
"Den, baru pulang?" tanya Hanum asisten rumah tangga yang bekerja dirumahnya.
Yang sontak membuat Algar menoleh kearahnya, kemudian mengangguk samar, sangat terlihat sekali bahwa saat ini ia sedang kelelahan.
"Ini udah larut banget lho den, mau dibuatkan makanan nggak, atau minuman hangat begitu?"
Algar melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 23:11 malam, menggelengkan kepala memikirkan dimana keberadaan sang mama saat ini.
"Saya nggak lapar bi, saya kekamar dulu ya!" pamitnya.
"Oh iya den, ibu udah pulang tadi, satu jam setelah den Algar keluar rumah." ucap bi Hanum, yang seketika membuat langkah Algar terhenti, lalu kembali menghampiri Hanum yang masih berdiri ditempat semula.
"Bibi serius?" tanyanya setengah tak percaya, namun ada raut kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
"Bibi serius den."
"Yaudah makasih bi infonya, mama ada dikamarnya kan?" ucapnya yang langsung bergegas menuju kamar sang mama.
Algar membuka kamar sang mama dengan sangat perlahan dan hati-hati, lalu ia kembali menutup kamar tersebut saat mendapati sang mama tengah tertidur pulas.
Ia menghembuskan nafas lega, dan berlalu menuju kamarnya sendiri, saat ini ia benar-benar sangat lelah, dan butuh istirahat.
*
*
Mentari pagi menyapa, menelusup memasuki jendela kamar yang di tempati oleh seorang wanita cantik yang masih terbuai dengan mimpi indahnya.
Putri menggeliat, menggerakan tangannya, dengan kedua mata mengerjap-ngerjap kecil, menyesuaikan pandangannya dengan sekitar, yang kini sudah terasa terang, dari sebelum ia tertidur sejak beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
"Selamat pagi?" ucap seseorang yang tengah duduk di sisi ranjang, dengan senyum manisnya.
"Kak?" menutup mulut dengan suara yang memekik, karena kaget, Kemudian menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut, saat ia mengingat adegan tadi malam bersama Ben yang berlangsung hingga hampir pagi.
Sementara itu, Ben mengulum senyum, tertawa tanpa suara melihat tingkah istrinya yang baginya terlihat sangat menggemaskan, ia yakin saat ini istrinya merasa sangat malu, terlebih dibalik selimut tebal itu, tubuh sang istri polos tanpa sehelai benang pun.
"Kau tidak mau mandi?" tanyanya, masih dengan tawanya yang tertahan, sudah lama ia tak merasakan suasana hati sebahagia saat ini, yang membuatnya tak berhenti untuk terus tersenyum dan tertawa.
"Kak Ben keluar dulu,"
"Kenapa?"
"Aku mau mandi."
"Lalu apa hubungannya dengan aku yang harus keluar kamar!"
"Aku malu."
"Kenapa harus malu, aku sudah melihat semuanya sayang, bahkan tak ada satu incipun dari tubuhmu yang belum aku lihat."
"K-kak Ben?" pekik Putri, yang semakin merasa malu, dan kembali menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut, dan sontak membuat Ben tergelak.
"Yasudah, mandilah! setelah itu bersiaplah kita akan menuju sebuah tempat." ujar Ben yang kemudian beranjak dari sisi ranjang melangkah pelan keluar kamar.
Sementara Putri yang mendapat kesempatan itu, bergegas menuju kamar mandi setelah menyempatkan membawa baju ganti dengan sedikit tertatih-tatih.
"Yaampun!" Putri menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, saat ia melihat tubuhnya yang berada di cermin kamar mandi.
"Ck, kak Beeennn!" pekiknya lirih, saat mendapati ada begitu banyak tanda cinta dibagian tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Ben dengan dahi berlipat, ketika melihat sang istri yang keluar dari kamar mandi dengan wajah masam.
Tak menjawab pertanyaan suaminya, Putri memilih diam sembari mendudukan dirinya diatas kursi yang berada didepan meja rias.
Mengambil sisir, lalu mulai menyisir rambutnya yang setengah basah dengan gerakan perlahan.
"Kak!" desis Putri, saat suaminya hanya diam sembari memperhatikannya dari samping tempat tidur.
"Hmm, iya kenapa?"
Putri membalikan tubuhnya, dengan bibir mengerucut, yang membuat Ben ingin sekali tertawa dengan tingkah istri kecilnya itu.
"Kenapa sayang?" Ben pun meletakan ponsel yang sejak tadi ia pegang, beranjak menghampiri istrinya.
"S-semalam kak Ben apain tubuh aku sih."
"Hah?" Ben melongo, dengan wajah yang terlihat bingung, bukankah sudah jelas semalam mereka berdua melakukan penyatuan cintanya.
"Ini?" Putri menunjuk bagian tubuhnya, saat menyadari raut bingung di wajah suaminya.
Ben mengulas senyum, "Kenapa, apakah kurang banyak, mau tambah lagi?"
"Ck, kak ihs, kalau kaya gini aku nggak bisa keluar, malu!"
Gerutunya.
.
.
__ADS_1