Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Masa lalu Ben 6


__ADS_3

Braakkkkk!


Ben menendang Pintu coklat dihadapannya dengan sekali hentakan, membuat pintu tersebut terbuka lebar, dan dengan sangat jelas memperlihatkan sepasang manusia yang tengah bercinta diatas ranjang.


Mata Ben seketika membulat sempurna, kedua lututnya mendadak lemas dengan hati bergemuruh.


Sementara kedua insan yang tengah terengah-engah itu terkesiap, menarik diri menutupi tubuhnya menggunakan selimut.


"Ben, ini_" Sandra berbicara dengan suara tercekat, sedangkan tubuhnya gemetar tak karuan.


"Ba jingan! apa yang kau lakukan dengan calon istriku hah, brengsek!"


Bughhh..


Ben menghantam keras wajah Alby hingga membuat sudut bibirnya sedikit robek.


"Kenapa, kau tidak suka?" Alby tersenyum mengejek, seraya mengelap bibirnya yang terasa asin.


"Ba jingan!"


"Kau kaget? Bukankah kau tahu, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan Ben?"


"Baiklah kau berhasil, silahkan ambil wanita ini, karena aku sudah tidak menginginkannya." jawab Ben dengan mata menyorot tajam menatap Sandra dengan penuh kebencian.


Alby terpaku, tidak menyangka dengan reaksi Ben yang terlihat biasa saja, dan detik kemudian Alby tergelak, "rupanya kau sudah mengakui kekalahanmu hm, bagus kalau begitu!"


Tanpa mengatakan apapun lagi Ben segera meninggalkan tempat tersebut, sebuah tempat yang tidak akan pernah ia datangi lagi seumur hidupnya.


*********


Ben mengendarai mobilnya tak tentu arah, perasaannya kacau, marah, sakit kecewa bercampur menjadi satu.


Ben menangis seorang diri, ia tak mau ada satu orang pun yang melihat keadaannya saat ini.


Marah pada kenyataan hidup yang selalu membuatnya terlihat kalah dan menyedihkan.


Marah pada Sandra, yang telah mengkhianati cinta tulusnya, marah pada Alby yang selalu mengambil semua yang di milikinya.


Disinilah mobil Ben terhenti, disebuah Bar tempat pertama kali ia bertemu dengan Sandra, wanita yang sangat dicintainya, sekaligus yang menghancurkan cintanya.


Ben memesan minuman sebanyak mungkin, ia benar-benar ingin melupakan semuanya meski hanya sesaat, ia lelah menahan semuanya.


Cukup merasa puas dengan beberapa botol yang ditenggaknya hingga tandas, Ben mulai berdiri dengan tubuh sempoyongan.


Pyarrrrr!


Ben menabrak meja seseorang dan tanpa sengaja telah menjatuhkan gelas yang berada di meja itu, dan mengenai kaki orang tersebut.


"Kurang ajar, beraninya kau!"


Bugh....


"Brengsek!" umpat Ben membalas pukulannya, namun tak seberapa karena kesadarannya mulai tak terkendali.


Bugh.. bugh.. bugh..


"Mati kau bedebah!"


Bugh!

__ADS_1


Tubuh Ben terkulai tak berdaya.


*****


Ditempat Lain, Arsen yang mendapat kabar Ben dari Ryan pelayan Bar tempat yang sering mereka datangi itu, langsung bergegas menuju tempat tersebut.


"Bro, are you okay?" Arsen memandang wajah Ben yang di penuhi lebam kebiru-biruan, sementara tubuhnya


sudah lemas tak bertenaga.


"Hmmm!" hanya kata terakhir itu yang Ben gumamkan, sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


Memijat pelipis bingung harus membawa Ben ke apartemen atau rumah sakit, dan berakhir dengan menelpon Algar dan Raka untuk membantunya, dan mereka sama-sama memutuskan untuk membawa Ben kerumah sakit terdekat.


Saat perjalanan menuju rumah sakit kesadaran Ben pun kembali.


"Oy, Ben! lo udah bangun?" tanya Algar yang duduk disampingnya, yang sontak membuat kedua sahabatnya menoleh dan menghentikan laju mobilnya.


"Serius udah bangun, jadi gimana mau lanjut ke rumah sakit?"


tanya Arsen yang memegang kemudi.


"Rumah sakit, lo pikir gue sakit parah, gue cuma puyeng dikit, balik aja deh!"


