Ada banyak kesalahan yang membuatnya begitu sakit ketika setiap kali menatap putra keduanya itu, rasanya ia merasa seperti sosok ibu yang tak pantas untuk di panggil ibu.


Ia merasa telah gagal.


"Ma, mama kenapa nangis?" tanya Ben bingung, sementara Putri mengelus pundaknya dari samping.


Ben tersenyum, seraya meraih kedua tangan sang mama, lalu menggenggamnya, sungguh bagi Ben ucapan sang mama adalah doa mujarab yang ia yakini akan mengantarkannya pada kebahagiaannya di masa yang akan datang.


"Terimakasih ma," Ben kembali memeluk nya dengan penuh haru.


"Kak?" Suara Darrel yang berdiri di belakang sang mama membuat keduanya repleks saling mengurai pelukan, Maura berdiri disamping Putri dengan menggenggam tangan menantunya, sedangkan kedua kakak beradik itu beradu tatap dengan manik tajamnya.


"Selamat! semoga lo dan Putri bahagia!" ucap Darrel pada akhirnya.


"Gue rela dia selamanya sama elo, tapi tolong jangan sakiti dia kak, dia terlalu berharga buat lo sakitin, dan kalau sampai hal itu terjadi gue orang pertama yang akan merebut secara paksa Putri dari genggaman elo!" lanjut Darrel yang kali ini suaranya terdengar lebih pelan.


Tentu saja karena tak ingin jika Putri maupun sang mama mendengarnya.

__ADS_1


"Sekali lagi selamat!" Darrel menepuk pelan pundaknya, lalu tatapannya beralih menatap Putri dengan penuh kerinduan.


"Selamat ya, kamu cantik banget hari ini." goda Darrel, sembari melirik Ben yang memalingkan wajahnya.


"Makasih Darr, udah datang! ngomong-ngomong selama ini kamu kemana aja sih, kok nggak pernah lagi main kerumah?" tanya Putri yang terlihat sedikit kesal.


"Kenapa kangen ya?" Darrel mengangkat sebelah alisnya dengan senyum di kulum.


"Iya kangen banget." jawab Putri yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.


"Sorry, selama ini aku nggak nemuin kamu lagi, aku tiba-tiba terjebak dengan setumpuk pekerjaan yang nggak ada hentinya." Lagi-lagi Darrel melirik Ben yang kembali memalingkan wajahnya.


"Maksudnya, nggak ada hentinya gimana, kamu nggak bisa libur, begitu?"


"Hmmm, seseorang rupanya sengaja membuatku untuk tetap diam disana, mungkin dia keberatan kalau istrinya sering di dekati laki-laki lain."


"M-maksud kamu apa sih Darr, istri siapa?" tanya Putri yang tidak mengerti kemana ucapan Darrel mengarah.


"Sudahlah, lupakan!"


"Ini hari bahagia kamu Ri, kamu nggak usah mikirin hal apapun yang tidak ada hubungannya dengan hari ini, kamu harus happy, ok!" Darrel pun berlalu pergi dari hadapannya.


Tak lama Alby dan Rama datang menghampirinya, Rama memeluk Ben serta mengucapkan selamat atas perayaan resepsi pernikahan putra keduanya itu, tak lupa memberikan nasehat serta doa untuk kebahagiaannya.


Namun berbeda dengan Alby, laki-laki itu tidak mengatakan sepatah katapun, selain hanya menjabat tangannya sekilas, lalu beralih menjabat tangan Putri dengan waktu yang lebih lama.


Sungguh sampai saat ini ia masih belum merelakan gadisnya menjadi milik laki-laki lain terlebih sang pemiliknya adalah adiknya sendiri.


Lamunan Alby buyar, saat sang ayah memanggilnya untuk berkenalan dengan klien serta sahabat lamanya yang turut hadir dalam pesta tersebut.


Sementara Putri setelah kepergian Alby ia bisa bernafas sedikit lega, entah mengapa jika dua kakak beradik itu berada ditempat yang sama dengan jarak yang dekat, ia merasa ruangan itu seakan berubah menjadi panas dan menyesakkan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2