Pletaakkkk...


"Anjirrr," Ben menatap kesal kearah Algar yang sudah menyentil keningnya.


"Ngeselin lo, tahu gitu gue kagak bakalan ninggalin mobil gue di depan Bar tadi."


"Siapa suruh?"


"Sialan!"


"Elo kenapa sih Ben, tiba-tiba mabuk begini, ini bukan kebiasaan lo banget Ben, gue tahu seberat apapun masalah lo, lo kagak pernah mabuk sampai kaya gini."


"Bisa diam nggak lo berisik banget, gue bakal cerita kalau kepala gue udah normal lagi." balas Ben sembari memijat dahinya yang berdenyut.


"Ok, gue tunggu!"


Setelah sampai di apartemennya Ben pun bergegas membersihkan tubuh serta mengompres wajahnya, lalu mulai menceritakan kejadian tadi terhadap teman-temannya.


"Gila, ini sih gila parah!" ujar Arsen setelah mendengar cerita yang dialami Ben.


"Kok bisa sampai segitunya ya si Alby, heran gue kagak ada henti-hentinya dia nistain elo!" timpal Algar ikut geram.


"Mungkin elo lebih unggul segalanya dari dia makanya dia nggak berhenti buat gangguin hidup lo!" Raka ikut menimpali


#Flashback of..


*******


Ben tersenyum lembut menatap Putri layaknya tanpa beban, sementara pipi Putri telah basah dibanjiri buliran bening yang tumpah begitu saja, semuanya terasa berat dan menyesakkan, meski tak mengalaminya namun ia dapat merasakan penderitaan Ben selama ini.


"Kok nangis sih, kenapa hm?" Ben menyapu air mata Putri dengan kedua ibu jarinya.


Sementara yang ditanya semakin sesenggukan dengan wajah yang semakin menunduk dalam.


"Hei apa yang terjadi, kau sedih karena mendengar ceritaku?"

__ADS_1


"Katakan!"


"Kalau tahu begini aku tidak mau bercerita apapun tentang hidupku."


"Kak_" Putri memandangnya sendu, dengan isakan yang tersisa.


"Iya."


"Boleh aku memelukmu."


"Tak menjawab namun Ben tersenyum, lalu menarik Putri kedalam pelukannya."


"Kenapa kak Ben sekuat itu?"


"Kenapa?" Ben balik bertanya.


"Kak_"


Ben tergelak, "Kau lupa sayang bahwa aku ini seorang laki-laki,?"


"Memangnya kenapa kalau laki-laki, apakah seorang laki-laki tidak memiliki perasaan seperti perempuan."


Ben kembali tergelak, "Apa maksudmu sayang, tentu saja aku memiliki perasaan, jika tidak! aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku mencintaimu bukan.?"


"Maksudku bukan perasaan yang itu."


"Lalu?" Ben tampak berpikir.


"Kenapa kak Ben terlihat baik-baik saja, saat menceritakan masa lalu kak Ben."


"Sayang dengar! semuanya sudah berlalu, tentang kesedihan mungkin dulu iya, tapi sekarang tidak lagi, lagi pula aku tidak ingin terlihat lemah, aku ingin melupakan semuanya, dan menganggap bahwa dalam hidupku sebelumnya tidak pernah terjadi apapun."


"Berhentilah menangis sayang, aku tidak mau kamu bersedih karena menangisi masa laluku, itu sungguh sudah berlalu, lupakanlah!"


"Anggap saja itu hanya sebuah dongeng!"


"Aku akan mempercepat resepsi pernikahan kita!"


"M-maksudnya?"


"Aku sudah memberi tahu orang-orangku agar segera mempersiapkan semuanya, dan aku pastikan besok pagi undangannya sudah tersebar."


"Tapi kak, bagaimana dengan mama dan papa?"


"Papa sudah tahu, begitupun dengan keluargamu."


"Kenapa harus secepat ini, bukankah kak Ben bilang acaranya akan diadakan seminggu lagi?"


"Lebih cepat lebih baik, aku ingin semua orang tahu bahwa kamu hanya milikku, milik Ben seorang."


"Kak?"


Ben menarik nafas dalam, menatap manik bersinar milik Putri, ia sungguh mencintainya, benar-benar mencintainya.


"Beri aku kesempatan sayang, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakanmu."


.


.

__ADS_1


__ADS_2